Kemiskinan Identitas Personal dalam Sejarah Kita

Tulisan ini diambil dari posting Facebook Jousari Hasbullah, pejabat di Biro Pusat Statistik (BPS). Kami muat karena sangat relevan dengan situasi saat ini atas bangsa Indonesia.

Homelessness Personal Identity (HPI) adalah Kemiskinan Identitas Personal. Masyarakat yang mengalami moral deceptionist: gemar menipu, menghujat, khianat dan gemar untuk saling jatuh-menjatuhkan.

Kita paham. Belanda yang kecil bisa 350 tahun bercokol di bangsa yang “besar”. Bangsa yang relatif gampang ditaklukkan.

Pada tahun 1596 segelintir kapal dagang yang dikenal sebagai VOC, dipimpin Cornelis de Houtman, datang ke Nusantara. Isi kapal itu hanya buruh-buruh perusahaan perdagangan dan sedikit tenaga keamanan. Mereka menaklukkan tuan rumah, dengan mudah. Sang penakluk disuguhi keramahtamahan.

Data statistik tahun 1674 menunjukkan (hasil daghregister) penduduk Batavia sebanyak 27 068 orang dan takluk pada VOC yang jumlahnya segelintir.

VOC pun diambil alih oleh pemerintah Belanda. Cengkeraman semakin kuat. Walaupun ada selingan pemberontakan-pemberontakan heroik, tapi tetap bisa ditumpas. Karena belenggu mental Homelessness Personal Identity yang terus menggerogoti.

Mari kita tengok Data Statistik yang menarik ini (dari publikasi hasil Sensus East Netherlands Inndies 1930).

Dari 60,8 juta penduduk Indonesia waktu itu, ditaklukkan oleh hanya 6.657 tentara Belanda. Setiap 1 orang tentara Belanda menaklukkan 1000 orang Indonesia?

Yang mencengangkan, justru.. eh ada tentara lain, yakni 20.026 tentara Belanda yang ternyata orang pribumi. Dari total 25.452 polisi, hanya 1.143 yang Belanda, 24.499 adalah saudaraku sendiri. Pribumi!

Sejarah kita tidak pernah menampilkan angka-angka ini. Karena sejarawan bukan statistisi. Maklum, kalau buku sejarah (isinya)  melulu perang.

Pengkhianatan, manipulasi kata, tipuan, fitnah dan saling jatuh-menjatuhkan sesama saudara sebangsa, kita warisi hingga hari ini.

Data yang benar berupaya dibelokkan maknanya. Satu saja tujuannya: saling jatuh menjatuhkan. Homelessness personal identity.

Saya percaya hasil Sensus Penduduk zaman kolonial 1920, 1930. Saya PERCAYA, karena dari zaman Caesar Agustust yg melakukan sensus di tahun 1 masehi, sampai hari ini.m tradisi orang yang darahnya statistik boleh keliru tapi tak kan pernah berbohong.

Ini yang kadang kurang dipahami dan pura-pura tidak dipahami oleh yang sedang berkepentingan.

Perjuangan kalian memang tak ringan kawan, di tengah suasana budaya: homelessness personal identity-society saat ini. Tetap lah teguh… (BNC/*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.