Kampanye Pemilu Tempo Dulu (1955): Partai Berantem, Ketua Partai Ngopi Bareng

Kampanye tempo dulu, 1955.

PARTAI BERANTEM
(Ketua Minum Teh di Warung)

Untuk Pilpres dan Pileg yang akan digelar pada Rabu 17 April 2019, rasanya persaingan partai masih wajar-wajar saja, masih normal-normal saja.

Coba tengok Pemilu 1955 lalu, dimana ada dua partai yaitu Masjumi dan PKI yang bersaing sangat keras, nyaris “vulgar” — kalau dilihat dari sudut pandang sekarang.

Dibawah kekuasaan Masjumi – PSI uang sdr digunting.
Pilihlah PKI
(Iklan Kampanye PKI)

Memilih Palu Arit
Berarti Menjerahkan Indonesia Kepada Kekuasaan Asing
Untuk menghindarkan itu
Tusuklah Bintang Bulan.
(Iklan Kampanye Masjumi).

Iklan kampanye Pemilu 1955 itu, saling serang antara Masyumi dan PKI di Indonesia, memanas pada awal 1954, setahun sebelum pemilihan umum digelar.

Konflik keduanya tidak hanya melibatkan anggota partai, tapi dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang Rusia).

Pada medio Mei 1954 terjadi bentrok di lapangan. Partai Masyumi menggelar perheletan besar di Malang Jawa Timur, untuk mendampingi rapat umum PKI di tempat yang sama. Kedua partai masing-masing mengerahkan masanya ke Alun-alun Malang.
Bahkan masa Masyumi yang datang dari Surabaya dan Malang membaur bersama dengan ribuan anggota PKI yang menunggu kehadiran Ketua PKI DN Aidit.

Suasana tegang ditambah lagi terlihat spanduk membentang yang bertuliskan kalimat memojokkan Partai Masyumi dari pidium tempat DN Aidit berpidato.

Spanduk itu menanggapi demonstrasi Masyumi di Jakarta pada 28 Februari 1954.

Emosi kedua masa akhirnya tersulut setelah Audit berpidato yang dalam pidatonya memojokkan Masyumi.

Bahkan bukan hanya simpatisan dan tokoh politik, media masa onderbouw kedua partai pun berseteru lewat judul-judul berita mereka.

Masyumi dengan Majalah Hikmah dan Harian Abadi, PKI dengan Harian Rakjat.

Uniknya dari sejarah keduanya juga terkuak bagaimana persaingan politik tidak mempengaruhi “persahabatan” antara dua pucuk pimpinan partai.

Meski demikian konflik antar kedua partai ini lantas tidak membuat pimpinannya tak akur. Buktinya, pendiri Partai Masyumi Mohammad Natsir dan tokoh PKI DN Aidit sering nongkrong di warung.

Cerita itu dituturkan Natsir sendiri saat ditemui Adnan Buyung Nasution untuk wawancara desertasi di Universitas Utrech, Belanda.

“Mereka bisa berdebat keras di dalam gedung parlemen tapi kalau sudah di luar , minum teh bareng di warung seperti tak ada apa-apa”, kata Adnan Buyung Nasution (Advokat Senior). (Iman Nurtjahjo)

Sumber dari Mingguan Hikmah dan Harian Rakjat yang dipublikasikan kembali oleh Majalah Historia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.