<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kabar Banyumas &#187; KULINER</title>
	<atom:link href="http://banyumasnews.com/category/wisata/kuliner-wisata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banyumasnews.com</link>
	<description>Portal Berita Warga Bayumasan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 13:07:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Kuliner GOR Satria Purwokerto &#8211; serasa bukan di Purwokerto</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/11/27/kuliner-gor-satria-purwokerto-serasa-bukan-di-purwokerto/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/11/27/kuliner-gor-satria-purwokerto-serasa-bukan-di-purwokerto/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Nov 2011 06:31:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[KULINER]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner GOR satria purwokerto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=13819</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kayak bukan di Purwokerto”, begitu komentar orang-orang saat melintas di jalan Prof Suharso sepanjang depan GOR Satria Purwokerto. Ya, apalagi di malam minggu, begitu banyak mobil parkir berjejer di situ. Ramai kendaraan dan tentu saja orang, ditambah bunyi sempritan tukang parkir yang seakan bersahut-sahutan, menambah suasana malam itu seperti bukan di Purwokerto, yang selama ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kayak bukan di Purwokerto”,  begitu komentar orang-orang saat  melintas di jalan Prof Suharso sepanjang  depan  GOR Satria Purwokerto. Ya, apalagi di malam minggu, begitu banyak mobil parkir berjejer di situ. Ramai kendaraan dan tentu saja orang, ditambah bunyi sempritan tukang parkir yang seakan bersahut-sahutan, menambah suasana malam itu seperti bukan di Purwokerto, yang selama ini dikesankan sepi dengan arus lalu lintas teramat lancar.  Ada apa di ‘daerah’ GOR memangnya?</p>
<p>Kawasan GOR secara alamiah sudah berkembang menjadi area kuliner kota Purwokerto. Dikatakan alamiah karena tidak ‘by design’ oleh pemerintah. Kawasan ini tumbuh mengikuti  ‘ hukum pasar’ perkembangan suatu kawasan. Ada permintaan akan kawasan kuliner dimana orang bisa memilih tempat dan menu/jenis makanan yang sesuai selera,  dan para pengusaha merespon dengan membangun kawasan menjadi sederatan ruko atau bangunan yang memang didesign untuk sebuah rumah makan/resto. Tidak pernah terdengar sebelumya bahwa kawasan  GOR  secara sengaja didesign sebagai kawasan kuliner kota Purwokerto. </p>
<p>Sejarahnya bisa dirunut dari dimulainya pemindahan pusat keramaian publik dari alun-alun ke kawasan GOR. Terlebih sejak upaya Pemkab Banyumas merenovasi alun-alun dan mensterilkannya dari pedagang kaki lima. Maka hari Minggu pagi kegiatan ‘jalan-jalan’ warga berpindah dari alun-alun ke GOR. Maka, para pedagang kaki lima pun berpindah mengikuti keramaian ini. ada pedagang bubur ayam, nasi pecel, gudeg, mendoan dll yang menggunakan tenda di pinggir jalan. Lama-lama tidak hanya saat hari minggu mereka buka. Tiap pagi mereka mangkal di situ. </p>
<p>Nah melihat suasana makin ramai, maka beberapa pengusaha mulai membangun rumah makan permanen di situ dengan jam buka siang hingga malam. Maraknya bisnis waralaba, termasuk di bidang kuliner, menambah ramai bisnis kuliner di kawasan ini. Sekarang anda bisa datang ke kawasan itu dan mau makan apa yang anda inginkan ada di situ: ayam, lele, iga, gudeg, bebek, ikan, sampai menu makanan yang tradisional Banyumas seperti tahu kupat, soto,mendoan dll. Jadilah kawasan GOR menjadi kawasan kuliner lengkap di kota satria Purwokerto.</p>
<p>Kawasan ini akan bertambah ramai dan harga tanah pasti melambung. Ditambah dengan pembangunan hotel bintang empat di perempatan DKT –hanya 500 meter dari kawasan GOR—selain hotel yang sudah exist, dipastikan akan menjadi tempat yang semakin ramai. Ke depan orang akan merasa sayang kalau ke Purwokerto tidak mampir ke kawasan GOR. Tentu saja masih ada kawasan kuliner lain, namun bersifat khusus seperti di Jalan Bank yang terkenal dengan ‘soto jalan bank’-nya atau Sokaraja dengan soto Sokarajanya dan gethuk gorengnya. Juga Sawangan kalau Anda ingin membeli mendoan untuk oleh-oleh.</p>
<p>Jadi untuk urusan makan di Purwokerto, anda tidak perlu bingung lagi mau pergi kemana. Datang saja ke kawasan GOR, maka tentukan di situ anda mau makan dengan menu apa? Silahkan coba (BNC/ist)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/11/27/kuliner-gor-satria-purwokerto-serasa-bukan-di-purwokerto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Dawet Gangga” Ikon Pangan Lokal Purbalingga</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/07/16/%e2%80%9cdawet-gangga%e2%80%9d-ikon-pangan-lokal-purbalingga/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/07/16/%e2%80%9cdawet-gangga%e2%80%9d-ikon-pangan-lokal-purbalingga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jul 2011 05:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[KULINER]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=13530</guid>
		<description><![CDATA[DAWET ganyong yang sudah diangkat sebagai potensi olahan pangan lokal Purbalingga sejak kepemimpinan Bupati terdahulu (Triyono Budi Sasongko), kini menjadi ikon baru pangan lokal Purbalingga. Minuman menyegarkan yang terbuat dari tepung ganyong, kini memiliki nama baru Dawet Gangga (Ganyong Purbalingga). Nama ini diberikan oleh salah seorang pejabat tingkat provinsi Jawa Tengah saat produk asal desa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DAWET ganyong yang sudah diangkat sebagai potensi olahan pangan lokal Purbalingga sejak kepemimpinan Bupati terdahulu (Triyono Budi Sasongko), kini menjadi ikon baru pangan lokal Purbalingga. Minuman menyegarkan yang terbuat dari tepung ganyong, kini memiliki nama baru Dawet Gangga (Ganyong Purbalingga). Nama ini diberikan oleh salah seorang pejabat tingkat provinsi Jawa Tengah saat produk asal desa Bandingan Kecamatan Kejobong ini, mengikuti sebuah pameran di Semarang 8 Juni lalu.<br />
“Salah satu produk panganan peserta gelar potensi pangan lokal kali ini yakni Dawet Gangga, diharapkan menjadi ikon kabupaten Purbalingga. Kalau Banjarnegara sudah punya Dawet Ayu, Purwokerto dengan Getuk Gorengnya. Nah mudah-mudahan dawet Gangga bisa menjadi ikon produk pangan Purbalingga,” kata Kabid Ketahanan Pangan pada Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan kabupaten Purbalingga, di sela-sela kegiatan Gelar Potensi Pangan Lokal di Gelora Goentoer Darjono, Minggu (10/7)<br />
Gelar Potensi Pangan Lokal kabupaten Purbalingga diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Koperasi ke-64 dan Harganas ke-18 tahun 2011. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) bekerjasama dengan Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) kabupaten Purbalingga. Selain gelar potensi pangan juga diadakan jalan sehat dan gelanggang dagang produk kelompok UPPKS.<br />
Diakui Sugeng, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengangkat dawet gangga menjadi ikon Purbalingga. Diantaranya dengan mengikuti pameran di tingkat kabupaten maupun provinsi. Bantuan modal Rp. 1 juta juga sudah diberikan BP2KP kepada pembuat dawet gangga “Yu Khot”, Ny. Khotimah.<br />
