Gesture Satire dan Satire ala Jawa

Gesture satire Prabowo Subianto (capres) mendadak terkenal, menjadi topik berita di televisi-televisi. Dalam acara pembekalan relawan Prabowo untuk pemenangan pemilihan presiden 2019, yang berlangsung di Senayan, Kamis 22 November 2018, Capres dengan No. urut 02 dalam pidato sambutan banyak melakukan gesture satire untuk mengkritik perilaku elite politik.

Tentu saja di sini tidak akan membahas siapa elite politik yang dikritik Prabowo, melainkan dibahas tentang mulai banyaknya bermunculan satire-satire, yakni satire ala Jawa.

Dalam budaya Jawa, dikenal berbagai teguran yang dibungkus secara halus sehingga tidak menyakitkan bagi orang yang ditegur. Berbagai macam teguran tersebut dapat disebut “pasemon”.

Pasemon ini berupa falsafah adiluhung yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam keadaan kesal, gelisah, kebingungan menghadapi perilaku manusia yang tidak normatif, orang Jawa mampu memberikan sindiran sebagai bentuk kreatifitas.

Sindiran itu sekilas hanya terlihat seperti permainan kata yang ringan, tetapi dibalik itu terkandung makna mendalam dan mendasar.

Pasemon-pasemon itu dirubah sebagai satire, sindiran terhadap suatu keadaan atau sindiran kepada seseorang. Satire adakalanya bisa dimaknai sebagai ejekan.

Satire yang sering muncul dari pasemon atau satire ala Jawa terhadap ketimpangan perilaku manusia, diantaranya : mikul dhuwur mendem jero (menjadi: mikul kedhuwuren, mendem kejeron).

Pasemon di atas seharusnya bermakna: menjunjung tinggi kebaikan dan mengubur aib atau keburukan seseorang yang telah meninggal. Namun berubah makna menjadi melebih-lebihkan idola atau tokoh melebihi batas kewajaran, terlalu menyanjung, adakalanya sebuah kebohongan tetap diunggulkan, seakan tokoh tersebut adalah pahlawan (walau) bahkan sejatinya menyengsarakan rakyat.

Becik ketitik ala ketara (menjadi : becik ketampik ala ketampa). Orang baik harusnya diterima malah dicampakkan (ditolak), orang jahat seharusnya ditolak malah diterima.

Ing ngarsa sung tuladha (menjadi : ing ngarsa ngusung bandha), sebagai pemimpin seharusnya menjadi teladan yang baik, malah hanya memikirkan harta kekayaan untuk diri sendiri dan keluarga dengan cara korupsi.

Dan masih banyak pasemon-pasemon lain yang disatirekan.

Teks gambar di atas :
Permainan anak tempo dulu, bunga rumput diadu dengan cara memilin. Yang putus ujungnya kalah, yang tak putus menang.

Demikian juga Pilpres 2019 mendatang, hanya ada satu pemenang.

(Iman Nurtjahjo)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.