<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kabar Banyumas &#187; SASTRA</title>
	<atom:link href="http://banyumasnews.com/category/wacana/sastra-wacana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banyumasnews.com</link>
	<description>Portal Berita Warga Bayumasan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 07:35:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Menggugat Sastra Yang Berjarak</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 13:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=12308</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Jarot C. Setyoko Penghujung 2008 silam, di Aula Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Saut Situmorang, penyair yang bergelar “Raja Polemik’ itu, mengulang keluhan yang telah sekian kali dinyatatakan para sastrawan lain. Sastra Indonesia tengah menjejak masa anomik, mengalami kemunduran dalam ukuran kualitas dan kuantitas, serta gagal melakukan regenerasi. Itu terjadi justeru ketika kebebasan berkarya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Jarot C. Setyoko</strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-12309" href="http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/jarottttttt/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-12309" title="jarottttttt" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/10/jarottttttt-202x270.jpg" alt="jarottttttt" width="202" height="270" /></a></p>
<p>Penghujung 2008 silam, di Aula Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Saut Situmorang, penyair yang bergelar “Raja Polemik’ itu, mengulang keluhan yang telah sekian kali dinyatatakan para sastrawan lain. Sastra Indonesia tengah menjejak masa anomik, mengalami kemunduran dalam ukuran kualitas dan kuantitas, serta gagal melakukan regenerasi. Itu terjadi justeru ketika kebebasan berkarya lebih lapang dibentangkan.</p>
<p>Setahun setelah itu keadaan tak berubah. Dalam prolog ”20 Cerpen Terbaik 2009” (yang merupakan nominator peraih Anugerah Sastra Pena Kencana), kita mendengar ’pengakuan’ yang meresahkan. ”Sastra diproduksi dengan semangat gegap gempita, tetapi tak menyihir manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca karya-karya yang dianggap elitis, tidak bertolak dari kenyataan sosial dan meninggalkan persoalan-persoalan sejarah bangsa”.</p>
<p>Dari Putu Wijaya kita juga membaca kegundahan serupa. ”Sastra sebagaimana yang selalu kita kenal selama ini, selalu diidentifikasi sebagai karya indah yang tertulis. Ia dibedakan dengan kenyataan faktual. Hubungannya dengan intuisi dan emosi sangat kental. Tetapi kesinambungannnya dengan ratio, pemikiran dan telaah-telaah, sudah dipreteli habis. Maka sastra menjadi penari striptease. Penyebar keindahan, yang menimbulkan klangenan, kenikmatan, dan akhirnya kealpaan serta bencana”. Putu menulis itu dalam artikel yang bertajuk ”Reposisi Sastra Indonesia”.</p>
<p>Terasa aneh memang, sastra (yang diwakili oleh pikiran para kritikus dan sastrawannya) merasa kelangan gapit justeru dalam babak jaman yang disebut dengan era kebebasan. Sulit bagi kita untuk menepis, realitas dunia sastra saat ini merupakan paradoksal dari agenda sastra di jaman Orde Baru, masa yang kita tahu sarat dengan represi dan sesak oleh alat sensor.</p>
<p>Ada semacam keyakinan yang bermukim dalam benak para pegiat sastra kala itu, eksistensi sastra dan proses kreatif akan menemukan arusnya sendiri jika kebebasan dihamparkan di depan wajah. Oleh karena itu di bawah todongan otoritarianisme politik saat itu, sastra menenteng dua agenda dominan. Pertama, berjuang untuk meraih kemerdekaannya sendiri. Dan kedua, menjadi median kepentingan politik untuk mewujudkan kebebasan dalam skala sosial.</p>
<p>Hanya saja, setelah kebebasan untuk menyampaikan hasrat (freedom of expression) &#8212; yang konon merupakan prasyarat asazi bagi laku kreatif &#8212; telah terbentang, mengapa pula sastra tak kunjung menemukan arasnya dalam konstelasi perubahan yang rumit ini? Tanpa niatan menggurui para pujangga, setidaknya ada dua hal yang menjadi hulu persoalan ini. Pertama, karya dan wacana sastra tak sadar jika ’dirinya’ semakin jauh dari benak khalayak. Kedua, para sastrawan tak sanggup mengukur skala diri dalam peta sosial yang terus bergeser.</p>
<p>Kita bersaksi, di halaman koran, karya dan kritik sastra dihelat begitu penuh gairah. Namun tak pernah disadari, di luar panggung para penonton mulai merasa ditinggalkan, tak tertarik, dan kemudian pagelaran menjadi sepi. Pada akhirnya sastra hanya menjadi perbincangan gaduh di antara para sastrawan dan kritisi, namun kehilangan audiens sebagai muara proses kreatif. Akibatnya sastra tercerabut dan kehilangan peran sebagai median khalayak dalam ruang sosiologisnya.</p>
<p>Sekedar gambaran, pada tahun-tahun awal perubahan seorang seniman ’tetap konsisten’ berkreasi dengan syair-syair garang, yang ia visualisasikan melalui teaterikal penuh ’perlawanan’. Ia telah melakukan itu semenjak kondisi masih represif, dan ia tetap melakukannya ketika realitas sosial telah berubah. Yang membedakannya, dulu khalayak selalu mengerumuni pementasannya, sementara ketika era telah bergeser, orang tak lagi peduli dengan pementasaannya.</p>
<p>Dengan sertamerta, diskusi yang dihelat pasca pementasan menyatakan konklusi: dalam era perubahan, apresiasi publik terhadap seni makin menurun. Para pegiat dan apresian seni itu tak pernah (atau belum) mencoba menimbang ulang kesimpulannya: adakah memang apresiasi publik terhadap seni yang makin rendah, ataukah para seniman yang sejatinya gagal melahirkan karya yang ’sadar ruang’, sadar terhadap konteks jaman yang menaunginya.</p>
<p>Kita tentu tahu, diksi ’bebas’ (yang terangkai dalam syair serendah apapun kualitas estetiknya) di kala Orde Baru, tentu akan dimaknai secara berbeda ketika diksi itu dinyatakan pada saat ini. Ada matra batin yang memang tak sama dari dua masa itu, sekalipun kita dihadapkan pada teks yang sama. Diksi ’bebas’ dalam ruang yang serba dibatasi akan terasa menggetarkan, kendati dalam ukuran estetis teks itu tak terlampau memukau hati kita. Tetapi jika itu kita nyatakan sebagai ekspresi seni saat ini? Jangan heran jika tak ada yang peduli.</p>
