<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kabar Banyumas &#187; WACANA</title>
	<atom:link href="http://banyumasnews.com/category/wacana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banyumasnews.com</link>
	<description>Portal Berita Warga Bayumasan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 13:07:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>HUT Purbalingga ke 181,Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga Sampaikan Selamat</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/12/19/hu-purbalingga-ke-181bupati-dan-wakil-bupati-purbalingga-sampaikan-selamat/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/12/19/hu-purbalingga-ke-181bupati-dan-wakil-bupati-purbalingga-sampaikan-selamat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 09:13:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=13870</guid>
		<description><![CDATA[SAMBUTAN BUPATI PURBALINGGA PADA UPACARA BENDERA DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI JADI KE-181 KABUPATEN PURBALINGGA MINGGU, 18 DESEMBER 2011 ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB. SELAMAT PAGI, SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA YTH. KETUA DPRD KABUPATEN PURBALINGGA BESERTA IBU; YTH. BAPAK WAKIL BUPATI DAN PARA ANGGOTA FORUM KOMUNIKASI PIMPINAN DAERAH, MASING-MASING BESERTA IBU; YTH. BUPATI BANYUMAS, CILACAP, BANJARNEGARA DAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SAMBUTAN  BUPATI  PURBALINGGA<br />
PADA UPACARA BENDERA DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI JADI KE-181<br />
KABUPATEN PURBALINGGA</p>
<p>MINGGU, 18 DESEMBER 2011</p>
<p>ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.<br />
SELAMAT PAGI, SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA </p>
<p>YTH.	KETUA DPRD KABUPATEN PURBALINGGA BESERTA IBU;<br />
YTH.	BAPAK WAKIL BUPATI DAN PARA ANGGOTA FORUM KOMUNIKASI PIMPINAN DAERAH, MASING-MASING BESERTA IBU;<br />
YTH.	BUPATI BANYUMAS, CILACAP, BANJARNEGARA DAN KEBUMEN;<br />
YTH. 	PARA MANTAN BUPATI DAN MANTAN SEKDA KABUPATEN PURBALINGGA;<br />
YTH. 	PARA ANGGOTA DPRD KABUPATEN PURBALINGGA;<br />
YTH.	PLT. SEKDA DAN PARA PEJABAT DI JAJARAN PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA;<br />
YTH.	PARA KEPALA DINAS VERTIKAL DAN PARA PIMPINAN BUMN/ BUMD;<br />
YTH.	PARA ANGGOTA MUSPIKA SE-PURBALINGGA;<br />
YTH.	PARA PIMPINAN PARPOL/ ORGANISASI PEMUDA/ ORGANISASI WANITA/ ORGANISASI MASYARAKAT DAN LSM SE-KABUPATEN PURBALINGGA;<br />
YTH. 	PARA PIMPINAN PERUSAHAAN/ TOKO DAN RADIO SE- KABUPATEN PURBALINGGA<br />
DAN	SELURUH PESERTA UPACARA YANG BERBAHAGIA;</p>
<p>TERIRING RASA SYUKUR ALHAMDHULILLAH KEHADIRAT TUHAN YANG MAHA KUASA, BERBAHAGIA SEKALI PAGI INI KITA DAPAT BERSAMA-SAMA HADIR MELAKSANAKAN UPACARA MEMPERINGATI HARI JADI KE–181 KABUPATEN PURBALINGGA, DALAM KEADAAN SEHAT WAL’AFIAT  DAN DALAM SUASANA PENUH PERSAUDARAAN.<br />
UNTUK ITULAH, SAYA ATAS NAMA PRIBADI DAN PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA MENYAMPAIKAN ‘UCAPAN SELAMAT DAN DIRGAHAYU  KE-181 KABUPATEN PURBALINGGA’ KEPADA SEGENAP WARGA MASYARAKAT PURBALINGGA. SEMOGA DENGAN BERTAMBAHNYA USIA KABUPATEN PURBALINGGA INI MENDORONG KEMAJUAN PEMBANGUNAN YANG DILANDASI SEMANGAT PERSATUAN, KEBERSAMAAN, KEGOTONGROYONGAN DAN KERJASAMA GUNA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT. </p>
<p>HADIRIN TAMU UNDANGAN DAN PESERTA UPACARA YANG BERBAHAGIA; </p>
<p>SEBAGAIMANA KITA KETAHUI PENENTUAN HARI JADI PURBALINGGA DIDASARKAN PADA PENELITIAN LITERATUR YANG DILAKUKAN OLEH LEMBAGA PENGABDIAN MASYARAKAT (LPM) UNIVERSITAS GAJAH MADA (UGM). LPM UGM MELAKUKAN PENELITIAN MEMBANDINGKAN EMPAT BABAD DENGAN ARSIP PENINGGALAN PEMERINTAH HINDIA BELANDA YANG DISIMPAN DALAM KOLEKSI ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA. HASILNYA DISEPAKATI BAHWA HARI JADI PURBALINGGA JATUH PADA TANGGAL 18 DESEMBER 1830 ATAU 3 RAJAB 1246 HIJRIAH ATAU 3 RAJAB 1758 JE YANG DALAM SURYA SENGKALANYA TERTULIS SIREPING RANANGGONO HANGESTI PROJO. HARI JADI PURBALINGGA TELAH DITETAPKAN MELALUI PERATURAN DAERAH (PERDA) KABUPATEN DATI II PURBALINGGA NOMOR 15 TAHUN 1996, TANGGAL 19 NOVEMBER 1996.<br />
TANPA MENGURANGI KEHIDMATAN DAN MAKNA YANG TERKANDUNG DIDALAMNYA, PERINGATAN HARI JADI KABUPATEN PURBALINGGA KE-181 KAMI SELENGGARAKAN LEBIH MERIAH DIBANDING TAHUN LALU, NAMUN DENGAN TETAP TIDAK MENINGGALKAN ASPEK KESEDERHANAAN.  PERINGATAN HARI JADI MERUPAKAN MOMENTUM YANG SANGAT PENTING DAN STRATEGIS SEBAGAI UNGKAPAN SYUKUR DAN TERIMA KASIH KITA KEHADIRAT ALLAH SWT-TUHAN YANG MAHA KUASA, YANG TELAH MELIMPAHKAN BERBAGAI RAHMAT DAN KASIH SAYANGNYA KEPADA SEGENAP WARGA MASYARAKAT PURBALINGGA, SERTA SEBAGAI SUATU BENTUK PENGHARGAAN DAN PENGHORMATAN  KEPADA PENDAHULU YANG TELAH MERINTIS BERDIRINYA, ATAUPUN GENERASI SESUDAHNYA YANG TELAH MEMIMPIN DAN MEMEGANG KENDALI PEMERINTAHAN DI KABUPATEN PURBALINGGA. MEREKA JUGA TELAH MENGABDI DAN BERKARYA UNTUK KEMAJUAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PURBALINGGA.<br />
DALAM KAITANNYA DENGAN ITU,  KITA SEMUA MERASAKAN DARI WAKTU KE WAKTU, KABUPATEN PURBALINGGA MENGALAMI BERBAGAI MACAM DINAMIKA KEHIDUPAN, BAIK EKONOMI, SOSIAL, POLITIK  MAUPUN BUDAYA.<br />
TANTANGAN, HAMBATAN,  DAN HARAPAN JUGA MENYERTAI  DINAMIKA TERSEBUT.  SEMUA  ITU MERUPAKAN PENGALAMAN YANG HARUS KITA JADIKAN MOTIVASI UNTUK MENATAP MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK DAN MENYELESAIKAN BERBAGAI PERSOALAN, BAIK YANG SEDANG MAUPUN YANG AKAN TERJADI.  UNTUK ITU, MOMENTUM PERINGATAN HARI JADI  PURBALINGGA TAHUN INI HENDAKNYA DAPAT KITA GUNAKAN SEBAGAI WAHANA REFLEKSI DAN INTROSPEKSI DIRI SECARA MENDALAM SESUAI DENGAN FILOSOFI  OJO RUMONGSO BISO, NANGING BISO RUMONGSO. ARTINYA, MELALUI MOMENTUM HARI JADI INI KITA PERLU MERENUNGKAN APA SAJA YANG TELAH BERHASIL KITA LAKSANAKAN DAN MENCERMATI HAL  &#8211; HAL YANG BELUM DAPAT KITA SELESAIKAN SEBAGAI BEKAL MENYUSUN PROGRAM DAN KEGIATAN DI MASA YANG AKAN DATANG.<br />
HADIRIN TAMU UNDANGAN DAN PESERTA UPACARA YANG BERBAHAGIA; </p>
<p>PERINGATAN HARI JADI TAHUN INI MENGANGKAT TEMA : “DENGAN HARI JADI KE 181, KITA MANTAPKAN SEMANGAT PERSATUAN, KEBERSAMAAN, KEGOTONGROYONGAN DAN KERJASAMA SEGENAP JAJARAN APARAT DAN SELURUH MASYARAKAT UNTUK MEMBANGUN DAN MEMAJUKAN KABUPATEN PURBALINGGA”.  HAL INI DIDASARI PEMIKIRAN BAHWA HARI JADI MERUPAKAN MOMENTUM   YANG TEPAT UNTUK MEMPERKUAT IKATAN PERSATUAN, KEBERSAMAAN DAN KEGOTONGROYONGAN ATAU SOLIDARITAS SOSIAL  DIANTARA SELURUH KOMPONEN MASYARAKAT PURBALINGGA. APAPUN LATAR BELAKANG, SUKU, AGAMA, STATUS SOSIAL, DAN STATUS EKONOMINYA, KITA SEMUA HARUS RUKUN DAN BERSATU UNTUK MENCAPAI KESEJAHTERAAN.  JANGAN SAMPAI PERBEDAAN YANG ADA MENJADI PENGHALANG BAGI KITA SEMUA UNTUK  HIDUP RUKUN.  MARI KITA BERSATU DAN HIDUP RUKUN AGAR TERCAPAI KESEJAHTERAAN DAN KEDAMAIAN SEPERTI YANG KITA HARAPKAN BERSAMA.<br />
SELAMA INI, SEMANGAT KEBERSAMAAN DAN GOTONG ROYONG TELAH MENJADI SPIRIT BAGI PEMERINTAH DAN MASYARAKAT PURBALINGGA DALAM MELAKSANAKAN PEMERINTAHAN, PEMBANGUNAN, DAN PELAYANAN KEMASYARAKATAN.  SEBAGAI BENTUK RASA TERIMA KASIH DAN PENGHARGAAN KEPADA MASYARAKAT PURBALINGGA YANG SELAMA INI SECARA IKHLAS DAN KONSISTEN BERPARTISIPASI DALAM PROSES PEMBANGUNAN, PADA MOMENTUM HARI JADI TAHUN INI TELAH DAN AKAN  DISELENGGARAKAN BERBAGAI KEGIATAN SEBAGAI BERIKUT :<br />
1.	SENAM SEHAT DI HALAMAN PASAR SEGAMAS.<br />
2.	PEMBERIAN TALI ASIH KEPADA PARA PENSIUNAN PNS.<br />
3.	PEMBERIAN BANTUAN DANA PENDIDIKAN KEPADA ANAK-ANAK PNS GOLONGAN I DAN II.<br />
4.	ZIARAH KE MAKAM ARSANTAKA DAN GIRI CENDANA UNTUK BERDO’A DAN DENGAN HARAPAN KITA SENANTIASA MENGINGAT DAN MENGHARGAI JASA  – JASA ORANG  – ORANG YANG BERJASA BESAR KEPADA PURBALINGGA. JUGA KE MAKAM MANTAN KETUA DPRD PURBALINGGA LETKOL PURNAWIRAWAN KARSONO DI TAMAN MAKAM PAHLAWAN PURBOSAROYO DAN MAKAM SALIMAN DI KELURAHAN WIRASANA.<br />
5.	PAGELARAN SENI, BAIK MODERN MAUPUN TRADISIONAL DALAM PEKAN BUDAYA, YANG MULAI DIGELAR USAI PELAKSANAAN UPACARA INI DENGAN PAWAI BUDAYA YANG DIIKUTI OLEH UTUSAN DARI 18 KECAMATAN SE-PURBALINGGA, SERTA DIDUKUNG  KESENIAN DARI JAWA TIMUR, JATIM DAN JAWA TENGAH. </p>
<p>HADIRIN DAN PESERTA UPACARA YANG SAYA HORMATI;</p>
<p>DI TENGAH KEBERHASILAN YANG DAPAT KITA RASAKAN, KITA TETAP PERLU WASPADA DAN MELAKUKAN LANGKAH ANTISIPASI UNTUK MENJAGA KONDUSIVITAS KEHIDUPAN, AGAR TIDAK TERKONTAMINASI KRISIS YANG SAAT INI SEDANG MENGHADANG DI DEPAN MATA, YAITU : KRISIS JATIDIRI, KRISIS IDEOLOGI, KRISIS KARAKTER DAN KRISIS KEPERCAYAAN YANG DAPAT MEMPORAK PORANDAKAN PERSATUAN DAN KESATUAN.<br />
	UNTUK ITU, KAMI JUGA SEJALAN DENGAN SIKAP PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH YANG TETAP KONSISTEN MELAKSANAKAN KOMITMEN SEBAGAI BENTENG PANCASILA DAN BASIS PEMBANGUNAN, DENGAN TERUS MEMPERERAT TALI PERSAUDARAAN DAN SEMANGAT GOTONG-ROYONG DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI. ITULAH JATIDIRI KITA YANG CINTA DAMAI DAN SUKA BERMUSYAWARAH, SEHINGGA SETIAP KESULITAN YANG KITA HADAPAI, DAPAT KITA UPAYAKAN SOLUSINYA, DENGAN TETAP MENJAGA KEHIDUPAN YANG AMAN, NYAMAN, TENTERAM, DAMAI DAN SEJAHTERA.<br />
	SOSIALISASI PEMANTAPAN KEMBALI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI, PANDANGAN HIDUP, DAN DASAR NEGARA INDONESIA, MARI KITA DENGUNGKAN KAMBALI DAN KITA LAKSANAKAN DALAM PRAKTIK KEHIDUPAN SEHARI-HARI.</p>
<p>HADIRIN DAN PESERTA UPACARA YANG SAYA HORMATI;</p>
<p>	DEMIKIANLAH YANG DAPAT SAYA SAMPAIKAN PADA KESEMPATAN UPACARA MEMPERINGATI HARI JADI KE-181 KABUPATEN PURBALINGGA. KEPADA SELURUH JAJARAN PEMERINTAHAN,  STAKEHOLDERS, DAN SELURUH ELEMEN MASYARAKAT,  MARI KITA GELORAKAN TERUS GUMREGAH NYAMBUT GAWE DAN  BEKERJA LEBIH KERAS LAGI MENUJU MASYARAKAT PURBALINGGA YANG SEMAKIN SEJAHTERA.<br />
MASYARAKAT HARUS BERSATU DENGAN APARATUR PEMERINTAHAN DALAM MENYELENGGARAKAN PEMBANGUNAN.   SESANTI DASAR PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA YANG TERCANTUM DALAM LAMBANG DAERAH YAKNI PRASETYANING NAYAKA AMANGUN PRAJA, SESUNGGUHNYA MENGISYARATKAN ADANYA KEBULATAN TEKAD  PARA PENYELENGGARA PEMERINTAHAN DAN MASYARAKAT LUAS UNTUK BERSAMA-SAMA, BERSATU PADU DAN BERSINERGI DALAM MEMBANGUN DAERAHNYA, ATAU BERSATU PADU BERSAMA-SAMA BERGOTONG ROYONG MEMAYU HAYUNING BAWANA, MEMBANGUN DAN MEMAJUKAN DAERAHNYA, DAERAH KITA KABUPATEN PURBALINGGA. </p>
<p>DIRGAHAYU KABUPATEN PURBALINGGA<br />
SEMOGA TUHAN YANG MAHA KUASA SENANTIASA MEMBERIKAN KESEHATAN, KEMUDAHAN DAN PENGAYOMAN KEPADA KITA DALAM MERAIH SUKSES PEMBANGUNAN PURBALINGGA. </p>
<p>SEKIAN DAN TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA.<br />
WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.</p>
<p>BUPATI PURBALINGGA,</p>
<p>Drs. H. HERU SUDJATMOKO, M.SI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/12/19/hu-purbalingga-ke-181bupati-dan-wakil-bupati-purbalingga-sampaikan-selamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendapat Buya HAMKA tentang Ahmadiyah</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/02/10/pendapat-buya-hamka-tentang-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/02/10/pendapat-buya-hamka-tentang-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 13:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah; buya hamka; kekerasan agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=12891</guid>
		<description><![CDATA[‘Kekerasan’ atas nama agama akhir-akhir ini marak terjadi. Antara lain terhadap kelompok Ahmadiyah. Apa dan bagaimana Ahmadiyah?  Terlampir adalah sebuah kutipan oleh Buya Hamka (Hadji &#8216;Abdulmalik bin Abdulkarim Amrullah) salah satu Ulama dan sastrawan Besar yang pernah lahir di Indonesia tentang apa itu Ahmadiyah yang saya sunting dan kutip dari buku HAMKA, 1956, &#8220;Peladjaran Agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-13079" title="buya" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2011/02/buya-422x270.jpg" alt="" width="422" height="270" /></p>
