Percabangan Kereta Api Banjarsari – Purbalingga, Komitmen Konsesi Pembangunannya Tidak Ditepati SDS

Stasiun Banjarsari peninggalan SDS, saat ini disewa untuk bengkel

#NotJustCycling – Catatan Gowes

Percabangan kereta api Banjarsari – Purbalingga, Komitmen Konsesi Pembangunannya Tidak Ditepati SDS

#Gowes Rabu 23 Des 2020 saya manfaatkan untuk napak tilas jalur kereta api SDS (Serajoedal Stoomtram Maatschappij – Perusahaan Kereta Uap Lembah Serayu). Mulai dari Berkoh, Purwokerto, di dekat bundaran air mancur menuju Sangkalputung, Sokaraja, kemudian ke Banjarsari. Dari sini kemudian ke timur menuju Kemangkon. Beberapa bekas jalur rel benar-benar menjadi track, karena bisa dilewati sepeda, sepeda motor bahkan mobil. Sebagian lain ada yang sudah tertutup bangunan rumah penduduk, jalan nasional, dll.

Kali ini saya tertarik mengulas kisah dibalik dibangunnya percabangan dari Banjarsari menuju Purbalingga dan pengaruhnya bagi kota Banyumas lama.

Seperti diketahui sampai awal tahun 1900, Purbalingga belum dirambah transportasi modern kereta api.

Yang lebih dulu dilalui transportasi modern kereta api saat itu di Banyumas Raya adalah Maos-Purwokerto mulai 16 Juli 1896, Purwokerto-Sokaraja mulai 5 Desember 1896, dan Sokaraja-Purwareja Klampok tanggal 5 Juni 1898. Padahal Purbalingga merupakan kebupaten tersendiri yang berkembang, ditandai adanya pabrik gula Kalimanah dan pabrik gula Bojong.

Karenanya SDS pada 1898 mengajukan konsesi pembangunan jalur KA Bojongsari-Purbalingga dengan alasan di lintas tersebut terdapat dua pabrik gula. Bagi SDS lebih sebagai pertimbangan ekonomi, sementara bagi pemerintah Hindia Belanda ada kepentingan lain untuk mobilitas para pejabatnya. Saat itu disebutkan oleh berbagai sumber Purbalingga merupakan salah satu pusat kegiatan keagamaan Belanda.

Permohonan SDS dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda, namun dengan syarat SDS harus membuka jalur kereta api dari Purwokerto ke Banyumas karena kota Banyumas memiliki peran penting bagi kolonial. Di sana ada kantor residen dan bupati, sehingga jika ada jalur kereta urusan pemerintahan akan lancar.

Jalur Banjarsari-Purbalingga beroperasi pada 1 Juli 1900. Sejak saat itu stasiun Banjarsari menjadi percabangan kereta api ke Purbalingga dan ke Kemangkon/Klampok. Namun rupanya SDS tidak mau menepati komitmen membangun jalur kereta ke Banyumas. Pertimbangannya potensi ekonomi yang rendah karena komoditas yang diangkut dari Banyumas diperhitungkan tidak banyak, sehingga akan merugi secara operasional. Perusahaan kereta api saat itu memang mendapatkan keuntungan lebih banyak dari angkutan barang daripada angkutan penumpang.

Jika saja SDS jadi membangun rel kereta api Purwokerto-Banyumas, sebagai kompensasi diberikannya ijin membangun jalur Banjarsari-Purbalingga, mungkin ibukota kabupaten Banyumas tidak akan pindah dari kota lama Banyumas ke Purwokerto (pindah pada 1936) :).

Bekas jalur rel KA dari Stasiun Banjarsari menuju Purbalingga di Jompo Kidul

Sumber: Transportasi dan Perkembangan Ekonomi Karesidenan Banyumas 1830-1940an; Babad Banjoemas. (Puad Hasan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.