7.329 Takir Dibagikan ke Pengunjung Festival Gunung Slamet

Pengunjung FGS Diajak Makan Takir Bareng

BanyumasNews.com – Makan nasi bersama lauk-pauknya di rumah ataupun di warung makan menjadi hal yang sudah biasa dan rasa yang sudah tak asing di lidah. Namun bagaimana dengan makan nasi takir yang dilakukan pada kegiatan Festival Gunung Slamet (FGS) ke IV Tahun 2018, adakah perbedaannya? Tentu saja berbeda.

Nasi takir sendiri merupakan nasi yang diletakan pada sebuah wadah yang terbuat dari daun pisang ditambah dengan lauk yang beragam. Nasi takir ini juga tidak dijumpai setiap hari seperti nasi pada umumnya. Makan nasi takir bersama di Desa Serang biasa dijumpai saat memasuki Bulan Sura atau Bulan Muharram.

Berbeda dari tahun lalu, pada acara FGS ke IV tahun ini, pengunjung diajak untuk makan nasi takir bersama yang memang sengaja dihidangkan oleh warga Desa Serang. Masing-masing Kepala Keluarga menyediakan tiga takir untuk dibagikan kepada seluruh warga Desa Serang dan pengunjung FGS. Ada 7.329 takir yang dibagikan untuk pengunjung FGS tahun ini.

“Makan nasi takir bersama ini sebenarnya sebagai bentuk untuk ikut merasakan guyub rukun, gotong royong, tidak ada pangkat, tidak ada jabatan kita makan bareng di sini dan berbagi kepada wisatawan yang datang,” kata Kepala Desa Serang, Sugito saat ditemui pada rangkaian FGS ke IV Tahun 2018 di Lembah Asri Serang, Sabtu (29/9/2018).

Pengunjung Festival Gunung Slamet

Sebelum nasi takir ini disajikan untuk para pengunjung, takir yang disediakan warga diarak terlebih dahulu pada acara Pawai Budaya yang merupakan salah satu rangkaian dari FGS. Kemudian nasi takir yang dibawa warga diletakan pada Pendopo Lembah Asri Serang untuk ditata sebelum dibagikan. Hingga akhirnya nasi takir ini siap untuk diperebutkan oleh seluruh pengunjung yang datang pada saat itu.

“Kalau tadi itu bisa dilihat ribuan pengunjung berebut nasi takir mulai dari warga desa, tetangga desa, dan pengunjung dari luar kota untuk makan bersama di temapt ini (Lembah Asri Serang, Red),” ungkap Sugito.

Nasi takir memang sudah menjadi tradisi yang secara turun temurun berlangsung di desa ini (Serang, Red). Untuk itu, tradisi seperti ini menurut Sugito perlu terus dipertahankan untuk tetap menjaga tali silaturahmi antar warga Desa Serang maupun wisatawan yang berkunjung ke Desa Serang.

“Ini kan unik, kita bisa makan takir rame-rame, tentu ada nilainya tersendiri apalagi isiannya bebas yang pasti ada ikan asin dan tempe goreng,” ujarnya.

Sugito berharap dengan adanya agenda makan nasi takir bersama dapat melatih masyarakat Desa Serang untuk belajar berbagi. Selain itu juga ke depan diharapkan mampu mengundang para wisatawan untuk datang pada acara FGS di tahun-tahun selanjutnya.

“Ini tentu menjadi sesuatu yang baik bisa menikmati makan bareng dengan alas daun pisang sehingga ke depan bisa menarik para wisatawan untuk berkunjung. Apabila wisatawan sudah banyak yang masuk ke Purbalingga harapan kami ini sesuatu yang bisa dijual untuk menjadi objek wisata,” ungkap Sugito. (BNC/PI-7)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.