Pengalaman Pasien Sembuh Covid-19: Ayo Vid Covid. Kita Tarung, Siapa yang Menang!

Ilustrasi virus corona

Saya pagi ini ingin berbagi saat saya terkena covid di bulan Oktober lalu. Semoga bermanfaat.

Saya merasakan gejala badan tidak enakan dimulai akhir September. Badan terasa sakit semua. Mulai dari kepala hingga kaki. Persendian pun terasa sakit.

Saya mengira ini sakit biasa. Maka saya konsumsi obat masuk angin biasa. Ternyata sakitnya tak berkurang.

Tanggal 3 oktober, saya melakukan rapid test, karena diperlukan utk naik pesawat. Karena harus segera merawat isteri waktu itu. Hasil testnya non reaktif.

Merasa aman.

Tanggal 4 oktober malah sempat kerja bakti ngangkutin pasir untuk musholla. Sore setelah kerja bakti tiba-tiba badan drop. Sakit dan lemas. Seharusnya saya berangkat utk merawat isteri di Surabaya esoknya, saya batalkan.

Saat itu saya tidak ada gejala batuk, demam, ataupun sesak napas. Hanya badan sakit semua.

Tgl 6 Oktober. Ibu berpulang. Dan pada tanggal 7 setelah pemakaman, rasa sakit tak berkurang.

Menangis. Sedih. Lelah. Sakit.

Akhirnya, mulai tanggal 8 Oktober kuputuskan utk tidak beraktifitas sama sekali.

Karena berdasar rapid test sebelumnya non reaktif, maka saya ditemani tetangga untuk pijat. Karena badan makin sakit. Berkali-kali ganti tukang pijat. Juga dibantu kakak ipar.

Dan ini malapetaka dimulai.

Mulai tanggal 9 isolasi mandiri di rumah, tetapi tetap dikunjungi tetangga saudara saya Ilyas Rasyid. Beliau yang merawat saya.

Dan mulai nggak mau makan.

Tanggal 12 malam saya sudah nggak kuat. Saya putuskan ke rumah sakit untuk rawat inap. Waktu itu masih menduga ini gejala typhus.

Sesampai di rumah sakit, dan dilakukan pemeriksaan thorax. Ternyata hasilnya menunjukkan paru-paru terinfeksi.

Waktu itu dokter memberi 2 pilihan.

Pilihan pertama, saya diisolasi di rumah sakit dengan resiko tertular covid.

Pilihan kedua isolasi mandiri di rumah.

Saya pilih isolasi mandiri.

Mulai malam itu drama dimulai.

Isolasi mandiri, sendiri, gak ada anak dan isteri, karena sedang di Surabaya, dan sakit.

Indra perasa dan penciuman hilang. Makan susah. Badan lemas karena asupan nggak ada.

Tgl 13 oktober saya minta agen asuransiku utk bantu konsultasi ke dokter paru atas hasil thorax dari rumah sakit.

Hasilnya, saya tetap diminta utk isolasi mandiri, diberi antibiotik Cravox dan vitamin Becom-C. Dokter meminta utk segera melakukan swab test.

Mulai tgl 13 Oktober itulah merasakan covid mengkudeta tubuh. Makin lemas, nafsu makan hilang.

Saat memaksa makan, semua makanan rasanya berasa minyak tanah atau minyak kayu putih. Gak kolu bahasa jawanya.

Mulai terkena halusinasi. Hanya berbaring, bangun.

Alhamdulillah agen asuransi adalah teman waktu SD. Bersama beberapa teman dia berinisiatif membuat group WA namanya Mantau Iving.

Setiap hari saya dipantau perkembangan kesehatanku. Diajak komunikasi via WA. Saat berkomunikasi bahas yg lucu-lucu. Ini sangat membantu. Membuat saya tidak merasa sendirian.

Saat sakit ini saya banyak minum air putih dan minum 2 obat dr dokter.

Badan mulai kurus spt tengkorak.

Makan masih susah.

Pernah suatu malam. Di rumah sama sekali tak ada makanan. Saya sampai kirim pesan ke group Musholla.

“Bapak-bapak. Mohon maaf. Saya kelaparan. Saya cuma ingin untuk-untuk (makanan khas Samarinda, roti gireng berisi kelapa atau kacang ijo) 3 buah.

Masya Allah. Respon jamaah musholla yang juga tetangga, mengirim banyak makanan. Saya minta untuk-untuk, yang datang burger, roti, buah, nasi sop, bihun, dll.

Tak ada satu pun yg bisa saya makan. Kelaparan pun berlanjut.

*Nah. Bagi yang kena covid makanlah makanan yang muncul di benak anda. Karena itu respon dari tubuh.* (pengalaman saya lho ya).

