<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kabar Banyumas &#187; WACANA</title>
	<atom:link href="http://banyumasnews.com/category/wacana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banyumasnews.com</link>
	<description>Portal Berita Warga Bayumasan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 May 2012 07:35:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Tradisi Membodohi Penonton Sinetron Kita</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2012/03/23/14120/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2012/03/23/14120/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2012 04:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>
		<category><![CDATA[nanang anna noor]]></category>
		<category><![CDATA[Reporter Teve Indosiar]]></category>
		<category><![CDATA[sinetron]]></category>
		<category><![CDATA[Undangan Kuning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=14120</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Nanang Anna Noor PERNYATAAN Ratna Sarumpaet dalam sebuah wawancra  dengan sebuah infotainment, bahwa Sinetron kita memang menyedihkan adalah sangat tepat. Karena untuk sekedar mengejar pasar, terjadi pembodohan disana sini yang berlangsung secara konstan.  Kita bisa lihat dalam sehari hampir separoh tayangan di televis menyuguhkan sinetron / film kejar tayang yang memamerkan  karakteristik kontra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div></div>
<div></div>
<div><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-14121" title="NANANG GAGAH modified setengah badan" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2012/03/NANANG-GAGAH-modified-setengah-badan-160x90.jpg" alt="" width="160" height="90" /></div>
<div><strong>Oleh : Nanang Anna Noor</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>PERNYATAAN Ratna Sarumpaet dalam sebuah wawancra  dengan sebuah infotainment, bahwa Sinetron kita memang menyedihkan adalah sangat tepat. Karena untuk sekedar mengejar pasar, terjadi pembodohan disana sini yang berlangsung secara konstan.</div>
<div> Kita bisa lihat dalam sehari hampir separoh tayangan di televis menyuguhkan sinetron / film kejar tayang yang memamerkan  karakteristik kontra produktif dengan budaya kita.  Bisa kita hitung dengan jari  sinetron/film yang memberi pencerahan.</div>
<div></div>
<div>Hal yang paling menonol dan kentara adalah tradisi &#8216;latah&#8217; sinetron kita. Ketika satu sinetron tengah booming,maka production house (PH) lain saling berebut penonton. Sehingga sinetron lahir dengan tema tema sama,monoton dan terkesan dipaksakan.</div>
<div></div>
<div>Saat yang satu dianggap laris karena tema bayi tertukar, manusia kembar dan insomnia. Maka yang lainpun buru buru mengekor. Dianggap strategi pasar yang pas buat melayani penonton yang sudah terlanjur di ‘bodohi’.</div>
<div></div>
<div>Konflik dan kekerasan selama ini juga menjadi salah satu tren sinetron kita.Sepertinya ada kegagapan para pembuatnya saat menciptakan Character development dalam suatu sinetron. Padahal ini merupakan salah satu bentuk komunikasi kontemporer yang menjadi poin penting dalam sebuah cerita .</div>
<div></div>
<div> Beberapa tahun lalu saya mengikuti seminar tentang Potret Buram Sinetron Indonesia, Kampus Paramadia. Dalam acara yang melibatkan banyak pekerja film ini tersimpul pertanyaan-pertanyaan misalnya tentang kandungan kekerasan, seks, mistis, dan adegan yang tidak sesuai dengan norma dalam sinetron remaja.</div>
<div></div>
<div>Temuan lain tentang motif kekerasan disengaja,bentuk kekerasan anak sama seperti orang dewasa. Artinya, anak-anak bisa melakukan apa yang orang dewasa lakukan, mencambak, menghardik, bahkan rencana untuk membunuh. Kartunisasi manusia, meski korban sudah dianiaya sedemikian rupa tetap selalu akan sehat kembali</div>
<div></div>
<div>Contoh lain temuan tentang seks. Dalam sinetron kita seolah anak-anak SMP sudah pacaran.Pacaran di kalangan remaja dianggap bisa diterima di masyarakat. Perempuan kerap menjadi pelaku pelecehan seksual dan ironisnya tanpa rasa berdosa menyuguhkan remaja perempuan mengekploitasi seksualitas.</div>
<div></div>
<div>Menjadi tragis, ketika penonton keliru mendefinisikan diri mereka sendiri dan dunia sekitar, saat sinetron yang merupakan bagian dari produk budaya populer ini mendominasi pengertian penontonnya.Karena tontonan ini merupakan budaya mediasi kontemporer yang tidak lebih dari sekadar daur ulang konstan atas citra-citra yang semula diangkat media.</div>
<div></div>
