Milad 106: Muhammadiyah Baitul Ummah

Oleh Nurbani Yusuf

Pengantar: Persyarikatan Muhammadiyah memperingati Milad ke 106 tahun,  pada 18 Nopember 2018. Berikut refleksi singkat tentang Muhammadiyah di tengah arus perpolitikan dan bagaimana Muhammadiyah memaknai kehadirannya untuk kemajuan Indonesia (redaksi). 

***
(Tentang tema milad –red) Bersama-sama dalam kebaikan dan taqwa bukan bersama-sama dalam dosa dan permusuhan. Spirit membangun negeri thayibah di bawah ampunan. Negeri gemah ripah. Kita bangun bersama. Kita selamatkan bersama. Kita isi bersama. Kita tinggali bersama. Itulah Prinsip TA’AWWUN yang digagas dalam tema MILAD 106.

Keteladanan para faundhing father sebagai teladan dan rujukan dalam bernegara di tengah ujian, “kita akan bangun negeri buat semua .. ” kata Bung Karno. Negeri buat semua golongan, buat semua suku, buat semua agama, buat semua rakyat. Bukan negeri untuk golongan tertentu, agama tertentu, ras tertentu atau kelompok tertentu. Bukan Negeri yang dipreteli kecil-kecil berdasar manhaj dan aliran-aliran yang terus berkonflik dan berselisih.

Kyai Haidar Nashir dalam pidato MILAD MUHAMMADIYAH di Pura Mangkunegaran Solo:

“Itulah mozaik ta’awun atau spirit kebersamaan yang diletakkan dengan kokoh oleh para pejuang dan pendiri bangsa secara autentik menuju Indonesia yang dicita-citakan, yang dalam perspektif Muhammadiyah disebut Indonesia Berkemajuan. Yakni Indonesia yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat yang menjelma sebagai Negara Pancasila yang modern dan berperadaban utama”.

***
MUHAMADIYAH bukan partai politik, juga bukan underbow salah satu partai tertentu meski dengan alasan apapun. Ketua PP MUHAMMADIYAH tegas menyatakan bahwa sikap ke-politik-an MUHAMMADIYAH adalah menjaga kedekatan yang sama dengan semua partai politik. Ini sikap arif lagi cerdik. Meski pendek tapi cukup memberi arah bagaimana seharusnya Pimpinan Persyarikatan ini.

Dinamika ke-politik-an di luaran tidak sama dan tidak se-irama dengan ruh Persyarikatan. Tegasnya sikap politik partai politik tidaklah sama dengan kepolitikan MUHAMMADIYAH. Dan mestinya ini menjadi garis demarkasi yang tegas agar spirit politik tak harus dibawa masuk.

Sebaliknya warna kesantunan, keadaban, ketulusan, pengurbanan dan ke-iklasan Persarikatan memberi warna ke-politik-an. Itulah ta’rif high politic, bukan malah menjadi bagian dari sistem demokrasi sakit yang mempraktikkan politik pragmatisme dan transaksional.

Idealnya persyarikatan kita menjadi dokter yang memberi resep dan meramu obat. Bukan masuk dalam lingkaran konflik dan kepentingan, khawatirnya malah dimangsa binatang politik yang lapar. Karena tak cukup bekal dan trampil bersiasah.

***
Karena menjaga kedekatan yang sama dengan semua partai politik, MUHAMADIYAH memberi ruang bebas bagi para kader dan seluruh anggota untuk menentukan pilihan politiknya termasuk bergiat dan beraktivitas.

Muhammadiyah ditagih adil dan tidak diskriminatif terhadap semua kadernya, tanpa pengecualian. Sebagai bentuk dan bukti bahwa Muhammadiyah memegang teguh sikap adil: tasaamuh dan tawassud.

Lahir dan besar sebagai Persyarikatan yang mandiri, tidak bergantung pada kekuasaan juga bukan oposan. Kyai Dahlan memberi rambu yang teramat sederhana meski pesan yang sarat. Jadilah guru. Jadilah dokter. Jadilah saudagar. Jadilah pokrol. Kembalilah kepada Muhammadiyah. Menjadi tenda besar, kata Buya Syafi’i Maarif.

Muhammadiyah menggembala umat dan rumah bagi siapapun. Prinsip taawwun bersama-sama dalam kebaikan dan taqwa bukan bersama-sama dalam permusuhan dan perselisihan.

Selamat MILAD .. Rahayu … Rahayu .. Rahayu …. ??????

@nurbaniyusuf
Ditulis di Pura Mangkunegaran Solo
Komunitas Padhang Makhsyar

(sumber: facebook Nurbani Yusuf)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.