Pengaruh Bahasa Dialek Banyumas (Ngapak-ngapak) Terhadap Bahasa Indonesia

Pengaruh Bahasa Dialek Banyumas (Ngapak-ngapak) Terhadap  Bahasa Indonesia

Oleh:  Drs. JOKO SUSILO 

Bahasa Jawa khususnya dialek Banyumas cukup menarik diperhatikan karena bahasa dialek tersebut dirasakan unik dan menarik. Hal itu dikarenakan Bahasa Banyumas belum memiliki standar baku. Keunikan yang dirasakan oleh penutur bahasa dialek Banyumas bisa terlihat dari beberapa hal. Menurut (Priyono, 2014) keunikan tata bunyi fonem vokal dan fonem konsonan, silabe (suku kata) yang lebih panjang dibandingkan bahasa Jawa standar, dan keunikan pada afiksasi yang diperlihatkan pada bentuk {-aken} dan pasif persona kedua. 

Selain itu, keunikan dialek Banyumas merupakan cerminan identitas masyarakat penuturnya. Salah satu identitas masyarakat Banyumas antara lain memiliki karakter budaya egaliter dan blaka suta. Blaka suta adalah sebuah sikap ungkapan yang terus terang yang sudah melekat / menempel / mendarah daging di masyarakat Banyumas.

Blaka suta bervariasi dengan kata cablaka, thokmelong, dan blak-blakan yang bermakna egaliter, terus terang, berbicara apa adanyalahir dan batin terucap semua, tidak ada yang ditutup-tutupi dan tidak inginmenggunakan basa basi. Ungkapan ini biasanya dipakai masyarakat Banyumas untuk memberi masukan, namun tidak menyinggung bagi yang dikritik. Yang dikritik tidak merasa terganggu atas kritikannya. Karakter blaka suta sebagai ciri kepribadian masyarakat Banyumas dapat dilihat dalam praktik ucapan dialek Banyumas sehari-hari oleh masyarakat penuturnya.

Bahasa Jawa Dialek Banyumas merupakan identitas masyarakat Banyumas. Bahasa menunjukan jati diri dan kepribadian penutur dari mana penutur berasal. Bahasa Jawa Dialek Banyumas juga menunjukkan budaya masyarakat Banyumas yang egaliter dan apa adanya dalam berkomunikasi dengan penutur lain. Identitas yang paling menonjol dan dimiliki masyarakat Banyumas adalah Bahasa Jawa Dialek Banyumasan yang sering disebut bahasa Ngapak-ngapak atau bahasa Banyumasan. Bahasa Banyumasan atau bahasa Ngapak-ngapak selama ini oleh sebagian besar masyarakat di luar Banyumas masih dianggap sebagai bahasa pinggiran, bahasa kasar, bahasa yang kurang bergengsi.

Menurut Dendy Sugono (1999), “bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi resmi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, dan di pergaulan sehari-hari.

Menurut Anton M. Moeliono (dalam Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia, 1980), berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan yang disamping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sebaliknya, mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. 

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, orang yang dibicarakan, serta menurut media pembicaraan. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan tulisan.

Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan ejaan bahasa yang telah disempurnakan (EYD), sedangkan ragam bahasa lisan diharapkan para warga Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa dengan baik serta bertutur kata sopan sebagai pedoman yang ada.

Bahasa termanifestasikan dalam bentuk kalimat. Kalimat terdiri atas unsur segmental dan suprasegmental. Unsur segmental berupa rentetan bunyi yang membentuk satuan-satuan bunyi. Unsur segmental itu berupa fonem, suku kata, kata, frase, klausa dan kalimat. Sedangkan unsur suprasegmental merupakan unsur kalimat yang berupa intonasi, tekanan, nada dan jeda. Pada unsur segmental kosa kata dialek Banyumas bisa menjadi referensi penggunaan Bahasa Indonesia. Penggunaan kata tertentu yang memiliki kosa kata dengan makna yang bisa menggambarkan dengan tepat suatu benda, atau (verba) kata kerja tertentu yang padanan katanya sangat bisa menggambarkan makna suatu kata dengan tepat. Misalnya dalam Bahasa Indonesia, /merangkak/ dalam bahasa Banyumas “mbrangkang, ngesod”.

Pada konteks penggunaan Bahasa Indonesia saat tertentu penutur asli dari Banyumas tidak bisa terhindar dari penggunaan kosa kata yang bersasal dari kosa kata Banyumas itu.

Itulah sekelumit gambaran tentang sumbangsih bahasa Jawa khususnya dialek Banyumas terhadap perkembngan Bahasa Indonesia, yang muaranya tergantung pada pemakai bahasa  itu sendiri, bagaimana caranya melestarikan (nguri-uri) supaya tidak terjadi benturan antara penggunaan bahasa ngapap-ngapak dengan Bahasa Indonesia, sebaliknya justru penggunaan kosa kata Bahasa Banyumas akan mendukung / menguatkan posisi Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.

Pengguna bahasa diharapkan akan arif dan bijaksana menjadi pengguna bahasa yang proposional adil dalam memperlakukan bahasa dialek Banyumas. Penulis berharap agar pengguna Bahasa Banyumas ngapak-ngapak tidak gamang bahwa apa yang dilakukannya sebenarnya sedang memperkaya khasanah penggunaan Bahasa Indonesia.

*) Drs. JOKO SUSILO,   Pendidik di  SMK Negeri 2 Banyumas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.