DELAPAN SAKSI BISU PERLAWANAN ORANG-ORANG BANYUMAS(AN) BERSAMA PANGERAN DIPONEGORO TERHADAP BELANDA

DELAPAN SAKSI BISU PERLAWANAN ORANG-ORANG BANYUMAS(AN) BERSAMA PANGERAN DIPONEGORO TERHADAP BELANDA

Kisah perlawanan orang-orang Banyumas(an) bersama Pangeran Diponegoro terhadap kesewenang-wenangan penjajah Belanda sangat minim dalam catatan-catatan sejarah.

Dalam buku “Takdir” tulisan Peter Carey, seolah-olah kisah perlawanan orang-orang Banyumas cuma menyisakan saksi bisu berupa Gua Masigit Sela di perairan Nusakambangan sebagai tempat beristikharoh Kyai Jayamustapa. Beliau diutus oleh Pangeran Diponegoro yang sedang bimbang karena sedang berada di antara dua pilihan: bertahan atau melawan. Hasil istikharohnya, Pangeran Diponegoro harus melawan. Pada tahun 1830 berkobarlah perang Jawa yang banyak timbulkan kehilangan nyawa, harta dan benda dari keduabelah pihak.

Saksi bisu kedua, adalah padukuhan Kalijering di Desa Selanegara, Kecamatan Sumpiuh. Dukuh/dusun di tepi Kali Reja ini pernah dijadikan markas batalion Pangeran Diponegoro.

Saksi bisu ketiga adalah pembangunan jalan raya antara kota Banyumas-Buntu yang harus mengepras bukit Krumput. Konon, jalan itu dibangun sebagai jalan inspeksi untuk membendung/menghadang kepulangan serdadu Pangeran Diponegoro ke arah timur. Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap di Magelang, para serdadunya banyak yang bersembunyi di daerah Wonosobo bagian utara dan lereng selatan Gunung Slamet.

Saksi bisu keempat, adalah penanaman pohon sawo. Para pengikut, antek-antek dan apapun yang berbau Pangeran Diponegoro selalu dibumihangus dan ditumpeskelor oleh Belanda. Mereka mengira akan menjajah Indonesia selamanya. Untuk menyamarkan keberadaannya pada sesama pengikut Pangeran Diponegoro, mereka menanam pohon sawo kecik secara berjajar di depan rumahnya. Sama saja mereka merapatkan shaw (barisan) secara senyap karena “shaw” mengandung persamaan bunyi dengan “sawo”.

Saksi bisu kelima adalah keberadaan sumur di sisi kanan belakang rumah untuk menandai antar sesama pengikut dan antek Pangeran Diponegoro. Padahal, umumnya rumah-rumah di Jawa selalu berada di sisi kiri belakang rumah.

Saksi bisu keenam, adalah kebisuan kisah perlawanan Senapati Singadipa. Kenapa bisu? Karena kisah-kisahnya sangat minim yang dapat diceritakan generasi-generasi berikutnya sekalipun tanpa ditulis dalam buku. Diskusi tentang kisah-kisah perlawanan Senapati yang konon tak pernah menyerah pada Belanda cuma berhenti pada kisah “umpetan jroning kemben”, berpindah-pindah tempat sambil memperistri banyak wanita dan dengan menggunakan “heteroname.”

Kenapa kisah-kisah perlawanan orang-orang Banyumas(an) bersama Pangeran Diponegoro terhadap Belanda selalu dalam sisi gelap alias bisu? Kisah-kisah itu bukannya tak ada. Tetapi memang Belanda sangat berkepentingan kisah-kisah perlawanan itu gelap segelap-gelapnya. Soalnya pasca perang Jawa itu, Banyumas(an) oleh Belanda dianggap sangat strategis secara sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Berhubung kawasan Banyumas(an) diserahkan oleh Keraton Surakarta untuk dieksploitasi sebagai pampasan kekalahan Pangeran Diponegoro, maka saksi-saksi perlawanan orang-orang Banyumas harus bisu sebisu-bisunya. Kalau kisah-kisah perlawanan itu banyak bicara, selalu akan menginspirasi atau memberi spirt melawan Belanda yang pada gilirannya akan mengadakan sabotase.

Terbukti, Belanda dalam mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia Banyumas(an) sangat sukses. Berkat perkebunan tebu dan industri pengolahan tebu menadi gula, komoditas hasil perkebunan orientasi ekspor seperti tanaman rami, indigo, kopi, kayu manis, genetri dan lainnya, Belanda konon dapat melunasi kebangkrutan ekonomi kerajaan tak saja akibat biaya penumpasan perang Diponegoro, tetapi juga dapat melunasi pampasan kalah perang dengan Perancis. Konon ada yang bilang, banjir rob daratan Belanda yang lebih rendah dari laut juga dapat diatasi dengan pembangunan bangunan air berupa bendungan-bendungan yang biaya pembuatannya berasal dari hasil eksploitasi sumber daya yang ada di Banyumas(an), Bagelan dan Madiun.

Maka, saksi bisu ketujuh perlawanan orang-orang Banyumas bersama Pangeran Diponegoro terhadap Belanda adalah eks bangunan pabrik-pabrik gula di Klampok, Sokarajaa, Kalibagor, Purwokerto dan Sumpiuh.

Sedangkan saksi bisu kedelapan adalah bangunan-bangunan air seperti bendung Banjarcahyana, Bendung Selomerto, Bendung Pandak-Raden, Bendung Kali Kranji, bangunan sier dan tersier, kwartier pengairan perkebunan tebu serta PLTA Ketenger untuk hasilkan listrik penggerak mesin pengolah tebu menjadi gula. Dan juga, bangunan setasiun KA beserta rel KA peninggalan Belanda sebagai sarana pengangkut hasil industri petanian ke pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Saksi-saksi bisu masih banyak diidentifikasi.

Banyumas(an) punya sumber daya alam dan sumber daya manusia hebat. Kehebatan itu dapat diolah dengan kecerdikan (tentunya kecerdikan yang bermartabat). Kenapa pemerintah daerah sekarang tak mengulangi kecerdikan Belanda mengolah kehebatan-kehebatan itu untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pembangunan kekinian?

Raja Belanda… pada kedatangan anda di Indonesia saat ini, maukah anda makan mendoan dari Banyumas dengan “nyigit” lombok rawit Baturraden yang terkenal amat pedas itu? Ketahuilah, pedasnya lombok rawit Baturraden itu tak sepedas saat kau menjajah bumi Banyumas(an). (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.