<p>‘Kekerasan’ atas nama agama akhir-akhir ini marak terjadi. Antara lain terhadap kelompok Ahmadiyah. Apa dan bagaimana Ahmadiyah?  Terlampir adalah sebuah kutipan oleh Buya Hamka (Hadji &#8216;Abdulmalik bin Abdulkarim Amrullah) salah satu Ulama dan sastrawan Besar yang pernah lahir di Indonesia tentang apa itu Ahmadiyah yang saya sunting dan kutip dari buku HAMKA, 1956, &#8220;Peladjaran Agama Islam,&#8221; Penerbit &#8220;Bulan-Bintang,&#8221; Djakarta, Tjetakan Pertama. Semoga bermanfaat.</p>
<p>T<strong>AK ADA NABI SESUDAH MUHAMMAD</strong></p>
<p>Tak ada lagi nabi sesudah Muhammad, dan tidak ada rasul. Baik nabi yang akan dinamai &#8220;pengiring&#8221; Muhammad, atau nabi yang membawa syariat baru. Demikian kepercayaan Ummat sejak Quran diturunkan.</p>
<p>Nabi Muhammad pun bersabda:   &#8220;Tidak ada nabi lagi sesudahku.&#8221;</p>
<p>Tak ada nabi atau rasul lagi, sebab tidak ada SOAL lagi.</p>
<p>Soal apa lagi yang akan dibawa oleh nabi yang baru? Sedang masyarakat manusia sudah lebih maju, dan ada jalan kesanggupan buat mencari Kebenaran Tuhan Yang Maha Esa dan Kuasa dengan sendirinya. Bukan saja Quran, bahkan kitab Taurat dan Injil dan Zabur telah dicetak bermilliun banyaknya. Meskipun menurut kepercayaan Islam, dalam Quran telah terkumpul intisari dari kitab-kitab terdahulu itu.</p>
<p>Memang! Manusia senantiasa maju dalam mencari Ilmu pengetahuan. Senantiasa maju didalam mencari rahasia isi bumi, bahkan bulan dilangitpun telah diselidiki orang. Tentang kemajuan disudut ini, tidaklah ada diantara kita yang membantahnya. Tetapi bagaimanapun kemajuan Ilmu pengetahuan, namun inti dari ilmu pengetahuan itu sudah ada dalam ajaran Tauhid, yang sudah genap diajarkan oleh Muhammad. Inti kepercayaan kepada Tuhan sudah cukup, tidak perlu tambahan lagi dari orang yang mengatakan dirinya nabi atau dikatakan oleh pengikutnya nabi.</p>
<p>halaman 191</p>
<p><strong>PERCOBAAN MENGAKU NABI LAIN SESUDAH MUHAMMAD</strong></p>
<p>Berkali-kali telah dicoba orang juga mendakwakan dirinya Nabi pula, ada yang sengaja hendak menandingi Muhammad, dan ada pula yang mengatakan syariat Muhammad telah putus, sebab nabi baru telah datang membawa syariat baru. Dan ada pula yang mengatakan bahwa dia, atau guru ikutannya, adalah nabi pula sesudah Muhammad. Tetapi bukan membawa syariat baru. Kedatangannya hanyalah hendak menyempurnakan syariat Muhammad saja.</p>
<p>Berkali-kali orang seperti ini telah datang, tetapi kemudian ternyata seruannya hilang saja, tidak hidup. Karena kebesaran Tauhid ajaran Muhammad menelan habis satu percobaan yang lain. Nabi-nabi dusta tumbang dengan sendirinya, tidak dapat berurat di bumi ini. Mereka gagal, karena dustanya, dan karena soal yang dibawanya itu tidak cukup satu seperseratus dari soal Nubuwwat Muhammad.</p>
<p><strong>AHMADIYAH</strong></p>
<p>Mirza Ghulam Ahmad di Qadiyan India-pun mendakwakan pula dirinya Mahdi dan Isa. Jadi sekaligus keduanya, berbeda dengan Al-Bab dan Bahaullah. Diapun menerima wahyu-wahyu Illahi, menurut dakwanya. Tetapi ada perbedaan sedikit, karena Mirza Ghulam Ahmad, katanya, bukanlah menghapuskan syariat Muhammad dengan syariat yang baru. Dia adalah Nabi Pengiring. Dialah Mahdi yang ditunggu dan Isa yang dijanjikan, dan dia pulalah Mujaddid yang mesti datang tiap seratus tahun sekali.</p>
<p>Pengikut Mirza Ghulam Ahmad pun pecah menjadi dua pula. Keduanya sama-sama bernama Ahmadiyah. Pertama, Ahmadiyah Qadiyan, mempunyai Kalifatul-Masih yaitu Kalifah dari Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Golongan Lahore memisahkan diri dan mengakui Mirza Ghulam Ahmad hanyalah semata-mata guru dan mujaddid. Terjadi pertentangan diantara keduanya, karena golongan Qadiyan menuduh kafir golongan Lahore karena hanya mengakui mujaddid saja. Golongan Lahore yang memisahkan  diri itu dikepalai oleh Maulana Mohammad Ali dan Kawaya Kamaluddin.</p>
<p>Kedua golongan Ahmadiyah ini sama-sama berusaha menyiarkan Islam, tetapi melalui dasar faham mereka lebih dahulu, yaitu Mirza Ghulam Ahmad (Al-Masih al-Mau&#8217;ud) bagi Qadiyani, dan Mirza Ghulam Ahmad (Mujaddid Abad ke-20) bagi kaum Lahore.</p>
<p>halaman 194</p>
<p><strong>PENDAPAT KITA</strong></p>
<p>Kita tetap memegang pendirian Ahli Sunnah, bahwa sesudah Muhammad tidak akan datang nabi lagi. Karena soalnya sudah habis. kalau akan kita terima kedatangan itu, manakah yang akan kita tetapkan? Apakah Mirza Ghulam Ahmad, atau Mirza Ali Muhammad (Al-Bab), atau Bahaullah? Atau kita akui semuanya, padahal diantara satu sama lain berlawanan pula. Atau kita akui semuanya, dan kita akui pula yang lain yang akan mendakwakan dirinya menjadi nabi pula nanti.</p>
<p>Kalau dikatakan karena dia menyerukan perdamaian Dunia, maka dia membawa syariat baru, tidak bolehkah Mahatma Gandhi dikatakan pula nabi? Atau Krisna Vedanta di Colorado? Yang juga menyerukan perdamaian dunia.</p>
<p>Kaum Ahmadi  mengemukakan alasan yang sama untuk menolak pendirian umum bahwa Nabi Muhammad &#8220;Penutup Segala Nabi,&#8221; dengan ayat &#8220;Khataman Nabiyyin.&#8221; Menurut qiraat (bacaan) yang umum ayat itu dibaca &#8220;Khatam,&#8221; bukan &#8220;Khatim.&#8221; Tetapi artinya adalah &#8220;Khatim.&#8221; Khatam artinya cincin, dan Khatim artinya penutup.</p>
<p>Khataman Nabiyyin artinya cincin permata segala nabi. Kalau sekiranya kita perturutkan rasa bahasa, tentu Nabi Muhammad itu tidak nabi lagi, hanyalah cincin perhiasan segala nabi-nabi. Yang mempunyai cincinlah yang nabi, bukan cincin itu sendiri.</p>
<p>Didalam keterangan yang biasa mereka kemukakan, adalah bahwa tidaklah perkara yang mustahil bahwa Allah akan berkata-kata dengan hambanya. Tidaklah akan putus sampai hari kiamat orang yang dipilih Allah buat menumpahkan katanya. Tidaklah akan hilang begitu saja wahyu sampai kiamat.</p>
<p>Tentang itu Ahli Sunnah-pun mengakui juga. Di kalangan sahabat Nabi, ketika Nabi masih hidup terdapatlah orang istimewa yang demikian. Yaitu Umar bin Khattab. Sehingga Nabi Muhammad pernah mengatakan, bahwasanya jika ada nabi sesudahku, niscaya Umarlah orang itu. Tetapi tidak ada lagi nabi sesudahku.</p>
<p>Mengapa tidak? Nabi Muhammad sendiri menjelaskan bahwa &#8220;Ulama-ulama umatku adalah sama derajatnya dengan nabi-nabi Bani Israil.&#8221; Kalau kata nabi yang demikian akan diperluas, maka seluruh ulama yang berjasa membangun Islam, patutlah disebut nabi. Imam Al-Ghazali, Imam ul Haramain, Ibnu Taimiyah, dan muridnya Ibnu Qayyim, dan Syeh Muhammad ibnu Abdil Wahhab, dan Said Jamaluddin Al-Afghani, dan Syeh Muhammad Abduh dan Said Rasyid Ridha, patutlah disebut sebagai nabi. Karena mereka dalam sifat keulamaannya samalah jasanya dengan nabi-nabi Bani Israil. Dan orang Indonesia dalam kalangan Nahdhatul Ulama patutlah menyebut kyai besarnya Hasyim Ashari sebagai nabi, sebab jasanya besar pula. Demikian pula Muhammadiyah dengan Kyai H.A. Dahlannya.</p>
<p>Banyak diantara ulama mendapat ilham dari Tuhan, seakan-akan wahyu Illahi. Karena mereka berfaham Ahli Sunnah, tidaklah mereka berani mengatakan dirinya nabi. Dan kalau mereka mendakwakan dirinya nabi, akan musnahlah mereka.</p>
<p>Kalimat wahyu suci yang diberikan Tuhan, oleh faham Ahli Sunnah telah ditentukan buat rasul dan nabi. Setinggi-tinggi martabat manusia ini hanyalah mendapat hatif atau ilham, atau mimpi yang benar, atau mahaddas. Kalau wahyu itu dikatakan akan putus selama-lamanya, perkataan itu benar juga dari segi lain. Lebah menurut Sabda Tuhan didalam Quran, mendapat wahyu untuk membuat sarangnya di bukit dan di bubungan rumah. Ibu Musa mendapat wahyu Tuhan supaya melemparkan puteranya dalam peti di sungai Nil. Dan lebah bukanlah nabi, padahal sampai sekarang tidaklah putus dia mendapat wahyu itu, selama dia masih bersarang di bukit dan di bubungan rumah. Dan ibu Nabi Musa bukanlah nabi.</p>
<p><strong>HADIST MAHDI DAN ISA</strong></p>
<p>Al-Quran tidaklah memberikan tuntunan yang tegas tentang akan turunnya Mahdi dan Isa di akhir jaman. Padahal tiga orang yang mengaku dirinya Nabi atau Rasul di jaman ini (Mirza Ghulam Ahmad, Miza Ahli Muhammad dan Bahaullah), belum dapat menegakkan pendakwaan itu, kalau tidak berdasar kepada hadis-hadis tentang turunnya Mahdi dan Isa itu.</p>
<p>Seratus tahun sesudah Nabi Muhammad wafat, barulah orang mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan hadis. Yang lebih dahulu dikumpulkan hanyalah Quran. Jadi dalam masa 100 tahun adalah masa &#8220;kosong&#8221; yang merupakan kesempatan untuk membuat hadis bagi golongan-golongan yang bertentangan. Terutama kaum Syiah. Payahlah ulama hadis menjaring hadis mana yang masyhur, mana yang shahih, mana yang dhaif dan mana yang maudhu. Pertentangan-pertentangan yang maha hebat di waktu itu di antara beberapa firkah yang timbul karena politik, menimbulkan golongan-golongan yang sampai hati membuat hadis-hadis palsu, sehingga payah menjaringnya setelah ilmu hadis muncul sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Ibnu Khuldun didalam &#8220;Muqaddamah&#8221; tarikhnya mengkaji satu-persatu hadis Mahdi itu dan menyelidiki sanad serta matannya sedalam-dalamnya, sehingga kemudian diambil kesimpulan bahwasanya sebagian besar dari hadis ini tidak dapat diterima. Oleh sebab itu maka kaum Ahli Sunnah tidaklah menjadikan hadis-hadis Mahdi atau nuzul Isa itu menjadi pokok kepercayaan prinsipiil.</p>
<p>Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya Nabi Isa. Lebih-lebih telah tersebut pula dalam satu hadis, bahwa &#8220;Mahdi itu tidak lain adalah Isa.&#8221; Mereka perbincangkan apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan kelangit, ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan manusia. Tuhan bersabda tentang Nabi Isa:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Aku mewafatkan engkau  dan mengangkatkan engkau kepadaKu.&#8221;</p>
<p>Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum mati, dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke langit dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain dari kata &#8220;wafat&#8221; itu. Tetapi yang berpendapat bahwa Nabi Isa mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut zahir bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan yang mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.</p>
<p>Orang Ahmadi memegang tafsir yang menyatakan bahwa Nabi Isa telah wafat, telah mati. Dan kemudian dari hal itu, merekapun menguatkan bahwa Nabi Isa akan datang kembali. Yang datang itu bukan Isa Israili yang dahulu, karena dia telah jelas meninggal. Yang ditunggu kedatangannya sebagaimana tersebut dalam hadis adalah orang lain yang membawa sifat-sifat Isa. Kata orang Ahmadi, orang itu adalah Mirza Ghulam Ahmad.</p>
<p>Sebenarnya kepercayaan tentang akan datangnya Mahdi diakhir zaman, atau Nabi Isa akan datang kembali, atau Messiah menurut kepercayaan Yahudi, atau Buddha Gautama bagi orang beragama Buddha, mendalam juga dalam kalangan kaum Syiah yang selalu menunggu-nunggu kembalinya Imam mereka yang ghaib. Ismailliyah menunggu Ismail. Istna Asyriyah menunggu Muhammad bin Hasan Al-Askary, Imam Syiah ke-12. Kisaniyah menunggu datangnya kembali Muhammad bin Ali Hanafiyah Semuanya itu sekarang tengah ghaib dan akan datang kembali!</p>
<p>Kepercayaan seperti inipun mendalam pula pada setengah penganut tasawuf, yang mempercayai bahwa alam diatur oleh wali-wali Allah yang bernama &#8220;Watad,&#8221; dan &#8220;Badal,&#8221; dan &#8220;Quthub.&#8221; &#8220;Quthub&#8221; itu adalah ghaib pula. Di Indonesia kepercayaan ini sangat mendalam dalam filsafat kejawen yang menunggu kedatangan Ratu Adil.</p>
