Menoreh Kesenian Tradisional Cilacap di Ambang Kepunahan

Pentas dan Kajian Seni “Menoreh” sebagai acara pembuka rangkaian gelaran Dayeuhluhur Art Culture 2019 Kabupaten Cilacap telah berlangsung pada hari Minggu, 20/10/2019, pukul 21.00 wib sampai selesai. Gelaran seni pertunjukan ini dilanjutkan dengan pengkajian seni oleh Darno, S.Sen, M.Sen akademisi seni pertunjukan tradisional dari dari ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta dan Indra Rukmana, M.Sen akademisi dari Universitas Nahdatul Ulama Al Ghazali (Unugha Cilacap), bertempat di Pendapa Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap.

Kabupaten Cilacap masih mempunyai hamparan persawahan yang sangat luas di eks Distrik Sidareja dan eks Distrik Kroya, sangat beralasan jika Cilacap menjadi lumbung padi terbesar kedua setelah kabupaten Demak.

Keutamaan sektor pertanian yang dipunyai Kabupaten Cilacap menjadikan kesenian tradisional masih bisa bernafas. Berhubung kesenian tradisional selalu bernafas agraris, maka menjadikan kesenian tradisional Menoreh dari Desa Mekarsari ini masih dapat bertahan. Pada prakteknya, selain kesenian tradisional jika dikaji mendalam mempunyai nilai-nilai lokal agraris, kesenian tradisional akan ramai ditanggap jika panen padi selalu melimpah. Sebab para petani yang panen melimpah akan mengekspresikan raya syukur dan kegembiraannya dengan menanggap kesenian tradisonal.

Darno, S.Sen., M.Sen dalam kajiannya menyoroti kesederhanaan properti panggung yang kurang milenial. Kemajuan teknologi dapat memilenialkan seni pertunjukkan Menoreh lewat sentuhan properti panggung khususnya perlampuan (lighting). Lanjut Darno, Sesungguhnya tetabuhan musik ilustrasi perkusi dari rebana, bedhug dan kendang sangat bagus. Akan bertambah bagus jika ritme dan temponya dibikin naik turun menurut ekspresi dialog dan adegan yang sedang berlangsung.

Indra Rukmana nara sumber kedua senada dengan Camat Wanareja Drs Muhamad Najib., Msi dalam kajiannya masih menyoroti hubungan properti bisa mempertegas efek dramaturgi.

Saat sesi interaktif dengan para penonton, Hari Widiyanto salah satu penonton dari Purwokerto menyampaikan ide dan gagasan ngurip-uripi kesenian tradisional. Menoreh yang selalu bawakan kisah-kisah Menak dalam cerita Umarmaya dan Umarmadi. Menurut Hari Widiyanto, pemberian order tanggapan dan bantuan berupa hibah property panggung berupa kostum beserta instrumen musik pengiring dari birokrasi pemerintah yang berkompeten dalam seni dan budaya tradisional merupakan usaha-usaha parsial. “Bantuan selanjutnya pada kesenian Menoreh dan kesenian tradisional lainnya di Kabupaten Cilacap hendaknya juga berupa bantuan terpadu yang sifatnya dapat menyentuh langsung pada mata pencaharian pelaku/pegiat kesenian tradisional itu”, kata Hari.

Menurut Hari Widiyanto, kesenian tradisional Menoreh dan kesenian tradisional lainnya di Kabupaten Cilacap akan selalu bisa eksis jika sektor pertanian khususnya persawahan tanaman tanaman padi masih terhampar luas terus selalu direvitalisasi. Oleh karena itu ngurip-uripi kesenian tradisional selain aktif berikan order tanggapan juga selalu adakan revitalisasi budidaya pertanian tanaman padi. Salah satu caranya, bisa dengan memberikan program pelatihan wirausaha tani pada para pelaku/pegiat kesenian tradisional. Tentu saja program itu merupakan program lintas kedinasan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga.

Secara khusus, Hari Widiyanto mengharapkan pada Wantini Kades Mekarsari, Cipari, agar mengkolaborasikan program terpadu ngurip-uripi Kesenian Menoreh dengan BUMDes Mekarsari lewat fungsi holding company atau enterprise pada BUMDes. Uang dana bantuan ngurip-uripi kesenian tradisional Menoreh dijadikan aset bersama pelaku/pegiat Kesenian tradisional Menoreh dengan BUMDes. Uang program itu hendaknya juga didampingi oleh uang DD (Dana Desa). Artinya, grup seni pertunjukan Menoreh juga dijadikan aset BUMDes.

Lanjut Hari widiyanto dalam sesi interaksi, dalam prakteknya budidaya tanaman padi juga melibatkan para buruh tani penduduk miskin Desa Mekarsari dalam menggarap lahan dan merawat tanaman padi yang dikemas dalam PKT (Padat Karya Tunai). Sehingga program ngurip-uripi kesenian tradisional Menoreh seperti sekali mendayung perahu, dua, tiga atau empat pulau terlampaui. Artinya, sekali ngurip-uripi kesenian tradisional (Menoreh) sekaligus juga melaksanakan program-program pemerintah lainnya secara lintas kedinasan. Pada muaranya lewat ngurip-uripi kesenian tradisional, sekaligus juga dapat mengurangi jumlah penduduk miskin. Muaranya akan dapat langsung mengurangi angka kemiskinan di Desa Menoreh.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap Badrudin, SH., MH, grup Kesenian Menoreh Gunungsari Mandiri dari Desa Mekarsari, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap merupakan satu-satunya grup lesenian Menoreh yang tersisa di Kabupaten Cilacap. Oleh karena itu pihaknya berusaha mengingatkan kembali keberdaan kesenian tradisional ini pada masyarakat Kecamatan Wanareja dan Dayeuhluhur khususnya dan masyarakat Kabupaten Cilacap pada umumnya. Usahanya ini juga merupalan juga salah satu langkah konservasi mengkonservasi salah satu seni pertunjukkan yang di Kabupaten Cilacap agar terhindar dari kepunahannya. (hw)

1 Comment

  1. Apapun langkah para penentu kebijakan dalam usaha ‘ngurip-uripi’ kesenian tradisional, sy sangat mendukung.
    Sebagai penikmat seni, mendengar ada kesenian yg hampir punah, dan sy belum sempat menikmatinya, sangat menyayangkan, walau hanya untuk sekedar menonton pertunjukannya.
    Bersemangatlah para dinas yg berkompeten dlm hal ini…
    Mumpung masih ada orang-orang yg peduli, seperti bpk Hari Widianto, dan yg lainya…
    Pokoké, maturnuwun dalam usahanya melestarikan seni budaya Indonesia….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.