Ternyata Ada Karantina dan Penangkaran Burung Hantu di Banyumas

ADA KARANTINA DAN PENANGKARAN BURUNG HANTU DI KALICUPAK KIDUL KALIBAGOR

BanyumasNews.com – Diluar dugaan, ternyata karantina dan penangkaran burung hantu (kokokbeluk/serak jawa) atau Tyto Alba di kawasan Banyumas Raya tak hanya ada di Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap. Namun ada juga di Desa Kalicupak Kidul, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas.

Kontributor Banyumasnews.com, Rabu, 2 Agustus 2018, secara tak sengaja menemukan karantina dan penangkaran burung hantu itu, ketika sedang melihat-lihat persawahan pasca panen sadon di desa Kalicupak Kidul, Kecamatan Kalibagor.

Kontributor menemui Jovian Budi Kuntoro, yang sehari-harinya menjabat Kadus II Desa Kalicupak Kidul. Kebetulan, rumahnya berada satu kompleks dengan lokasi karantina dan penangkaran burung hantu itu.

Ia pengolola dan pawang pada karantina dan penangkaran burung hantu yang berdiri tahun 2016. Karantina dan Penangkaran Burung Hantu ini berdiri atas dana Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pemkab Banyumas tahun anggaran 2017.

Keberadaan karantina dan penangkaran burung hantu itu untuk mensuport 25 unit Rubuha (rumah burung hantu) yang ada di persawahan desa Kalicupak Kidul. Rubuha itu mulai berdiri sejak tahun 2015.

“Saya biasa menampung temuan anakan burung hantu yang terjatuh dari Rubuha. Karena anakan itu sedang latihan terbang, terkadang ada yang jatuh. Tak semua yang jatuh bisa naik lagi ke Rubuha. Setelah kami pelihara beberapa waktu sampai bisa terbang dan cari makan sendiri lantas, kami lepas liarkan”, tutur lelaki ramah yang akrab dipaggil Oki.

Oki dan karantina Kokok Beluk (HW)

Oki biasa menerima kunjungan widya wisata dari berbagai perguruan tinggi seperti IPB, Unsoed dan dari Gapoktan di sekitar Kalicupak Kidul.

Ketika ditanya bagaimana cara memberi makan puluhan burung hantu yang ada dalam sangkar maksi, setiap malam ia berburu tikus di persawahan dengan cara menembak dengan senapan angin.

Seekor burung hantu dewasa di sangkar maski biasa mengkonsumsi 6 ekor tikus dewasa per malam. Wow!

Walaupun setiap hari ia mempunyai renggan memberi makan puluhan burung hantu dengan tikus sebagai pakan alaminya, tetapi Oki sangat senang menjadi pawang sekaligus pengelola karantina dan penangkaran burung hantu di desanya.

Oki punya harapan besar bukan untuk dirinya, tetapi untuk para petani yang sering gagal panen karena panenanya dipupuskan oleh hama tikus. Di kemudian hari, karantina dan penangkaran burung hantu yang dikelola dirinya dalam kapasitas sebagai Ketua Gapoktan Tri Cupak Sari lebih bermanfaat lagi, baik untuk kalangan pertanian, perguruan tinggi maupun penyayang burung liar.

Lantas ia pun berandai-andai. Alangkah senangnya, jika karantina dan penangkaran burung hantu yang terletak di belakang rumahnya bisa ditingkatkan menjadi pusat pelatihan budi daya burung hantu. Sehingga bisa menginspirasi lebih luas lagi bagi pihak yang berkompeten dengan tanaman padi, mengingat burung hantu sangat bermanfaat kendalikan hama tikus. Ia pun bersedia menjadi mentor pelatihan.

Oki, lelaki kelahiran Desa Kalicupak Kidul, 14 November 1979, sarjana teknis mesin lulusan STTNas Yogyakarta pun akan senang hati diajak bincang-bincang tentang seluk beluk burung hantu, sebagai predator hama tikus tanaman padi dengan siapa pun. (Hari Widiyanto)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.