“Dalam waktu dekat kita akan mengadakan pelatihan membuat dawet ganyong bagi penjual dawet dan minuman di kabupaten Purbalingga. Harapannya pembuatan dan penjualan dawet gangga semakin menyebar,” katanya.<br />
Dia berjanji produk terbaik tiap kecamatan akan ditampilkan pada kegiatan-kegiatan tingkat kabupaten.<br />
Kegiatan yang diikuti 239 desa dari 18 kecamatan se-kabupaten Purbalingga, juga mendapat perhatian Bupati Drs H Heru Sudjatmoko dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Purbalingga Ny. Sudarli Heru Sudjatmoko. Bupati memberikan apresiasi terhadap kreativitas para peserta. Meski jumlah pesertanya banyak namun produknya tidak ada yang sama. Bahkan Ketua TP PKK Ny. Sudarli dan rombongan sempat memborong “minyong” (Mie Ganyong) dari salah satu stand Gelar Dagang Produk Kelompok UPPKS.<br />
“Bagus-bagus semua ini. Hasilnya juga sangat beragam. Tapi harus diingat ya bu, yang warnanya macam-macam harus dengan pewarna alami. Jangan pewarna buatan. Apalagi pakai yang bukan untuk makanan,”  pesan bupati sambil tak henti-hentinya memuji.<br />
Ketua Panitia Pelaksana Tafrikan SE menuturkan, dalam rangka Harkop dan Harganas tahun 2011 telah digelar berbagai event berupa bhakti sosial, kemasyarakatan, dan hiburan. Ditambahkan Tafrikan, resepsi periangatan Harkop ke-64 dan Harganas ke-18 akan dilaksanakan 16 Juli 2011 di pendopo Cahyana. Terakhir, Upacara peringatan Harganas dan Harkop akan dilakukan di Pendopo Dipokusumo pada 18 Juli mendatang (BNC/har)<div id="attachment_13531" class="wp-caption aligncenter" style="width: 412px"><img src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2011/07/dawet-402x270.jpg" alt="" title="dawet" width="402" height="270" class="size-medium wp-image-13531" /><p class="wp-caption-text">DAWET GANYONG: Bupati Purbalingga saat mencoba nikmatnya Dawet Ganyong (foto:har/BNC)</p></div>      </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/07/16/%e2%80%9cdawet-gangga%e2%80%9d-ikon-pangan-lokal-purbalingga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jelang Lebaran Jenang Salak Banjarnegara Kebanjiran Pesanan</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/09/01/jelang-lebaran-jenang-salak-banjarnegara-kebanjiran-pesanan/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/09/01/jelang-lebaran-jenang-salak-banjarnegara-kebanjiran-pesanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 03:53:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[KULINER]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=11839</guid>
		<description><![CDATA[JENANG atau dodol biasanya bahan dasar utamanya tepung terigu. Bagaimana jika makanan tersebut bahan dasarnya buah salak? Itulah jenang salak asal Madukara Banjarnegara Jawa Tengah yang sudah mampu tembus ke pasar luar negeri. Menjelang lebaran, produsen jenang salak ini kewalahan karena kebanjiran pesanan. Azizah (43) warga Madukara Banjarnegara ini mengelola usaha membuat makanan yang semuanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0.2in;"><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;"><strong><a rel="attachment wp-att-11840" href="http://banyumasnews.com/2010/09/01/jelang-lebaran-jenang-salak-banjarnegara-kebanjiran-pesanan/jenanang/"><img class="alignleft size-full wp-image-11840" title="jenanang" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/09/jenanang.jpg" alt="jenanang" width="320" height="240" /></a><br />
</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;">JENANG atau dodol biasanya bahan dasar utamanya tepung terigu. Bagaimana jika makanan tersebut bahan dasarnya buah salak? Itulah jenang salak asal Madukara Banjarnegara Jawa Tengah yang sudah mampu tembus ke pasar luar negeri. Menjelang lebaran, produsen jenang salak ini kewalahan karena kebanjiran pesanan.</span></span></p>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;">Azizah (43) warga Madukara Banjarnegara ini mengelola usaha membuat makanan yang semuanya berbahan dasar salak, salah satunya adalah jenang salak..</span></span></p>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;">Untuk proses pembuatan dan bahan bakunya buah salak, gula kelapa, garam dan tepung ketan . Sebelum dicampur dengan bahan lain, salak dikupas kulitnya dan dihaluskan. Setelah itu dicampur dan kemudian dipanaskan dalam satu wajan besar,serta diaduk terus menerus.</span></span></p>
<div id="attachment_11841" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a rel="attachment wp-att-11841" href="http://banyumasnews.com/2010/09/01/jelang-lebaran-jenang-salak-banjarnegara-kebanjiran-pesanan/jenang-salak-bungkus/"><img class="size-full wp-image-11841" title="jenang salak bungkus" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/09/jenang-salak-bungkus.jpg" alt="PEMBUNGKUSAN: Jenang salak dibungkus plastik (foto:nis/BNC)" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">PEMBUNGKUSAN: Jenang salak dibungkus plastik (foto:nis/BNC)</p></div>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;">Setelah mengental, kemudian dibiarkan hingga selama sepuluh jam. Setelah kenyal, bahan yang sudah berbentuk jenang ini diiris iris ukuran kecil. Proses selanjutnya dikemas dalam plastik sesuai ukuran.</span></span></p>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;">Ciri khas jenang salak madukara ini  selain empuk dan rasa manisnya yang pas, jenang ini berorama wangi manggar atau kembang kelapa.</span></span></p>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;">Dalam sehari Azizah mampu memproduksi satu kuintal salak dan menghasilkan 40 kilogram jenang. Untuk satu kuintal salak dibutuhkan 10 kilogram gula, 10 kuintal beras ketan dan 10 butir kelapa. Namun menjelang lebaran produksi jenang salak ini meningkat hingga 70 persen. Karena keterbatasan karyawan, produksi jenang milik azizah ini tak mampu memenuhi pesanan.</span></span></p>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;"></p>
<div id="attachment_11843" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><span><span><a rel="attachment wp-att-11843" href="http://banyumasnews.com/2010/09/01/jelang-lebaran-jenang-salak-banjarnegara-kebanjiran-pesanan/jeanag-salak-foto/"><img class="size-full wp-image-11843" title="jeanag salak foto" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/09/jeanag-salak-foto.jpg" alt="Ny Azizah,pemilik usaha Jenang Salak (foto:nis/BNC)" width="320" height="240" /></a></span></span><p class="wp-caption-text">Ny Azizah,pemilik usaha Jenang Salak (foto:nis/BNC)</p></div>
<p></span></span></p>
<p>“<span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;">Kami benar benar kewalahan menjelang lebaran ini. Karena maklsum keterbatasan karyawan yang kami miliki,”tutur Azizah.</span></span></p>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;">Harga jenang ini relatif terjangkau.. Satu kilogram seharga 20 ribu rupiah. Ssatu toples yang berisi 57 butir atau setengah kilogram harganya 10 ribu rupiah. Sementara untuk satu plastik kecil hanya lima ribu rupiah. </span></span></p>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;"></p>