<p>Pada akhirnya kita tahu, persoalan sastra memang bukan pada kebebasan atau ketidakbebasan. Cukup jelas, di masa tidak bebas sekalipun selalu lahir sastrawan besar dan karya besar. Seperti halnya Boris Pastrenak yang melahirkan ”Dr. Zhivago” dalam kungkungan bayonet serdadu Uni Sovyet. Pun Pramudya Ananta Toer dan W.S. Rendra yang menggubah karya-karya terbaiknya dalam kondisi ketidakbebasan. Kenapa? Seperti kata Putu Wijaya, ”Sejak mulanya, sastra mengandung kebebasan dan ketidakbebasan. Sastra yang berpihak memang tidak pernah bebas. Dan sastra yang bebas, tidak pernah bisa ditahan oleh apa pun, karena dia memiliki kreativitas untuk mengelak. Keduanya saling melengkapi”.</p>
<p>Oleh karena itu sastra di era bebas memang ”Bukan pesta kebebasan dan selamat tinggal ketidakbebasan. Tetapi masalah kesempatan dan agenda. Masalah prioritas apa yang seyogyanya harus dilakukan oleh sastra”. Dan kita tahu, tak ada nalar yang bisa menyusun agenda, kecuali dia sadar konteks: memahami realitas yang melingkupinya.(*)<br />
<em><br />
Catatan: Naskah ini disampaikan sebagai pidato pembukaan Seminar ”Sastra Tak Berjarak”, Rabu 20 Oktober 2010, di Gedung Soemardjito Unsoed-Purwokerto. Yang digelar sebagai kerjasama Inspera, Teater Si Anak-Unsoed dan Harian Suara Merdeka.</em><br />
<em>*)Penulis adalah   pengelola Institut Pemberdayaan Rakyat (Inspera)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu Kangen Penyair Banyumas di Kedai Bakso</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 14:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=11996</guid>
		<description><![CDATA[BANYUMAS- Puluhan seniman Banyumas Jawa Tengah , Minggu (19/09) malam berkumpul di Kedai Bakso jalan Porka Purwokerto Barat. Yang hadir dalam acara bertajuk Temu Kangen Penyair Banyumas ini sebagian besar mereka penyair angkatan 80-an. Selain silaturahmi, petemuan mereka  sekaligus kangen-kangenan setelah lama tidak bertemu. &#8221; Mereka penyair senior yang lama tidak bertemu dan sengaja kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-11997" href="http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/gesek/"><img class="alignleft size-full wp-image-11997" title="gesek" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/09/gesek.JPG" alt="gesek" width="282" height="180" /></a></p>
<p>BANYUMAS- Puluhan seniman Banyumas Jawa Tengah , Minggu (19/09) malam berkumpul di Kedai Bakso jalan Porka Purwokerto Barat. Yang hadir dalam acara bertajuk Temu Kangen Penyair Banyumas ini sebagian besar mereka penyair angkatan 80-an. Selain silaturahmi, petemuan mereka  sekaligus kangen-kangenan setelah lama tidak bertemu.</p>
<p>&#8221; Mereka penyair senior yang lama tidak bertemu dan sengaja kami kumpulkan malam ini,&#8221; ujar Dimasyoto, panitia acara. Menurut Dimas, kegiatan tersebut selain temu kangen dan silaturahmi juga akan membedah buku puisi milik penyair Dharmadi.</p>
<p>Panitia mengundang sejumlah panyair seperti, Bambang Set, Ahita, Nanang Anna Noor, Dharmadi, Bambang Wadoro, Badrudin Emce, Haryono Soekiran.Sejumlah pekerja teater juga hadir seperti Surya Esa Rohadi dan Sugiharto.</p>
<p>&#8221; Kalau boleh dibilang mereka merupakan pioner dunia sastra dan teater di Banyumas,  ujar Dimasyoto. Meski diguyur hujan, namun acara berlangsung lancar (BNC/vit)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Novel ngapak ‘Geger Wong Ndekep Macan’ dibedah di Unsoed</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/04/novel-ngapak-%e2%80%98geger-wong-ndekep-macan%e2%80%99-dibedah-di-unsoed/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/04/novel-ngapak-%e2%80%98geger-wong-ndekep-macan%e2%80%99-dibedah-di-unsoed/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 03:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[SENI BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[novel berbahasa ngapak; banyumas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10269</guid>
		<description><![CDATA[PURWOKERTO – Novel berbahasa Jawa Ngapak atau Banyumasan berjudul “Geger Wong Ndekep Macan” karya Hari Soemoyo, akan dilaunching pada hari Kamis, 6 Mei 2010 di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, pukul 09.00 sd selesai. Acara diadakan oleh HMPS Prodi Sastera Indonesia FISIP Unsoed yang sekaligus ditandai dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PURWOKERTO – Novel berbahasa Jawa Ngapak atau Banyumasan berjudul “Geger Wong Ndekep Macan” karya Hari Soemoyo, akan dilaunching pada hari Kamis, 6 Mei 2010 di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, pukul 09.00 sd selesai.</p>
<p>Acara diadakan oleh HMPS Prodi Sastera Indonesia FISIP Unsoed yang sekaligus ditandai dengan ‘bedah buku’ atas novel yang disebut-sebut novel berbahasa Banyumas pertama itu. Sebagai pembedah akan tampil Surya Esa dengan pembanding Sugeng Wiyono.</p>
<p>Novel ‘Geger Wong Ndekep Macan’ karya Hari Widianto Soemoyo, atau yang dikenal juga sebagai Hari Ngapak menurut Bambang Setiawan, Litbang Kompas dalam komentar di cover belakang buku mengatakan novel ini adalah salah satu karya sastra yang mengangkat realita sosial, ekonomi dan politik pedesaan era tahun 1980-an hingga 2000-an.</p>
<p>Dituturkan dalam bahasa ngapak pinggiran yang renyah, dalam bahasa Banyumasan sebagai salah satu entitas bahasa di Jawa. Pengetahuan bahasa pengarang dinilai sangat luas, ditunjukkan dengan istilah dan diksi bahasa Banyumas pinggiran saat ini yang diungkapkan dalam cerita kekinian, namun tetap menggambarkan falsafah hidup pedesaan.</p>
