Zaman Salah Kedaden

Oleh Iman Nurtjahjo

Dalam sebuah pentas wayang kulit dua puluh tahun silam, dengan episode lakon “Geger Celeng“, sebenarnya Demang Soropodo dengan senjata tombak Kyai Walang Kekek (melalui tangan Ki Dalang) sudah dapat melumpuhkan celeng yang begitu besar ujudnya.

Tapi, ketika mereka benar-benar mengamati bagaimana celeng itu dalam keadaan tak berdaya, penonton pun terkejut dan sadar, bahwa celeng itu sesungguhnya bukanlah celeng. Tiba-tiba celeng itu lari menghilang dari layar pakeliran.

Penonton pun terheran-heran. Biasanya adegan celeng ditutup dengan kemenangan Ki Demang Soropodo, tapi kali ini malah tak berhasil menaklukkan celeng dengan Kyai Walang Kekeknya. Malah celeng itu pergi, entah kemana. Maklum, celeng kali ini adalah celeng salah kedaden.

Celeng salah kedaden belum mati,
nafsunya meraba-raba dalam gelap hidup yang tak pasti-pasti. Nafsu ketamakannya masih sedalam laut,
kelobaannya setinggi langit,
kekuasaannya seluas bumi.

Celeng salah kedaden memasuki zaman salah kedaden. Celengnya lepas, liar kemana-mana bahkan berubah menjadi Mamang Murka dan Mamang Murka bisa muncul dimana-mana.

Muncul di mega proyek e-KTP dan proyek-proyek lainnya, bahkan muncul juga di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin. Ada jual beli fasilitas yang melibatkan “Mamang Murka” Kalapas.

Celeng salah kedaden enteng badannya. Bukan daging dan usus isi perutnya, tapi nafsu tak kasat mata
akan kuasa dan harta. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.