<div id="attachment_11842" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><span><span><a rel="attachment wp-att-11842" href="http://banyumasnews.com/2010/09/01/jelang-lebaran-jenang-salak-banjarnegara-kebanjiran-pesanan/adonan-jenang-salak/"><img class="size-full wp-image-11842" title="adonan jenang salak" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/09/adonan-jenang-salak.jpg" alt="ADONAN: Setelah ditumbuk halus, salak kemudian direbus dan diadonan selama 10 jam (foto:nis/BNC)" width="320" height="240" /></a></span></span><p class="wp-caption-text">ADONAN: Setelah ditumbuk halus, salak kemudian direbus dan diadonan selama 10 jam (foto:nis/BNC)</p></div>
<p></span></span></p>
<p><span style="font-family: garamond,new york,times,serif;"><span style="font-size: small;">selain memproduksi jenang, Azizah juga membuat keripik dan sirup salak. Semula hasil karya warga  Madukara ini hanya beredar di pasaran lokal seperti Banyumas ,Brebes,Tegal Jakarta dan Lampung. Namun kini sudah merambah ke luar negeri seperti Malaysia,Singapura,Brunai,Aarab hingga Amerika. (Anis Mutiarra Sitohar/ BanyumasNews.Com) </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/09/01/jelang-lebaran-jenang-salak-banjarnegara-kebanjiran-pesanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Masakan Tradisional Jawa di ‘Waroeng Joglo’</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/06/25/menikmati-masakan-tradisional-jawa-di-%e2%80%98waroeng-joglo%e2%80%99/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/06/25/menikmati-masakan-tradisional-jawa-di-%e2%80%98waroeng-joglo%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jun 2010 23:14:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[KULINER]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=11199</guid>
		<description><![CDATA[Nuansa Jawa begitu kentara ketika memasuki Waroeng Joglo  nDalem Kanoman yang berada di Jalan Kanoman Nomor 3- 5 Purbalingga. Ada sebuah bangunan utama berarsitek rumah Joglo Jawa yang tampak di depan pintu gapura masuk. Di sebelah kiri tampak pula rumah joglo yang dijadikan sebagai dapur. Sementara tidak jauh dari rumah utama juga tampak beberapa gasebo [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11200" class="wp-caption aligncenter" style="width: 416px"><a rel="attachment wp-att-11200" href="http://banyumasnews.com/2010/06/25/menikmati-masakan-tradisional-jawa-di-%e2%80%98waroeng-joglo%e2%80%99/warung-joglo1/"><img class="size-medium wp-image-11200" title="warung joglo1" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/warung-joglo1-406x270.jpg" alt="Pengunjung Waroeng Joglo ndalem Kanoman (BNC/tgr)" width="406" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Pengunjung Waroeng Joglo ndalem Kanoman (BNC/tgr)</p></div>
<p>Nuansa Jawa begitu kentara ketika memasuki Waroeng Joglo  nDalem Kanoman yang berada di Jalan Kanoman Nomor 3- 5 Purbalingga. Ada sebuah bangunan utama berarsitek rumah Joglo Jawa yang tampak di depan pintu gapura masuk. Di sebelah kiri tampak pula rumah joglo yang dijadikan sebagai dapur. Sementara tidak jauh dari rumah utama juga tampak beberapa gasebo kecil yang bisa dipakai untuk menikmati sajian masakan Jawa sambil bersantai.</p>
<p>Iringan musik gending-gending Jawa yang terdengar sayup-sayup semakin menambah suasana khas sebuah kehidupan Jawa. Meski demikian, rumah makan yang berada di pusat kota ini terlihat sangat asri, bersih, nyaman dan berkelas.</p>
<p>Pengelola Waroeng Joglo, Anto Juan bersama istrinya Anugrah Tri Rahayu mulai membuka usaha warungnya pada Bulan April 2009. Anto mengkonsep rumah makannya dengan nuansa adat Jawa dan sekaligus menyajikan masakan dan minuman tradisional Jawa.</p>
<div id="attachment_11201" class="wp-caption aligncenter" style="width: 416px"><a rel="attachment wp-att-11201" href="http://banyumasnews.com/2010/06/25/menikmati-masakan-tradisional-jawa-di-%e2%80%98waroeng-joglo%e2%80%99/joglo2/"><img class="size-medium wp-image-11201" title="joglo2" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/joglo2-406x270.jpg" alt="Alunan musik keroncong mengiringi kenaikmatan bersantap di Waroeng Joglo. (BNC/tgr)" width="406" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Alunan musik keroncong mengiringi kenaikmatan bersantap di Waroeng Joglo. (BNC/tgr)</p></div>
<p>Kelezatan masakan khas rumah makan Joglo sudah teruji. Anda boleh mencoba menu sop buntut Jawa, gurame bakar dada peksi, ayam klewer lada hitam, ayam penyet, dan masih banyak menu lainnya. Untuk minuman, ada yang spesial di rumah makan ini. Jus Tom and Jerry. Jus ini berbahan tomat dan jeruk yang dicampur dan dibuat jus. Minuman lainnya yang disuguhkan, seperti kopi bakar gula merah, Purwaceng, teh poci gula batu, kopi kencur, kopi jahe, kopi kayu manis, dan berbagai minuman segar atau minuman penghangat tubuh.</p>
<div id="attachment_11202" class="wp-caption aligncenter" style="width: 387px"><a rel="attachment wp-att-11202" href="http://banyumasnews.com/2010/06/25/menikmati-masakan-tradisional-jawa-di-%e2%80%98waroeng-joglo%e2%80%99/ayam-kampung-goreng-warung-joglo/"><img class="size-medium wp-image-11202" title="ayam kampung goreng warung joglo" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/ayam-kampung-goreng-warung-joglo-377x270.jpg" alt="Ayam Kampung Goreng ala Waroeng Joglo. (BNC/tgr)" width="377" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Ayam Kampung Goreng ala Waroeng Joglo. (BNC/tgr)</p></div>
<p>Soal harga, menurut Anto tak beda jauh dengan rumah makan lainnya. Yang jelas harga disesuaikan dengan isi kantong warga Purbalingga. ”Silahkan coba datang ke tempat kami, pasti tidak akan kecewa,” tutur Anto berpromosi.</p>
<div id="attachment_11203" class="wp-caption aligncenter" style="width: 387px"><a rel="attachment wp-att-11203" href="http://banyumasnews.com/2010/06/25/menikmati-masakan-tradisional-jawa-di-%e2%80%98waroeng-joglo%e2%80%99/ayam-kampung-penyet-penyet-warung-joglo/"><img class="size-medium wp-image-11203" title="ayam kampung penyet penyet warung joglo" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/ayam-kampung-penyet-penyet-warung-joglo-377x270.jpg" alt="Ayam Kampung Penyet (BNC/tgr)" width="377" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Ayam Kampung Penyet (BNC/tgr)</p></div>
<p>Anto menambahkan, fasilitas yang semakin memanjakan pengunjung juga dapat dinikmati disini, seperti layanan hot spot. Bagi kantoran atau lembaga yang ingin mengadakan pertemuan di Warung Joglo juga tak perlu bingung. Ruangan utama mampu menampung pengunjung 50 orang. Ada juga dua buah gasebo kecil yang bisa memuat 10 orang dan enam orang. (BNC/tgr)</p>
<div id="attachment_11204" class="wp-caption aligncenter" style="width: 388px"><a rel="attachment wp-att-11204" href="http://banyumasnews.com/2010/06/25/menikmati-masakan-tradisional-jawa-di-%e2%80%98waroeng-joglo%e2%80%99/rumah-makan-joglo-ndalem-kanoman-purbalingga/"><img class="size-medium wp-image-11204" title="Rumah makan Joglo nDalem Kanoman Purbalingga." src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/Rumah-makan-Joglo-nDalem-Kanoman-Purbalingga.-378x270.jpg" alt="Rumah Makan Joglo nDalem Kanoman Purbalingga. (BNC/tgr)" width="378" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah Makan Joglo nDalem Kanoman Purbalingga. (BNC/tgr)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/06/25/menikmati-masakan-tradisional-jawa-di-%e2%80%98waroeng-joglo%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permen Davos, Sejak 1931, Rasanya ‘ Semriwing’</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/06/11/permen-davos-sejak-1931-rasanya-%e2%80%98-semriwing%e2%80%99/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/06/11/permen-davos-sejak-1931-rasanya-%e2%80%98-semriwing%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 12:30:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[KULINER]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>
