Limbah Industri Rambut Palsu, Berbahayakah?

Peserta PIRN Teliti Penyaringan Limbah Rambut Palsu

BanyumasNews.com – Peserta PIRN (Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional) mengunjungi sentra rambut palsu di Desa Karangbanjar Kecamatan Bojongsari, Selasa (10/7/2018). Kedatangan peserta berjumlah sekitar 30 orang tersebut untuk meneliti pengolahan limbah yang dihasilkan dari pembuatan rambut palsu dan meneliti bagaimana seharusnya limbah disaring sehingga air tetap layak dikonsumsi dan tidak berbahaya.

Di daerah industri yang berskala besar, pengolahan limbah menjadi masalah yang serius untuk diurai. Namun diketahui, pengolahan bahan rambut palsu menggunakan bahan yang biasa ditemui di masyarakat yaitu minyak tanah.

Rambut yang didapat dari para penjual barang bekas keliling dimasukkan ke dalam rendaman minyak tanah, agar rambut tidak lagi berdebu atau mengandung bahan lain yang merusak estetika. Pengolahan setelah proses itulah yang coba diteliti dan diuji dampaknya oleh para peserta.

Nantinya hasil dari temuan dan solusi yang ditawarkan akan dipresentasikan pada Kamis (12/7/2018) mendatang di depan tim penilai.

Suyatmi, warga Karangbanjar yang telah 19 tahun menggeluti usaha tersebut mengaku senang dengan kedatangan para peserta PIRN XVII di tempatnya. Menurutnya, kegiatan tersebut bisa menjadi bahan rujukan dirinya di kemudian hari dalam mengolah limbah agar tidak berbahaya.

Pengusaha yang telah mempunyai 16 karyawan itu telah ikut mengangkat karangbanjar dan Purbalingga lebih dikenal di dunia. Purbalingga adalah penghasil terbesar kedua di dunia untuk rambut palsu.

“Saya mendukung adanya kegiatan ini karena bisa menjadi rujukan saya untuk mengolah limbah,” katanya.

Pembimbing dari LIPI, Anggoro mengatakan pemanfaatan limbah dari rambut palsu akan diteliti secara seksama. Apakah limbah tersebut bisa dimanfaatkan kembali atau hanya dibuang dan bagaimana dampaknya bagi lingkungan.

Hal senada juga disampaikan oleh peneliti muda asal Banjarmasin, Muhammad Rizaldi. Dia yang berasal dari SMS Global Islamic Banjarmasin itu merasa tertantang untuk menawarkan solusi jika di akhir penelitian mencapai kesimpulan bahwa pengolahan limbah harus dicari pemecahan masalahnya. “Saya ingin jadi peneliti. Tak hanya meniliti tapi saya juga ingin member solusi bagi permasalahan yang ada di sekitar,” ujar Rizaldi. (BNC/Pi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.