Momentum Lebaran dan Deradikalisasi Menurut Prof Totok Agung

BanyumasNews.com, PURWOKERTO- Prof. Ir. Totok Agung, DH, MP, PhD, Direktur Program Pascasarjana Unsoed purwokerto, yang juga merupakan alumni Lemhannas dan Pengurus MUI Banyumas periode  2010 sampai 2015 sebagai Wakil Ketua MUI BANYUMAS, dan
Dewan Penasehat MUI BANYUMAS 2015 – 2020, memberikan pandangan seputar momentum lebaran dan deradikalisasi.

Dalam wawancara khusus, Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed dan Direktur Pasca Sarjana itu mengatakan, lebaran adalah suatu model rekayasa sosial yang dapat digunakan untuk menangkal faham radikalisme.

Berikut rangkuman hasil wawancara tersebut.

Jika tidak bisa dikatakan seluruhnya, maka sebagian besar rakyat Indonesia tentu merayakan lebaran, yang sudah menjadi tradisi turun temurun yang hidup dan terpelihara ratusan tahun di Indonesia. Masyarakat yang tetap tinggal di kampung-kampung maupun yang merantau ke kota-kota besar, baik yang sempat pulang kampung maupun yang tidak sempat pulang, semuanya menikmati suasana dan tradisi lebaran, yang penuh suka cita dan kebahagiaan. Betapa lebaran adalah Indonesia.

Tradisi lebaran yang sejatinya merupakan perayaan hari besar Iedul Fitri yang menandai berakhirnya kewajiban berpuasa umat muslim, telah menjelma menjadi satu ragam budaya terbesar di Indonesia. Lebaran telah pula menjadi dinamika masyarakat yang mampu menggerakkan manusia dan kapital terbesar dan terlama di Indonesia.

Bertemu dan berkumpul dengan sanak saudara saat lebaran adalah kebahagiaan besar. Bercengkerama dengan handai taulan dan tetangga mengakrabkan rasa persaudaraan. Kesalahan yang mungkin terjadi, perbedaan status sosial dan ekonomi antar pribadi maupun keluarga menjadi cair dengan lebaran.

Kebahagiaan dan sukacita lebaran mampu menghapus kesulitan hidup dan kegetiran nasib di perantauan.
Tradisi lebaran menjadi wahana besar untuk saling memaafkan, dengan riang gembira. Bahkan, Pejabat, bos, atau atasanpun menjadi sangat merasa nyaman untuk meminta maaf kepada bawahan (anak buah) hanya saat lebaran. Ini tidak mungkin terjadi di luar lebaran.
Tak heran jika banyak orang yang berjuang sangat keras untuk bisa mudik, pulang kampung, untuk bisa berlebaran bersama keluarga di kampung.

Lebih dari itu, sebenarnya lebaran adalah suatu model rekayasa sosial yang dapat digunakan untuk menangkal faham radikalisme. Radikalisme di masyarakat biasanya terjadi karena persoalan ekonomi, kesulitan hidup, rasa terasing, terisolasi, tidak ada pengakuan lingkungan dan hidup yang tidak bahagia.

Radikalisme tidak akan bersemai pada masyarakat yang hidupnya bahagia. Setidaknya masyarakat yang sering merasakan kebahagiaan menjadi tidak mudah terinduksi faham radikalisme.

Kemiskinan, baik ekonomi maupun pengetahuan khususnya pengetahuan agama, kehidupan yang keras, keterasingan di dalam masyarakat, tidak punya tempat mengadu, keluarga broken home, kesulitan bersosialisasi dan lain-lain adalah kondisi yang subur untuk bersemainya faham radikalisme.

Mencegah berjangkitnya faktor faktor yang menyebabkan suburnya persemaian faham radikalisme seperti yang disebutkan di atas adalah salah satu cara deradikalisasi prefentif yang efektif. Lebaran sebagai model rekayasa sosial untuk menangkal faham radikalisme senyatanya hadir satu tahun satu kali.