		<category><![CDATA[davos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10947</guid>
		<description><![CDATA[Jangan menyebut dirinya orang Purbalingga (Jateng),  jika tidak kenal  dengan Permen Davos. Permen kuno dibungkus kertas berwarna ungu itu memang telah telah melegenda, sehingga identik dengan nama  Purbalingga. Merek permen buatan tahun 1931  yang diproduksi PT Slamet Langgeng di Jalan A Yani 67  Kelurahan Kandanggampang itu,  kini telah merajai pasar di wilayah Jateng, DIY, sebagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_10948" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><strong><strong><a rel="attachment wp-att-10948" href="http://banyumasnews.com/2010/06/11/permen-davos-sejak-1931-rasanya-%e2%80%98-semriwing%e2%80%99/davos1/"><img class="size-medium wp-image-10948" title="davos1" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/davos1-360x270.jpg" alt="Para pekerja yang sedang memproduksi permen davos." width="360" height="270" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">Para pekerja yang sedang memproduksi permen davos.</p></div>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>Jangan menyebut dirinya orang Purbalingga (Jateng),  jika tidak kenal  dengan Permen Davos. Permen kuno dibungkus kertas berwarna ungu itu memang telah telah melegenda, sehingga identik dengan nama  Purbalingga. Merek permen buatan tahun 1931  yang diproduksi PT Slamet Langgeng di Jalan A Yani 67  Kelurahan Kandanggampang itu,  kini telah merajai pasar di wilayah Jateng, DIY, sebagian Jatim, Jabar dan DKI Jakata. Bahkan, DIY merupakan pasar yang paling bagus.</p>
<div id="attachment_10949" class="wp-caption aligncenter" style="width: 370px"><a rel="attachment wp-att-10949" href="http://banyumasnews.com/2010/06/11/permen-davos-sejak-1931-rasanya-%e2%80%98-semriwing%e2%80%99/davos2/"><img class="size-medium wp-image-10949" title="davos2" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/davos2-360x270.jpg" alt="Permen Davos Roll (warna kemasan ungu), sejak diproduksi tahu 1931     hingga sekarang, kemasan, bentuk dan rasanya tetap sama.  " width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Permen Davos Roll (warna kemasan ungu), sejak diproduksi tahu 1931     hingga sekarang, kemasan, bentuk dan rasanya tetap sama.  </p></div>
<p>Rasa permen Davos memang khas, segar dan semriwing.Itulah keistimewaan permen Davos, jika diba dibanding permen-peren lainnya.Meskipun banjir aneka jenis dan merk permen menyerbu pasaran, namun permen Davos hingga kini tetap bertahan, karena rasanya yang khas itu .</p>
<p>Menurut Nicodemus Hardi, managing director PT Slamet Langgeng, permen ini dirintis oleh Siem Kie Djian pada 28  Desember 1931. Dalam perjalanan zaman, perusahaan dilanjutkan anaknya, Siem Tjong An. Enam tahun berikutnya, bisnis  diteruskan lagi ke anak dan menantu Tjong An: Toni Siswanto Hardi dan Corrie Simadibrata, yang juga generasi  kedua.Selanjutnya diturunkan ke Budi Handojo, sebagai generasi ketiga. Kini, sebagai generasi keempat penerus usaha itu  Nicodemus Hardi.</p>
<div id="attachment_10950" class="wp-caption aligncenter" style="width: 370px"><a rel="attachment wp-att-10950" href="http://banyumasnews.com/2010/06/11/permen-davos-sejak-1931-rasanya-%e2%80%98-semriwing%e2%80%99/davos3/"><img class="size-medium wp-image-10950" title="davos3" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/davos3-360x270.jpg" alt="Aneka jenis permen davos produksi PT Slamet Langgeng." width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Aneka jenis permen davos produksi PT Slamet Langgeng.</p></div>
<p>Pada masa penjajahan Jepang, perusahaan sempat tersungkur dan baru bangkit lagi sesudah 1945. Perusahaan berganti  nama menjadi PT Slamet Langgeng &amp; Co., yang memproduksi permen mint Davos, Kresna, Alpina, dan Davos Lux. Ada pula produk non  permen: limun dan biskuit bermerek Slamet. Karena kesulitan bahan baku, produksi biskuit berhenti pada 1973.</p>
<p>Nama Slamet Langgeng diambil dari nama gunung terbesar di Jawa Tengah yang terletak di Purbalingga: Gunung Slamet.  Sedangkan Davos terinspirasi dari nama kota berhawa sejuk di Swiss yang dianggap cocok menggambarkan dinginnya permen mint  ini.</p>
<p>Bahan yang digunakan untuk membuat permen Davos, lanjut Nicodemus Hardi, 98 persen gula pasir dan sisanya mentol serta zat pengikat. Tidak ada zat pewarna, pegawet  maupun pemanis untuk produk ini. Daya tahan permen ini bisa 1,5 tahun hingga 2 tahun.</p>
<p>Produk pertama Davos  yakni Davos Roll dengan kemasan warna ungu, dan hingga kini tak berubah. Satu bungkus berisi 10 butir berdiameter 22 milimeter, dengan harga jual Rp 1000,-. Selain itu, memenuhi tuntutan  konsumen dan zaman, juga diproduksi davos lux (warna kemasan hijau) yang di pasaran dijual Rp 500,- &#8211; Rp 1000,-. davos klasik (Rp 100,-/biji),davos mild, dan davos mini.</p>
<p>Produk terbaru PT Slamet Langgeng yang baru dilempar ke pasaran awal November 2009, yakni permen Koffie. Permen rasa kopi yang per bungkusnya berisi 50 buah ini, di pasaran dijual Rp 3600,- &#8211; Rp 4000,-.</p>
<div id="attachment_10951" class="wp-caption aligncenter" style="width: 370px"><a rel="attachment wp-att-10951" href="http://banyumasnews.com/2010/06/11/permen-davos-sejak-1931-rasanya-%e2%80%98-semriwing%e2%80%99/davos5/"><img class="size-medium wp-image-10951" title="davos5" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/davos5-360x270.jpg" alt="Permen Koffie, produk terbaru PT Slamet Langgeng." width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Permen Koffie, produk terbaru PT Slamet Langgeng.</p></div>
<p>Nicodemus Hardi mengaku, bagi konsumen yang sudah kecanthol rasa permen davos atau permen produksi PT Slamet Langgeng lainnya, akan sulit lepas. Meskipun konsumen itu sudah mencoba rasa permen lainnya, namun akhirnya kembali lagi ke permen davos. (BNC/prs)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/06/11/permen-davos-sejak-1931-rasanya-%e2%80%98-semriwing%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikmati Gulai Melung di  Pelosok Desa</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/06/01/menikmati-gulai-melung-di-pelosok-desa/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/06/01/menikmati-gulai-melung-di-pelosok-desa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 03:36:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[KULINER]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>
		<category><![CDATA[Gulai melung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10647</guid>