<div>Tentu saja tak semua sinetron atau film televis sebegitu parahnya. Setidaknya muncul film televisi atau dikenal dengan FTV menjadi alternativ untuk memperbaiki citra perfileman kita. Sejumlah rumah produksi yang menggarap FTV ternyata lebih hati hati menjaga kualitas. Ini bisa menjadi harapan banyak pihak agar tujuan utama tak sekedar tontonan , tetapi bisa menjadi tuntunan .</div>
<p><strong id="yui_3_2_0_1_1332475212553292"><em id="yui_3_2_0_1_1332475212553289"> Nanang Anna Noor,Pesinetron,Reporter Teve Indosiar dan Penyair Indonesia . Film terakhirnya FTV Undangan Kuning SCTV, Produksi Citrasinema , produser Dedy Mizwar<br />
</em></strong></p>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2012/03/23/14120/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Prinsip Dasar, Tips Salesmanship dari James Gwee</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2012/03/20/4-prinsip-dasar-tips-salesmanship-dari-james-gwee/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2012/03/20/4-prinsip-dasar-tips-salesmanship-dari-james-gwee/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 23:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>
		<category><![CDATA[tips salesmanship; james gwee]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=14083</guid>
		<description><![CDATA[James Gwee, MBA adalah Direktur Academia Pendidikan &#38; Pelatihan dan perusahaan konsultasi yang berbasis di Singapura. Keahlian James Gwee terletak di bidang Penjualan, Motivasi, Service Excellence, Leadership, Manajerial Keterampilan, Team Building, dan Pengembangan Pribadi. Meskipun berasal dari Singapura, James mempunyai pengalaman yang luas melakukan pelatihan untuk Indonesia, setelah melakukan lebih dari 1.200 In-House Training selama lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_14084" class="wp-caption alignleft" style="width: 170px"><img class="size-thumbnail wp-image-14084" title="gaya james gwee" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2012/03/gaya-james-gwee-160x90.jpg" alt="" width="160" height="90" /><p class="wp-caption-text">James Gwee</p></div>
<p>James Gwee, MBA adalah Direktur Academia Pendidikan &amp; Pelatihan dan perusahaan konsultasi yang berbasis di Singapura. Keahlian James Gwee terletak di bidang Penjualan, Motivasi, Service Excellence, Leadership, Manajerial Keterampilan, Team Building, dan Pengembangan Pribadi.</p>
<p>Meskipun berasal dari Singapura, James mempunyai pengalaman yang luas melakukan pelatihan untuk Indonesia, setelah melakukan lebih dari<strong> </strong>1.200 In-House Training selama lebih dari 800 organisasi di Indonesia. Hingga saat ini, lebih dari 200,000 orang telah menghadiri seminar publiknya. Kliennya mencakup spektrum dunia bisnis, termasuk perbankan, wisata asuransi, &amp; travel, real estate, pengembang, manufaktur, transportasi, rumah sakit, Telekomunikasi dan bahkan utilitas umum.</p>
<p>Dalam setiap Seminar, <a href="http://www.jamesgwee.net/" target="_blank">James Gwee</a> pendekatannya ramah dan informal, dikombinasikan dengan narasi unik Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang penuh dengan spontanitas dan humor. Di tangannya  pelatihan dan seminar adalah pengalaman belajar yang benar-benar menyenangkan.</p>
<p>Hal ini membuat James Gwee menjadi Trainer Favorit Indonesia. Ia  telah diundang untuk berbicara dalam banyak acara bergengsi di seluruh Indonesia maupun di Konferensi Internasional di Singapura, Malaysia, Afrika Selatan, India, Moskow dan bahkan Ukraina.</p>
<p>James Gwee juga mengisi acara talkshow di Radio Smart FM disebut “Smart Business Talk” didengarkan oleh ribuan pendengar di 13 kota di Indonesia (Jakarta, Surabaya, Semarang, Palembang, Makassar, Manado, Banjarmasin, Balikpapan, Pekan Baru, Medan, Cirebon, Padang). Semua informasi mengenai James Gwee dan trainingnya bisa di-klik di <a href="http://www.jamesgwee.net/" target="_blank">http://www.jamesgwee.net/</a></p>
<p>Tips Salesmanship</p>
<p>Anda yang berprofesi sebagai sales, marketing, pemasaran atau penjualan (dan istilah apa pun terkait dengan dunia penjualan) perlu membaca tips berikut dari James Gwee.</p>
<p>Menurut James Gwee semakin banyak Anda membaca buku dan belajar mengenai penjualan, semakin sering  Anda menyadari dan mengerti satu kebenaran dalam dunia penjualan. <em>The truth is: There is nothing new about selling</em> (tidak ada yang baru dalam hal menjual). Kenyataannya, setelah Anda meninggalkan semua jargon dan istilah–istilah keren dalam dunia penjualan, maka ada 4 aspek yang menurut James Gwee penting dalam dunia penjualan (4 Prinsip Dasar – basic prinsiples). Apa sajakah itu?</p>