<p>Novel ini bisa menjadi salah satu bahan penelitian tidak hanya sastra, namun juga penelitian tentang sosio-kultural. Selain itu, karya sastra ngapak Banyumasan ini bisa menjadi dokumentasi yang berharga atas bahasa local yang oleh sementara kalangan ‘akan punah ini’. (BNC/puh)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/04/novel-ngapak-%e2%80%98geger-wong-ndekep-macan%e2%80%99-dibedah-di-unsoed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibutuhkan Trik Menarik Penyajian Sastra di Sekolah</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/02/23/dibutuhkan-trik-menarik-penyajian-sastra-di-sekolah/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/02/23/dibutuhkan-trik-menarik-penyajian-sastra-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 14:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9135</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Puji Ambarwati, S.Pd *) BAGI seorang guru bahasa Indonesia  menyajikan  materi  apresiasi  sastra  tidaklah  mudah. Uuntuk  menjadi  guru  sastra  yang  baik  harus  mempunyai  kecintaan  pribadi  terhadap  karya  sastra. Sastra  baginya  menjadi  sumber  kenikmatan, selalu  mengikuti  perkembangan  sastra  dan  kegiatan  di  bidang  sastra  . Guru  yang  kreatif  dan  dinamis  akan  mempengaruhi  keberhasilan  siswa  dalam  berapresiasi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="file:///E:/puji%20jadi.jpg" alt="" /></p>
<p><strong><a rel="attachment wp-att-9136" href="http://banyumasnews.com/2010/02/23/dibutuhkan-trik-menarik-penyajian-sastra-di-sekolah/puji-jadi-2/"><img class="alignleft size-full wp-image-9136" title="puji jadi" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/02/puji-jadi1.jpg" alt="puji jadi" width="312" height="416" /></a><br />
</strong></p>
<p><strong>Oleh: Puji Ambarwati, S.Pd *)</strong></p>
<p>BAGI seorang guru bahasa Indonesia  menyajikan  materi  apresiasi  sastra  tidaklah  mudah. Uuntuk  menjadi  guru  sastra  yang  baik  harus  mempunyai  kecintaan  pribadi  terhadap  karya  sastra. Sastra  baginya  menjadi  sumber  kenikmatan, selalu  mengikuti  perkembangan  sastra  dan  kegiatan  di  bidang  sastra  . Guru  yang  kreatif  dan  dinamis  akan  mempengaruhi  keberhasilan  siswa  dalam  berapresiasi.</p>
<p>Siswa  adalah  pelaku  utama dalam  apresiasi  sastra  oleh  karena  itu  usahakan  siswa   mau menggauli  karya  sastra  yang materi  bahannya  bisa  diberikan  oleh  guru dengan mengikuti  perkembangan  sastra , atau  siswa disuruh  mencari  sendiri  karya sastra yag ada  di   perpustakaan  atau  bisa  juga  dis  internet.Siswa  diharapkan  bisa  memperoleh  pengalaman  sendiri  dengan  banyak  membaca,mencoba  untuk  mengarang,bercerita,memerankan  lakon  dan  mengamati  bentuk  sastra sedangkan  guru hanya  berfungsi  sebagai pembimbing.</p>
<p>Pelajaran  Bahasa  Indonesia  yang hanya  diberikan  2&#215;45  menit  untuk  SMK  setiap  minggunya  harus  dapat  disiasati  oleh  seorang  guru  agar  semua  kompetensi  dapat  dilaksanakan  dan  mencapai  tujuan  yang  diharapkan.  Dengan  demikian  pemiilihan  metode juga  amat  berpengaruh  dalam  berhasil  tidaknya  kegiatan  apresiasi.</p>
<p>Mengapresiasi  teks  seni  berbahasa  dalam  hal  ini  prosa  dan  puisi  agak  berbeda  .Prosa  yang  sebagian  ceritanya  panjang , sukar  untuk  digarap  secara  keseluruhan  pada waktu  tatap  muka.Sedangkan  puisi bisa  diberikan  pada waktu  tatap muka.Maka  tindakan  yang  ditempuh  adalah  menyuruh  siswa  untuk  membaca novel  di  rumah  kemudian  membuat  sinopsisnya  dan  mencari  unsur  intrinsiknya.Agar  lebih  menarik  tugas  yang  telah  dikerjakan  siswa  kemudian  didiskusikan . Sebagai  contoh  mencari  unsur  penokohan  maka , siswa  kita ajak  untuk  menyebutkan  tokoh  tokohnya, memilih  tokoh  yang  disenangi,  mengapa  menyenangi  tokoh  tersebut,  bagaimana  pribadi  tokoh  tersebut.</p>
<p>Untuk  menyiasati  ketidakseimbangan  antara  jumlah  jam  mengajar  dengan  kompetensi  yang  harus  dicapai , sejumlah  trik  bisa  dilakukan  yaitu  dengan  cara  membagi  majalah  langganan  sekolah  sebagai  salah  satu  sumber  belaja r setiap  kita  masuk  kelas.  Kemudian   upayakan  siswa  selalu  membaca  cerpen  dan  puisi  meskipun  bukan materi  apresiasi  yang  akan  disampaikan  guru.Dalam  cerpen  kita  bisa berbicara  tentang  kata  baku  dan  tidak  baku,majas,peribahasa,kalimat  efektif  dan  tidak  efektif, pola  kalimat  dan  sebagainya.Lakukan  sesering  mungkin  agar  siswa  terbiasa   menikmati  karya  seni  orang  lain . Dengan  demikian  akan  muncul  penghargaan  atau  apresiasi  terhadap  karya tersebut  dan  pada  akhirnya  mencoba untuk  menciptakan  sendiri karya  sastra  baik  prosa  maupun  puisi.</p>
<p>Ketika  tiga  hal  di  atas  dapat  kita  lakukan  ,maka  tanpa  kita  sadari  setiap  guru  masuk  kelas  selalu  ada  kegiatan  apresiasi  tanpa mengabaikan  kompetensi  dasar  yang  lainnya.Sekali  merengkuh  dayung  dua  tiga pulau  terlampaui.</p>
<p><em>*)Puji Ambarwati  S.Pd.peminat satra dan  Guru  SMK  Negri  2  Banyumas.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/02/23/dibutuhkan-trik-menarik-penyajian-sastra-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Srigala yang jahat dan Tupai yang baik</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/10/31/srigala-yang-jahat-dan-tupai-yang-baik/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/10/31/srigala-yang-jahat-dan-tupai-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 03:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=6948</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Salsabila Dian Islami Catatan: Naskah ceritera mini ini sama sekali tanpa editing redaksi. Terlontar begitu saja dan apa adanya. Meski logika Srigala dikalahkan Tupai tidak mengena, namun Salsabila Dian Islami yang masih duduk di Kelas 3 Akselerasi SD Al-Irsyad Al-Islamiyyah 01 (RSBI) Purwokerto ini mencba melakukan dekonstruksi terhadap realitas kasat mata. Bocah yang baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Salsabila Dian Islami </strong></p>