		<description><![CDATA[Para pencinta kuliner sejati bisa jadi bakal penasaran mendengar makanan jenis ini : Gulai Melung. Jika tertarik, datanglah ke Dusun Melung, Desa Larangan, Kecamatan Kejobong, Purbalingga. Meski lokasi warungnya berada jauh di desa, berjarak 28 kilometer arah Timur Kota Purbalingga, namun, tetap saja menjadi incaran kunjungan para penggemar gulai kambing. Pemilik warung gule Ny Mariyati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<div id="attachment_10648" class="wp-caption alignleft" style="width: 402px"><a rel="attachment wp-att-10648" href="http://banyumasnews.com/2010/06/01/menikmati-gulai-melung-di-pelosok-desa/gule-melung-kejobong1/"><img class="size-medium wp-image-10648" title="Gule melung Kejobong1" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/Gule-melung-Kejobong1-392x270.jpg" alt="Sajian Gulai Melung, dagingnya dipisah dengan santan. (BNC/tgr)" width="392" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Sajian Gulai Melung, dagingnya dipisah dengan santan. (BNC/tgr)</p></div>
<p>Para pencinta kuliner sejati bisa jadi bakal penasaran mendengar makanan jenis ini : Gulai Melung. Jika tertarik, datanglah ke Dusun Melung, Desa Larangan, Kecamatan Kejobong, Purbalingga. Meski lokasi warungnya berada jauh di desa, berjarak 28 kilometer arah Timur Kota Purbalingga, namun, tetap saja menjadi incaran kunjungan para penggemar gulai kambing.</p>
<p>Pemilik warung gule Ny Mariyati menjelaskan, gulai melung adalah gulai daging kambing, terdiri atas kuah, daging, tulang (balungan), kikil (kaki kambing), juga kepala kambing. Tampilannya sangat khas, yakni disajikan dengan ketupat, kuah terpisah, dan dagingnya disajikan di mangkuk.</p>
<div id="attachment_10649" class="wp-caption alignleft" style="width: 359px"><a rel="attachment wp-att-10649" href="http://banyumasnews.com/2010/06/01/menikmati-gulai-melung-di-pelosok-desa/gule-melung-kejobong/"><img class="size-medium wp-image-10649" title="gule melung Kejobong" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/gule-melung-Kejobong-349x270.jpg" alt="Seorang Pelanggan sengaja datang ke Warung Bu Hadi yang berada di desa hanya untuk menikmati gulai Melung...(BNC/tgr)" width="349" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang Pelanggan sengaja datang ke Warung Bu Hadi yang berada di desa hanya untuk menikmati gulai Melung...(BNC/tgr)</p></div>
<p>Kuah gulai rasanya gurih. Aroma kuahnya wangi karena bumbunya yang komplet, seperti daun salam, sere, bawang, dan combrang. Combrang adalah tanaman perdu yang bisa menghilangkan bau amis daging kambing. &#8220;Lazimnya, masakan gulai sudah jadi satu dengan irisan daging, tapi di sini sejak dulu kuah dipisah,&#8221; kata Mariyati yang lebih dikenal dengan sebutan Bu Hadi.</p>
<p>Menurut Mariyati, gulai melung jamaknya dimakan dengan ketupat. Namun, juga tersedia nasi bagi penikmat yang menghendakinya. Untuk menyesuaikan rasa gurih dan pedas sesuai keinginan pelanggan, tersedia irisan cabai dan kecap.</p>
<p><strong>Masakan rumahan</strong></p>
<p>Gulai melung sudah digemari masyarakat di Kejobong sejak 1989. Awalnya, selama puluhan tahun gulai melung hanyalah masakan rumahan yang hanya dijual pasar tradisional Kejobong hanya pada hari Selasa dan Sabtu. Yang mengenalkan adalah Ny Moradjie yang juga kerabat Mariyati. &#8220;Budhe saya itu jualan gulai di pasar. Pelanggannya ya pedagang dan ibu-ibu di Pasar Kejobong,&#8221; kata Mariyati.</p>
<p>Pelanggan yang ketagihan lantas meminta keluarga Mariyati membuka warung. Harapannya, pelanggan tidak lagi hanya bisa membeli gulai di pasar yang hanya buka pukul 06.00-12.00. Akhirnya, sejak 2007 Mariyati memberanikan diri membuka warung gulai melung.</p>
<div id="attachment_10650" class="wp-caption alignleft" style="width: 191px"><a rel="attachment wp-att-10650" href="http://banyumasnews.com/2010/06/01/menikmati-gulai-melung-di-pelosok-desa/bu-hadi-gule-melung/"><img class="size-medium wp-image-10650" title="Bu Hadi Gule Melung" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/Bu-Hadi-Gule-Melung-181x270.jpg" alt="Bu Hadi tengah memasak gulai. (BNC/tgr)" width="181" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Bu Hadi tengah memasak gulai. (BNC/tgr)</p></div>
<p>Rumah sederhana di tepi jalan tembus Purbalingga-Banjarnegara itu dirombak menjadi warung sederhana. Warung buka setiap hari pukul 09.00-18.00. Tidak dinyana, setelah buka di rumah, gulai melung semakin meroket namanya. Dalam sehari, untuk warung ini dibutuhkan satu ekor kambing. Namun jika akhir pekan, kebutuhan bisa meningkat menjadi dua ekor.</p>
<p>Penggemar gulai melung pun meluas. Tidak hanya pelanggan lama di pasar, tetapi juga para pejabat. Mereka ada yang berasal dari Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Pemalang, dan Semarang. <strong>(BNC/tgr) </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/06/01/menikmati-gulai-melung-di-pelosok-desa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buntil Kutasari Yang Selalu Membuat Penasaran</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/28/buntil-kutasari-yang-selalu-membuat-penasaran/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/28/buntil-kutasari-yang-selalu-membuat-penasaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 16:13:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[KULINER]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>
		<category><![CDATA[WISATA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10480</guid>
		<description><![CDATA[Menyebut buntil, barangkali terasa aneh bagi sebagian masyarakat kota. Apalagi mereka yang belum pernah menikmatinya. Sejatinya, buntil sebagai lauk yang biasa dijajakan di pasar tradisional, memiliki rasa yang pas untuk menemani nasi. Sebagian masyarakat kota, ada yang menyebut buntil mirip dengan bothok yang dibungkus dengan daun muda singkong dan diberi sedikit cairan kuah pedas yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10482" class="wp-caption alignleft" style="width: 412px"><a rel="attachment wp-att-10482" href="http://banyumasnews.com/2010/05/28/buntil-kutasari-yang-selalu-membuat-penasaran/antrian-buntil-kutasari/"><img class="size-medium wp-image-10482" title="antrian Buntil Kutasari" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/05/antrian-Buntil-Kutasari-402x270.jpg" alt="Antrian Pembeli Buntil Carangmanggang di Pasar Desa Kutasari Purbalingga. (BNC/tgr)" width="402" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Antrian Pembeli Buntil Carangmanggang di Pasar Desa Kutasari Purbalingga. (BNC/tgr)</p></div>
<p>Menyebut buntil, barangkali terasa aneh bagi sebagian masyarakat kota. Apalagi mereka yang belum pernah menikmatinya. Sejatinya, buntil sebagai lauk yang biasa dijajakan di pasar tradisional, memiliki rasa yang pas untuk menemani nasi.</p>
