Solusi Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Ilustrasi belajar darinya (foto edukasi.kompas.com)

Di media sosial, makin banyak keluhan biaya paket data, juga kepemilikan smartphone, dari wali murid / orang tua siswa yang berkategori tidak mampu (miskin) untuk proses belajar saat pandemi Covid-19 ini. Terlebih orang tua yang memiliki 2 (dua) anak atau lebih. Pemerintah harus segera mencari solusi agar anak tetap bisa belajar, dengan biaya rendah dan tidak terbebani biaya-biaya pembelajaran online, dan proses belajar tetap dalam koridor protokol kesehatan.

Ini sekadar ‘celoteh’ dari orang yang bukan ahli pendidikan, tapi turut sangat prihatin dengan keadaan.

Salah satu yang perlu dipikirkan barangkali adalah memecah rombongan belajar (rombel) kelas atau level menjadi beberapa kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil ini tetap bertatap muka dengan guru di kelas, tapi dengan waktu yang tidak lama karena harus bergantian dengan kelompok lain. Terapkan protokol kesehatan, duduk berjarak, sediakan alat cuci tangan, pakai masker, dan protokol lainnya. Selesai tatap muka pastikan siswa harus langsung pulang ke rumah.

Karena waktu tatap muka singkat, berikan pelajaran yang utama saja (yang utama apa bisa dibahas, atau mungkin sudah ada panduannya). Manfaatkan buku-buku di perpustakaan sekolah untuk dibawa pulang siswa ke rumah. Beri PR ke siswa agar waktu yang lebih banyak di rumah dimanfaatkan mengerjakan tugas-tugas. Buku yang dibawa siswa menjadi kesatuan dengan tugas PR, sehingga tidak perlu mencari sumber lain seperti googling (karena kalau ini dilakukan ujungnya perlu paket data… Gak solutif dong).

Konsekwensi tatap muka pendek dengan beberapa kelompok itu, guru akan harus lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah/kelas. Pikirkan insentif overtime (pasti akan lebih murah daripada harus dengan subsidi pulsa/paket data/HP ke siswa). Atau diatur sedemikian rupa agar tidak perlu overtime karena tatap muka hanya mata pelajaran utama.

Sebagai contoh dari praktek pecahan kelas itu, dalam bentuk berbeda, saya melihat di PAUD dimana saya menjadi pengurus yayasan, anak-anak satu level dibagi dalam beberapa kelompok. Karena ada larangan tatap muka di kelas, maka para Bunda PAUD yang ‘mengalah’ datang ke kelompok tersebut yang belajar secara bergantian di rumah-rumah wali murid. Senin di rumah A, Selasa rumah B, dst sesuai kesepakatan. Pembelajaran di rumah ini sebenarnya bisa dilakukan di kelas, dengan cara masuk kelas secara bergantian antar kelompok. Toh protokol kesehatan sama2 diterapkan. Namun karena ada larangan tatap muka dari Dinas terkait, maka pembelajaran diadakan di rumah-rumah. Apa bedanya dengan tatap muka di kelas ya? Hehe…

Saya sangat paham adanya kerumitan dalam merumuskan kebijakan yang implementatif dan efisien (=murah) di sektor pendidikan di masa pandemi ini. Juga kerumitan di sektor-sektor lain. Namun di dunia pendidikan, sebagai sektor investatif yang menentukan nasib bangsa di masa depan, harus sangat dipikirkan dengan tidak asal-asalan. Pemangku kebijakan harus benar-benar mengerti keadaan riil saat ini yang dialami kebanyakan orang, agar mereka tetap bisa menatap masa depan (yang Mas Menteri Nadiem sudah tahu masa depan itu seperti apa) . (Puad Hasan, pengurus Yayasan LPPM Putra Galuh) 

#SekedarOpini #SavePendidikanNasional #PikiranAwam #BukanAhliPendidikan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.