<p><em>Catatan: Naskah ceritera mini ini sama sekali tanpa editing redaksi. Terlontar begitu saja dan apa adanya. Meski logika Srigala dikalahkan Tupai tidak mengena, namun Salsabila Dian Islami yang masih duduk di Kelas 3 Akselerasi SD Al-Irsyad Al-Islamiyyah 01 (RSBI) Purwokerto ini mencba melakukan dekonstruksi terhadap realitas kasat mata. Bocah yang baru berusia delapan tahun tiga bulan ini secara lugas ingin meyakinkan bahwa kebenaran harus tetap menang, meski harus berhadapan dengan kekuatan jahat yang maha dahsyat. Ceritera ini membawa pesan moral yang patut kita renungkan. Selamat ya dik!</em></p>
<p>PADA suatu hari kumpulah Srigala – Srigala yang jahat . Mereka mempunyai ketua yang bernama Roy . Pada suatu hari mereka melihat manusia yang bernama Loli dan Lala . Mereka lalu berkumpul /berdiskusi agar bisa menangkap manusia itu .</p>
<p>Waktu Srigala itu sedang berdiskusi , datanglah Tupai yang baik dan bernama Rolin . Tupai itu mendengar semua pembicaraan Srigala tersebut . Lalu Tupai itu mempunyai ide yang cemerlang untuk menolong Loli dan Lala . Waktu Srigala itu menyerang Lali dan Lala , lalu datanglah Tupai itu .</p>
<p>Lalu Tupai itu langsung menolong Loli dan Lala dan menyerang Srigala – Srigala<br />
Tersebut . Setelah Srigala – Srigala itu kapok , lalu Tupai itu menyuruh mereka semua untuk meminta maaf kepada Loli dan Lala . Srigala – Srigala itu menyesal atas perbuatan mereka dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.<a rel="attachment wp-att-6949" href="http://banyumasnews.com/2009/10/31/srigala-yang-jahat-dan-tupai-yang-baik/salsabila-dian-islami/"><img class="alignleft size-medium wp-image-6949" title="SALSABILA DIAN ISLAMI" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/10/SALSABILA-DIAN-ISLAMI-360x270.jpg" alt="SALSABILA DIAN ISLAMI" width="360" height="270" /></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/10/31/srigala-yang-jahat-dan-tupai-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah 30 tahun, puisi dari Banyumas</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/15/setelah-30-tahun-puisi-dari-banyumas/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/09/15/setelah-30-tahun-puisi-dari-banyumas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 15:04:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=4734</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Abdul Aziz Rasjid dan Teguh Trianton Penyair Banyumas mulai mempublikasikan puisinya —dalam bahasa Indonesia— kurang lebih sejak tahun 1970-an. Sampai kini, puisi mereka mendapatkan publikasi yang cukup “besar” di beberapa lembar sastra koran, majalah, media alternatif, jurnal maupun antologi puisi bersama. Pada periode 1970-an itu, kita tahu berbagai perambahan dalam pengucapan dan wawasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh : Abdul Aziz Rasjid dan Teguh Trianton</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penyair Banyumas mulai mempublikasikan puisinya —dalam bahasa Indonesia— kurang lebih sejak tahun 1970-an. Sampai kini, puisi mereka mendapatkan publikasi yang cukup “besar” di beberapa lembar sastra koran, majalah, media alternatif, jurnal maupun antologi puisi bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada periode 1970-an itu, kita tahu berbagai perambahan dalam pengucapan dan wawasan puisi di Indonesia banyak dilakukan oleh penyair. Ada puisi mbeling lewat Remy Silado yang menganggap puisi bukan sebuah hal serius apalagi agung, muncul pula puisi konkret yang mencuatkan nama Danarto yang seakan tak puas hanya sebatas kata-kata. Sedang perode 1980-an muncul puisi instalasi oleh Afrizal Malna.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, di antara hingar-bingar perambahan itu, puisi dari Banyumas seakan kurang mendapat perhatian dalam percakapan produk sastra secara nasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataan itu, sungguh mengherankan. Sebab jika melihat kembali geliat aktivitas perpuisian di Banyumas dari tiga puluh tahun silam, idealnya spirit yang dibawa oleh beberapa orang itu membawa pengaruh segar terhadap produk sastra di Banyumas.</p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi, Komunitas Sastra di Banyumas —sebagai media pemicu proses kreatif / tugar gagasan/ sirkulasi informasi penyair— telah berkali-kali didirikan, sebut saja: Sanggar Pelangi (1971), Himpunan Penulis Muda Purwokerto (1974), Lingkaran Seni dan Budaya (1986), Kancah Budaya Merdeka (1993), Hujan tak Kunjung Padam (2005) sampai Bunga Pustaka (2007).</p>
<p style="text-align: justify;">Soalnya, apakah puisi dari Banyumas tak memuat tanda tertentu untuk pantas diperbincangkan dalam lingkup nasional?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah gagasan intelektual, perambahan dan kekhasan pengucapan penyair atau relasi puisi dengan kondisi sosial dan budaya Banyumas tidak pernah semarak dibicarakan dalam komunitas-komunitas itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Atau tulisan-tulisan yang dipublikasikan yang berkaitan dengan puisi dari Banyumas tak memuat tanda tententu yang dapat menjadi korespondensi bagi masyarakat Banyumas untuk mengetahui perkembangan kualitas puisi-puisi dari Banyumas secara aktual?</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal —merujuk pada Ignas Kleden— penciptaan karya sastra (puisi) tidak bisa terhindar dari kondisi sosial dan budaya di sekitar pengarangnya. Sebab karya sastra (puisi) memuat realitas sosial secara simbolik, evokatif (menggugah) dan artistik.</p>
<p style="text-align: justify;">Atau jangan-jangan, literasi yang memuat puisi-puisi dari Banyumas yang secara nyata malah banyak terkumpul dalam antologi bersama di luar Banyumas &#8211;sebut saja: Melacak Jejak (KBM, 1993), Serayu (Harta Prima, 2005), Jentera Terkasa (TBJT, 1998) sampai Pledoi Puisi (TBJT, 2008)&#8211; yang menjadi soalnya, sebab akhirnya sirkulasi puisi tak jatuh pada pembaca di Bnayumas &#8211;hanya golongan tertentu?</p>