<p>Sebagian masyarakat kota, ada yang menyebut buntil mirip dengan <a title="Bothok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bothok">bothok</a> yang dibungkus dengan <a title="Daun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daun">daun</a> muda <a title="Singkong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Singkong">singkong</a> dan diberi sedikit cairan <a title="Kuah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kuah">kuah</a> <a title="Pedas (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pedas&amp;action=edit&amp;redlink=1">pedas</a> yang terbuat dari <a title="Santan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Santan">santan</a>. Isinya adalah parutan kelapa yang diberi bumbu. Daun pembungkus yang lain yang sering digunakan adalah daun <a title="Talas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Talas">talas</a> atau daun <a title="Sente" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sente">sente</a>. Berbeda dengan bothok, daun pembungkus pada buntil juga dapat turut dikonsumsi. Bothok biasanya dibungkus menggunakan daun pisang.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-10487" href="http://banyumasnews.com/2010/05/28/buntil-kutasari-yang-selalu-membuat-penasaran/buntil-kutasari-2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-10487" title="Buntil Kutasari" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/05/Buntil-Kutasari1-403x270.jpg" alt="Buntil Kutasari" width="403" height="270" /></a></p>
<p>Adalah hal yang sangat istimewa ketika banyak orang memburu buntil. Di sebuah pasar tradisional di Kecamatan Kutasari, hampir setiap hari orang mencari buntil khas Kutasari. Sebenarnya, buntil itu dibuat oleh seorang warga Dukuh Carangmanggang, Desa Karangbanjar, kecamatan Bojongsari, bernama Ny Kasmini. Hanya saja, Kasmini yang sudah menjajakan buntil 44 tahun lalu, lebih sering berjualan di Kutasari. Akhirnya, buntil itu cenderung disebut sebagai buntil Kutasari.</p>
<p>Menurut Ny Kasmini (58), dirinya mulai menjajakan buntil setelah menikah muda pada usia 14 tahun. Ketika itu, ia meneruskan dagangan buntil orang tuanya. Kasmini akhirnya memilih salah satu sudut pasar Kutasari sebagai tempat dagangan menetap.</p>
<p>Buntil yang dibuat Kasmini boleh dibilang rasanya sangat istimewa. Meski bahannya tidak jauh berbeda dengan buntil buatan pedagang lainnya, namun ramuan bumbu Ny Kasmini yang membuat buntil itu spesial. Bahkan saking spesialnya, buntil Ny Kasmini sering dipesan oleh Pemkab Purbalingga untuk sajian menu makan tamu pejabat dari kota besar.</p>
<p>Buntil Kasmini dibuat dari parutan kelapa muda yang kemudian diramu dengan berbagai bumbu. Parutan kelapa itu kemudian dibungkus sesuai dengan jenisnya. Jika buntil daun talas (senthe), maka pembungkusnya daun talas. Ada juga buntil daun singkong, atau buntil daun pepaya. Rasanya semakin khas, setelah Ny Kasmini menyiram buntil itu dengan santan.</p>
<p>Rasa buntil Carangmanggang yang khas, membuat banyak orang rela mengantri setiap pagi hari. Bahkan, jika hari Minggu pagi, antrian pembeli buntil Ny Kasmini di Pasar Kutasari boleh dibilang mencapai puluhan. ”Kalau hari Minggu saya menyiapkan lima panci, setiap panci berisi 100 buah buntil,” kata Ny Kamsini.</p>
<p>Untuk hari-hari biasa, Ny Kasmini menyiapkan 2 panci berisi buntil. Satu buah buntil dihargai Rp 3 ribu. Dagangan buntilnya, kata Ny Kasmini, selalu habis sekitar jam 9 pagi.</p>
<p>Kalau Anda penasaran ingin mencoba buntil Kutasari, silahkan datang ke Pasar Kutasari. Tentunya, harus pagi hari. Jangan mengeluh, jika harus mengantri panjang, untuk hanya sekedar membeli makanan yang disebut buntil. (BNC/tgr)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/28/buntil-kutasari-yang-selalu-membuat-penasaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soto ‘Sopo Nyono’ Gombong, Rasanya Sedaaap</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/24/soto-%e2%80%98sopo-nyono%e2%80%99-gombong-rasanya-sedaaap/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/24/soto-%e2%80%98sopo-nyono%e2%80%99-gombong-rasanya-sedaaap/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 02:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[KEBUMEN]]></category>
		<category><![CDATA[KULINER]]></category>
		<category><![CDATA[WISATA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10373</guid>
		<description><![CDATA[JIKA Anda bepergian melewati jalur lintas Selatan Jateng, dan melewati kota Gombong, Kabupaten Kebumen, tentu tak rugi jika menyempatkan diri menikmati makanan khas soto Gombong. Kekhasan soto Gombong terletak pada campuran gethuk ketela pada sotonya. Barangkali hanya satu-satunya Soto di Indonesia yang dicampuri gethuk.Banyak penjual soto di sepanjang pusat kota Gombong. Namun, soto yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="file:///C:/Users/pwi/AppData/Local/Temp/Pak%20Sukiman%20meracik%20soto%20Gombong.JPG" alt="" /><img src="file:///C:/Users/pwi/AppData/Local/Temp/Pak%20Sukiman%20meracik%20soto%20Gombong.JPG" alt="" /></p>
<div id="attachment_10376" class="wp-caption alignleft" style="width: 412px"><a rel="attachment wp-att-10376" href="http://banyumasnews.com/2010/05/24/soto-%e2%80%98sopo-nyono%e2%80%99-gombong-rasanya-sedaaap/pembeli-soto-gombong/"><img class="size-medium wp-image-10376" title="pembeli soto Gombong" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/05/pembeli-soto-Gombong-402x270.jpg" alt="Pembeli soto Gombong,hem....enak (foto:tgr/BNC)" width="402" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Pembeli soto Gombong,hem....enak (foto:tgr/BNC)</p></div>
<p>JIKA Anda bepergian melewati jalur lintas Selatan Jateng, dan melewati kota Gombong, Kabupaten Kebumen, tentu tak rugi jika menyempatkan diri menikmati makanan khas soto Gombong. Kekhasan soto Gombong terletak pada campuran gethuk ketela pada sotonya.<br />
Barangkali hanya satu-satunya Soto di Indonesia yang dicampuri gethuk.Banyak penjual soto di sepanjang pusat kota Gombong. Namun, soto yang paling lama ada adalah soto milik Sukiman (73). Warung soto Pak Kiman yang diberinama ‘Sopo Nyono’<br />
(Siapa Menyangka-red), sudah ada sejak tahun 1958.  Bangunan warungnya boleh dibilang sangat sederhana, tapi soal rasa, siapa sangka?. Oleh karenanya banyak pelanggan dan konsumen yang  tidak menyangka rasanya yang luar biasa.</p>
<p>Warung soto Pak Kiman yang berada di Jalan Yos Sudarso 155 Gombong, juga terbilang sangat sederhana. Jangan berpikiran jika bangunan warung sotonya permanen seperti warung soto yang tersebar di Jakarta. Lokasi warungnya, jika perjalanan darei arah<br />
Barat, lokasi warungnya berada di sisi kanan, sekitar 50 meter ke arah Timur  dari gedung Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gombong.</p>
<p>Sejak dulu, warung soto Pak Kiman masih menggunakan  bangku dan meja panjang dari kayu yang sederhana. Dinding warung pun dari kayu yang catnya mulai memudar dimakan usia. Namun, kesederhanaan itu tidak mengurangi minat para pecinta soto pak Kiman. Rupanya, nama Sukiman sudah begitu melekat di hati para pengemar soto. Sukiman sendiri sudah<br />
berjualan soto sejak tahun 1958 dengan berjualan keliling kampung. Sementara warung soto pak Kiman mulai menetap pada tahun 1995.</p>
<p>Bagi Sukiman, berjualan soto sudah begitu mendarah daging. Suka duka sudah dilaluinya hampir separuh abad. Berawal dari soto keliling, akhirnya Sukiman memilih menetap di warungnya sekarang. “Saya berjualan soto saat harga per mangkuknya empat sen, hingga sekarang Rp 5.000,-,” ujar Sukiman yang selalu ramah menyapa pelangganya.</p>
<p>Soto buatan Sukiman dikenal sebagai soto khas Gombong. Adapun yang membedakan dari jenis soto lain, soto gombong dilengkapi dengan  daging ayam kampung dan perkedel singkong.Mi suun, sayur kubis dan kecambah disajikan dalam kuah bening. Pelanggan<br />
