Mikul Kedhuwuren, Mendhem Kejeron

MIKUL KEDHUWUREN
MENDHEM KEJERON

Mikul kedhuwuren mendhem kejeron adalah “plesetan” dari falsafah Jawa Mikul Dhuwur Mendhem Jero, yang bermakna menjunjung kebaikan yang tinggi dan mengubur dalam-dalam keburukan orang yang telah meninggal dunia.

Mengidolakan, menghormati seseorang, adalah hal yang wajar dan tak aneh. Mengingat kebaikan seseorang yang dijadikan panutan dan menyampaikannya kepada khalayak, sebagai bentuk terima kasih dan menjadikan teladan bagi orang-orang yang masih hidup, inilah yang disebut mikul dhuwur.

Sedangkan mendhem jero bermakna sama, namun dari konteks sebaliknya, yakni tidak menceritakan kesalahan, menyimpan aib orang yang diidolakan dan dihormati.

Namun sekarang, dalam dunia nyata, falsafah Jawa itu berubah menjadi mikul kedhuwuren mendhem kejeron dan tentu saja untuk tokoh yang masih hidup.

Mikhul keduwuren, seakan orang yang dijadikan idola adalah mahluk sempurna yang tak memiliki kesalahan, tak memiliki kekurangan sedikit pun. Apa pun yang dikatakan dianggap semuanya adalah kebenaran, sehingga ia akan menuruti segala ucapannya tanpa mempertimbangkan benar atau salah.

Setiap ada pihak yang mengkritisi, menunjukkan fakta tentang kekurangannya, kesalahannya akan mereka bantah dengan keras dan mati-matian, membela tokoh pujaannya. Bila tokoh pujaannya “tergelincir” semisal melakukan korupsi dan ditangkap untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya, mereka masih membela: “Ini jebakan, dipolitisir, terlalu tebang pilih, saya yakin beliau tidak menerima Rp 1 pun”.

Hal inilah yang memunculkan plesetan MIKUL KEDHUWUREN MENDHEM KEJERON. (Iman Nurtjahjo) 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.