Ini Sejarah Sumur Mas, Hingga Puan Maharani dan Ganjar Pranowo Cuci Muka di Sana

Puan Maharani dan Ganjar Pranowo di Sumur Mas Banyumas

BanyumasNews.com  – Menko PMK Puan Maharani dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meninjau Sumur Mas yang ada di belakang Pendopo Duplikat Sipanji Banyumas, pada Minggu (10/02/2019) lalu. Mereka berdua pun sempat mencuci muka dengan air sumur tua tersebut.

Nah, ada apa sebenarnya dengan sumur tua tersebut sampai kedua tokoh itu mau mencuci mukanya dengan air dari sumur itu?

Menilik lokasinya, sekilas tidak ada yang aneh pada lubang berdiameter sekitar 15 sentimeter di belakang bekas rumah tinggal Bupati Banyumas tempo dulu itu. Namun  sumur tua itu menyimpan sisi lain yang istimewa di mata masyarakat.

Lubang kecil itu tak ubahnya sumber mata air biasa, yang memancarkan air dari dalam perut bumi. Sumur tua itu selain disebut Sumur Mas, oleh masyarakat juga disebut Sendang Mas, atau kolam bewarna emas.

Disebutkan oleh berbagai sumber, sumur itu menjadi saksi bisu sejarah perpindahan pusat pemerintahan Banyumas semasa kepemimpinan Bupati Banyumas ke-7, yakni Raden Malik Ganda Kusuma atau dikenal dengan Yudanegara II.

Sumur Mas itu ada yang merawatnya. Yakni juru rawat (kunci) Sendang Mas, yang kini diamanahkan kepada Triyono Indra.

Puan Maharani sedang mengambil air Sumur Mas

Awal mula munculnya sumur mas itu, pada sekitar 1708 saat tlatah Banyumas dalam kondisi kacau, Bupati Yudanegara II memilih menyepi di hutan yang sepi, yakni di hutan perbukitan yang bernama Wanasepi di  wilayah Desa Binangun Banyumas.

Maksud Yudanegara menyepi bukan menghindari masalah yang tengah dihadapi pemerintahannya. Tapi pergi dalam rangka mencari ketenangan diri, bertapa di alam sunyi guna mendekatkan diri ke Ilahi. Ia menyepi untuk mendapatkan wangsit (ilham) yang turun sebagai solusi atas masalah yang tengaj dihadapi pemerintahanya.

Sampai pada suatu sore di hari Kamis Wage, saat malam menjelang, Yudanegara melihat garis cahaya jatuh di perbukitan. Garis atau kilatan cahaya membuat hijau daun tampak berubah warna menjadi keemasan.

Inilah pertanda alam yang dipercaya Yudanegara II sebagai petunjuk yang tengah ditunggu dalam tirakat menyepinya. Ia  meyakini itu sebagai petunjuk yang tengah ia nantikan.
Yudanegara II pun beringsut lari mengikuti arah titik kilatan cahaya yang mengarah ke lembah di antara dua bukit itu. Sampai di tempat yang dinamai Geger Duren itu, langkahnya terhenti. Ia menemukan sumber mata air (tuk) yang mengucur dari perut bumi hingga menggenangi permukaan tanah.

Yudanegara II merangkai setiap pertanda, lalu mengartikannya, hingga menjadi petunjuk yang utuh. Tempat mata air adalah ladang kemakmuran, karena di sana ada sumber kehidupan.

Yudanegara II merasa telah menemukan jawaban atas masalah yang membelit pemerintahannya. Ia memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke Geger Duren, tempat yang menjanjikan kemakmuran.

Sumber mata air yang disebut Sendang Mas itupun kemudian dimanfaatkan warga sebagai sumber penghidupan.

Tuk atau sumber mata air itu hingga kini tetap memancarkan air dari dalam bumi, tetap dirawat oleh generasi yang silih berganti.

Sumur itu konon pernah sempat ditutup saat pemerintahan kolonial Belanda. Tetapi usaha menutup sumur itu gagal karena air tetap keluar dari tanah. Wow!

Hingga kini sumur itupun masih sering dikunjungi masyarakat dengan beragaj tujuan. Ada yang sekedar berziara datang untuk napak tilas kepemimpinan Yudanegara II yang menjadi pemimpin besar Banyumas di masa lalu.

Namun tak sedikit yang datang dengan hajat ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin, entah nyalon Bupati, nyalon Lurah, atau calon legislatif.

Puan Maharani berhasil mengambil air Sumur Mas
Para peziarah Sendang Mas memang bebas mengambil air dengan cara menimba menggunakan batok kelapa bertali merah. Pemakaian batok menyesuaikan ukuran lubang sumur yang hanya berdiameter sekira 15 sentimeter. Tali merah dipakai sebagai simbol keberanian untuk menghadapi masalah.

Namun, tidak semua orang beruntung mendapat air jernih dari sumur itu. Sumur itu pada masa tertentu airnya kering hingga susah diambil. Kadang jika tak beruntung, air sumur yang ditimba justru bewarna keruh. Nah apakah warna air yang jernih dan keruh itu suatu tanda alam bagi yang mengambilnya?

Semua berpulang kepada para peziarah. Namun tentunya harus diingat jangan sampai terperangkap dalam kepercayaan yang dapat menyimpang bagi mereka yang memegang teguh agama mereka. Wallahu a’lam. (BNC/*)

Foto-foto: Parsito Humas Pemkab Banyumas

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.