Adjur Adjer, Etika Pergaulan Jawa

Tempo Doeloe : ADJUR ADJER

Manjing ajur-ajer, ambyur nyawiji menyang ombyaking masyarakat. Urip ing satengahe bebrayan ora kena nggugu karepe dhewe, nanging kudu ngumumi apa kang dadi adat tata cara ing papan kono.

Tanpa bisane nyawiji menyang ombyaking wong akeh, anggone urip ing kono prasasat lumut tuwuh ing sanduwure watu, yen rendheng urip, yen ketiga mati garing. 

(cuplikan buku Adjur Adjer)

Rupanya etika pergaulan sudah lama dicermati bangsa ini dan tampaknya sudah disadari sejak lama, bahwa pergaulan harus dilandasi etika “manjing ajur-ajer”.

Falsafah itu terdapat dalam buku lawas Bahasa Jawa terbitan 1961, dengan judul Adjur Adjer, penulisnya Imam Supardi, diterbitkan oleh Penerbit Penyebar Semangat.

Manjing ajur-ajer adalah ungkapan bahasa Jawa. Manjing artinya masuk, ajur artinya hancur, melebur, ajer artinya mencair.

Jadi, manjing ajur-ajer dapat diartikan masuk, kemudian melebur dan mencair di dalamnya.

Maknanya adalah jadi orang itu sebisa mungkin menyatu dengan lingkungan dan sekitarnya. Jadi orang yang bisa beradaptasi dengan lingkungan, beradaptasi dengan orang-orang di sekitar kita.

Tanpa berhasil menyatu dengan lingkungan, hidup tidak ubahnya seperti lumut di atas batu. Pada musim hujan tumbuh menghijau, pada musim kemarau kering kerontang.

Ajur-ajer tidak bisa dimaknai sebagai sifat yang tidak memiliki pendirian tetap. Dalam ajur-ajer, sifat asli tetaplah karakter asli, namun sikap menyatu dengan situasi lebih diutamakan.

Ajur-ajer bukan juga pencitraan sebagaimana para pelaku politik melakukannya, blusukan masuk pasar, masuk pesantren, turun ke sawah memanen padi, menyambangi pedagang kakilima dan sebagainya. (Iman Nurtjahjo)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.