Tanggal 15 saya melakukan test swab bareng tetangga yang sempat merawat. Saat berangkat ke klinik, badan lemas, nyetir sendiri, melihat dunia seperti sedang diserang zombie.

Terkena halusinasi.

Makin kurus, gak bisa makan.

Tanggal 17 Oktober. Dinyatakan POSITIF. Alhamdulillah akhirnya tahu bahwa sebenarnya terkena Covid.

Yang sangat menyesakkan dada adalah sahabat dan tetangga yang selama ini merawatku pun positif Covid.

Sakit dan merasa bersalah. Menangis.

Bukan cuma dia. Isteri dan anaknya pun positif.

Down.

Group Mantau Iving tetap memantau. Dan dokter memberikan Avigan begitu tahu aku positif Covid.

Oh ya. Mulai tanggal 13 aku mulai bersahabat dg minyak kayu putih. Aku selalu mandi air panas yang kuberi minyak kayu putih. Di kamar mandi aku menghirup uapnya.

Minum madu, minum supplement.

Hiburan waktu itu hanya nonton youtube. Dan aku memilih hiburan yang lucu.

Pocong prank. Mulai pocongnya ngeprank sampai pocongnya diprank. Kutonton semua.

Tak bisa tertawa. Karena nahan badan sakit dan lemas.

Paling nggak pikiran negatif hilang.

TITIK BALIK

Saat tgl 17 dinyatakan positif. Aku ngomong ke diriku.

“Vid, covid. Ayo kita tarung. Kamu atau aku yang menang.”

Saat itu yg kupikirkan ada 3. Uke ‘Kanaka’ Yuli Ekawati Aryasetya Kanaka Dumadi dan karyawan.

Kalau saya mati, bagaimana nasib mereka.

Entahlah. Ajaibnya, saat saya bangun pukul 3 dinihari di tanggal 18 Oktober. Saat itu ingin sholat malam.

Tiba-tiba saya merasa sehat. Nafsu makan tiba-tiba muncul (tp tetap aja kelaparan melanda krn di rumah tak ada makanan).

Setelah sholat malam dan sholat subuh, tubuh pun meminta utk bergerak. Jadi pagi itu saya nyapu ngepel dan beberes rumah.

Setelah itu buka baju dan jogging sambil berjemur, yg sebelumnya tidak bisa saya lakukan.

Mulai masak. Sampai saat sakit pun saya mengirim masakan saya utk sahabat yg sakit dan yang sehat.

Nafsu makan mulai menggila. Karena tubuh kalau diikuti keinginannya, makan bisa sampai nggak terbatas. Waktu itu aku makan 5-6x sehari.

Dan berat badan tidak bertambah.

Masak tiap hari, beberes rumah tiap hari, jogging tiap hari.

Waktu itu asupan obat ditambah dg Lianhua, pemberian tetangga dan adik.

Mandi masih dg air panas dan minyak kayu putih. Dan setelah mandi membalur tubuh dg minyak kayu putih.

Oh yaa saya balur minyak kayu putih, sehari bisa sampai 8x.

Drama muncul lagi. Tetiba dapat kabar isteri opname di Surabaya.

Sedih.

Semangat sembuh makin menjadi.

Tanggal 26 akhirnya melakukan swab test.

Tanggal 27 hasilnya NEGATIF.

Menangis. Sujud syukur. Mengingat anak dan isteri.

Tapi dari satgas covid belum membolehkan utk keluar rumah.

Tetap masak, beberes rumah, dan jogging.

Tanggal 30 Oktober berangkat ke Surabaya. Langsung ke rumah sakit.

Dan mendapati Uke tidak bisa diajak komunikasi scr normal hingga berpulangnya.

Sedih pun berlanjut.

————————————

Bagi rekan dan sahabat yg saat ini sedang sakit krn Covid :

BERHENTILAH BERFIKIR YANG ANEH-ANEH. AJAKLAH TUBUH UTK MELAWANNYA. BICARALAH DG TUBUH ANDA.

Minum supplemen. Kalau masih bisa makan, makanlah yang banyak. Gak usah mikir diet apalagi takut gemuk.

Cari hiburan di tv atau youtube. Jangan tonton sinetron atau drakor yg mengharu biru. Nanti imun malah turun.

Jangan biarkan ikuti tubuh yang hanya ingin tidur. Bangkit dr ranjang. Bergeraklah.

Berkomunikasilah sesering mungkin,tapi jangan mengeluh atau curhat.

Mudahan postingan ini bisa membantu.

Sehat semuaaaa yaaaaa.

Kita lawan itu si kopid markopid.

Heheheheh.

(dari Facebook Iving A Chevny)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.