tinggal memilih, menyantap soto dicampur nasi, lontong atau kuahnya dipisah. Yang jelas, soto pak Sukiman yang bisa bikin “sumringah” itu membuat ketagihan.”Sekali mencoba banyak sekali yang datang lagi kemari,” ujar Sukiman.</p>
<p>Warung soto yan buka setiap hari, dari jam 11.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Pelanggannya tidak hanya datang dari Kebumen saja. Bahkan ada yang datang dari Purwokerto, Jogjakarta hingga Jakarta. Tak heran, meski warung sederhana, para<br />
pelanggan soto Pak Sukiman banyak yang datang menngunakan mobil.</p>
<p>Kondisi warung akan semakin ramai saat musim libur dan lebaran tiba. Nikmatnya soto Pak Sukiman menyebar dari mulut ke mulut. Alhasil, pelanggan soto pak Sukiman ada yang sampai tiga generasi, Dari mulai kakek,anak hingga cucu.</p>
<p>Meski sudah berpuluh tahun berjualan soto, Pak Sukiman masih menangani sendiri racikan sotonya. Sapaan ramahnya pun selalu menyambut tamu yang datang ke warung. “Saya masih menyajikan sendiri soto ke para pelanggan setia kami,” ujarnya<br />
tersenyum.</p>
<p>Dalam berjualan, Sukiman dibantu ketiga anaknya dan beberapa cucunya. Mereka bekerja secara bergantian. Sukiman mulai menyiapkan masakan soto sejak pukul 06.00. Sehari, soto daganganya n mulai menyiapkan masakan soto sejak pukul 06.00. Dalam<br />
sekarang Rp 5.000,-,&#8221;anan setelah gedung gereja Kristen Jawa aru menghabiskan daging 2 ekor ayam kampung. “Biar dagingnya terasa empuk, saya selalu menggunakan daging ayam kampung betina yang masih muda,” ujar Sukiman.</p>
<p>Soal bumbu yang dipakai, tidak beda dengan bumbu soto lainnya yakni mrica, pala, jahe, kunyit dan kemiri. Setelah dihaluskan, semua bumbu tersebut dimasukkan bersama-sama dengan sayuran hingga mendidih. Setelah mendidih, barulah daging ayam<br />
dimasukkan. Setelah dirasa cukup empuk, daging dientas dan digoreng.  Dengan ditambah sedikit gula  merah, kuah soto yang berisi bermacam-macam sayuran beserta daging ayam</p>
<div id="attachment_10375" class="wp-caption alignleft" style="width: 412px"><a rel="attachment wp-att-10375" href="http://banyumasnews.com/2010/05/24/soto-%e2%80%98sopo-nyono%e2%80%99-gombong-rasanya-sedaaap/pak-sukiman-meracik-soto-gombong-2/"><img class="size-medium wp-image-10375" title="Pak Sukiman meracik soto Gombong" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/05/Pak-Sukiman-meracik-soto-Gombong1-402x270.jpg" alt="Pak Sukiman meracik soto Gombong (foto:tgr/BNC)" width="402" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Pak Sukiman meracik soto Gombong (foto:tgr/BNC)</p></div>
<p>yang diris-iris siap disajikan. (tgr)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/24/soto-%e2%80%98sopo-nyono%e2%80%99-gombong-rasanya-sedaaap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zona kuliner Cia-Cia Cilacap dan keunikan kuliner Barlingmascakeb</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/03/29/zona-kuliner-cia-cia-cilacap-dan-keunikan-kuliner-barlingmascakeb/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/03/29/zona-kuliner-cia-cia-cilacap-dan-keunikan-kuliner-barlingmascakeb/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 14:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[CILACAP]]></category>
		<category><![CDATA[EKONOMI BISNIS]]></category>
		<category><![CDATA[KULINER]]></category>
		<category><![CDATA[zona kuliner; cilacap; purwokerto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9848</guid>
		<description><![CDATA[Janji Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), Yayah Sobriyah menghadirkan zona kuliner di Cilacap benar-benar terwujud. Mengambil moment Gebyar Pedagang Kaki Lima (PKL), masih terkait dengan peringatan hari jadi Kabupaten Cilacap, pada Sabtu (27/03) lalu, sebuah kawasan yang disebut sebagai zona  kuliner (culinary zone) meramaikan Cilacap di malam hari. Zona kuliner ini mengambil lokasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Janji Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), Yayah Sobriyah menghadirkan zona kuliner di Cilacap benar-benar terwujud. Mengambil moment Gebyar Pedagang Kaki Lima (PKL), masih terkait dengan peringatan hari jadi Kabupaten Cilacap, pada Sabtu (27/03) lalu, sebuah kawasan yang disebut sebagai zona  kuliner (culinary zone) meramaikan Cilacap di malam hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Zona kuliner ini mengambil lokasi di Jalan Jendral Sudirman, tepatnya antara Jalan Katamso hingga Jalan S Parman depan lapangan eks Batalyon. Sebuah lapangan eks asrama tentara infantry yang menjadi lokasi ‘evakuasi’ pedagang kaki lima yang semula berjualan di alun-alun.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti janjinya, zona kuliner ini hanya digelar pada setiap Sabtu malam dan Minggu malam serta hari libur. Seperti pada Sabtu malam lalu, dibuka sebuah wahana baru untuk masyarakat Cilacap dalam mengisi hari hari liburnya, khususnya di malam hari. Wahana baru itu dinamakan “Cia Cia” (apakah berasal dari bahasa Tionghoa: cia = makan?).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka antara pertigaan Jl. Katamso (depan Bank Danamon) sampai pertigaan Jl. S Parman (Pos CPM), mulai pukul lima sore, disediakan gerai-gerai makanan yang dikelola oleh Pemkab Cilacap. Kerja sama dijalin dengan pihak-pihak swasta maupun BUMN. Terlihat mencolok di situ logo-logo bank BUMN (BRI), lalu ada pabrik semen di Cilacap (HOLCIM), dan perusahaan rokok.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pedagang tinggal menyiapkan dagangannya, karena lay out dan posisi telah ditentukan panitia. Makanan yang disediakan bisa dikatakan sudah jamak: bakso, soto, mie, nasi rames, seafood, sop, gudeg dan sebagainya. Juga snack, gorengan, kue serta minuman. Tak lupa, sambil makan para pengunjung ditemani dengan iringan musik keroncong.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keunikan kuliner, adakah?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pengamatan BanyumasNews.com, penataan pedagang kaki lima khususnya pedagang makanan telah lebih dulu dilakukan oleh Pemkab Purbalingga. Kalau kita melewati alun-alun siang hari, akan sangat berbeda kalau kita lewat sore/malam hari. Selain di alun-alun ada juga sebuah jalan yang kalau malam hari ramai menjadi zona kuliner. Banjarnegara dan Kebumen pun masih menjadikan alun-alun sebagai pusat keramaian kuliner malam hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Kabarnya, Purwokerto pun tidak mau kalah. Sumber di Dinas Pariwisata mengungkapkan sedang dirancang sebuah zona kuliner untuk meramaikan Purwokerto di malam hari. Sebenarnya saat ini pun tersedia banyak gerai maupun tenda pedagang makanan yang buka malam hari. Jl. Raga Semangsang adalah salah satu contoh, yang merupakan lokasi pemindahan pedagang eks alun-alun. Kemudian jalur menuju kampus Unsoed adalah pusat makanan yang tidak terbilang jumlahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, lokasi yang khusus di-setting untuk culinary zone oleh Pemkab memang belum ada. Jadi, mari kita tunggu zona kuliner di Purwokerto. Kira-kira dimana ya? Di Jl. S Parman-kah? (antara perempatan Srimaya ke selatan), atau di Taman Kota eks terminal lama?</p>