<p style="text-align: justify;">Jikapun terbitnya Blues Mata Hati (DKKB, 2009) dijadikan sanggahan. Pertanyaannya kemudian, apakah kondisi ini wajar jika dalam rentang waktu tiga puluh tahun hanya melahirkan sebuah antologi bersama?</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dibutuhkan di Banyumas -terkait perkembangan sastra- adalah minimnya tegur sapa antar sesama pegiat sastra (kebudayaan). Tegur sapa yang cerdas dan intelek menjadi barang langka. Yang ada adalah kebiasaan <em>ngerasani neng mburi</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Alih-alih berkembang, sastra Banyumas bahkan tak sempat jalan di tempat, mundur bahkan. Yang saya maksud tegur sapa cerdas adalah tegur sapa melalui tradisi mengkritik, mengapresiasi, meneroka karya sesama pegiat. Padahal sastra sesungguhnya adalah wilayah literasi, sehingga mustahil berkembang jika nir literasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Rendahnya tradisi literer sebagai roh sastra yang sesungguhnya, terjadi akibat masih kuatnya tradisi keberlisanan. Ini pula yang menyebabkan pegiat sastra di Banyumas lebih memilih berperan sebagai pembaca yang membaca -dalam arti harfiah- dari pada pembaca yang menuliskan hasil bacaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya jika yang dimaksud berkembang adalah riuhnya panggung, maka panggung sastra Banyumas tak pernah sepi dari pementasan, tak pernah sepi dari kemunculan kantong-kantong sastra baru. Tapi permasalahnnya adalah kantong-kantong yang tumbuh ini juga tak memberikan tawaran baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Sangat jarang lahir penulis -apapun itu- dari kantong sastra yang bertebaran. Mereka lebih banyak memproduksi pembaca, pembaca-pembaca sastra panggung. Akibatnya panggung sastra memang riuh, tapi sepi dalam gelak esai, kritik bertanggung jawab -ilmiah- dan sepi dari pendokumentasian karya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>*)Abdul Aziz Rasjid dan Teguh Trianton pegiat Beranda Budaya, </strong><strong>Komunitas diskusi dan literasi filsafat, budaya, sastra dan agama</strong><strong>.</strong></p>
<div class="mceTemp" style="text-align: justify;">
<dl id="attachment_4735" class="wp-caption alignleft" style="width: 199px;">
<dt class="wp-caption-dt"><strong><strong><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4735" href="http://banyumasnews.com/2009/09/15/setelah-30-tahun-puisi-dari-banyumas/abdul-aziz-rasjid-2/"><img class="size-full wp-image-4735" title="Abdul Aziz Rasjid" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/Abdul-Aziz-Rasjid1.jpg" alt="Abdul Aziz Rasjid" width="189" height="206" /></a></strong></strong></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Abdul Aziz Rasjid</dd>
</dl>
</div>
<div class="mceTemp" style="text-align: justify;">
<dl id="attachment_4736" class="wp-caption alignleft" style="width: 170px;">
<dt class="wp-caption-dt"><strong><strong><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4736" href="http://banyumasnews.com/2009/09/15/setelah-30-tahun-puisi-dari-banyumas/teguh-trianton-10-2/"><img class="size-full wp-image-4736" title="Teguh Trianton-10" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/Teguh-Trianton-101.JPG" alt="Teguh Trianton" width="160" height="220" /></a></strong></strong></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Teguh Trianton</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/09/15/setelah-30-tahun-puisi-dari-banyumas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sajak WS Rendra dalam bahasa Banyumasan</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/09/sajak-ws-rendra-dalam-bahasa-banyumasan/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/09/09/sajak-ws-rendra-dalam-bahasa-banyumasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 16:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=4282</guid>
		<description><![CDATA[Hamidin Krazan MENGENANG 40 hari meninggalnya penyair WS Rendra, banyumasnews.com menampilkan Sajak Seonggok Jagung. Puisi Rendra ini dikirim oleh seorang  penulis dongeng anak-anak, Khamidin Krazan. Pria berambut keriting asal Pekuncen Banyumas ini mencoba menerjemahkan puisi Si Burung Merak ini secara sembrono dengann bahasa khas banyumasan. Kita membacanya terasa geli dan gregeten. Sajak Seonggok Jagung W.S. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Hamidin Krazan</strong></p>
<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4283" href="http://banyumasnews.com/2009/09/09/sajak-ws-rendra-dalam-bahasa-banyumasan/khamidin/"><img class="alignleft size-medium wp-image-4283" title="khamidin" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/khamidin-315x270.jpg" alt="khamidin" width="315" height="270" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">MENGENANG 40 hari meninggalnya penyair WS Rendra, banyumasnews.com menampilkan Sajak Seonggok Jagung. Puisi Rendra ini dikirim oleh seorang  penulis dongeng anak-anak, Khamidin Krazan. Pria berambut keriting asal Pekuncen Banyumas ini mencoba menerjemahkan puisi Si Burung Merak ini secara sembrono dengann bahasa khas banyumasan. Kita membacanya terasa geli dan gregeten.</p>
<p style="text-align: justify;">Sajak Seonggok Jagung W.S. Rendra</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>diterjemahkan secara sembrono oleh Hamidin Krazan</em>)</p>
<p style="text-align: justify;">Jagung nglodod ning senthong<br />
karo bujang tanggung<br />
sing mung secuil nglethak gendheng sekolahan</p>
<p style="text-align: justify;">menthelengi jagung kuwe<br />
bocah bujang tanggung kemutan sawah garungan<br />
deweke weruh wong tani<br />
deweke weruh panen<br />
lan sewijine dina esuk uput-uput<br />
mboke tuwa-mboke nom nggendong rinjing<br />
gemrudug pada maring pasar<br />
lan deweke uga weruh kahanan<br />
sewijine dina esuk uput-uput<br />
ning mburitan pereke sumur<br />
prawan gadis padha guris<br />
nyambi nutoni jagung<br />
nggo digawe glepung<br />
mbanjur ning njero pedangan<br />
geni suluh gemleger ning pawon<br />
hawa esuk sing bersih<br />
semribid mambu wangine sega jagung</p>
<p style="text-align: justify;">(hemmm wushaaaah….)</p>
