Kembali Satu Sekolah dengan Tukang Bully, Seorang Pelajar SMA di Purbalingga Tidak Mau Sekolah

Waspada! Bullying Rusak Psikologi Anak

BanyumasNews.com – Perundungan (bullying) sangat berpengaruh bagi psikologi anak, bahkan hingga sang anak tumbuh dewasa. Korban bullying akan merasa dirinya kecil dan sulit untuk bersosialisasi dengan baik baik di lingkungannya.

Inilah yang terjadi pada Melati (bukan nama sebenarnya) seorang anak berusia 15 tahun yang sekarang bersekolah di sebuah SMA di Purbalingga. Pada hari pertama MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), orang tua Melati merasa khawatir karena sang anak tak ingin berangkat ke sekolah barunya dan sang anak merasa ketakutan.

Ketakutan anak bukan sembarang ketakutan, namun sudah menjurus ke sebuah histeris yang mencemaskan. Sang orang tua perlahan menanyai Melati apa yang membuat dia terlihat begitu ketakutan.

Awalnya, Melati tidak mau menceritakan apa yang sudah terjadi. Namun dengan pendekatan yang lembut, orang tua berhasil membujuk Melati bercerita.

Melati, tutur orang tuanya, tidak mau bersekolah di sekolah barunya karena dia mengetahui dia kembali bersekolah bersama Mawar (bukan nama sebenarnya) yang telah melakukan perundungan kepada melati selama di SMP. Di kelas barunya (yang sementara), Melati juga tahu dia satu kelas dengan Mawar.

“Saya satu kelas dengan Mawar yang sudah 2 tahun (sejak kelas VIII SMP) membully. Saya merasa direndahkan di depan kelas dan selama itu saya merasa malu dan canggung untuk datang ke sekolah,” begitu kata orang tua Melati menirukan perkataan sang anak saat menemui pihak sekolah.

Ketika ditanya apakah Melati pernah melapor ke guru bimbingan konseling (BK) saat masih di SMP, Melati menjawab telah berkali-kali melapor namun respon guru BK yang menganggapnya aneh dan memiliki sifat kesulitan bergaul membuat Melati merasa percuma untuk kembali melakukan konseling.

Orang tua Melati berharap pihak sekolah barunya mampu memberikan perlindungan serta jaminan tidak ada lagi bullying yang menimpa anaknya.

“Saya sudah memohon kepada pihak sekolah baru anak saya, untuk memberikan perlindungan kepada anak saya dan memberi nasehat kepada pembully. Dan informasi terakhir yang saya terima, pihak sekolah telah mempertemukan antara anak saya dan pembully yang mencapai kesepakatan pembully tidak akan mengulangi perbuatannya dan sudah meminta maaf,” imbuhnya.

Kasus bullying di Purbalingga bukan kali ini saja terjadi. Korban bullying bahkan ada yang sampai meminta cuti hingga teman (pembully) tersebut lulus sekolah. Si anak yang berangkat sekolah menggunakan sepeda tampak seperti orang linglung melihat sepedanya dirusak temannya di parkiran sekolah. Pagi harinya orang tua mengajukan cuti hingga waktu yang tidak bisa ditentukan dan diketahui sang korban bullying meminta cuti hingga pembully lulus dari sekolah tersebut.

SMA N 1 Purbalingga bergerak cepat agar perundungan tidak masuk di lingkungan sekolah tersebut. Saat membuka upacara MPLS Senin lalu (16/7/2018), kepala sekolah SMA N 1 Purbalingga, Kustomo, mewanti agar peserta didik baru tidak melakukan bullying dan harus menghilangkan budaya bullying.

Dia memperingatkan jika suatu hari menemukan kasus perundungan, pihak sekolah tak akan segan untuk mengembalikan peserta didik (siswa) kepada orang tua.

“Kami minta jangan sampai peserta didik baru melakukan bullying. Jika suatu saat kami menemukan kasus bullying, peserta didik bersangkutan akan kami kembalikan ke orang tua,” ujar Kustomo. (BNC/pi)

Gambar ilustrasi vectorstock.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.