<ol start="1">
<li><strong><em>Selling is a process</em></strong><strong> (Menjual adalah proses)</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p>Seperti halnya aktivitas lain, penjualan adalah sebuah proses. Penjualan adalah mata rantai dari kegiatan–kegiatan lain. Jika Anda menjalankan rangkaian kegiatan dengan benar, atau jika Anda menjalankan setiap tahapan dalam proses penjualan dengan benar, Anda memiliki kesempatan besar untuk dapat menjual dengan lebih baik</p>
<ol start="2">
<li><strong><em>Selling is a numbers game</em></strong><strong> (Menjual adalah permainan angka)</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p>Penjualan adalah permainan angka. Sebenarnya, penjualan didasarkan atas Hukum Rata–rata. Lebih banyak prospek, lebih besar kesempatan Anda. Lebih banyak Anda menawarkan, lebih besar kemungkinan Anda melakukan <em>closing</em>. Lebih banyak pelanggan bahagia yang Anda miliki, lebih besar kesempatan bagi Anda untuk memperoleh referensi dari mereka. Ini hanya masalah “semakin banyak….semakin baik.”</p>
<ol start="3">
<li><strong><em>Selling is all about having good interpersonal communication &amp; relationship </em></strong><strong>(Menjual adalah tentang hubungan dan komunikasi inter-personal)</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p>Penjualan adalah masalah kemampuan komunikasi dan membina hubungan. Kita adalah mahluk sosial. Kita membuat keputusan lebih karena emosi dibandingkan rasional (lihat ”<em>Marketing in Venus</em>” dari Hermawan Kartajaya). Mari lihat alasan–alasan seseorang menjadi nasabah sebuah perusahaan. Contohnya dalam industri asuransi, proporsinya adalah sebagai berikut :</p>
<ul>
<li>Membeli karena perusahaannya              : 20%</li>
<li>Membeli karena produknya                      : 20 %</li>
<li>Membeli karena agen asuransinya          : 60 %</li>
</ul>
<p>Kesimpulannya, jadi atau tidak seseorang membeli dari Anda sangat tergantung dari apakah mereka suka atau tidak kepada Anda, menghargai Anda, mempercayai Anda, menyayangi Anda, merasa memiliki kewajiban membeli dari Anda (karena Anda begitu baik suka menolong, dia berhutang budi dengan Anda. Dia juga merupakan teman baik Anda atau ayah/suami Anda, dan lain–lain). Ini karena interaksi yang Anda bangun dan masalah komunikasi pribadi dengannya.</p>
<ol start="4">
<li><strong><em>Selling is all about discipline</em></strong><strong> (Menjual adalah masalah disiplin)</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p>Penjualan adalah masalah disiplin. Inilah perbedaan antara penjual sukses dan penjual tidak sukses: <em>Succesful sales people have learnt to do well thing that unsuccessful sales people do not like to do </em>(Penjual yang berhasil selalu melakukan dengan konsisten dan disiplin hal-hal yang tidak dilakukan oleh penjual yang tidak berhasil).</p>
<p>Sudah bukan rahasia lagi, penjual yang sukses lebih disiplin dan mereka tetap mengerjakan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan (walaupun kadang–kadang mereka tidak menyukainya). Di sisi lain, penjual yang tidak sukses akan mencoba mencari 1.001 alasan untuk menghindar dari pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan, karena mereka tidak suka mengerjakan hal tersebut. <em>Sales is often a case of doing what <span style="text-decoration: underline;">you have to do</span>, not only what <span style="text-decoration: underline;">you like to do </span></em>(Penjualan adalah masalah melakukan sesuatu yang harus dilakukan, secara konsisten, tidak hanya sesuatu yang Anda senang untuk melakukannya).</p>
<p>Ini bisa menjadi alasan utama mengapa beberapa penjual terlihat begitu baik dalam dua tahun pertama, dan kemudian kinerja mereka terus-menerus turun. Sementara, penjual lain terlihat begitu baik dan semakin baik setiap tahun. Perbedaan utama adalah kemampuan atau ketidakmampuan mereka dalam melakukan konsistensi dalam melakukan penjualan.</p>
<p>Jadi tetaplah konsisten dengan pilihan dan pekerjaan Anda serta lakukan yang terbaik. Happy selling! (BNC/ph)</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-14086" title="james gwee3" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2012/03/james-gwee3-160x90.jpg" alt="" width="160" height="90" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2012/03/20/4-prinsip-dasar-tips-salesmanship-dari-james-gwee/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Karakter,..Mengapa Sekarang?</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2012/02/26/pendidikan-karakter-mengapa-sekarang/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2012/02/26/pendidikan-karakter-mengapa-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 12:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=14055</guid>
