Antara Al-‘Aqil dan Al-Ahmaq

Antara Al-‘Aqil dan Al-Ahmaq

Oleh : Dr. Didi Junaedi, M.A.
(Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

“ _Lisan al-‘Aqili wara’a qalbihi, wa qalb al-Ahmaqi wara’a lisanihi_”

(Lidah orang berakal di belakang hatinya, dan hati orang bodoh di belakang lidahnya).

(Ali Ibn Abi Thalib Karamallahu Wajhahu)

Ungkapan yang saya kutip dari Kitab _Nahjul Balaghah_ (Jalan Kefasihan)—sebuah kitab yang berisi pidato-pidato, surat-surat serta ucapan dan nasihat singkat Ali Bin Abi Thalib Karamallahu Wajhahu— karya Asy-Syarif Ar-Radhiy di awal tulisan ini terasa sangat pas dengan kondisi saat ini.

Betapa banyak kita jumpai orang-orang yang begitu mudah dan tanpa pikir panjang menyampaikan berita bohong, menghasut, memfitnah, menghujat, menebar benci, mengubar caci, baik di dunia nyata dalam realitas sosial, lebih-lebih di dunia maya.

Perangkat teknologi dan perkembangannya yang demikian cepat, memudahkan seseorang untuk menerima, menyampaikan dan menyebarkan informasi dalam hitungan detik tanpa memfilter, mengecek, dan menelusuri lebih lanjut kebenaran informasi yang diterimanya.

Seringkali, ketika informasi yang didapat sesuai dan sejalan dengan pendapat dan kepentingan diri dan kelompoknya, maka segera saja disebar, dibagikan dengan cepat, hingga akhirnya menjadi viral di dunia maya. Padahal, apa yang didapat, kemudian disebar dan dibagikan itu belum tentu kebenarannya. Bahkan, seringkali adalah berita bohong (hoax) belaka.

Di sinilah, kualitas diri seseorang akan terlihat. Dari sini pula akan mudah dibedakan mana loyang mana emas. Seseorang yang dengan mudah menyampaikan atau menyebarkan informasi yang didapatnya, tanpa melakukan tabayun (cek dan ricek) terlebih dahulu, jika dikaitkan dengan ungkapan di atas, maka termasuk kategori al-ahmaq, yaitu orang bodoh. Karena lidahnya, dalam hal ini, status dan postingan serta sharingannya di depan hatinya. Dia tidak mempertimbangkan terlebih dahulu, apakah postingan, serta informasi yang dishare ke media sosial (medsos) itu berdampak buruk atau tidak.

Sebalik keadaan, ada orang yang sangat berhati-hati ketika akan mengirimkan postingan, update status, atau membagikan (sharing) informasi yang dia dapatkan. Dia hanya akan memposting dan update status hal-hal positif, juga membagikan sesuatu yang positif yang akan menghadirkan kebaikan bagi khalayak medsos. Orang seperti ini, dalam ungkapan di atas termasuk ke dalam kategori al-‘Aqil, yaitu orang yang berakal. Karena hatinya di depan lidahnya. Postingan serta status yang di-update, juga informasi yang dibagikan telah dipertimbangkan secara matang efek nilai kebaikan yang akan dihasilkannya.

Singkatnya, orang berakal tidak akan mengatakan, memberitakan, menyebarkan informasi sebelum dipertimbangkan secara matang. Sedangkan orang bodoh akan mengatakan, memberitakan dan menyebarkan informasi tidak bermanfaat, bahkan cenderung menyinggung dan menyakiti hati orang lain secara spontan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Orang yang berakal akan santun dalam bertutur, bijak dalam bersikap dan bertindak. Sedangkan orang bodoh akan ngawur dalam bertutur, ceroboh dalam bersikap dan bertindak.

* Ruang Inspirasi, Kamis, 19 November 2020.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.