Diperlukan adanya Miniatur Lebaran yang dekat dengan masyarakat, yang dapat berfungsi sebagaimana lebaran.

1. Taman Kota – Miniatur Lebaran

Pemerintah, khususnya di daerah, bersama masyarakat dapat membangun taman – taman kota yang indah, menarik dikunjungi, dan murah atau gratis. Di taman tersebut, masyarakat dapat bercengkerama dengan keluarga dengan menikmati suasana nyaman dan bahagia di antara waktu kosong setelah bekerja keras seharian. Misalnya di Purwokerto ada Alun-alun, Adang Pangrenan, Balai Kemambang dan lain-lain yang bisa dinikmati masyarakat dengan biaya murah atau gratis. Taman kota seperti ini adalah miniatur lebaran.

2. Kesenian Rakyat – Miniatur Lebaran

Pemerintah dan masyarakat juga dapat mengembangkan bentuk dan jenis-jenis kesenian rakyat yang bersifat massal dan tidak berhadap-hadapan. Misalnya kentongan, adalah jenis kesenian massal, melibatkan banyak orang, alat, dan bahan semuanya bisa dibuat sendiri, dan biayanya murah. Kebersamaan saat latihan yang berulang-ulang dan saat tampil di tengah-tengah masyarakat adalah suasana yang membangun rasa kekeluargaan, kekompakan, kebahagiaan bersama. Kesenian rakyat seperti ini adalah miniatur lebaran.

3. Forum Rakyat – Miniatur Lebaran

Rembug desa, pertemuan tingkat RT, dan RW, sedekahan, yasinan, tahlilan, kerja bakti adalah forum forum rakyat yang perlu dioptimalkan. Tidak bisa dipungkiri adanya kebersamaan, kekeluargaan, solidaritas sosial kekompakan, empaty, kesenangan dan kebahagiaan dalam forum-forum tersebut. Termasuk di dalamnya adalah forum pengajian yang lebih formal di masjid, mushola, sekolah, kantor dan lain-lain. Forum rakyat seperti ini adalah miniatur lebaran.

4. UKM di Kampus – Miniatur Lebaran

Miniatur lebaran yang dapat berfungsi sebagai agen deradikalisasi di lungkungan kampus dapat dibangun dengan optimalisasi peran dan fungsi UKM (unit kegiatan mahasiswa). Pola Pembinaan Kemahasiswaan tidak hanya diarahkan pada bidang akademik saja. Namun, lebih diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang membangun dan mengembangkan sifat kecendekiawanan mahasiswa.

Misalnya, kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada kepedulian terhadap pelestarian dan keberlanjutan lingkungan, kepedulian terhadap kemiskinan masyarakat, bencana alam, dan pemberdayaan sosial ekonomi.
Dalam kegiatan-kegiatan tersebut ada kebersamaan, empati, kekompakan, kerjasama, menghargai pendapat orang lain, dan kebahagiaan. Maka, UKM di kampus adalah miniatur lebaran.

5. Hari Libur Nasional – Miniatur Lebaran

Hari libur nasional berbasis peringatan hari besar agama maupun peristiwa sejarah juga dapat menjadi derivasi lebaran ataupun miniatur lebaran. Liburan Natal, Nyepi, Tahun baru Imlek menjadi media berkumpulnya keluarga bersama sanak saudara.

Rasa kebersamaan, kekeluargaan dan kebahagiaanpun terbangun semakin baik. Hari libur nasional tersebut, termasuk Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, Hari Kartini, dan lain-lain adalah juga miniatur Lebaran.

Mengoptimalkan peran dan fungsi miniatur-miniatur lebaran seperti yang dijelaskan di atas dapat menjadi upaya deradikalisasi yang preventif efektif, sehingga perlu didukung oleh semua piha, baik pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, sekolah, ormas, dan masyarakat umum. (BNC/AE)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.