Membedah Sosok Sederhana “HAEDAR NASHIR”

Sosok sederhana “HAEDAR NASHIR” dibedah di UMP

Menjadi pejabat di suatu negara, seringkali diidentikan dengan kemewahan dan hidup penuh kegelimangan harta. Dengan status sebagai orang nomor satu di negaranya, para pejabat tersebut pasti mendapatkan fasilitas A1.

Walau begitu, sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi Dr. H. Haedar Nashir, M.Si, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini. Memiliki kekuasaan dan berstatus sebagai pemimpin tertinggi di Muhammadiyah, tidak membuat beliau lupa dengan tangung jawabnya dan arti dari kesederhanaan.

“Kita ini membedah bukunya Pak Haedar, tidak sekedar beliau Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Beliau merupakan Ketua PP Muhammadiyah yang paling produktif. Bukunya sangat banyak sekali. Kita tidak tahu bahwa ada sosok lain dari beliau dengan kesederhanaanya. Pernah suatu ketika belau diundang di Jawa Timur, dia (Pak Haedar) dibawai oleh-oleh, dan dibawa sendiri oleh-oleh tersebut. Jadi dusnya itu dibawa sendiri,” cerita Dr. Anjar Nugroho mengawali penyampaian materi dalam acara Bedah Buku Kuliah Muhammadiyah di UMP, Sabtu (3/11/2018).

Lebih lanjut ia menceritakan, pernah beliau waktu di Cirebon, sedang menunggu kereta. Karena saking padatnya acara beliau, sehingga beliau sempat tertidur menunggu kereta. Ini sosok lain dari Haedar yang sangat luar biasa.

Untuk melengkapi sosok-sosok sederhana para pimpinan Muhammadiyah yang sebelumnya, Dr. Anjar menceritakan juga tentang kesederhanaan Buya Syafi’i Ma’arif. “Kita lihat ada Buya Syafi’i. Jadi beliau itu kalau dari bandara ke Jakarta itu tidak mau dijemput oleh mobil PP Muhammadiyah. Dia maunya naik Damri atau naik kereta. Dan dimana-mana di Jakarta beliau selalu naik angkutan umum,” paparnya.

Ini menjadi contoh bahwa pimpinan Muhammadiyah bukan pimpinan yang elitis atau yang jauh dari kesederhanaan. Namun, kata Dr. Anjar, selain sosok yang sederhana dan lain sebagainya, ada yang lebih abadi dari itu, yaitu karya. Dan karya itu bentuknya adalah buku.

“Buku itulah yang akan abadi. Kalau orang ceramah, sebaik apapun ceramah itu sebentar lagi akan dilupakan oleh orang. Banyak orator-orator yang kemudian mereka menyampaikan ilmu yang sangat banyak tetapi ketika disampaikan secara lisan saja, orang akan lupa, dan yang akan abadi adalah buku,” ungkapnya.

Sementara Pak Haedar telah menulis banyak buku. Nanti banyak orang akan mengenang sosok Ketua PP Muhammadiyah yang satu ini, itu dari bukunya. “Kita mengenal sosok imam terdahulu bukan karena sosok yang nampak saja, tapi kita mengenal mereka dari sebuah buku. Kita lihat karya beliau (Pak Haedar) banyak sekali. Dan pak Haedar ini merupakan tokoh inspiratif bagi aktivis Muhammadiyah,” pungkasnya. (BNC/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.