<p style="text-align: justify;">Jagung selodod ning senthong<br />
karo bujang tanggung<br />
deweke karep manja jagung<br />
deweke weruh gambaran kasil<br />
uteke sing nyanthelan karo tangane sing cekatan<br />
(cangcut tali wondo) siap nyambut gawe meres kringete</p>
<p style="text-align: justify;">{ning nong ning gung iwak ayam… sega jagung ora doyan&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;">manjat gunung olih prawan – prawan siji nggo rebutan—</p>
<p style="text-align: justify;">bujang tanggung sing cekatan—nandur jagung ning pekarangan&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">gadis prawan pada kedanan}</p>
<p style="text-align: justify;">Ananging… nanging… kiye sejen maning gyeh</p>
<p style="text-align: justify;">jagung nglodod ning senthong<br />
diadepi bujang tanggung sing sekolahe dhuwur</p>
<p style="text-align: justify;">ora duwe duwit ora bisa dadi mahasiswa<br />
mung ana jagung nglodod seblegedege ning senthong</p>
<p style="text-align: justify;">deweke mandheng jagung kuwe<br />
lan deweke mung krasa uripe kayong ngupapila temen<br />
deweke ngrasa didupak sekang banceran</p>
<p style="text-align: justify;">(sing tabuhane kaya suara wong nutu jagung ning lesung..</p>
<p style="text-align: justify;">gedebag debug&#8212; dug dagdug dug dag dudug…)<br />
deweke kamitenggengeng weruh</p>
<p style="text-align: justify;">sepatu jinggring dijejerna ning lemari kaca<br />
deweke ngrasa iren kediren weruh saingane numpak motor<br />
deweke kayong dipekatoni nomer buntut lotre<br />
deweke ngrasa dadi wong sing paling kere lan serba ora becus</p>
<p style="text-align: justify;">Jagung nglodod ning senthong<br />
ora cemanthel ning tinemune deweke (sing uteke bebel)<br />
ora bakal nulungi maring deweke</p>
<p style="text-align: justify;">Jagung nglodod ning senthong<br />
babar blas ora bakal nulung maring bocah nom<br />
sing kaweruh uripe ngandelna kepinteran thok<br />
lan ora dipepeki karo pengalaman urip<br />
sing ora mung nganggo thetek bengek cara<br />
lan ngendelna apalan kesimpulan sing ngebeki cangkem<br />
sing wis biasa apa –apa gari nganggo<br />
nanging mung sethihik anggone sinau nglakoni babagan apa bae</p>
<p style="text-align: justify;">Gendheng sekolahan mung ndadikna deweke kalis karo urip sing sebenere</p>
<p style="text-align: justify;">Kiyah sedulur inyong arep takon:<br />
Nggo apa jane pada mangan gendheng sekolahan<br />
Angger mung gawe wong dadi ngrasa kaya wong liya<br />
Ning babagan masalah urip bebrayan sing kadu diadepi bareng?</p>
<p style="text-align: justify;">Apa mampangate mangan gendheng sekolahan<br />
Angger mung ngojok-ojoki wong<br />
kon dadi layangan pethekan ning ibukota</p>
<p style="text-align: justify;">Mbanjur ngrasa serba ora kepenak balik maring ndesane</p>
<p style="text-align: justify;">Apa gunene wong sinau nggethem<br />
babagan filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,<br />
utawa sinau apa bae lah<br />
angger mengkone<br />
sewektu deweke balik maring daerahe, mbanjur ngagul:</p>
<p style="text-align: justify;">‘Ning kene inyong ngrasa icing-icingen lan kayong urip ning kuburan..!’</p>
<p style="text-align: justify;">Padepokan pekuncen 090909</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Naskah asli:</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Sajak Seonggok Jagung </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>WS Rendra</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Seonggok<em> </em></em><em>jagung di kamar<br />
</em><em>dan seorang pemuda<br />
</em><em>yang kurang sekolahan.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Memandang jagung itu,<br />
</em><em>sang pemuda melihat ladang;<br />
</em><em>ia melihat petani;<br />
</em><em>ia melihat panen;<br />
</em><em>dan suatu hari subuh,<br />
</em><em>para wanita dengan gendongan<br />
</em><em>pergi ke pasar ………..<br />
</em><em>Dan ia juga melihat<br />
</em><em>suatu pagi hari<br />
</em><em>di dekat sumur<br />
</em><em>gadis-gadis bercanda<br />
</em><em>sambil menumbuk jagung<br />
</em><em>menjadi maisena.<br />
</em><em>Sedang di dalam dapur<br />
</em><em>tungku-tungku menyala.<br />
</em><em>Di dalam udara murni<br />
</em><em>tercium kuwe jagung</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Seonggok jagung di kamar<br />
</em><em>dan seorang pemuda.<br />
</em><em>Ia siap menggarap jagung<br />
</em><em>Ia melihat kemungkinan<br />
</em><em>otak dan tangan<br />
</em><em>siap bekerja</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tetapi ini :</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Seonggok jagung di kamar<br />
</em><em>dan seorang pemuda tamat SLA<br />
</em><em>Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.<br />
</em><em>Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ia memandang jagung itu<br />
</em><em>dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .<br />
</em><em>Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.<br />
</em><em>Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.<br />
</em><em>Ia melihat saingannya naik sepeda motor.<br />
</em><em>Ia melihat nomor-nomor lotre.<br />
</em><em>Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.<br />
</em><em>Seonggok jagung di kamar<br />
</em><em>tidak menyangkut pada akal,<br />
</em><em>tidak akan menolongnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Seonggok jagung di kamar<br />
</em><em>tak akan menolong seorang pemuda<br />
</em><em>yang pandangan hidupnya berasal dari buku,<br />
</em><em>dan tidak dari kehidupan.<br />
</em><em>Yang tidak terlatih dalam metode,<br />
</em><em>dan hanya penuh hafalan kesimpulan,<br />
</em><em>yang hanya terlatih sebagai pemakai,<br />
</em><em>tetapi kurang latihan bebas berkarya.<br />
</em><em>Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku bertanya :<br />
</em><em>Apakah gunanya pendidikan<br />
</em><em>bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing<br />
</em><em>di tengah kenyataan persoalannya ?<br />