<p>Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa dialah yang ditunggu-tunggu itu. Dialah Isa Al-Masih yang dijanjikan, dia pula Mahdi yang ditunggu-tunggu. Dan karena ada pula sebuah hadis menyatakan bahwa setiap 100 tahun akan datang seorang mujaddid (pembaharu keagamaan), maka dia pulalah mujaddid itu. Pendeknya segala yang ditunggu-tunggu itu, tidak ada orang lain, melainkan dirinya sendirilah.</p>
<p>Oleh karena dialah Al-Masih, tentu dialah nabi. Kadang-kadang Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa dia bukanlah membawa syariat baru. Dia dengan Nabi Muhammad saw adalah bagaikan Harun terhadap Musa belaka. Penguat syariat Muhammad, bukan pengubahnya. Tetapi satu hal dia menyatakan memang berubah yaitu jihad. Jihad tidaklah dengan senjata, cukup dengan mengemukakan alasan-alasan belaka. Adapun Bahaullah menyatakan dirinya terang-terang nabi lain sesudah Muhammad. Dengan kedatangannya habislah tugas agama Al-Bab dengan kitabnya Al-Bayan. Dan dengan kedatangan Al-Bab dahulu, habis pulalah tugas syariat Muhammad.</p>
<p>Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang kepada ayat yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa Nabi Isa telah wafat. Nabi Isa telah wafat, dengan berdasarkan kepada &#8220;mutawaffika&#8221; tadi. Dan dia telah diangkat ke hadirat Allah, (wa rafi&#8217;uka ilayya), sebagaimana setiap roh yang suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.</p>
<p>Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia, sebelum hari kiamat datang, adalah hadis yang bernama &#8220;Al-Uhad.&#8221; Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka menurut pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau sekiranya tidak kita jadikan menjadi pokok kepercayaan, sebagaimana pokok kepercayaan yang enam perkara (rukun iman), tidaklah kita keluar dari Agama Islam.</p>
<p>Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak kekuasaan Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke dunia, tidaklah hal yang mustahil, walaupun tulangnya telah hancur. Bukanlah didalam Al-Quran ada tersebut cerita burung-burung yang telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan. Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke puncak empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim supaya empat burung itu dipanggil kembali. Maka datanglah keempat burung itu, dengan izin Allah!</p>
<p>Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya Nabi Isa kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat, hanyalah permulaan saja dari kebangkitan mahluk Tuhan yang lain. Seluruh insan dihari kemudian akan dibangkitkan. Hanya Isa Al-Masih didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.</p>
<p>Oleh sebab itu, maka pendakwaan orang-orang seperti Mirza Ghulam Ahmad, bahwa merekalah Isa Al-Masih yang dijanjikan itu, tidaklah kita percayai. Kita memandang mereka itu hanyalah sebagai pendakwa-pendakwa kenabian yang lain juga. Sebelum merekapun telah ada juga pendakwa kenabian itu. Menggelegak menggejala setahun dua tahun, taruhlah sepuluh-duapuluh tahun, kemudian padam lagi. Dan kelak akan begitu pula. Bukan saja yang seperti ini ada dalam Islam, juga ada dalam agama Kristen. Bahkan kaum theosofi pernah mengemukakan Khrisna Murti sebagai Al-Masih yang ditunggu-tunggu itu.</p>
<p>Kaum Ahmadi mengambil alasan atas kebenaran seruan mereka, ialah karena kian lama faham mereka kian tersiar, terutama di benua Eropa dan Amerika. Ini bukan alasan! Sebab kehausan manusia di kedua benua itu akan tuntunan rohani, setelah terlalu tenggelam dalam hidup kebendaan, menyebabkan ada diantara mereka yang lekas saja menerima suatu propaganda baru. Bukan faham Ahmadi saja yang mereka terima, gerakan yang lainpun mendapat pasaran subur juga disana. Di Jerman telah ada pula penganut faham Buddha dan mempunyai biara sendiri. Pelajaran tasawuf dari Inayat Khan mendapat penganut juga. Bahkan seorang yang mendakwakan dirinya Al-Masih dan memakai gelar Khrisna Vedanta di negara bagian Colorado, USA, telah mendapat pengikut pula. Demikian pula seorang kulit hitam di Pennsylvania (Philadelphia) mengaku dirinya Tuhan dan memakai nama Father Divine, tidak pula kurang penganut dan pengikutnya.</p>
<p>Di Amerika muncul tidak kurang 200 sekte Kristen. Masing-masing mengatakan bahwa mazhab mereka kian lama kian besar dan melebihi yang lain.</p>
<p>Terutama kaum Bahai! Mereka timbul di negeri Iran yaitu pada jaman pemerintahan Sultan Nasiruddin Syah. Seorang syah yang terkenal kejam pemerintahannya dan berkuasa tanpa batas. Bahaullah pada mulanya mengajarkan pembelaan hak kaum wanita, menganjurkan penghentian poligami, mengatakan bahwa dalam ajarannya tidak ada kekuasaan kaum mullah. Tentu saja ajaran &#8220;baru&#8221; dari Bahaullah ini menggoncangkan politik dan susunan masyarakat kerajaan, persekutuan kaum mullah dengan Syah. Kaum ini dikafirkan dan diperangi. Al-Bab sampai dibunuh dan Bahaullah dibuang keluar negeri. Padahal setelah kecerdasan beragama maju kembali, orang telah merasa bahwa tidak perlu ada nabi baru membawa ajaran baru. Seruan-seruan yang diserukan Bhaullah itu memang telah ada dalam tubuh Islam ajaran Muhammad sendiri, dengan tidak usah keluar dahulu dari Islam, dan membuat agama baru.</p>
<p>Adapun kaum Ahmadi dan usahanya melebarkan Islam ke benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka menafsirkan Quran kedalam bahasa-bahasa yang ada di Eropa. Padahal di jaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh mentafsirkan Quran. Pentafsiran Quran dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang menginginkan kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali untuk memperdalam selidiknya tentang Islam. Orang sekarang telah pandai menimbang. Tafsir kaum Ahmadi itu mereka baca juga. Yang baik mereka terima dan kepercayaan tetang kenabian, kerasulan, kemahdian, ke-Al-Masih-an Mirza Ghulam Ahmad mereka singkirkan ketepi. Dan tafsir-tafsir karangan ulama Islam sendiripun telah muncul, yang isinya jauh melebihi tafsir Ahmadi. Kelebihan tafsir Ahmadi hanyalah karena ditulis dalam bahasa Barat, menarik hati kaum terpelajar cara Barat, tapi kosong ilmunya tentang bahasa Arab.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, ketika gerakan-gerakan ini mulai masuk, agak ribut juga orang menerimanya. Apalagi mereka suka berdebat-debat sebagai alat propaganda untuk menarik perhatian. Dalam pada itu maka pengertian kaum Islam tentang agama bertambah mendalam, ahli-ahli Islampun telah timbul lebih banyak daripada dahulu. Kian lama kian sepi gerakan mereka. Yang dapat tertarik hanyalah orang-orang yang belum ada pengertiannya tentang Islam. Setinggi-tinggi usaha mereka adalah memelihara pengikut-pengikutnya. Di Tempat yang kuat Islamnya, seperti di Padang Panjang, terpaksa pengikut-pengikutnya itu meninggalkan kampung halaman, dan pindah ke kota Jakarta, sebab &#8220;bebas&#8221; mengerjakan kepercayaannya. Sikap merekapun telah berubah!</p>
<p>Jika semula pada waktu pertama kali mereka suka mengajak berdebat, diakhir-akhir ini mereka mengambil sikap hanya mempertahankan diri jika datang serangan. Tandanya bahwa pasaran mereka telah mulai sepi.</p>
<p>Adapun kalau ada tambahan pengikut mereka, tidaklah hal demikian mengherankan kita di Indonesia ini. Buka saja Ahmadiyah, Bahai-pun telah ada pengikutnya disini. Bukan saja Bahai dan Ahmadi, bahkan Katolik dan Protestan-pun ada juga tambahan penganutnya disini. Bahkan orang yang masuk komunis-pun ada. Sebabnya adalah karena Islam di Indonesia pada jaman yang sudah-sudah terdesak oleh beberapa desakan. Baik politik, atau ekonomi atau kejahilan tentang ajaran agama Islam sebenarnya.</p>
<p>Semuanya ini adalah cemeti untuk membangkitkan beransang kaum Muslimin, dibawah pimpinan ulama dan pimpinanNya supaya bangkit dan berusaha menegakkan &#8220;Dakwah Islamiyah,&#8221; lebih giat daripada yang sudah-sudah.</p>
<p>Alhasil, Muhammad adalah penutup dari segala rasul, dan bukanlah dia mata-cincin dari segala rasul. Sesudah dia tidak ada nabi lagi, baik nabi yang menasikhkan syariat Muhammad, ataupun nabi yang dikatakan &#8220;pengiring&#8221; Muhammad. Dengan kedatangannya sempurnalah binaan kepercayaan isi alam yang telah dibawa berturut-turut oleh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum dia. Beliau bersabda:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan nabi-nabi yang sebelum aku, adalah seumpama seseorang yang membangun bangunan-bangunan. Diperindahnya dan diperbagusnya binaan itu, kecuali (ketinggalan) suatu batu tembok pada sudut daripada sudut-sudutnya itu. Maka manusiapun berkelilinglah dan takjub melihat binaan itu, dan mereka berkata: &#8216;Alangkah baiknya ditutupi sebuah batu tembok yang kurang ini.&#8217; Maka akulah batu tembok itu, dan akulah penutup segala nabi-nabi.&#8221;</p>
<p>Maka kalau ada orang mendakwakan dirinya nabi sesudah Muhammad, niscaya bohonglah pendakwaannya itu. Dan barang siapa yang mempercayai akan dakwaan orang itu, mendustakanlah dia akan pernyataan Muhammad. Sebab itu maka tidaklah dia golongan Ummat Islam (Ummat Muhammad).</p>
<p>Sesungguhnya demikian, sebagai Ummat Islam yang mengaku adanya keluasan dada (tasamuh), kita akan bergaul juga dengan mereka sebaik-baiknya, sebagaimana kita bergaul dengan Ummat Buddha, Kristen dan Yahudi.</p>
<p>Apalagi Nabi Muhammad saw. telah pula memeberi peringatan bagi kita bahwa sesuadh beliau wafat akan datang orang mendakwakan dirinya nabi atau rasul. Padahal mereka adalah pembohong. Nabi bersabda:</p>
<p>&#8220;Akan ada pada akhir kemudian ummatku orang-orang dajjal pembohong. Membicarakan kepada kamu perkara-perkara yang belum pernah kamu dengar, dan tidak pula pernah didengar oleh nenek-moyangmu. Maka berawas-awaslah kamu dan berawas-awaslah mereka. Janganlah sampai mereka menyesatkan kamu dan jangan memfitnahi kamu.&#8221;</p>
<p>Dan sabda beliau pula:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya akan ada pada ummatku tigapuluh orang pembohong! Semuanya mengaku bahwa dirinya Nabi. Akulah penutup segala nabi. Tidak ada nabi sesudah aku. Dan akan senantiasalah segolongan dari ummatku tegak diatas kebenaran. Tidak akan memberi bencana atas mereka siapapun yang menentang mereka, sehingga datanglah ketentuan Allah, dan mereka tetap saja demikian.&#8221;</p>
<p>Cukuplah wahyu dengan turunnya penutup segala kitab suci, yaitu Al-Quran. Bereslah risalat dan nubuwwat dengan datangnya penutup segala rasul dan nabi yaitu Muhammad saw.</p>
<p>Dengan kepercayaan yang demikianlah hidup kita dan mati kita.</p>
<p>* * *</p>
<p>Bagaimanapun kepintaran kita dan betapapun ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia di dalam alam ini, namun rahasia yang masih tersembunyi masih lebih banyak. Rahasia yang menjadi rahasia dari segala rahasia adalah lingkungan &#8220;ghaib,&#8221; yang hanya dapat dirasai adanya, tetapi tak dapat dicapai oleh pancaindera atau oleh akal sekalipun dimana letaknya.</p>
<p>Kita akui, memang kadang-kadang kecerdasan berfikir dan berakal mendapat kesimpulan tentang adanya, tetapi hanya sebagian kecil dari rahasianya. Sebagaimana Aristoteles dan beberapa filsuf yang lain yang menghitung &#8220;yang Ada&#8221; dengan filsafat, akhirnya bertemu dengan keyakinan akan adanya Tuhan. Tetapi itu hanya sebagian kecil saja. Lebih banyak yang tidak dapat kita ketahui. Maka datanglah nabi-nabi dan rasul-rasul, dan penutup dari segala nabi dan rasul, bercakap dengan wahyu, menerima &#8220;kalimat&#8221; dari Allah sendiri. Maka dengan tuntunan beliau hilanglah keraguan kita dan teranglah bagi kita jalan kesana, sesudah payah meraba-raba dan mencari-cari. Maka pikiran yang beliau berikan dan cita yang beliau tanamkan dihati kita adalah pikiran dan cita yang sempurna, yang diwaktu hidup dapat kita pakai dan diwaktu mati dapat kita tumpang.</p>
