Mesin Penanam Padi (Rice Transplanter), Ini Plus Minusnya

BanyumasNews.com – Mesin penanam padi atau istilah lainnya Rice Transplanter ternyata mempermudah para petani dalam melakukan tanam padi. Desa Cilapar, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga,  salah satu desa yang diberikan bantuan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga untuk penggunaan mesin transplanter ini.

Apa kelebihan dan kekurangan alat ini?  Apa plus minusnya?

“Kami menanam padi ini menggunakan mesin tanam transplanter bantuan dari Dinas Pertanian yang mempermudahkan petani dan lebih hemat biayanya,” kata salah satu petani Desa Cilapar, Baryanto, yang tergabung dalam Kelompok Tani “Toto Raharjo”, saat dijumpai di area persawahan Desa Cilapar, Sabtu (28/7/2018).

Ia menuturkan, ada perbedaan antara menanam padi menggunakan mesin transplanter dan tanam secara manual. Dengan menggunakan mesin transplanter ini masa panen padi lebih cepat dibandingkan dengan tanam manual yakni hanya 90 hari.

“Kalau tanam biasa ya panennya 95 hari baru bisa panen, kalau ini (mesin transplanter, Red) 90 hari sudah panen,” ujarnya.

Pembibitannya pun dilakukan secara rapih, yang diletakkan dalam baki, hingga menghasilkan gulungan bibit padi yang siap ditanam menggunakan mesin transplanter. Bibit padi yang telah disiapkan ditata rapi di atas mesin, sehingga pada saat mesin dijalankan tanaman padi akan tertancap ke dalam tanah dengan sendirinya.

Kelemahan Transplanter

“Kelemahan kalau pakai mesin ini, kalau petakan sawahnya pendek-pendek mesin agak kesulitan, sebab banyak putaran,” ungkap Baryanto.

Ia menjelaskan mesin transplanter yang digunakan untuk menanam padi sudah ada sejak tahun lalu (2017, Red). Jadi terhitung sudah dua mesin ia menggunakan mesin transplanter untuk menanami padi di persawahan Desa Cilapar.

“Saya jadi petani sudah dua musim ini, Alhamdulillah hasilnya juga lebih baik dari tanam biasa,” tuturnya.

Petani di desa Cilapar mengoperasikan rice transplanter

Kepala Urusan (Kaur) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Cilapar, Agus Wahyudin, menjelaskan bantuan rice transplanter diberikan dan digunakan pada Tahun 2017. Pada Tahun 2017 lalu, yang menggunakan mesin tanam padi ini baru kelompok tani di Dusun II Desa Cilapar. Tahun ini di wilayah Dusun III, ada tambahan kelompok tani yang menggunakan,  yakni koptan Bina Karya Desa Cilapar.

Menurutnya, proses tanam mulai dari pembenihan sama seperti tanam padi lainnya yakni berawal dari perendaman. Dilanjutkan dengan penyemaian benih padi pada baki yang sudah ditata rapi sesuai dengan mesin transplanter yang akan digunakan.

“Usianya sendiri lebih muda menggunakan mesin transplanter ini jadi lebih cepat tanam,” ujarnya.

Ia menerangkan, ada sekitar 25 hektar sawah yang telah ditanami padi menggunakan rice transplanter yakni wilayah Dusun II, oleh kelompok tani “Toto Raharjo”. Dan sebagian kecil wilayah Dusun III sebagai uji coba penggunaan transplanter yakni kelompok tani “Bina Karya”.

“Harapannya dengan adanya mesin tanam padi ini yang pertama bisa mensejahterakan petani-petani di desa kami Desa Cilapar dikarenakan dapat menghemat biaya hampir 50 persen,” harap Agus.

Ia melanjutkan, Pemerintah Desa (Pemdes) setempat juga telah memikirkan terkait regenerasi petani manual yang minim regenerasi. Petani manual di Desa Cilapar sendiri kebanyakan merupakan ibu-ibu usia produktif dan generasi mudanya lebih memilih untuk bekerja sebagai buruh pabrik.

“Jadi mesin ini untuk ke depannya sangat bermanfaat bagi masyarakat desa kami,” ungkapnya. (BnC/PI-7)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.