Keinginan Adalah Sumber Penderitaan

Oleh Tegar Roli A., M.Sos

Hawa nafsu merupakan suatu kewajaran karena manusia tercipta dengan membawanya. Akan tetapi jika hawa nafsu tidak dikendalikan dengan baik, maka ia akan terbalik mengendalikan manusia.

Hawa nafsu sering kali disamakan dengan keinginan atau hasrat. Sebagai manusia, kita pun mempunyai aneka keinginan, terutama keinginan yang bersifat duniawi.

Kita ingin hidup dengan berlimpah harta. Kita ingin mempunyai pasangan yang cantik. Kita ingin mempunyai mobil mewah keluaran terbaru. Kita ingin ini dan itu, semuanya semuanya dan semuanya. Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini yang bersifat duniawi tersebut.

Jika kita tidak mengendalikan keinginan tersebut, maka keinginan itulah yang akan mengendalikan kita. Itulah maksud dari hawa nafsu. Jika tidak memperoleh apa yang kita inginkan, maka kita akan menderita. Karena tidak ingin menderita, kita bisa berbuat hal yang melanggar hukum, seperti korupsi, mencuri, merampok, dan menipu.

Itulah jika hidup kita dikendalikan oleh keinginan. Lain halnya jika kita mengendalikan keinginan. Maka keinginan tersebut tidak akan menguasai kita. Sungguh, keinginan adalah sumber penderitaan dalam hidup, jika kita tidak bisa mengendalikannya dengan baik.

Seolah kita hidup di dunia ini hanya mengejar keinginan-keinginan yang tak kekal dan tak akan kita bawa mati.

Jika kita sederhanakan, keinginan tersebut merupakan kerjaan untuk hidup dalam kekayaan. Keinginan kita bertujuan untuk kekayaan. Padahal, keinginan tersebut adalah sumber penderitaan. Jika kita telah hidup dalam kekayaan maka kita akan merasa miskin jika kita terus mengejar kekayaan yang lebih. Dan begitu seterusnya.

Merasa cukup adalah kekayaan. Jika kita merasa cukup terhadap apa yang kita miliki maka kita sudah kaya. Sederhananya, jika kita tidak menginginkan beragam keinginan maka kita sudah kaya. Hal itu membebaskan kita dari penderitaan yang diakibatkan oleh keinginan –keinginan yang tidak berkesudahan.

Lantas, bagaimana cara agar kita bisa terlepas dari keinginan serta merasa cukup dengan adanya? Jawabannya adalah dengan segala penyakit hati, terutama keinginan-keinginan yang tak berkesudahan.

Sementara itu, syukur adalah menerima apa adanya serta merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki.

Manusia yang berjiwa besar dengan menekankan sikap sabar adalah manusia yang akan menerima kabar gembira. Begitulah kira-kira. Karena sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Sementara itu, manusia yang berjiwa besar dengan mengedepankan sikap syukur adalah manusia yang senantiasa bahagia karena berlimpah nikmat. Hal itu dikarenakan bahwa orang yang bersyukur akan senantiasa ditambahkan kenikmatan untuknya.

*) Penulis adalah Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (MPI PDM) Banyumas

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.