Sejarah Hijrah Nabi Muhammad SAW

Kota Madinah (ilustrasi, foto Republika)

Setelah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai Rasulullah pada usia 40 tahun, beliau mulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Dakwah tersebut bertambah luas hingga kaum muslimin mencapai 40 orang. Mereka dibina secara khusus di Baitul Arqam untuk menghadapi kaum Quraisy yang menghalangi risalah dengan berbagai usaha, baik dengan tawaran, rayuan hingga kekerasan.

Pada tahun ke-4 kenabian, banyak kaum muslimin yang disiksa secara kejam, hingga para sahabat hijrah ke Habsyah pada pertengahan tahun ke-5. Rombongan pertama sebanyak 10 orang, antara lain Utsman bin Affan beserta istrinya, Ruqayah, Abdurrahman bin Auf, dan Zubair bin Awwam. Rombongan kedua dipimpin Ja’far sebanyak 100 orang.

Pada bulan Dzul-hijah tahun ke-6 kenabian, Umar bin Khathab dan Hamzah masuk Islam sehingga kebencian kaum musyrikin makin besar. Pada tahun ke-7 kenabian, Bani Hasyim diboikot perekonomiannya hingga menyengsarakan. Pada tahun itu Abu Thalib sebagai pimpinan Bani Hasyim dan Siti Khadijah yang mendukung da’wah beliau wafat.

Awal tahun ke-11 kenabian (Juli 620 M) banyak orang Yatsrib masuk Islam seperti Suwaib bin Shamit, Iyas bin Mu’adz, Tufail bin Amr, dan Dlamad al-Azdi. Pada tahun ini banyak kaum muda yang masuk Islam seperti As’ad bin Zararah dan Auf bin Haris dari Bani Najar, Rafi’ bin Malik dari Bani Zuraiq, Qathbah bin Amir dari Bani Salmah, Uqbah dari Bani Haram dan Jabir bin Abdillah dari Bani Ubaid.

Pada tahun ke-12 (Juli 621 M), 7 penduduk Yatsrib bangsa Khazraj yaitu Mu’adz, Dzakwan, Ubadah, Yazid dan Abbas serta bangsa Aus yaitu Abul-Haitsam dan Uwaim berbai’at kepada Rasulullah SAW di Aqabah untuk diangkat menjadi juru da’wah (Ba’aitul Aqabah 1). Mush’ab bin Umair diutus Rasulullah SAW ke Yatsrib untuk melihat situasi di sana.

Pada tahun ke-13 (Juni 622 M), 73 orang Yatsrib menunaikan haji dan berbai’at pada Rasul sebagai juru da’wah Islam (Bai’atul Aqabah 2). Mereka mengundang Rasulullah SAW untuk hijrah ke Yatsrib menjalin persaudaraan Aus dan Khazraj yang lama bermusuhan, menyelamatkan muslimin yang tertindas di Mekah dan memperluas da’wah.

Pada bulan hari Kamis bulan Shafar (12-September- 622 M) para pembesar Quraisy berkumpul di Darul Nadwa dan bersepakat untuk membunuh Rasulullah SAW. Mereka adalah Abu Jahl bin Hisyam, Jubair bin Muth’im, Tha’imah, Harits, Syaibah, Utbah, Abu Sufyan, al-Nazhr, Abu al-Bukhturi, Zam’ah, Hakim, Nabih, Munabbih, dan Umayah bin Khalaf.

Pada hari Jum’at bulan Shafar (13-September-622 M), Rasulullah SAW dan Abu Bakar meninggalkan rumah setelah berpesan pada Ali bin Abi Thalib untuk menempati tempat tidur. Pada saat pembesar Quraisy sebanyak 11 orang mengepung rumah Rasulullah SAW untuk melaksanakan pesan Darul Nadwa beliau sudah berada di gua Tsur.

Setelah 3 hari berada di gua Tsur, pada hari Senin tanggal 1 Rabi’ul Awal 1 H (16-September-622 M) Rasulullah SAW bersama Abu Bakar melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib. Setelah menempuh perjalanan 7 hari, pada hari Senin tanggal 8 Rabi’ul-Awal 1 H tiba di Quba dan mendirikan Masjid di depan Rumah Kalstum bin al-Hadm. Di sini beliau menginap 4 malam.

Pada tanggal 12 Rabi’ul Awal 1 H beliau melanjutkan perjalanan dan saat rombongan Rasulullah SAW yang berjumlah 100 orang tiba di daerah Bani Salim bin ‘Awf beliau menerima perintah sholat Jum’at. Setelah sholat Jum’at berjamaah rombongan melanjutkan perjalanan sampai ke Yatsrib yang kemudian diberi nama al-Madinah al-Munawarah.

“Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW menerima wahyu ketika berusia 40 tahun, kemudian tetap di Mekah selama 13 tahun, kemudian diperintah hijrah. Beliau hijrah ke Madinah dan berada di sana selama 10 tahun hingga wafat” (HR. Ahmad dan Bukhari). (Mulyo Wiharto)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.