<p>Maka percayalah kita kepadanya dan kita turutlah garis langkah yang beliau tinggalkan, yang patut kita lalui, untuk keselamatan kita pada hidup ini dan hidup setelah ini &#8230;</p>
<p>Bârakallâhu lî wa lakum, Matur syukran n Terima kasih.</p>
<p>Semoga Bermanfaat . Jakarta, 10 Februari 2011. (dari catatan facebook Imam Puji Hartono/Gus Im)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/02/10/pendapat-buya-hamka-tentang-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gol A Gong: Guru Malang Dibuang Jangan</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/11/15/gol-a-gong-guru-malang-dibuang-jangan/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/11/15/gol-a-gong-guru-malang-dibuang-jangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 04:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[KABAR SEDULUR]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=12494</guid>
		<description><![CDATA[Guru Malang Dibuang Jangan Oleh Gol A Gong*) SAYA turun dari mobil persis di TamanBudaya Rumah Dunia. Ini pukul 14.00, Minggu, 14 November 2010. Badan lelah sekali. Ini marathon. Sabtu, 13 November 2010, saya menghadiri bedah buku “Banten Bangkit #4: habis Gelap Terbitkah Terang?” karya Gandung Ismanto di auditorium Untirta, Serang. Barusan, saya baru pulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Guru Malang Dibuang Jangan</strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-12495" href="http://banyumasnews.com/2010/11/15/gol-a-gong-guru-malang-dibuang-jangan/golagong/"><img class="aligncenter size-full wp-image-12495" title="GolaGong" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/11/GolaGong.jpg" alt="GolaGong" width="186" height="237" /></a><br />
<strong><em>Oleh Gol A Gong*)</em></strong></p>
<p>SAYA turun dari mobil persis di TamanBudaya Rumah Dunia. Ini pukul 14.00, Minggu, 14 November 2010. Badan lelah sekali. Ini marathon. Sabtu, 13 November 2010, saya menghadiri bedah buku “Banten Bangkit #4: habis Gelap Terbitkah Terang?” karya Gandung Ismanto di auditorium Untirta, Serang. Barusan, saya baru pulang dari Rangkasbitung, menjadi pembicara bedah buku “Banten Bangkit #3: Membangun Perdaban Baru” di depan mahasiswa STKIP Setiabudhi,Rangkasbitung. Sekitar 200-an mahasiswa tekun mendengarkan paparan dari saya, Dr.Bambang Q-aness, Prof.Dr. Ilzamudin Ma’mur, dan Dr. Yayat Ruhyat. Tapi, rasa capek itu terobati, ketika say melihat kerumunan orang-orang di Taman Budaya Rumah Dunia. Masya Allah!</p>
<p>GEMPA LITERASI</p>
<p>Orang-orang mengerumuni saya. Mereka ibu-ibu muda dan para suaminya dari Garasi Ilmu, Bekasi. Ada sekitar 75 orang, datang denan bus Blue Bird. Mereka melakukan study banding. Tias Tatanka dan Langlang Randhawa yang memandu. Mereka minta foto-foto dan tandatangan di novel<br />
saya. Di latar belakang kami, di panggung terbuka, para penulis “Gilalova #3:<br />
Cinta Nggak Kemana-mana” sedang berpesta pora. Mereka merayakan terbitnya buku mereka. Di ujung barang, di lahan seluas 225 m2, panggung gunungan dari bambu yang dibuat Teater Studio Indonesia, para mahasiswa Untirta sedang tekun latihan untuk pementasan di hajatan “Ode Kampung #4”, tanggal 9 hingga 12 Desember 2010 nanti.</p>
<p>Saat saya menandatangani buku-buku<br />
saya, tubuh bergetar. Bukan karena persoalan tandatangannya, tapi suasananya! Aromanya. Sulit mengungkapkannya. Di areal seluas 970 m2 hasil sumbangan para facebooker di akun Gol A Gong sepanjang<br />
2009, yang kami namai “Taman Budaya Rumah Dunia” sedang berlangsung kegiatan literasi; bedah novel, pelatihan, dan pertunjukkan teater. Inilah yang saya namakan “gempa literasi”. Gempa yang tidak menghancurkan, tapi membangunkan. Ini bukan peristiwa sembarangan, tapi investasi. Kelak, akan tyumbuh genreasu baru yang kritis dan kreatif di Banten.</p>
<p>TAMAN BUDAYA<br />
ALTERNATIF</p>
<p>Lalu Hilal Ahmad dan Akhelbri, yang menggagas kelahiran kumcer seri “Gilalova”ini memanggil saya. Grogi juga berdiri di antara 27 penulis muda Banten. Umur saya 47 tahun. Saya harus mendfampingin proses kepengarangan mereka. Hilal dan Ali mempersilhakan saya berbicara.</p>
<p>Saya mnegingatkan semua yang hadir tentang Rumah Dunia, lini sosial Yayasan Pena Dunia, yang didirikan saya alias Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong, berakta notaris Fachrul Kesuma Dharma, SH, nomor 006, 12 Juni 2006. Sejak bergulir tahun 2000, mulai dari areal 500 m2, kemudin 1000 m2, yang dibeli dari royalti novel dan skenario TV saya saat di RCTI sepanjang 1996 – 2008. Kemudian pada tahun 2009, teman-teman di akun facebook Gol A Gong ikut guyub menyumbang semeter, dua meter, bahkan 100 meter persegi, sehingga tanah seluas 970 m2 berhasil dibebebaskan. Bahkan tidak jauh dari lokasi itu, areal kedua seluas 225 m2, hanya terhalang oleh tanah seluas 1800 m2, juga berhasil dibebaskan..</p>
<p>Kini di atas lahan tanah seluas 970 m2 itu sudah berdiri<br />
cafe baca, Balai belajar Bersama, playground, gazebo, kelas terbuka dan<br />
panggung terbuka. Biaya pembangunan itu sumbangan dari Program Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3), Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal PNFI, Direktorat  Pendidikan Masyarakat<br />
sebesar Rp. 200 jt. Areal itu lantas kita sebut “Taman Budaya Rumah Dunia” Pada 16 Oktober 2010 diresmikan penggunaannya.</p>
<p>Hari demi hari, TBRD ramai dikunjungi. “Saya<br />
nyaman sekali sarapan bubur di sini,” kata seorang peajar dari Kampung Kesuren, sekitar 900 meter dari lokasi. “Sambil makan, bisa jajan. Bahkan orang-orang yang melintas henak mnuju tempat kerja pun mampir sarapan atau melepas lelah. Rata-rata mereka merasa nyaman melihat suasana cafre baca, yang dipadu dengan kegiatan kesenian.</p>
<p>Penduduk Ciloang, Cikubil, dan Tegal Duren sangat<br />
merasakan manfaatnya, terutama bagi anak-anak. Pak Asman, 55 th, yang mendapat bantuan modal dari dana pinjaman modal usaha bubur ayam mengomentari, “Cucu-cucu saya sekarang nggak usah jauh-jauh bermain. Cukup ke Taman Budaya Rumah Dunia saja!” Lanjut Pak Asman lagi, “Sarapan pun bisa nebeng di dagangan saya. Alhamdulillah, bubur ayam saya laku. Apalagi setiap hari ada mahasiswa Untirta yang latihan teater di sini!”</p>
<p>Tak dinyana, tak diduga. Taman Budaya Rumah Dunia menjadi “oase”, tempat alternatif anak-anak Banten berlatih teater. Hampir tiap hari, anak-anak Untirta jurusan Sastra berlatih teater di sini. Nadang Arde, sutradara Teater Studio Indonesia, mengatakna kepuasannya. “Areal ini sangat nyaman. Suasananya mendukung. Unhtuk berkesenian. Apalagi jika tnah<br />
di sebelah Taman Budaya Rumha Dunia ini dibeli.”</p>
<p>Bahkan hari Minggu, 14 November 2010 tadi, saya tercengang. Sepulang dari seminar “Banten Bangkit #3” di Rangkasbitung. Saya iseng mengatrakan saat berbicara di depan peserta bedah buku “Gilalova 2”, bahwa tanah di belakang panggung terbuka Taman Budaya rumah Dunia seluas 1800 m2, yang menghubungkan ke areal kedua seluas 225 m2 dimana panggung gunungan dari bambu berada, akan kami bebaskan. Saya meminta dukungan semua yang hadir.</p>
<p>MENJUAL NOVEL</p>
<p>Kali ini saya tidak akan menggalang dana seperti saat membebaskan lahan seluas 790 m2 dan 225 m2 kepada teman-teman saya di akun facebook saya. Beberapa penasehat Rumah Dunia juga menyarankan, agar saya mencari cara lain untuk membebaskan tanah itu. Saya berpikir keras. Say teringat teguran dari sahabat saya di majalah HAI dulu, Pal De, “Jangan minta sumbangan lagi. Malu.”</p>
<p>Ya, saya juga sependapat.<br />
Malu meminta sumbangan terus.</p>
<p>Akhirnya saya menemukan ide. Semoga teman-teman berkenan. Hal ini saya sampaikan kepada para relawan pada Sabtu 13 November 2010 lalu. Mereka setuju. Ide itu adalah dengan berjualan buku. Semoga cara ini bisa dimaklumi. Lewat Gong Publishing, saya akan menerbitkan novel, dimana<br />
royaltinya akan disumbangkan ke proyek pembebasan tanah seluas 1800 m2 itu. Kelak di atas tanah itu akan dibangun gedung serba guna; bisa untuk diskusi tertutup, pertunjukkan kesenian, atau disewakan untuk seminar.</p>
<p>Novel pertama untuk proyek pembebasan tanah ini adalah “Guru Malang, Dibuang Jangan” karya relawan Rumah Dunia, Rahmat Heldy HS. Dia<br />
sehari-hari guru di SMP Al-Irsyad, Waringin Kurung, Serang. Rahmat Heldy alias Rahel mengungkapkan perasaannya, “Mulanya aku membenci profesiku sebagai guru, lama kelamaan aku tertarik dan ingin menulis tentang itu. Sebabdi sana banyak orang –orang menderita dan minta untuk ditulis dengan segera.“  Kini Rahel meras bahgaia novelnya akan diluncurkan pada 9 Desember 2010, saat ”Ode Kampung #4” berlangsung. ”Lebih<br />
membahagiakan lagi, karena royalti novel saya ini disumbangkan untuk pembebasan tanah Rumah Dunia.”</p>
<p>Harga novel “Guru Malang, Jangan Dibuang” karya<br />
Rahmat Heldy HS sebesar Rp 50 ribu, itu sudah termasuk ongkos kirim Jawa dan luar Jawa. “Jika teman-teman membeli novel ‘Guru Malang, Dibuang Jangan’ karya saya, berarti sudah menyumbang Rp 20 ribu untuk tanah,” harap Rahel. “Saya butuh sekitar 20 ribu pembeli novel saya untuk membebaskan tanah itu! Semoga Allah memudahkan urusan ini.”</p>
<p>Secara pribadi, saya sangat berharap support dariteman-teman dengan segera memesan  langsung sekarang dengan transfer ke BCA Serang, nomor rekening 2451790121 an. Heri Hendrayana Harris. Setelah transfer konfirmasi lewat email ke <a rel="nofollow" href="http://id.mc764.mail.yahoo.com/mc/compose?to=tanahrumahdunia%40yahoo.com" target="_blank">tanahrumahdunia@yahoo.com</a> dengan<br />
menyertakan nama, alamat, no.hp, e-mail, bukti transfer, jumlah transfer dan<br />
judul buku yang dipesan. Di subjek emal tulis “Tanah RD-GMDJ”.</p>
<p>Jika tanah itu berhasil dibebaskan, berarti akan ada kawasan Taman Budaya Rumah Dunia seluas hampir 4000 m2. Itu snagat bagus untuk warga Banten dan Indonesia umumnya, ketika sedang berwiata ke Banten,bisa mampir ke sini. Akan ada banyak agenda yang tentu representatif untuk<br />
ditonton.</p>
<p>Nuhun, thank you, terima kasih atas waktunyamembaca curhat saya ini. semoga Allah meridhai niat baik kita. Amiin. (<em>Gola Gong Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat Banten.D</em><em>ikutip dan kiriman Gola Gong ke penyairyahoogroup*)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/11/15/gol-a-gong-guru-malang-dibuang-jangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggugat Sastra Yang Berjarak</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 13:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=12308</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Jarot C. Setyoko Penghujung 2008 silam, di Aula Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Saut Situmorang, penyair yang bergelar “Raja Polemik’ itu, mengulang keluhan yang telah sekian kali dinyatatakan para sastrawan lain. Sastra Indonesia tengah menjejak masa anomik, mengalami kemunduran dalam ukuran kualitas dan kuantitas, serta gagal melakukan regenerasi. Itu terjadi justeru ketika kebebasan berkarya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Jarot C. Setyoko</strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-12309" href="http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/jarottttttt/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-12309" title="jarottttttt" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/10/jarottttttt-202x270.jpg" alt="jarottttttt" width="202" height="270" /></a></p>
<p>Penghujung 2008 silam, di Aula Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Saut Situmorang, penyair yang bergelar “Raja Polemik’ itu, mengulang keluhan yang telah sekian kali dinyatatakan para sastrawan lain. Sastra Indonesia tengah menjejak masa anomik, mengalami kemunduran dalam ukuran kualitas dan kuantitas, serta gagal melakukan regenerasi. Itu terjadi justeru ketika kebebasan berkarya lebih lapang dibentangkan.</p>
