Kaitan Stasiun Margasari dengan Pabrik Gula Banyumas Raya Awal Abad 20

Stasiun Margasari (heritage KAI)

Stasiun Margasari berada di jalur kereta api segmen Tegal–Prupuk di wilayah Kabupaten Tegal sepanjang sekitar 40 km.  Pengoperasiannya dibagi antara Daerah Operasi IV Semarang dan Daerah Operasi V Purwokerto.

Segmen ini merupakan salah satu jalur kereta api lama yg masih eksis, walaupun penumpang tersepi di Pulau Jawa. Sebelum ada KA penumpang Kamandaka, kereta api yang melewatinya hanya kereta api ketel yang menuju depot minyak Pertamina di Maos. Jika terjadi hambatan di jalur Cirebon-Prupuk atau petak Cirebon-Tegal, lalu lintas kereta dialihkan ke jalur ini.

Pada awal tahun 2000, jalur ini sempat dilewati kereta penumpang Mahesa jurusan Semarang TawangBandung lewat Purwokerto. Namun kemudian KA Mahesa dihapus dan jalur Bandung-Semarang dialihkan lewat Cikampek yang dilayani oleh KA Harina.

Pada tahun 2014, PT Kereta Api Indonesia meluncurkan Kereta api Kamandaka dengan rute PurwokertoSemarang pp.

Segmen ini dahulunya milik Javasche Spoorweg Maatschappij N.V. hingga Balapulang. Jalurnya diresmikan pada tanggal 17 November 1886 hingga diambil alih oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) pada tanggal 16 September 1895, yang kemudian dari Balapulang diteruskan ke Prupuk dengan stasiun antara Stasiun Margasari.

Stasiun Margasari di jaman Belanda hingga awal tahun 70an menjadi stasiun penting untuk menaikan gamping (batu kapur) yang ditambang di Desa Karangasem, utara Margasari. Gamping diangkut hingga ke Purwokerto, Sokaraja, Purbalingga, Cilacap dan kota lain yang disinggahi kereta api.

Seperti diketahui pada awal abad 19 terdapat beberapa pabrik gula di Banyumas Raya (Kalibagor, Purwokerto, Bojong, Kalimanah, Klampok) yang sangat membutuhkan kapur (gamping). Pabrik gula membersihkan jus (hasil gilingan tebu yg masih kotor) dengan menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat dikirim kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming. Kapur berupa kalsium hidroksida atau Ca(OH)2.

Disinilah peran penting Stasiun Margasari sebagai “terminal” untuk pemuatan kapur dari Karangasem Margasari dg kereta api. Dari Karangasem kapur kemungkinan besar diangkut dg gerobak /pedati ke stasiun. 

Seorang sumber yang berasal dari Margasari, pada tahun 1960-an, berdagang gamping hingga ke Purbalingga, dan akhirnya membuka depot gamping di Purbalingga dan berumahtangga di sana. Dia bercerita, dulu mengunakan kereta api untuk membawa gamping dari Margasari ke Purbalingga.

Selain gamping tentu saja hasil bumi dan barang dagangan lain yang dihasilkan dari Margasari dan sekitarnya diangkut dengan kereta api. Juga barang kebutuhan masyarakat sekitar diturunkan di stasiun Margasari, sebelum angkutan darat jalan raya merajai transportasi di Indonesia.

Simak kondisinya terkini stasiun Margasari di sini: https://youtu.be/eXE9Ir8NrAM

#StasiunMargasari #StasiunLama #PabrikGula #JalurKeretaLama

(Pad)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.