</em><em>Apakah gunanya pendidikan<br />
</em><em>bila hanya mendorong seseorang<br />
</em><em>menjadi layang-layang di ibukota<br />
</em><em>kikuk pulang ke daerahnya ?<br />
</em><em>Apakah gunanya seseorang<br />
</em><em>belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,<br />
</em><em>atau apa saja,<br />
</em><em>bila pada akhirnya,<br />
</em><em>ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :<br />
</em><em>“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/09/09/sajak-ws-rendra-dalam-bahasa-banyumasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Geguritan Bador Kayu Purwokerto</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/02/geguritan-bador-kayu-purwokerto/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/09/02/geguritan-bador-kayu-purwokerto/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 13:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=3807</guid>
		<description><![CDATA[Bador Kayu, punya nama asli Bambang Wadoro, seorang guru SD yang getol nguri uri kabudayaan jawa,khususnya Banyumasan. Penyair yang satu ini lebih dikenal sebagai sutradara dan penulis drama. Sejumlah naskahnya memenangkan lomba tingkat nasional. Bador aktif mengelola Teater Tubuh, satu satunya teater angkatan 80an yang masih eksis di Banyumas. Wow,geguritanya terasa renyah dan enteng dibaca, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bador Kayu</strong>, punya nama asli Bambang Wadoro, seorang guru SD yang getol nguri uri kabudayaan jawa,khususnya Banyumasan. Penyair yang satu ini lebih dikenal sebagai sutradara dan penulis drama. Sejumlah naskahnya memenangkan lomba tingkat nasional. Bador aktif mengelola Teater Tubuh, satu satunya teater angkatan 80an yang masih eksis di Banyumas. Wow,geguritanya terasa renyah dan enteng dibaca, tak perlu megerutkan dahi, kita tahu isinya. Bador menyuarakan rasa empati, kangen,trenyuh dan nelangsa kepada Rendra, yang dikaguminya setengah mati.</p>
<p><strong>Gedhe Rumangsaku</strong><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-3808" href="http://banyumasnews.com/2009/09/02/geguritan-bador-kayu-purwokerto/foto/"><img class="alignleft size-medium wp-image-3808" title="foto" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/foto-192x270.jpg" alt="foto" width="192" height="270" /></a><br />
<em>(Telung dina ninggale Rendra</em>)</p>
<p>Gedhe rumangsaku karo rika, Kang Rendra<br />
Neng jagade sastra ora kaya rika<br />
ora nana wong sing kaya rika<br />
mumpuni bab sastra, puisi lan drama<br />
budaya lan apa sing ora</p>
<p>Gedhe rumangsaku karo rika, Kang Rendra<br />
watek wani ora tedheng aling-aling<br />
Ngorong-ngorong njempling-njempling<br />
nyuwarakena ati nurani<br />
ndhodhog tuntung jantung atine</p>
<p>pamarentah lan wong-wong sing padha mbudheg micek<br />
karo kahanan rakyat sing kelara-lara<br />
merga detindhes! Detumpes!<br />
Apes… apes…!</p>
<p>Gedhe rumangsaku karo rika, Kang Rendra<br />
Inyong tansah padha kelangan<br />
ilat landhep kaya gaman<br />
swara bledheg kaya ngebeki jagad<br />
ya ilatmu, ya swaramu, kang Rendra<br />
sing bisa ndadekena laras-lurus lan lerese<br />
tatanan lan kahanan<br />
Nggugah wong-wong sing padha turu<br />
ngedegena bebener, hukum lan keadilan</p>
<p>Kang Rendra,<br />
Rika wis bali maring asal<br />
ninggalena inyong padha<br />
asal ana bali ora nana<br />
asal banyu bali banyu<br />
asal geni bali geni<br />
asal lemah bali lemah<br />
asal sekang dzat bali maring dzat<br />
asal sekang Allah bali maring Allah</p>
<p>Kang Rendra,<br />
pegat nyawa ragane rika, ninggal dunya<br />
madhep mantep eling karo sesebutan<br />
sing bisa nudhuhena dalane sorga<br />
kaya sing detulis neng koran<br />
Allah I Love You<br />
Allah I Love You<br />
Allah I Love You.</p>
<p><strong>Purwokerto,9 Agustus 2009.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/09/02/geguritan-bador-kayu-purwokerto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Badrudin Emce Kroya</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/08/27/puisi-badrudin-emce-kroya/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/08/27/puisi-badrudin-emce-kroya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 12:31:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[CILACAP]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=3439</guid>
		<description><![CDATA[Badrudin Emce Pria asal Kroya Cilacap ini gemar menulis puisi pendek pendek. Bahasanya lugas dengan memanfaatkan metafor benda benda. Penempatan diksi yang taktis membuat puisi ini unik. Badrudin mengirim dua puisi pendek ke redaksi banyumasnews.com, dengan harapan antologi yang memuat puisi tersebut bisa dibeli pembaca. Pria yang bekerja sebagai PNS di Dinas Pariwisata Cilacap ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Badrudin Emce</strong></p>
<p>Pria asal Kroya Cilacap ini gemar menulis puisi pendek pendek. Bahasanya lugas dengan memanfaatkan metafor benda benda. Penempatan diksi yang taktis membuat puisi ini unik. Badrudin mengirim dua puisi pendek ke redaksi banyumasnews.com, dengan harapan antologi yang memuat puisi tersebut bisa dibeli pembaca. Pria yang bekerja sebagai PNS di Dinas Pariwisata Cilacap ini puisinya tersebar di media cetak lokal dan nasional. Badrudin ini pula <a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-3440" href="http://banyumasnews.com/2009/08/27/puisi-badrudin-emce-kroya/badrudin-emce2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-3440" title="badrudin emce2" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/08/badrudin-emce2.jpg" alt="badrudin emce2" width="130" height="103" /></a> salah satu penyair yang suntuk membangkitkan kegiatan sastra di wilayah Banyumas.<br />
<strong>PUISI INI</strong></p>
<p>Hebatnya puisi ini apa? Saat dicipta dikau tidak berada.</p>
<p>Hebatnya lagi apa? Sepasang tangan surga memelukku</p>
<p>dari belakang.</p>
<p>Tonjolan lunak suci ini, siapa berani menambah</p>
<p>tanda baca? Lebih-lebih kata.</p>