<p>Setahun setelah itu keadaan tak berubah. Dalam prolog ”20 Cerpen Terbaik 2009” (yang merupakan nominator peraih Anugerah Sastra Pena Kencana), kita mendengar ’pengakuan’ yang meresahkan. ”Sastra diproduksi dengan semangat gegap gempita, tetapi tak menyihir manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca karya-karya yang dianggap elitis, tidak bertolak dari kenyataan sosial dan meninggalkan persoalan-persoalan sejarah bangsa”.</p>
<p>Dari Putu Wijaya kita juga membaca kegundahan serupa. ”Sastra sebagaimana yang selalu kita kenal selama ini, selalu diidentifikasi sebagai karya indah yang tertulis. Ia dibedakan dengan kenyataan faktual. Hubungannya dengan intuisi dan emosi sangat kental. Tetapi kesinambungannnya dengan ratio, pemikiran dan telaah-telaah, sudah dipreteli habis. Maka sastra menjadi penari striptease. Penyebar keindahan, yang menimbulkan klangenan, kenikmatan, dan akhirnya kealpaan serta bencana”. Putu menulis itu dalam artikel yang bertajuk ”Reposisi Sastra Indonesia”.</p>
<p>Terasa aneh memang, sastra (yang diwakili oleh pikiran para kritikus dan sastrawannya) merasa kelangan gapit justeru dalam babak jaman yang disebut dengan era kebebasan. Sulit bagi kita untuk menepis, realitas dunia sastra saat ini merupakan paradoksal dari agenda sastra di jaman Orde Baru, masa yang kita tahu sarat dengan represi dan sesak oleh alat sensor.</p>
<p>Ada semacam keyakinan yang bermukim dalam benak para pegiat sastra kala itu, eksistensi sastra dan proses kreatif akan menemukan arusnya sendiri jika kebebasan dihamparkan di depan wajah. Oleh karena itu di bawah todongan otoritarianisme politik saat itu, sastra menenteng dua agenda dominan. Pertama, berjuang untuk meraih kemerdekaannya sendiri. Dan kedua, menjadi median kepentingan politik untuk mewujudkan kebebasan dalam skala sosial.</p>
<p>Hanya saja, setelah kebebasan untuk menyampaikan hasrat (freedom of expression) &#8212; yang konon merupakan prasyarat asazi bagi laku kreatif &#8212; telah terbentang, mengapa pula sastra tak kunjung menemukan arasnya dalam konstelasi perubahan yang rumit ini? Tanpa niatan menggurui para pujangga, setidaknya ada dua hal yang menjadi hulu persoalan ini. Pertama, karya dan wacana sastra tak sadar jika ’dirinya’ semakin jauh dari benak khalayak. Kedua, para sastrawan tak sanggup mengukur skala diri dalam peta sosial yang terus bergeser.</p>
<p>Kita bersaksi, di halaman koran, karya dan kritik sastra dihelat begitu penuh gairah. Namun tak pernah disadari, di luar panggung para penonton mulai merasa ditinggalkan, tak tertarik, dan kemudian pagelaran menjadi sepi. Pada akhirnya sastra hanya menjadi perbincangan gaduh di antara para sastrawan dan kritisi, namun kehilangan audiens sebagai muara proses kreatif. Akibatnya sastra tercerabut dan kehilangan peran sebagai median khalayak dalam ruang sosiologisnya.</p>
<p>Sekedar gambaran, pada tahun-tahun awal perubahan seorang seniman ’tetap konsisten’ berkreasi dengan syair-syair garang, yang ia visualisasikan melalui teaterikal penuh ’perlawanan’. Ia telah melakukan itu semenjak kondisi masih represif, dan ia tetap melakukannya ketika realitas sosial telah berubah. Yang membedakannya, dulu khalayak selalu mengerumuni pementasannya, sementara ketika era telah bergeser, orang tak lagi peduli dengan pementasaannya.</p>
<p>Dengan sertamerta, diskusi yang dihelat pasca pementasan menyatakan konklusi: dalam era perubahan, apresiasi publik terhadap seni makin menurun. Para pegiat dan apresian seni itu tak pernah (atau belum) mencoba menimbang ulang kesimpulannya: adakah memang apresiasi publik terhadap seni yang makin rendah, ataukah para seniman yang sejatinya gagal melahirkan karya yang ’sadar ruang’, sadar terhadap konteks jaman yang menaunginya.</p>
<p>Kita tentu tahu, diksi ’bebas’ (yang terangkai dalam syair serendah apapun kualitas estetiknya) di kala Orde Baru, tentu akan dimaknai secara berbeda ketika diksi itu dinyatakan pada saat ini. Ada matra batin yang memang tak sama dari dua masa itu, sekalipun kita dihadapkan pada teks yang sama. Diksi ’bebas’ dalam ruang yang serba dibatasi akan terasa menggetarkan, kendati dalam ukuran estetis teks itu tak terlampau memukau hati kita. Tetapi jika itu kita nyatakan sebagai ekspresi seni saat ini? Jangan heran jika tak ada yang peduli.</p>
<p>Pada akhirnya kita tahu, persoalan sastra memang bukan pada kebebasan atau ketidakbebasan. Cukup jelas, di masa tidak bebas sekalipun selalu lahir sastrawan besar dan karya besar. Seperti halnya Boris Pastrenak yang melahirkan ”Dr. Zhivago” dalam kungkungan bayonet serdadu Uni Sovyet. Pun Pramudya Ananta Toer dan W.S. Rendra yang menggubah karya-karya terbaiknya dalam kondisi ketidakbebasan. Kenapa? Seperti kata Putu Wijaya, ”Sejak mulanya, sastra mengandung kebebasan dan ketidakbebasan. Sastra yang berpihak memang tidak pernah bebas. Dan sastra yang bebas, tidak pernah bisa ditahan oleh apa pun, karena dia memiliki kreativitas untuk mengelak. Keduanya saling melengkapi”.</p>
<p>Oleh karena itu sastra di era bebas memang ”Bukan pesta kebebasan dan selamat tinggal ketidakbebasan. Tetapi masalah kesempatan dan agenda. Masalah prioritas apa yang seyogyanya harus dilakukan oleh sastra”. Dan kita tahu, tak ada nalar yang bisa menyusun agenda, kecuali dia sadar konteks: memahami realitas yang melingkupinya.(*)<br />
<em><br />
Catatan: Naskah ini disampaikan sebagai pidato pembukaan Seminar ”Sastra Tak Berjarak”, Rabu 20 Oktober 2010, di Gedung Soemardjito Unsoed-Purwokerto. Yang digelar sebagai kerjasama Inspera, Teater Si Anak-Unsoed dan Harian Suara Merdeka.</em><br />
<em>*)Penulis adalah   pengelola Institut Pemberdayaan Rakyat (Inspera)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu Kangen Penyair Banyumas di Kedai Bakso</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 14:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=11996</guid>
		<description><![CDATA[BANYUMAS- Puluhan seniman Banyumas Jawa Tengah , Minggu (19/09) malam berkumpul di Kedai Bakso jalan Porka Purwokerto Barat. Yang hadir dalam acara bertajuk Temu Kangen Penyair Banyumas ini sebagian besar mereka penyair angkatan 80-an. Selain silaturahmi, petemuan mereka  sekaligus kangen-kangenan setelah lama tidak bertemu. &#8221; Mereka penyair senior yang lama tidak bertemu dan sengaja kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-11997" href="http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/gesek/"><img class="alignleft size-full wp-image-11997" title="gesek" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/09/gesek.JPG" alt="gesek" width="282" height="180" /></a></p>
<p>BANYUMAS- Puluhan seniman Banyumas Jawa Tengah , Minggu (19/09) malam berkumpul di Kedai Bakso jalan Porka Purwokerto Barat. Yang hadir dalam acara bertajuk Temu Kangen Penyair Banyumas ini sebagian besar mereka penyair angkatan 80-an. Selain silaturahmi, petemuan mereka  sekaligus kangen-kangenan setelah lama tidak bertemu.</p>
<p>&#8221; Mereka penyair senior yang lama tidak bertemu dan sengaja kami kumpulkan malam ini,&#8221; ujar Dimasyoto, panitia acara. Menurut Dimas, kegiatan tersebut selain temu kangen dan silaturahmi juga akan membedah buku puisi milik penyair Dharmadi.</p>
<p>Panitia mengundang sejumlah panyair seperti, Bambang Set, Ahita, Nanang Anna Noor, Dharmadi, Bambang Wadoro, Badrudin Emce, Haryono Soekiran.Sejumlah pekerja teater juga hadir seperti Surya Esa Rohadi dan Sugiharto.</p>
<p>&#8221; Kalau boleh dibilang mereka merupakan pioner dunia sastra dan teater di Banyumas,  ujar Dimasyoto. Meski diguyur hujan, namun acara berlangsung lancar (BNC/vit)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Karakter: Harapan Baru Membangun Peradaban Bangsa</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 16:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10504</guid>
		<description><![CDATA[Children are born with unique temperaments, needs and gifts. Some find it much easier to share their toys than others. Some feel horrible when they lie, while others seem to delight in deception. Some are timid; others show amazing courage and tenacity. But, no matter where children are born on these continuums, they have the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Children are born with unique temperaments, needs and gifts. Some find it much easier to share their toys than others. Some feel horrible when they lie, while others seem to delight in deception. Some are timid; others show amazing courage and tenacity. But, no matter where children are born on these continuums, they have the potential to develop good character and become positive contributors to society ( Rita Sommers-Flanagan, Ph.D., and John Sommers-Flanagan, Ph.D.)</em><br />
Paragrap pembuka di atas sangat menarik hati saya untuk menuliskan pendapat soal Pendidikan Karakter yang baru-baru ini diluncurkan dan menjadi tema besar peringatan Hari Pendidikan Nasional 2010.  Meski dalam paragraf tersebut diarahkan pada anak-anak, saya tidak merasa bahwa tema ini akan sangat kedaluwarsa untuk era saat ini yang semuanya ber-mark-up serba instant dan mengandalkan kecanggihan teknologi.  Tentu saja, tema ini justru mampu memberikan pompaan semangat atas munculnya rasa pesimis akan redupnya aura pendidikan di Indonesia.  Kita hanya mempunyai satu kesempatan dalam mempersiapkan siswa untuk masa depan yang tak bisa diprediksi oleh siapa pun dari kita.  Maka, apa yang akan kita lakukan dengan satu kesempatan ini?<br />
Kita tahu, setiap anak mempunyai potensi untuk dikembangkan karakter positifnya sehingga mampu memberikan kontribusi yang baik juga untuk masyarakatnya.  Anak, siapa pun dia, apa pun latar belakang yang membuatnya ada dan terlahir di dunia ini, berhak untuk dibantu mengembangkan karakter-karakter positifnya oleh orang-orang dewasa yang ada di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat di mana dia berada.<br />
Idealnya, karakter positif lahir dari budaya-budaya positif.  Dan budaya positif adalah budaya yang sudah dikenal oleh anak di rumah dan dilanjutkan di sekolah dimana mereka menimba ilmu.  Jadi, anak berkarakter positif bukan lahir dari rumah atau hanya sekolah yang memiliki budaya positif juga, tetapi merupakan produk dari sinergi dua lingkungan tersebut dan terwujud dalam rupa karakter positif ketika anak harus berbaur dengan masyarakatnya.  Maka, kita sependapat bahwa pendidikan karakter bukan melulu tanggung jawab sekolah, tetapi juga tanggung jawab keluarga (orang tua).<br />
Seperti apa yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono saat menghadiri peluncuran buku Stephen R Covey, The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness, beliau sangat berharap, seperti halnya kita, bagaimana budaya unggul tersebut benar-benar mampu menjadi bagian dari karakter bangsa Indonesia.  Dan, pendidikan karakter bukanlah mata pelajaran, tetapi nilai-nilai yang bisa diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, atau pun setiap pengembangan budaya positif di sekolah dan di tengah-tengah keluarga.<br />
Mengapa pendidikan karakter saat ini dianggap sedemikian penting?  Kita semua menyadari bahwa pendidikan karakter adalah bagian dari pembangunan watak yang sangat penting untuk mencapai peradaban yang unggul dan mulia.  Semua hal itu bisa terlaksana dengan masyarakat yang baik yakni manusia bermoral dan beretika sehingga bangsa Indonesia bisa bersaing dengan bangsa lain dengan cara yang terhormat dan martabat.  Oleh sebab itu, pembangunan karakter dalam diri anak  bangsa harus tetap memperhatikan dan  berpedoman kepada sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.<br />
