Lomba Pitulasan Gendong Rinjing Terbalik, Unik dan Penuh Makna

Lomba 17an menggendong rinjing terbalik di RT 3/RW 3 Kalijurang, Tonjong, Brebes, unik dan ternyata penuh makna (foto: Usmawati Atvin)

— Rinjing Terbalik —

Siang itu, 15 Agustus 2020, di sebuah perdukuhan zona hijau pandemi, tepatnya di Kalijurang RT 03 RW 03, Tonjong, Brebes, ibu-ibu berbondong mengikuti perlombaan kecil-kecilan ala kampung. Tentu dalam rangka peringatan tujuhbelasan atau pitulasan.

Lombanya unik dan terbilang langka. Yakni lomba menggendong “rinjing” terbalik. Anda tahu rinjing?

Rinjing adalah sebuah wadah yang cara membawanya digendong atau diindit (ditatakkan di pinggang). Rinjing terbuat dari rotan, yang dianyam sedemikian rupa, dengan empat kakinya terbuat dari bilah bambu yang sudah dihaluskan sisi-sisinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, rinjing digunakan untuk berbagai keperluan. Penulis sering melihat, di desa penulis, ia lebih sering digunakan untuk membawa hasil panen melinjo, atau hasil panen lain, juga untuk membawa beras saat kondangan.

Entah siapa yang memulai tradisi lomba menggendong rinjing terbalik. Namun yang pasti, sejak kecil, penulis sering melihat lomba ini tidak pernah absen dari lomba Agustusan.

Menggendong rinjing terbalik tidak semudah yang dibayangkan. Ia licin, dengan bentuk semakin ke bawah semakin mengerucut.

Emak-emak berlari membawa selendang untuk mengambil rinjing yang akan digendong secara terbalik. (Foto: Usmawati Atvin)

Menggendong rinjing terbalik, sejatinya seperti membawa sesuatu yang salah. Tidak pada tempatnya. Bukan seharusnya!

Saat membawanya, tak jarang ia jatuh sehingga peserta harus menghentikan langkah. Tak jarang ia terlalu licin untuk dikendalikan. Saat rinjing terjatuh itulah tawa riang berderai riuh, baik peserta maupun penonton. Sebuah hiburan murah meriah.

Rinjing terbalik, licin, dan susah ‘dikendalikan’. Karena cara menggendong yang salah.

Ini seperti saat sebuah jabatan dibawa dengan cara yang salah, seperti kasih sayang yang dimaknai dengan pembuktian yang salah, atau seperti diri sendiri yang dituruti dengan hawa nafsu yang salah.

Lebih sering menghentikan langkah hati, langkah pemikiran, dan mengeruhkan segala sesuatu yang jernih…

Seperti juga kehormatan jabatan yang disalahgunakan, pada akhirnya, menghentikan langkah keadilan dan kesejahteraan bagi yang dibawahi, ia lalu menjadi sesuatu yang dibenci.

Namun “rinjing” terbalik masih harus dibawa, hingga garis finish. Namun mungkin ketidakadilan masih harus dilakukan demi mencapai keadilan bagi dirinya dan golongan. Namun pembuktian yang salah masih harus diteruskan, demi terpenuhi hasrat dalam hati.

Dan mungkin hawa nafsu yang salah pun masih harus dituruti, demi kepuasan akan angan-angan?

Terlihat sederhana bagi mereka yang mengikuti perlombaan, terlihat lucu bagi yang “menyaksikan” hingga muncul perkataan “lucunya negeri ini’. Sebuah ironi yang absurd.

Apapun itu, menggendong rinjing terbalik bagi mereka warga yang tinggal di kampung-kampung (dusun, perdukuhan) tak ubahnya hanya pemersatu, hanya hiburan bagi kami orang-orang kecil.

Cikarang, 17 Agustus 2020
Dirgahayu Republik Indonesia ?

(Usmawati Atvin, jurnalis warga asal Kalijurang, Tonjong, Brebes, kini tinggal di Cikarang Bekasi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.