Larangan Organisasi Ekstra Kampus Masuk ke Dalam Kegiatan Kampus Tidak Relevan Lagi

Prof Dr H. Abdul Basit

BanyumasNews.com – Abdul Basit dikukuhkan sebagai guru besar ilmu dakwah IAIN Purwokerto Jawa Tengah.  Dalam pengukuhan yang berlangsung di Kampus IAIN Jl A Yani Purwokerto,  ia membawakan pidato pengukuhan berjudul “HERMENEUTIKA DAKWAH KAMPUS: RADIKALISME, ISLAM, KONTESTASI IDEOLOGI, DAN KONSTRUKSINYA“.

Andul Basit meraih Pendidikan
Doktor Islamic Studies, konsentrasi Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada tahun 2010. Sebelumnya pada 2001 menyelesaikan Magister Islamic Studies, juga di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. S1-nya dari  Jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Pengalaman kerja Abdul Basit yang terakhir (2015-2019) sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Purwokerto, sebelumnya pada 2014-2015 Direktur Pascasarjana STAIN Purwokerto.

Radikalisme di Kampus itu Nyata 

Dalam pidatonya, Basit antara lain mengatakan, kampus hendaknya memberikan ruang publik (public sphere) terbuka kepada semua organisasi/lembaga dakwah untuk ambil bagian dalam kegiatan dakwah kampus. Adanya Keputusan Dirjen
Dikti yang melarang organisasi ekstra kampus masuk ke dalam
kegiatan kampus sudah tidak relevan lagi.

“Saya mengapresiasi ketika Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi meluncurkan Permenristekdikti No. 55 Tahun 2018 tentang Pembinaan Ideologi Bangsa dalam Kegiatan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi pada tanggal 29 Oktober 2018”, lanjutnya.

Dalam peraturan ini disebutkan bahwa Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) diperbolehkan masuk
kampus. “Meski demikian, peraturan yang baru ini mesti dikritisi dalam implementasinya, jangan sampai ada ruang pembatasan dan pemaksaan yang dilakukan oleh Rektor yang diberi kewenangan untuk mengawasi kegiatan organisasi kemahasiswaan yang dibentuk melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa (UKMPIB)”, kata pria kelahiran Bekasi th 1969 itu.

Jika hal ini terjadi, tambahnya, kita terlepas dari satu hegemoni Islam radikal akan menimbulkan hegemoni baru yang mengekang kreativitas dan keberagamaan mahasiswa. Dengan adanya ruang terbuka, organisasi dakwah kampus yang berideologi moderat dan liberal dapat masuk ke dalam aktivitas dakwah kampus.

“Kampus menjadi arena konsensus yang dapat mengembangkan dakwah yang rahmatan lil’alamin. Semua orang bisa berpartisipasi dan dengan kesadaran sendiri mahasiswa ikut
terlibat dalam berbagai organisasi dakwah kampus. Hal yang perlu
diperkuat sikap kritis dan toleran antar organisasi perlu ditumbuhkembangkan di kalangan mahasiswa”, katanya.

Menurutnya, pada saat ini belajar agama Islam kurang komprehensif manakala hanya menggunakan satu pendekatan agama saja (Pendekatan normatif). Agama bukan hanya berada dalam teks-teks tertulis atau lisan saja, tetapi agama sangat terkait dengan keberagamaan seseorang. Keyakinan, ideologi, spiritualitas,
ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial seorang pemeluk agama
merupakan realitas kehidupan yang begitu kompleks dan nyata. Jika
persoalan hidup manusia hanya didekati dengan satu pendekatan
agama saja, hasilnya tidak akan maksimal.

Karenanya pada era sekarang ini, ahli hukum banyak mengeluarkan fatwa dengan menggunakan berbagai disiplin keilmuan. Dalam bahasa lain, annushush al-mutanaahiyah wa al-waqi? ghair mutanaahiyah (Nash-nash itu terbatas, sementara realitas kehidupan manusia tidak
terbatas).

Oleh karena itu, materi-materi dakwah yang disampaikan oleh
para aktivis dakwah, jangan hanya berisi pada materi pokok aqidah,
syari’ah, dan akhlak yang berorientasi pada fiqh, al-qur’an dan alhadits (dalam tafsir literar dan terbatas), dan pandangan ulama salaf.

Da’i hendaknya memasukkan dan mengintegrasikan materi-materi
agama dengan ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam. Materi dikemas
dalam tema-tema keseharian mahasiswa yang terkait dengan
kehidupan modern, tantangan masa depan, problematika remaja, dan
perkembangan iptek.

“Kemudian materi-materi dakwah yang selama ini diajarkan oleh kelompok Islam radikal maupun islam liberal perlu dilakukan
revitalisasi dengan memperkuat pemahaman ajaran Islam yang
moderat dan mensinergikan dengan pendidikan kewarganegaraan.
Menurut Nailil Muna Yusak“integration of knowledge and
revitalizing the content of civics education subjects are two key strategies taken by the university to address the issue of
radicalism”, terangnya.

Demikian juga, materi-materi pendidikan agama Islam yang
diajarkan di kampus-kampus, tidak hanya sekedar mengenalkan
ajaran Islam dan selesai sampai pada tataran kognitif. Meskipun sks
pendidikan agama Islam ditambah, tetapi proses pembelajaran
sebatas hapalan dan indoktrinasi, kurang memberikan dampak yang
signifikan. Mahasiswa perlu diberikan materi-materi yang mudah
untuk dipraktekkan dalam kehidupan mahasiswa dan diperkuat
dengan menggunakan pendekatan interdisipliner/multidisipliner/
lintas disiplin.

Di akhir pidatonya Basit mengatakan Radikalisme Islam yang disinyalir menyasar kalangan mahasiswa tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Paham ini masuk melalui kegiatan dakwah kampus yang tumbuh pesat akibat dari pengaruh konflik di Timur Tengah dan adanya tindakan refresif dari pemerintah Indonesia terhadap kegiatan kemahasiswaan.

Mengingat radikalisme Islam telah menghegemoni kegiatan dakwah kampus hingga sekarang ini, maka diperlukan adanya gerakan moral dan intelektual yang dilakukan secara konsensus sebagai counter
terhadap gerakan radikalisme Islam. Organisasi kemasyarakatan
pemuda (OKP) atau organisasi dakwah kampus diberi kesempatan
masuk ke kampus untuk mengawal gerakan moral dan intelektual
tersebut. Gerakan dilakukan dengan cara melakukan perjuangan
politik, kepemimpinan intelektual, dan penyadaran ideologi melalui pendidikan dan mekanisme kelembagaan, kata Basit.

Selain itu, materi-materi dakwah hendaknya dikemas dalam balutan Islam moderat dengan mensinergikan ajaran agama Islam, sains, dan pendidikan kewargaan
melalui pendekatan interdisipliner/multidisipliner/lintas disiplin. (BNC/ae/ist)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.