<p>Kroya, 2003</p>
<p><strong>SIKLUS HUJAN</strong></p>
<p>Hujan. Hujan terus hatiku, membasahi senyummu.</p>
<p>Sendu. Sendu hujanmu, mengguyur hatiku.</p>
<p>Kroya, 2004</p>
<p><strong>Pesan Badrudin:</strong></p>
<p><em>Kedua puisi di atas termuat dalam antologi &#8220;Binatang Suci Teluk Penyu&#8221; (Olongia, Maret 2007).Harga per eksemplar dari saya Rp 10.000,- Harga toko Rp 16.500,- Pilih mana? Hehe.. edan malah bisnis! Trimakasih untuk banyumasnews.com yang mau menampung dunia sastra kami..</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/08/27/puisi-badrudin-emce-kroya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Geguritan karya Wanto Tirta Ajibarang</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/08/24/geguritan-karya-wanto-tirta-ajibarang/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/08/24/geguritan-karya-wanto-tirta-ajibarang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=3276</guid>
		<description><![CDATA[Wanto Tirta Penyair ini lahir di Ajibarang Banyumas 47 tahun yang lalu. Puisinya tersebar di sejumlah media cetak lokal dan nasional. Wanto Tirta juga menulis geguritan khas banyumasan. Kumpulan geguritannya kini tengah dipersiapkan untuk diterbitkan. Geguritan berjudul Penganten Anyar ini sangat denotatif sehingga tampil gamblang dicerna. Wanto mencoba menyuguhkan bahasa tutur jenaka lewat parikan (pantun) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Wanto Tirta</strong><br />
Penyair ini lahir di Ajibarang Banyumas 47 tahun yang lalu. Puisinya tersebar di sejumlah media cetak lokal dan nasional. Wanto Tirta juga menulis geguritan khas banyumasan.<br />
<a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-3281" href="http://banyumasnews.com/2009/08/24/geguritan-karya-wanto-tirta-ajibarang/wanto-ft-bc-ggrtn/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3281" title="wanto ft bc ggrtn" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/08/wanto-ft-bc-ggrtn-232x270.jpg" alt="wanto ft bc ggrtn" width="232" height="270" /></a><br />
Kumpulan geguritannya kini tengah dipersiapkan untuk diterbitkan. Geguritan berjudul <em>Penganten Anyar </em>ini sangat denotatif sehingga tampil   gamblang dicerna.<br />
Wanto mencoba menyuguhkan bahasa tutur jenaka lewat parikan (pantun) yang menceriterakan tentang pesta pernikahan serta kehadiran seorang menantu dalam keluarga.<br />
Geguritan ini  ingin memberikan gambaran dan simulasi kolektif dengan <em>sens of art </em>melalui media diaelektika <em>ngapak-ngapak</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan yang mempunyai esei sastra budaya, puisi atau geguritan kirim ke nanangnews@yahoo.com atau redaksi@banyumasnews.comi. (n-1)</p>
<p><strong><em>Penganten Anyar</em></strong></p>
<p>bujang prawan janji nglamar<br />
urip bareng kulawargan<br />
gethok dina niat besan<br />
nyebar uleman maring kadang<br />
gawe jenang masang tratag<br />
janur kuning depasang ngarep lawang</p>
<p>spiker nggenthoar calung campur sari kanggo hiburan<br />
aweh ngerti khajatan wis demimiti<br />
wong kondangan nyangking tromol ndilir nuli<br />
para sinoman peladen sandhangane seragam rapi<br />
nyambut tamu kakung putri</p>
<p>nyunggi baki isi pacitan jenang wajik apadene utri<br />
meja njacrah nderet toples isi roti<br />
sohibul khajat bungah ati<br />
mesem guyu karo nyobati<br />
mangga sami dedhahari</p>
<p>sobatan kangge panjenengan sami<br />
besan teka gawa jodang isi panganan<br />
bakal penganten dandane mloes pisan</p>
<p>sing wadon lambene menter-menter<br />
sing lanang maras deg-degan raine menger-menger<br />
pengulu teka penganten ngijab</p>
<p>rampung ngijab terus jejer<br />
tumpeng ingkung neng meja ander<br />
swasana bungah rame-rame<br />
deselingi campur sari lewih maen<br />
tuku suweng maring pasar<br />
pasar klewer ana undar<br />
paling seneng penganten anyar<br />
bubar jejer udar-udar</p>
<p>penganten sekalian mesem guyu<br />
semu isin kambi para tamu<br />
lingsir wektu adicara jejer penganten rampung<br />
para tamu sami kondur<br />
gari para ladhen keduman beres-beres</p>
<p>sing duwe khajat mlebu senthong<br />
sumbangan numpuk segebong<br />
atine monggok rasane plong<br />
bojo laki cengar cengir dikut beresi<br />
decarik-carik ndarik-ndarik</p>
<p>benang lawe semune mulur<br />
pethilane degawe kasur<br />
baranggawe tamune elur<br />
bubarane akeh sedulur</p>
<p>jingkat jingkut pengantene mlebu senthong<br />
mambu wangi kembang mlathi<br />
rasa kesel wis deliwati<br />
atine deg-degan arep dewiwiti sing endi</p>
<p>jagong amben delang deleng ting pentheleng<br />
sing lanang manthuk sing wadon dingkluk<br />
ngemek bathuk keliru kupluk<br />
bareng nylinguk sing wadon kesikut<br />
dengak maning murug tengkuk</p>
<p>ati medhedheg arep kesuh<br />
bareng tangane decekel mlirik rikuh<br />
pipine desun rasane alah mbuh….</p>
<p>lampu listrik degeyang geyong<br />
aja brisik mbok ana wong<br />
lampu listrik deuthak athik<br />
ngesun sethithik krasane asik</p>
<p>siki wis rinaket tali nikah<br />
janji sekeloron pati urip dadi sumpah<br />
penganten anyar babar tresna<br />
buktekna agine gendhakan<br />
kepenginane sepirang-pirang</p>
<p>gayuh umah tangga sing kepenak<br />
sakinah mawadah wa rohmah<br />
urip mulya ketrima gusti allah<br />
ora srakah sing penting brekah</p>
<p>buang runtah godhonge dhamar<br />
damar loro kayune mubah<br />
angi bungah penganten anyar<br />
bukak kadho isine grabah</p>
<p>swasana umah rampung khajatan<br />
sing rewang umbah-umbah grabah<br />
sinoman rampung kari resik-resik panggung<br />
barang silihan debalekna kabeh<br />
besan kondur nyangking brekat<br />
bapa biyung bungah due mantu anyar</p>
<p>jangan beweh debuntel klaras<br />
kanggo lawuh madan enak<br />
baranggawe olih akeh beras<br />
olih mantu tambah anak</p>
<p>20062009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/08/24/geguritan-karya-wanto-tirta-ajibarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