<p style="text-align: justify;">Berlomba-lomba menunjukkan keunikan ‘malam’ di antara kota-kota di Barlingmascakeb tentu menarik. Namun, adakah yang benar-benar khas dan menjadi ikon kuliner di tiap kota? Atau nyaris seragam: nasi goreng, mie godog, nasi rames, gudeg (ini dari Jogja ‘kan), gorengan, mendoan, bakso, soto? Tentu sah-sah saja menampilkan menu seperti itu, karena memang popular. Namun akan lebih baik kalau masing-masing ada keunikan. (BNC/maskurmambangblog.wordpress.com/puh)</p>
<div class="mceTemp" style="text-align: justify;">
<dl id="attachment_9849" class="wp-caption alignleft" style="width: 448px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a rel="attachment wp-att-9849" href="http://banyumasnews.com/2010/03/29/zona-kuliner-cia-cia-cilacap-dan-keunikan-kuliner-barlingmascakeb/cia-cia-view-001/"><img class="size-full wp-image-9849" title="cia-cia-view-001" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/03/cia-cia-view-001.jpg" alt="Keramaian Cia-Cia Cilacap. Foto:maskurmambang blog" width="438" height="280" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Keramaian Cia-Cia Cilacap. Foto &amp; info: maskurmambang blog</dd>
</dl>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/03/29/zona-kuliner-cia-cia-cilacap-dan-keunikan-kuliner-barlingmascakeb/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gurame Bakar ‘Duo Upik’ Dinikmati Diatas Kolam</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/11/28/gurame-bakar-%e2%80%98duo-upik%e2%80%99-dinikmati-diatas-kolam/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/11/28/gurame-bakar-%e2%80%98duo-upik%e2%80%99-dinikmati-diatas-kolam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 14:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[KULINER]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=7662</guid>
		<description><![CDATA[JIKA Anda menginginkan santapan gurame bakar yang segar, tidak ada salahnya jika pilihan jatuh ke warung gurame bakar ’Duo Upik’. Warung ini berada di tengah suasana perdesaan, tepatnya di RT 21/10 Dusun Kutasari, Desa Kutasari, Kecamatan Kutasari, Purbalingga. Jarak dari pusat kota sekitar lima kilometer arah Barat  atau ke arah wilayah Kecamatan Kutasari. Tidak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JIKA Anda menginginkan santapan gurame bakar yang segar, tidak ada salahnya jika pilihan jatuh ke warung gurame bakar ’Duo Upik’. Warung ini berada di tengah suasana perdesaan, tepatnya di RT 21/10 Dusun Kutasari, Desa Kutasari, Kecamatan Kutasari, Purbalingga. Jarak dari pusat kota sekitar lima kilometer arah Barat  atau ke arah wilayah Kecamatan Kutasari. Tidak ada petunjuk arah untuk mencapai warung itu, hanya ancar-ancar yang mudah adalah mencari kolam renang Tirta Asri Walik. Warung itu berada di sisi Timur kolam renang.</p>
<p>Engelola warung Ny Andreas mengungkapkan, ia mulai membuka usaha warungnya kecil-kecilan sekitar awal tahun 2004. Ketika itu, hanya menyediakan sebuah sebuah gubuk kecil disamping rumah. Gubuk itu dibangun diatas kolam gurame yang dijadikan bahan baku. Lama kelamaan, seiring banyaknya pelanggan, Ny Andreas membangun dua buah gubuk lagi yang semuanya juga berada diatas kolam. Kini ada tiga gubuk yang masing-masing mampu menampung 15 orang untuk dua gubuk kecil, dan sekitar 30 – 40 untuk gubuk yang besar.</p>
<p>Sajian gurame yang utama adalah menu gurame bakar. Namun, Ny Andreas tetap bisa melayani gurame yang dimasak lainnya seperti gurame bumbu Bali, sop gurame, gurame pecak. Selain itu juga bisa dipesan ikan Melem goreng.</p>
<p>Bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana desa dengan hamparan ladang tanaman kangkung, bisa datang ke tempat ini dulu sambil menunggu masakan matang. Memang untuk satu menu gurame bakar, waktu menunggu yang dihabiskan bisa sampai setengah jam. Oleh karenanya, bagi pengunjung yang tak ingin berlama-lama menunggu masakan, bisa menghubungi lewat telepon dulu ke 08122783138. Kita bisa pesan jam berapa masakan matang, dan sekaligus booking tempat. Dengan cara ini, konsumen yang sudah memesan begitu datang langsung menyantapnya.</p>
<p>Ciri khas gurame bakar ’Duo Upik’ adalah ikan yang dibakar masih segar. Bahkan harus ditangkap dulu dari kolam yang berada dibawah gubuk-gubuk warung. Jadi praktis, waktu yang lama karena harus mulai menangkap ikan, membersihkan ikan, hingga membakar ikan. Gurame yang sudah dibersihkan, tidak langsung dibakar, tetapi dimasukan sebentar ke minyak goreng mendidih. Gampangnya hanya digoreng sepintas. Lalu, gurame itu dibumbui lagi dan dibakar hingga masak.</p>
<p>”Menu gurame bakar sebenarnya sama dimana-mana. Yang membedakan hanya soal bumbu,” aku Ny Andreas.</p>
<p>Soal harga boleh dibilang hampir sama dengan warung makan lainnya yang menyediakan gurame. Satu porsi gurame ukuran sekitar 8 ons dihargai Rp 44 ribu. Setiap sajian gurame bakar dilengkapi dengan lalapan daun kemangi, dan mentimun, dan yang tak ketinggalan sambal terasi yang rasanya khas.</p>
<p>Ikan bakar ini akan semakin lengkap jika dinikmati dengan sayuran ca kangkung. Dengan harga satu piring ca kangkung Rp 6 ribu, terasa menu makan kita semakin lengkap. Kangkung yang dimasak oleh Ny Andreas juga terbilang segar. Bahkan harus mengambil dulu di kebun kangkung depan warungnya.  Tak percaya, silahkan mencoba. (banyumasnews.com/c</p>
<div id="attachment_7663" class="wp-caption alignleft" style="width: 1610px"><a rel="attachment wp-att-7663" href="http://banyumasnews.com/2009/11/28/gurame-bakar-%e2%80%98duo-upik%e2%80%99-dinikmati-diatas-kolam/menikmati-gurame-bakar/"><img class="size-full wp-image-7663" title="menikmati gurame bakar" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/11/menikmati-gurame-bakar.JPG" alt="Menikmati gurame bakar (foto:tgr/BNC)" width="1600" height="1200" /></a><p class="wp-caption-text">Menikmati gurame bakar (foto:tgr/BNC)</p></div>
<div id="attachment_7664" class="wp-caption alignleft" style="width: 1610px"><a rel="attachment wp-att-7664" href="http://banyumasnews.com/2009/11/28/gurame-bakar-%e2%80%98duo-upik%e2%80%99-dinikmati-diatas-kolam/gurame-bakar-siap-santap/"><img class="size-full wp-image-7664" title="gurame bakar siap santap" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/11/gurame-bakar-siap-santap.JPG" alt="Gurame bakar siap santap (foto:tgr/BNC)" width="1600" height="1200" /></a><p class="wp-caption-text">Gurame bakar siap santap (foto:tgr/BNC)</p></div>
<div id="attachment_7665" class="wp-caption alignleft" style="width: 1210px"><a rel="attachment wp-att-7665" href="http://banyumasnews.com/2009/11/28/gurame-bakar-%e2%80%98duo-upik%e2%80%99-dinikmati-diatas-kolam/bercengkerama-sambil-menunggu-masakan-gurame-duo-upik/"><img class="size-full wp-image-7665" title="bercengkerama sambil menunggu masakan gurame duo upik" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/11/bercengkerama-sambil-menunggu-masakan-gurame-duo-upik.JPG" alt="Bercengkerama sambil menunggu masakan gurame duo upik (foto:tgr/BNC)" width="1200" height="1600" /></a><p class="wp-caption-text">Bercengkerama sambil menunggu masakan gurame duo upik (foto:tgr/BNC)</p></div>
<p>tegar brillianto)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/11/28/gurame-bakar-%e2%80%98duo-upik%e2%80%99-dinikmati-diatas-kolam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