Kita percaya, Presiden SBY bukannya ingin menjadikan buku karya Covey, seorang pakar kepemimpinan, pakar keluarga, pendidik, konsultan organisasi, ini sebagai satu-satunya panutan untuk mengembangkan pendidikan karakter di Indonesia.  Kita cukup punya banyak tokoh nasional yang bisa dibanggakan dan diteladani.  Tetapi mengapa buku Covey, saya mencoba menebak, itu karena keberhasilannya dalam menularkan budaya positif dan sudah banyak diadopsi dan diadaptasi oleh sekolah-sekolah di dunia dan cukup memberikan hasil yang sangat efektif.  Tentu saja, ketika dipaparkan tentang keberhasilan sekolah-sekolah yang sudah menerapkan The 7 Habits ini, siapa yang tidak ingin sekolahnya juga berkembang sedemikian membanggakan?<br />
Stephen R.  Covey melalui bukunya ingin menularkan budaya positif yang mengedepankan kepemimpinan.  Mengapa kepemimpinan?  Hakekatnya jiwa pemimpin itu ada pada tiap individu tanpa harus terbingkai dengan sebuah kedudukan dalam suatu organisasi.  Buku ini dia susun sebagai jawaban atas beribu pertanyaan yang muncul dari kalangan pendidikan sendiri, pebisnis, maupun tata kehidupan masyarakat, bahwa ternyata yang dibutuhkan bagi generasi mendatang tidak cukup hanya tingginya nilai akademik, bagaimana menaikkan pencapaian nilai ujian, tetapi lebih dari itu, masa depan membutuhkan generasi muda yang menguasai ketrampilan dasar, ketrampilan kepemimpinan, yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.<br />
Dikisahkan dalam buku ini, bagaimana sekolah-sekolah maju menerapkan budaya sekolah yang dicetuskan oleh Covey dan dikenal dengan The 7 Habits.  Setiap anak penting dan mempunyai sesuatu yang bernilai untuk disumbangkan.  Budaya positif yang dikembangkan di sekolah ternyata mampu menjadikan anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bertanggungjawab, peduli, berperasaan, menghormati keberagaman, dan tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi keputusan sulit. Ya, dalam dunia pendidikan selalu ada kreativitas, hasrat, kepedulian, atau riset untuk membuat sekolah yang hebat, kelas yang hebat, atau siswa yang hebat.<br />
Bagaimana nilai positif ini dapat dikembangkan melalui 7 (tujuh kebiasaan)?  Ini ringkasan dari buku Covey yang bisa kita pelajari dan renungkan bersama.<br />
Kebiasaan 1.  Jadilah Proaktif<br />
Kebiasaan ini ditandai dengan sikap-sikap:<br />
Saya orang yang bertanggungjawab.  Saya mengambil inisiatif.  Saya menentukan tindakan, sikap, dan suasana hati saya.  Saya tidak menyalahkan orang lain bila melakukan kesalahan.  Saya melakukan hal yang seharusnya saya lakukan, tanpa dimina, meskipun tak ada orang yang melihat.<br />
Kebiasaan 2.  Mulai Dengan Tujuan Akhir<br />
Saya membuat rencana di depan dan menetapkan target.  Saya melakukan hal-hal yang berarti dan membuat perbedaan.  Saya adalah bagian penting dari kelas saya dan saya memberi kontribusi yang positif untuk visi dan misi sekolah saya, serta berusaha menjadi warga sekolah yang baik.<br />
Kebiasaan 3.  Dahulukan Yang Utama<br />
Saya menghabiskan waktu untuk hal-hal terpenting.  Ini berarti saya mengatakan tidak untuk hal-hal yang tidak boleh saya lakukan.  Saya menetapkan prioritas, membuat jadwal, dan menetapkan rencana.  Saya disiplin dan terorganisir.<br />
Kebiasaan 4.  Berpikir Menang-menang<br />
Saya menyeimbangkan keberanian kemauan saya dan kemauan orang lain.  Saya selalu mempertimbangkan perasaan orang lain.  Jika terjadi perselisihan, saya mencari alternatif ke tiga.</p>
<p>Kebiasaan 5.  Berusaha Memahami Dahulu, Kemudian Berusaha Dipahami<br />
Saya mendengarkan gagasan dan perasaan orang lain.  Saya mencoba melihat dari sudut pandang mereka.  Saya mendengarkan orang lain tanpa memotong pembicaraan.  Saya percaya diri menyuarakan gagasan saya.  Saya menatap mata lawan bicara saya.</p>
<p>Kebiasaan 6.  Wujudkan Sinergi<br />
Saya menghargai kekuatan orang lain dan belajar darinya.  Saya pandai bergaul, bahkan dengan orang yang berbeda dengan saya.  Saya bekerja baik dalam kelompok.  Saya meminta gagasan orang lain untuk memecahkan masalah karena saya tahu bila saya bekerja sama dengan orang lain maka kita dapat membuat solusi dengan lebih baik daripada kalau bekerja sendiri.  Saya selalu belajar untuk rendah hati.<br />
Kebiasaan 7.  Mengasah Gergaji<br />
Kebiasaan ke tujuh ini dimaknai dengan budaya selalu belajar, belajar tentang apapun juga, sehingga mampu melengkapi ke enam kebiasaan yang lain.<br />
Mudahkan mengimplementasikan budaya tersebut di sekolah kita?  Ternyata tidak.  Tetapi juga sangat mungkin untuk dilakukan.  Yang dibutuhkan hanyalah komitmen dari segenap komponen sekolah, dukungan dan partisipasi orang tua, maka yang tidak mungkin itu pun berubah menjadi sebuah kenyataan.<br />
Melalui Tujuh Kebiasaan ini kita berharap membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society). Dan, masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala manusia-manusia Indonesia adalah manusia yang berakhlak dan berwatak baik, manusia yang bermoral dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berperilaku baik pula.<br />
Bangsa yang berkarakter unggul, disamping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.<br />
Lalu apa harapan orang tua yang mempercayakan anak-anaknya belajar di sekolah yang mengedepankan budaya-budaya unggul tersebut?  Pada umumnya mereka akan berpendapat bahwa sekolah ini sukses mendidik siswa karena mencintai dan menghormati siswa. Orang tua merasakan guru adalah sosok pendidik yang benar-benar mencintai anak-anak.  Dan mereka bekerja sepenuh hati membimbing siswa dari titik A ke titik B, ke titik C dan seterusnya lalu memastikan bahwa tahun-tahun selanjutnya siswa didiknya akan tetap bersinar.<br />
Guru adalah seorang pendidik yang benar-benar menginginkan yang terbaik untuk siswa-siswanya, dan memiliki kepedulian untuk meluangkan waktu guna menemukan bakat individu siswa, lalu mencari cara untuk mengasuh dan memberdayakan bakat tersebut.<br />
Sungguh, pada sekolah yang mengedepankan budaya positif berkembang dengan sangat sehat, anak tak perlu mencari teladan jauh-jauh, karena bagi mereka Kepala Sekolah, guru, siapa pun yang terlibat dalam keberlangsungan sekolah adalah teladan yang layak dijadikan panutan dalam tutur kata, cara berpikir, bertingkah laku, dan membangun relasi sosial.  Semoga.<strong> (Yohana Kristianti, S.Si, Pendidik di SMPN 1 Purbalingga)</strong></p>
<div id="attachment_10503" class="wp-caption alignleft" style="width: 490px"><a rel="attachment wp-att-10503" href="http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/yohana/"><img class="size-medium wp-image-10503" title="yohana" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/05/yohana-480x269.jpg" alt="Yohana Kristianti, S.Si" width="480" height="269" /></a><p class="wp-caption-text">Yohana Kristianti, S.Si</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sister School Untuk Purbalingga Go International</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/28/sister-school-untuk-purbalingga-go-international/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/28/sister-school-untuk-purbalingga-go-international/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 16:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10473</guid>
		<description><![CDATA[Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi, manajemen, dan sumber daya manusia.  Keunggulan teknologi akan menurunkan biaya produksi, meningkatkan kandungan nilai tambah, memperluas keragaman produk, dan meningkatkan mutu produk.  Keunggulam manajemen dapat mempengaruhi dan menentukan bagus tidaknya kinerja sekolah, dan keunggulan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi pada tingkat internasional, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10474" class="wp-caption alignleft" style="width: 212px"><a rel="attachment wp-att-10474" href="http://banyumasnews.com/2010/05/28/sister-school-untuk-purbalingga-go-international/agus-triyanto/"><img class="size-medium wp-image-10474" title="AGUS TRIYANTO" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/05/AGUS-TRIYANTO-202x270.jpg" alt="Drs Agus Triyanto, M.MPd" width="202" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Drs Agus Triyanto, M.MPd</p></div>
<p>Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi, manajemen, dan sumber daya manusia.  Keunggulan teknologi akan menurunkan biaya produksi, meningkatkan kandungan nilai tambah, memperluas keragaman produk, dan meningkatkan mutu produk.  Keunggulam manajemen dapat mempengaruhi dan menentukan bagus tidaknya kinerja sekolah, dan keunggulan sumber daya manusia yang memiliki <strong>daya saing tinggi</strong> pada tingkat internasional, akan menjadi daya tawar tersendiri dalam era globalisasi.</p>
<p>Dalam upaya peningkatan mutu tersebut, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan tiga rencana strategis dalam jangka menengah yaitu (1).  Peningkatan akses dan pemerataan dalam rangka penuntasan wajib belajar pendidikan dasar, (2).  Peningkatan mutu, efisiensi, relevansi, dan peningkatan daya saing, dan (3)  peningkatan manajemen, akuntabilitas, dan pencitraan publik.</p>
<p>Peningkatan mutu, efisiensi, dan peningkatan daya saing secara nasional dan sekaligus internasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, diupayakan dengan menetapkan pentingnya penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional, baik untuk sekolah negeri maupun swasta.  Berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan  yang bertaraf internasional ini maka (1) pendidikan bertaraf internasional yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu mencapai standar mutu nasional dan internasional, (2) pendidikan bertaraf internasional yang efisien adalah pendidikan yang menghasilkan standar mutu lulusan optimal (berstandar nasional dan internasional) dengan pembiayaan minimal, (3) pendidikan bertaraf internasional juga harus relevan, yaitu bahwa penyelenggaraan pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, orang tua, masyarakat, kondisi lingkungan, kondisi sekolah, dan kemampuan pemerintah daerahnya; dan (4) pendidikan bertaraf internasional harus memiliki daya saing yang tinggi dalam hal hasil-hasil pendidikan (output dan outcomes), proses, dan input sekolah baik secara nasional maupun internasional.</p>
<p>SMP Negeri 1 Purbalingga melalui SK Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional No.  543/C3/KEP/2001 tanggal 14 Maret 2007 ditetapkan sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.  Dan pada tahun 2010 ini berarti merupakan tahun ke  empat bagi sekolah kebanggaan masyarakat Purbalingga ini untuk terus berbenah menjadi Sekolah bertaraf Internasional dalam pengertian yang sesungguhnya.</p>
<p>Menurut Permendiknas No 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan SBI pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, yang dimaksud dengan Sekolah Bertaraf Internasional adalah sekolah yang sudah memenuhi seluruh SNP yang diperkaya dengan keunggulan mutu tertentu yang berasal dari negara anggota OECD atau negara maju lainnya.  Atau dapat dirumuskan bahwa SBI pada dasarnya merupakan pelaksanaan dan pemenuhan delapan (8) unsur SNP yang disebut sebagai indikator kinerja kunci minimal (IKKM) dan diperkaya /dikembangkan /diperluas / diperdalam dengan komponen, aspek atau indikator kompetensi yang isinya merupakan penambahan atau pengayaan/pendalaman/penguatan/perluasan dari delapan SNP tersebut sebagai indikator kinerja kunci tambahan (IKKT) dan berstandar internasional dari salah satu anggota OECD (Australia, Austria, Belgium, Canada, Czech Republic, Denmark, Finland, France, Germany, Greece, Hungary, Iceland, Ireland, Italy, Japan, Korea, Luxembourg, Mexico, Netherlands, New Zealand, Norway, poland, Portugal, Slovak Republic, Spain, Sweden, Switzerland, Turkey, United Kindom, United States) dan/atau negara maju lainnya (Chile, Estonia, Israel, Russia, Slovenia, Singapore, dan Hongkong).  Pencapaian IKKT ini dapat pula diterjemahkan bahwa sekolah memiliki <em>sister school</em> atau <em>school partnership</em> dengan negera-negara tersebut di atas.</p>
