Esi Saputri, Berkarya dan Menginsiprasi

Esi Saputri, mahasiswi UMP yang rajin berkarya dan menginsiprasi

Perempuan memiliki peran penting dalam setiap langkah kehidupan. Ia adalah sosok yang memiliki semangat hidup inspiratif. Tak lelah terus berkarya demi pengembangan diri, bahkan juga berbagi inspirasi dengan orang lain.

Di sisi lain, perempuan juga merupakan makhluk special dari masa ke masa. Secara kodrati, dia boleh dibilang “pusat kehidupan”, inti keluarga yang merupakan lingkungan terkecil kelompok social, sekolah bagi anak-anak. Dari dialah tercetak generasi penerus masa depan bangsa.

Melintas abad ke-21, kemajuan zaman menghadirkan tantangan baru yang semakin kompleks. Di tengah kesibukan menjalani perannya, para pemrempuan perlu mengembangkan potensi, meraih pendidikan tinggi, dan memiliki karir yang baik.

Istilah Multi-tasking alias multiperan begitu lekat dengan kehidupan perempuan. Dia memiliki peran rangkap sebagai pribadi, istri, dan calon ibu yang baik. Sering kali waktu 24 jam tak pernah cukup untuk berbagai aktivitas. Beberapa keinginan kerap harus dikorbankan karena begitu banyak hal lain yang menyita keseharian.

Kemandirian Esi Saputri

Namun, apakah mulitperan membuat para perempuan menyerah dan tak lagi mengembangkan diri? Tentu tidak.

Kemandirian menjadi kata kunci untuk menjawab dan tuntutan hidup masa kini. Dengan penuh optimis meraih mimpi, setiap perempuan dapat menemukan potensi terbaik dari diri mereka. Bahkan, tak hanya penyokong, tetap juga menjadi pendidikan bagi anak-anak kelak nanti, untuk menopang kehidupan yang lebih baik.

Belakangan ini, banyak kesempatan yang terbuka bagi perempuan untuk mengembangkan diri. Terlebih lagi, seiring kemajuan teknologi yang semakin membuka arus informasi, mendorong munculnya beragam profesi dan bisnis kreatif yang dapat ditekuni. Slah satunya adalah Esi Saputri, perempuan inspiratif yang bekerja di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
Selain bekerja di Kantor Urusan Internasional, dan Kantor Urusan Dalam Negeri, Esi juga mengajar BIPA dan menjadi guru les prifat di kota setempat. Bahkan hingga kini dia juga focus menekuni usaha online yang merupakan salah satu usaha yang sedang ramai dilakukan oleh anak muda jaman sekarang.

Sebelum masuk menjadi magang karyawan KUI UMP, Esi telah berhasil menjadi mahasiswa terbaik di prodinya. Setelah wisuda menjadi sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Esi langsung ditarik untuk bekerja di kampus tempat dia belajar (UMP).

Dia bercerita, “Dulu saya sering diminta bantuan untuk bantu-bantu setiap ada acara di KUI. Sebelum wisuda pun saya sudah magang di KUI. Dan setelah wisuda magang pun terus dilanjutkan hingga sampai sekarang.”


“Dukungan dari orangtua dan keluarga sangat penting ketika mengawali kita untuk bekerja, disamping memiliki keberanian dan mimpi. Sebab dukungan itu menjadi bekal kita menghadapi banyak rintangan dalam proses mencapai imipan masa depan. Dan yang terpenting perempuan itu harus berani untuk lebih kreatif. Jadilah inspirasi yang dimulai dari lingkungan kita dlu,” tutur Esi antusias.

Berkerja dan Bersyukur

Melanjutkan cerita pengalaman hidupnya, selama ini yang menjadi motivasi Esi dalam bekerjanya adalah karena ada keinginan kuat untuk terus berprestasi dalam hidup. “Sebab, kesuksesan itu bukan datang dari penilaian orang lain, tapi yang paling tahu adalah diri kita sendiri. Serta yang paling penting itu adalah kita senantiasa terus bersyukur,” tungkasnya.

Berjilbab Tak Halangi Berkreasi
Memakai jilbab saat beraktivitas dimana pun. Itulah yang dilakoni Esi Saputri. Menurutnya, jilbab tidak membatasi seorang perempuan untuk berkreasi.
“Dengan saya memakai jilbab, harapannya saya bisa menjadi inspirasi dari muslimah-muslimah sholehah, bahwa berjilbab tidak membatasi untuk tetap berkreasi, beraksi, dan beraktivitas. Justru dengan berjilbab nantinya bisa menjadi energi positif bagi sekeliling kita dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Jadilah Baik, Maka baik pula perlakuan orang terhadap kita,” kata Esi.

Gadis kelahiran Tegal, 18 Juli 1994 (tepat hari ini ulangtahun) tersebut mengaku, lebih senang mengenakan jilbab yang menutup dada. “Rasanya lebih nyaman dan aman,” ujar wanita ceria dan penyayang itu.
Esi Saputri memakai jilbab sejak duduk di bangku MTs Negeri Model Babakan, Slawi Tegal. Alumni Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) ini mengaku, selain aktif di English Student Association (ESA) UMP juga aktif di English Voice Organisation (EVO).
Saat duduk di MTs, Esi Saputri pernah juara harapan satu lomba kaligrafi. Saat itu, dia juga pernah ikut lomba pidato Bahasa Inggris dan selalu masuk 10 besar SMA favorit.

“Awalnya ada satu kata yang bikin aku bingung dan penasaran sama Bahasa Inggris. Nah dari penasaran itu aku mulai tertarik, akhirnya aku minta les ke guru Bahasa Inggrisku. Dengan aku bisa Bahasa Inggris sejak MTs, aku bisa masuk ke sekolah favorit”, ujarnya.

Setelah lulus SMA, ia mudah menentukan jurusan dan mudah mengikuti perkuliahan. Dan akhirnya mudah dapat kerjaan sampingan, mulai dari les sampai penerjemah, tambahnya.

Meskipun belum punya anak, namun ia memiliki prinsip untuk membangun keluarga dan mencetak generasi yang cerdas dan mencerahkan.
“Sesibuk-sibuknya bekerja harus punya waktu dengan keluarga (suami, anak, maupun orang tua) jalan keluar bersama berdua atau bisa dengan teman-teman,” katanya menutup pembicaraan. (BNC/Tegar Roli A.)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.