<p>Menilik pengertian SBI yang demikian, pasti juga bukan perkara mudah untuk mensejajarkan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di SMP Negeri 1 Purbalingga dengan pembelajaran yang berlaku pada negara anggota OECD atau negara maju lainnya.  Tetapi bukan pula suatu kemustahilan kalau SMP Negeri 1 Purbalingga mencoba menggapai mimpi mensejajarkan dengan sekolah-sekolah unggul di negara tersebut melalui <em>sister school</em>.  Kepercayaan diri ini didasari atas keyakinan bahwa Purbalingga mempunyai banyak potensi untuk dikembangkan dan ditularkan kepada seluruh warga dunia melalui pintu pendidikan.</p>
<p>Rintisan untuk membangun <em>sister school</em> di SMP Negeri 1 Purbalingga sudah dirintis sejak 2008 saat mengirimkan delegasi kunjungan belajar pertama ke Bukit Panjang Government High School Singapore (BPGHS) yang disusul dengan kunjungan balasan guru dan pelajar BPGHS ke SMP Negeri 1 Purbalingga.  Tahun 2009 kembali SMP Negeri 1 Purbalingga mengirimkan delegasi kunjungan belajar ke beberapa sekolah di Singapura, Mimmar Sinnan dan Mehmet Akif Ersoy 1, Istanbul, Turki sampai pada Maret, 2010 Memorandum of Understanding (MoU) antara SMP Negeri 1 Purbalingga dengan Anglican High School Singapore kembali disepakati dengan tindak lanjut kunjungan belajar siswa dan guru ke sekolah tersebut.</p>
<p>Upaya membangun jejaring internasional tak cukup berhenti di Anglican, Singapura sebagai pintu gerbang menuju kesejajaran pendidikan di negara-negara Asia, karena SMP Negeri 1 Purbalingga juga tengah merintis <em>sister school</em> dengan Samuel Marsden Collegiate School, New Zealand, untuk memperluas jejaring, membuka peluang pendidikan ke negara-negara Eropa.   Diawali dengan kunjungan Kepala Sekolah atas fasilitasi dari SEAMOLEC, dimana kegiatan ini bertujuan untuk membangun program kerjasama antar sekolah di Indonesia dan negara lainnya yang tertuang dalam sebuah “Action Plan”, <strong> </strong>meningkatkan kualitas pembelajaran melalui kolaborasi dalam belajar, membuka jalan bagi guru untuk melakukan riset bersama, berbagi pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai lainnya, kolaborasi dalam pembelajaran dalam beberapa mata pelajaran (Mathematics, English, Science, etc.) melalui sistem terbuka dan jarak jauh yang di fasilitasi oleh SEAMOLEC, meng-<em>upload</em> materi dan penilaian untuk para siswa yang terlibat (web based), standar yang sama dalam materi dan penilaian, kolaborasi dalam pembelajaran bahasa (Indonesia – Inggris, dll) akan difasilitasi  melalui program <em>school</em> <em>partnership </em>lewat email dan debat via vicon.<strong> </strong></p>
<p>Membangun jejaring sebagai bagian warga dunia untuk memberikan kontribusi aktif bagi proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Purbalingga juga dilakukan dengan menjadi member aktif <em>Connecting Classroom Asian Dialogues (CCAD)</em> yang difasilitasi oleh British Council dimana SMP Negeri 1 Purbalingga bermitra dengan sekolah-sekolah RSBI di Jawa Tengah dan Thailand serta sekolah di United Kingdom (UK).  Kerjasama ini dilakukan dalam bentuk forum dialog, <em>School to School Project</em>, sampai kepada pertukaran sumber belajar.  Ke depan, kerjasama ini juga dikembangkan dalam bentuk <em>Connecting Classroom Online</em>.</p>
<p>Banyak manfaat sudah diperoleh melalui kegiatan <em>school sister</em> di atas, khususnya bagi pengembangan SMP Negeri 1 Purbalingga sebagai satu diantara rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Jawa Tengah yang dinanti prestasinya oleh segenap masyarakat Purbalingga untuk menjadi sekolah bertaraf internasional dalam arti yang sesungguhnya.</p>
<p>Selain mengembangkan potensi sekolah, kegiata <em>sister school</em> ini juga sangat strategis untuk mempromosikan potensi wilayah Purbalingga dalam forum internasional dalam hal budaya, industri, serta keindahan alam dan panoramanya.    Maka demi kepentingan Purbalingga tercinta dalam mengembangkan pendidikan bertaraf internasional, tentu saja SMP Negeri 1 Purbalingga tidak mampu berjalan sendiri.  Dukungan pemerintah, masyarakat dan <em>stakeholder</em> yang lain sungguh dirasakan dan selalu dinantikan menuju kejayaan Purbalingga. <strong>(</strong><strong> Drs.  Agus Triyanto, M.M.Pd, Kepala SMP Negeri 1 Purbalingga)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/28/sister-school-untuk-purbalingga-go-international/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagi-Lagi Kampus ber-Biaya Mahal</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/05/lagi-lagi-kampus-ber-biaya-mahal/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/05/lagi-lagi-kampus-ber-biaya-mahal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 14:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10294</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Eko Prasetyo)* JIKA manusia sederajat, mengapa orang miskin harus menjadi budak orang kaya? Mengapa orang muda bersih, tanpa dosa, harus menjadi ladang orang kaya yang kotor? Itukah realitas masyarakat? Itukah hukum orang kaya dan orang miskin? (Chun Tae-il) Kini kampus telah dikuburkan perannya. Walau UU BHP dicabut[3] tapi belum menjamin pendidikan di perguruan tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em><a rel="attachment wp-att-10295" href="http://banyumasnews.com/2010/05/05/lagi-lagi-kampus-ber-biaya-mahal/eko-pras/"><img title="eko pras" src="../wp-content/uploads/2010/05/eko-pras.jpeg" alt="eko pras" width="105" height="105" /></a></em></p>
<p style="text-align: left;">Oleh: Eko Prasetyo)*</p>
<p align="center"><em><strong>JIKA</strong> manusia sederajat, mengapa orang miskin harus menjadi budak orang kaya? Mengapa orang muda bersih, tanpa dosa, harus menjadi ladang orang kaya yang kotor? Itukah realitas masyarakat? Itukah hukum orang kaya dan orang miskin?</em></p>
<p align="center"><em>(Chun Tae-il)</em></p>
<p>Kini kampus telah dikuburkan perannya. Walau UU BHP dicabut<a href="#_ftn3">[3]</a> tapi belum menjamin pendidikan di perguruan tinggi meluncur murah<a href="#_ftn4">[4]</a>. Terlanjur para pengelola kampus memperoleh nikmat dari biaya mahal. Terlanjur pula negara malas untuk mengalokasikan biaya bagi perguruan tingginya<a href="#_ftn5">[5]</a>. Dosen dan pengelola kampus mendapat upah yang tinggi dan jaminan karir yang stabil. Hal yang sama terjadi pada perusahaan yang mengikatkan diri bekerja-sama dengan kampus. Telah banyak dana CSR yang dimakan oleh beberapa kampus dan menjadi halal karena status otonomnya. Tak kalah pentingnya adalah ’jual beli’ gelar yang berlangsung secara berlebihan telah membuat kampus ’populer’ di kalangan pejabat. Punggawa kekuasaan yang rakus dan sewenang-wenang dengan gampang memperoleh gelar Doktor. Ibaratnya kampus telah merasakan kemakmuran dari statusnya yang sekarang. Berpaling dari kemakmuran tentu akan membawa kampus kembali pada masa lampau: tergantung, murah dengan dosen yang pas-pasan rejekinya.</p>
<p>Padahal yang terjadi adalah kampus mengenggam status komoditi bagi mahasiswanya. Dengan memasang status otonom maka kampus ’dibebaskan’ untuk menjerat biaya mahasiswa berapapun besarnya. Yang diperlukan kampus bukan mahasiswa berani tapi ber-uang. Yang dirindukan kampus bukan mahasiswa cemerlang tapi mahasiswa jutawan. Terlebih dengan status Perguruan Tinggi Negeri yang sudah tersohor, maka legenda itu jadi merk jualan yang ampuh. Berulang-ulang penulis saksikan bagaimana kebanggaan mahasiswa menikmati statusnya. Tinggal di kampus yang terkenal dan berada pada fakultas yang elite: Kedokteran, Farmasi,  Ekonomi, Hukum, dan Tekhnik. Fakultas idola yang selalu meraih juara dalam jumlah mahasiswanya. Sebaliknya fakultas seperti filsafat atau pertanian kian miskin peminat dan mulai berada dalam posisi buncit. Belenggu status itu yang membuat kampus kemudian tenggelam ke dalam lubang hitam perubahan.</p>
<p>Yang berubah pertama kali adalah gedung-gedung. Kini tiap kampus bertarung dalam mempercantik ruangan. Terlebih bagi kampus yang membuka kelas International dan kelas Pasca Sarjana. Ruangan disolek dengan energik dan yang menonjol adalah tempat dimana mahasiswa bisa mudah berselancar internet. Ruang-ruang hot spot dibuat untuk memudahkan mahasiswa bermain internet. Bahkan tak jarang taman-taman dibuat dengan menawan seolah kampus sarang para penikmat kecantikan alam. Tak jarang kampus juga membuat kantor-kantor praktek para pekerja: ruang bursa saham, ruang perbankan, ruang laborat hukum dan ruang untuk pelatihan. Kelak tiap ruangan itu akan dikutip sewa jika mahasiswa meminjamnya. Maknanya terang bahwa gedung kampus diperindah untuk menaikkan harga dan ruangan dipercantik biar mendatangkan sewa.</p>
<p>Tapi gedung hanya pucuk perubahan karena akarnya ada di pembiayaan. Pintu masuk dibuka dengan jalur beragam. Namanya bisa apa saja tapi lorong paling punya peran adalah porsi mahasiswa berduit. Bisa bernama Swadaya atau Mandiri. Di berbagai kampus prosentase untuk mereka kini melompat. Juga yang agak unik model pembiayaan bisa memakai beberapa jalur: dari biaya masuk, biaya tahunan, biaya per SKS, biaya pratikum hingga biaya wisuda. Pokoknya biaya membelit dari sejak mahasiswa masuk hingga mencapai status kelulusan. Tak bisa disangkal protes mahasiswa berawal dari ’ekploitasi’ pembiayaan yang kerapkali benar-benar tak masuk akal. Dan tiap biaya tak diberitahukan penggunaan dan mekanisme pertanggung-jawaban. Makanya ada beberapa kampus yang kini diajukan ke pengadilan karena pengurusnya terindikasi korupsi. Biaya telah membuat kampus menjadi lembaga birokrasi: tertutup, minim pertanggung-jawaban dan enggan untuk dievaluasi.</p>
<p>Sejak awal pada titik inilah kampus kurang memberikan informasi menyeluruh pada mahasiswa. Tak sedikit mahasiswa yang selalu mengutuk kampus dengan pembiayaan karena dua landasan: <em>pertama </em>biaya itu jauh dari kemampuan orang tua<a href="#_ftn6">[6]</a> menanggung dan <em>kedua </em>biaya itu jauh dari fasilitas yang tersedia. Kedua-duanya menimbun semangat manipulasi. Karena manipulasi itu maka Kampus dikuatirkan menyimpan orientasi yang berseberangan: di satu sisi kampus berunsur komersial dan di sisi lain kampus berkeinginan untuk menerapkan semangat pengabdian. Tabrakan peran ini mencuat dari sejumlah gejala yang timbul dan marak di kampus-kampus. <em>Pertama</em> makin kecilnya ruang pengabdian kampus pada masyarakat. Hingga kini jumlah dosen yang melakukan kerja-kerja pengabdian makin menipis. Kampus bahkan enggan memprkarsai temuan-temuan sosial penting dari sebuah kawasan bermasalah<a href="#_ftn7">[7]</a>. <em>Kedua </em>makin menipisnya tradisi intelektual yang tampak dari minimnya karya dan maraknya praktek plagiat yang dilakukan oleh dosen<a href="#_ftn8">[8]</a>. Gejala kedua ini merisaukan karena kampus kerapkali berdiam diri dan enggan memberi sanksi. Padahal di Inggris dosen yang melakukan plagiat bisa menimbulkan duka di sebuah kota. <em>Ketiga</em> gejala birokratisasi di kampus dimana dosen-dosen populis, radikal dan progresif seringkali dikucilkan dalam ruang pergaulan kampus. Terlebih dengan maraknya kampus jadi ’alat rekruietmen’ partai menjadikan kampus sarang elite atau cabang dari ambisi kekuasaan! Dosen-dosen itu seperti penghuni liar yang selalu tak mendapatkan posisi struktural.</p>
<p>Dengan kerisauan semacam ini memang waktunya kampus untuk berkaca diri. Sejarah pendirian kampus selalu terpaut dengan kehendak untuk pembebasan. Kampus bukan sekedar menjadi pelayan kekuatan modal atau pemasok aparatur bagi negara, tapi yang utama, tempat dimana akal sehat dan semangat persaudaraan pada yang lemah dirawat. Begitulah kampus kemudian menegaskan diri, dengan memakai nama para pejuangnya atau menempatkan sejarah para pendirinya. Ukiran semangat itu terukir dalam semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang semangatnya mirip dengan kehendak Gramsci untuk melahirkan intelektual organik. Lewat Tri Dharma itulah kampus sesungguhnya menautkan diri pada yang lemah dan tertindas: kelak jika lahir para elite maka mereka harus berakar dari pendidikan etik yang ditanamkan dari kampus. Bukan tugas kampus untuk melahirkan para pekerja tapi adalah kewajiban kampus untuk menunaikan pengabdian kepada rakyatnya. Berpaut dengan sejarah itulah yang mampu menjadikan kampus sebagai sangkar pendidikan, sebagaimana yang dulu diukir dengan cetusan kata-kata Soekarno</p>
<p>&#8230;faktor yang menentukan dalam perjuangan pembebasan nasional tidak terletak pada kelompok intelektual yang kecil itu, melainkan pada massa, dan pada massa yang sudah bangkit, pada waktunya, akan melahirkan pemimpin-pemimpin mereka sendiri&#8230;tugas kaum Intelektual adalah membangkitkan kekuatan rakyat, menafsirkannya, dan memberikan suatu landasan teoritis bagi tindakannya&#8230;..</p>
<p>Dalam lorong penindasan panjang negeri ini yang belum merdeka, mustinya, Kampus mau merelakan diri untuk memiliki peran terdepan: melahirkan mahasiswa-mahasiswa pejuang yang mampu mememberi terang masa depan. Juru terang itu syaratnya sederhana: kemauan keras berkorban dan kehendak untuk terlibat dalam pergulatan. Saya percaya wajah masa depan negeri ini terletak dari sejauh mana Kampus menjadi tempat yang rindang, baik bagi yang lemah maupun yang kuat. Kampus sangkar dimana para pejuang muda menatah diri dengan sendi kerisauan melihat masa depan!</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Disampaikan pada diskusi BEM Unsoed 1 Mei 2010. Terimakasih atas data dan bahan-bahan yang dikirimkan oleh Panitia yang menjadi latar belakang dari penulisan makalah ini</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Penulis Resist Book. Buku terakhir ”Bisnis Orang Sakit’ dan ’Keadilan tidak untuk Yang Miskin’</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> MK menengarai dua hal yang dianggap melanggar BHP, pertama adalah Prinsip penyeragaman, ada 6.600 kampus yang kelak akan diseragamkan dan pengalihan beban dari negara ke masyarakat. Prinsip terakhir ini nyata-nyata mengambil alih semangat neo liberalisme yang menjadikan masyarakat sebagai tali rantai kekuatan bisnis.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Agak unik debat antara yang pro dan kontra BHP selalu memakai orang miskin. Bahkan yang pro BHP mengatakan sejak dicabutnya UU BHP maka kewajiban 20% kampus untuk alokasi orang miskin menjadi tidak ada dan itu membuat kampus kehilangan komitmen. Lih Koran Tempo 30 April 2010</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Anggaran pendidikan tinggi yang dialokasikan pemerintah hanya 0,27 persen dari Produk Domestik Bruto, sedangkan Malaysia saja bisa mencapai angka 2,2 persen dan itu mampu membuat Malaysia membebaskan diri dari biaya. Lih Koran Tempo 29 April 2010</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Dengan UMR DIY sebesar Rp 586.000 dan Jawa Tengah Rp 547.000 maka biaya per SKS yang mencapai 100 ribu dan tujuh ratus ribu per semester membuat anak-anak buruh sudah pasti tidak sanggup untuk membiayai anak-anaknya kuliah. Terlebih kampus yang menerapkan uang masuk dengan biaya jutaan. Penerapan biaya kampus yang selalu melompat jauih dari UMR membuat muncul pertanyaan tentang sesungguhnya kampus itu menyediakan diri untuk mahasiswa tipe yang mana?</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Keluhan unik terjadi pada warga Kulon Progo pada sedikitnya cendekiawan Yogyakarta yang membantu mereka menolak tambang pasir besi dan bahkan UGM pernah dikerubung oleh masyarakat karena dianggap menjadi penyebab diijinkanya eksplorasi tambang pasir besi. Sebuah situasi yang terjadi di banyak kampus dimana kampus tambah menjadi pendukung pemodal ketimbang pelindung rakyat.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Jadi, dari 1.650 dosen di ITB, hanya sekitar 4-6 persen saja yang menyiapkan diktat kuliah,&#8221; kata Amrinsyah Nasution yang mengepalai Penerbit ITB saat ini. Situasi makin diperuncing dengan gejala penjiplakan yang dilakukan oleh banyak kampus</p>
<p><em>)*Eko Prasetyo (Penulis Buku ‘Orang Miskin Dilarang Sekolah’). Lahir di Pacitan 06 Januari 1972. Penulis dan Peneliti. Riwayat Pendidikan UII,pegiat Resist Book.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/05/lagi-lagi-kampus-ber-biaya-mahal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Novel ngapak ‘Geger Wong Ndekep Macan’ dibedah di Unsoed</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/04/novel-ngapak-%e2%80%98geger-wong-ndekep-macan%e2%80%99-dibedah-di-unsoed/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/04/novel-ngapak-%e2%80%98geger-wong-ndekep-macan%e2%80%99-dibedah-di-unsoed/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 03:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[SENI BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[novel berbahasa ngapak; banyumas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10269</guid>
		<description><![CDATA[PURWOKERTO – Novel berbahasa Jawa Ngapak atau Banyumasan berjudul “Geger Wong Ndekep Macan” karya Hari Soemoyo, akan dilaunching pada hari Kamis, 6 Mei 2010 di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, pukul 09.00 sd selesai. Acara diadakan oleh HMPS Prodi Sastera Indonesia FISIP Unsoed yang sekaligus ditandai dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PURWOKERTO – Novel berbahasa Jawa Ngapak atau Banyumasan berjudul “Geger Wong Ndekep Macan” karya Hari Soemoyo, akan dilaunching pada hari Kamis, 6 Mei 2010 di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, pukul 09.00 sd selesai.</p>
<p>Acara diadakan oleh HMPS Prodi Sastera Indonesia FISIP Unsoed yang sekaligus ditandai dengan ‘bedah buku’ atas novel yang disebut-sebut novel berbahasa Banyumas pertama itu. Sebagai pembedah akan tampil Surya Esa dengan pembanding Sugeng Wiyono.</p>
<p>Novel ‘Geger Wong Ndekep Macan’ karya Hari Widianto Soemoyo, atau yang dikenal juga sebagai Hari Ngapak menurut Bambang Setiawan, Litbang Kompas dalam komentar di cover belakang buku mengatakan novel ini adalah salah satu karya sastra yang mengangkat realita sosial, ekonomi dan politik pedesaan era tahun 1980-an hingga 2000-an.</p>
<p>Dituturkan dalam bahasa ngapak pinggiran yang renyah, dalam bahasa Banyumasan sebagai salah satu entitas bahasa di Jawa. Pengetahuan bahasa pengarang dinilai sangat luas, ditunjukkan dengan istilah dan diksi bahasa Banyumas pinggiran saat ini yang diungkapkan dalam cerita kekinian, namun tetap menggambarkan falsafah hidup pedesaan.</p>
<p>Novel ini bisa menjadi salah satu bahan penelitian tidak hanya sastra, namun juga penelitian tentang sosio-kultural. Selain itu, karya sastra ngapak Banyumasan ini bisa menjadi dokumentasi yang berharga atas bahasa local yang oleh sementara kalangan ‘akan punah ini’. (BNC/puh)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/04/novel-ngapak-%e2%80%98geger-wong-ndekep-macan%e2%80%99-dibedah-di-unsoed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah ada PSCS Holcim, PSCS PLTU, atau PSCS Pertamina?</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/03/29/mungkinkah-ada-pscs-holcim-pscs-pltu-atau-pscs-pertamina/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/03/29/mungkinkah-ada-pscs-holcim-pscs-pltu-atau-pscs-pertamina/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 15:29:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[CILACAP]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>
		<category><![CDATA[pscs cilacap; cilacap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9852</guid>
		<description><![CDATA[Keberhasilan PSCS Cilacap menembus kompetisi Divisi Utama PSSI membangkitkan gairah pemberdayaan potensi olah raga di Cilacap. Berbagai wacana berkembang, dari perlunya perbaikan stadion, rekrutmen pemain, sampai bagaimana industri yang ada di kota Cilacap dapat ikut berpartisipasi dalam prestasi olahraga di kota di bagian barat daya Jawa Tengah ini. Diskusi-diskusi hangat antara lain bisa diikuti di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keberhasilan PSCS Cilacap menembus kompetisi Divisi Utama PSSI membangkitkan gairah pemberdayaan potensi olah raga di Cilacap. Berbagai wacana berkembang, dari perlunya perbaikan stadion, rekrutmen pemain, sampai bagaimana industri yang ada di kota Cilacap dapat ikut berpartisipasi dalam prestasi olahraga di kota di bagian barat daya Jawa Tengah ini.</p>
<p>Diskusi-diskusi hangat antara lain bisa diikuti di facebooker pecinta PSCS di situs jejaring sosial facebook. Rasa bangga menjadi orang Cilacap pun mencuat seiring prestasi PSCS menjadi kesebelasan pertama di tlatah Banyumas yang mampu menembus kompetisi PSSI yang hanya satu level di bawah ISL (Indonesian Super League).</p>
<p>Adalah Ketua DPRD Cilacap, Fran Lukman sendiri yang mewacanakan ‘parisipasi’ pengusaha besar atau industri yang ada di Cilacap dalam olahraga. Seperti dikutip sebuah media, dia  menyatakan perusahaan yang ada di Cilacap setidaknya bisa dilibatkan untuk pemberdayaan olahraga dengan cara menjadi bapak asuh. Dia mencontohkan beberapa daerah lain yang bidang olahraganya cukup maju karena keterlibatan perusahaan. Seperti di Surabaya, Pabrik Semen Gresik jadi sponsor sepak bola Persebaya. Di Kudus, PT Djarum mem-back up penuh bidang olah raga bulutangkis dan banyak contoh lainnya.</p>
<p>Di Cilacap memang tumbuh perusahana besar baik swasta maupun BUMN. Ada BUMN Pertamina, pabrik seman Holcim (swasta), ada PLTU (PT ASDP), pabrik gula rafinasi PT DUS (Dharmapala Usaha Sukses), pabrik tepung gandung Pangan Mas, dll.</p>
<p>Karenanya tokoh politisi senior Cilacap ini mendorong agar Pemkab mulai memfasilitasi dengan cara mendorong agar perusahaan besar tersebut bersedia menjadi bapak asuh atau sponsor olahraga. Harapannya, potensi olahraga di Cilacap dapat lebih berkembang dan profesional.</p>
<p>Kalau sudah ada sponsor dari BUMN/swasta, tentu tidak akan membebani anggaran daerah, seperti yang selama ini terjadi.</p>
<p>Kalau Pemkab berhasil menggaet salah satu perusahaan besar yang ada, maka barangkali nanti (berandai-andai saja, boleh ‘kan?) akan ada nama kesebelasan yang berlaga di Divisi Utama dengan nama PSCS Pertamina, PSCS Holcim, PSCS DUS, PSCS PLTU atau PSCS Panganmas?</p>
<p>Lalu Anda warga Cilacap penggemar ‘PSCS Wijayakusuma’ Cilacap, setujukah dengan wacana di atas? Atau tidak peduli, apa pun yang akan ditempuh Pemkab, asal sah (halal) dan bisa dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya, yang penting PSCS bisa berjaya? *)</p>
<p><em>*) Andin S – penggemar PSCS</em></p>
<p><em></p>
<div id="attachment_9853" class="wp-caption alignleft" style="width: 299px"><em><a rel="attachment wp-att-9853" href="http://banyumasnews.com/2010/03/29/mungkinkah-ada-pscs-holcim-pscs-pltu-atau-pscs-pertamina/laskar-cilacapkab-go-id/"><img class="size-full wp-image-9853  " title="laskar - cilacapkab.go.id" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/03/laskar-cilacapkab.go.id.jpg" alt="Antusiasme supporter PSCS - foto:pemkab" width="289" height="194" /></a></em><p class="wp-caption-text">Antusiasme supporter PSCS - foto:pemkab</p></div>
<p></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/03/29/mungkinkah-ada-pscs-holcim-pscs-pltu-atau-pscs-pertamina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