		<description><![CDATA[&#160; “What is happening to our young people? They disrespect their elders, they disobey their parents.  They ignore the law.  They riot in the streets inflamed with wild notions.  Their morals are decaying.  What is to become of them?” – Plato, 4th Century BC.   Membaca kutipan paragrap dari sebuah artikel yang mengangkat tulisan tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" align="center"><img class="aligncenter  wp-image-14056" title="yohana" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2012/02/yohana.jpg" alt="" width="506" height="824" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>“What is happening to our young people? They disrespect their elders, they disobey their parents.  They ignore the law.  They riot in the streets inflamed with wild notions.  Their morals are decaying.  What is to become of them?” – Plato, 4<sup>th</sup> Century BC.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Membaca kutipan paragrap dari sebuah artikel yang mengangkat tulisan tentang pendidikan karakter di atas, angan kita melayang membayangkan kebenaran dari tulisan itu, melalui realita yang tiap hari kita hadapi.  Tak harus realita yang kita temukan langsung di dunia pendidikan, bahkan seluruh sendi kehidupan masyarakat kita teramat dekat dengan kondisi yang memprihatinkan tersebut.  Apalagi, perkembangan teknologi di bidang informasi mengalir bak badai yang tak dapat dibendung, semakin membuat nyali kita menciut, karena langsung atau tidak langsung semua paket yang dibawanya memberikan pengaruh terhadap tumbuh kembang kepribadian seseorang.  Sebuah keprihatinan yang bukan hanya menjadi perhatian Indonesia semata, tetapi bahkan menjadi prioritas perhatian dunia.</p>
<p>Mengapa demikian susah mengurai akar masalah yang membelit bangsa ini (dan juga bangsa-bangsa lain) bertahun-tahun lamanya, sementara gegap gempita pencanangan pendidikan karakter telah sekian lama kita kita jalani?  Setiap hari kita disuguhkan realitas karakter anak bangsa yang memprihatinkan, bahkan adakalanya juga memalukan, sekalipun di tengah-tengah prestasi sebagian dari mereka yang sangat membanggakan.</p>
<p>Kita tahu, sukses itu bukan lahir dari kerja sendiri, melainkan sebuah kolaborasi cantik banyak pihak untuk kehidupan yang lebih baik.  Bahkan Doni Koesoema (2007) berpendapat, “Sekolah bukanlah tempat penyembuh segala luka kemanusiaan”.  Artinya, masing-masing dari kita (apapun profesi dan lembaga yang menaungi pelayanan kita) mempunyai tanggung jawab untuk ikut terlibat dalam pembangunan karakter generasi muda yang berkepribadian Indonesia.  <em>Each person involved in the development of young people, has a personal responsibility for what they teach by reason of who they are and what they believe and value.</em></p>
<p>Pendidikan karakter menjadi semakin mendesak untuk diterapkan dalam lembaga pendidikan kita mengingat berbagai macam perilaku yang non-edukatif kini telah merambah dalam lembaga pendidikan kita, seperti fenomena kekerasan, ketidakjujuran, pelecehan seksual, korupsi, dan kesewenang-wenangan yang terjadi di lingkungan sekolah.</p>
<p>Tanpa pendidikan karakter, kita membiarkan campur aduknya kejernihan pemahaman akan nilai-nilai moral dan sifat ambigu yang menyertainya, yang pada gilirannya menghambat peserta didik untuk dapat mengambil keputusan yang memiliki landasan moral kuat.  Pendidikan karakter akan memperluas wawasan para peserta didik tentang nilai-nilai moral dan etis yang membuat mereka semakin mampu mengambil keputusan yang secara moral dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Sejauh ini, banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter.  Melalui dunia pendidikan, keharusan untuk memasukkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam  <em>Lesson Plan</em> yang disiapkan guru sudah dilaksanakan beberapa tahun yang lalu.  Tampak jelas, setiap tahap dari proses pembelajaran di kelas, guru menyertakan unsur pendidikan karakter.   Terukur, dengan harapan perilaku siswa didik yang mengarah pada karakter yang positif lebih mudah untuk diidentifikasi.</p>
<p>Ujung tombak dari implementasi pendidikan karakter di sekolah adalah guru.  Guru memang berbeda dengan profesi lainnya, karena mempunyai keunikan tugas yang dekat dengan generasi muda, siswa didik, yang tiap saat mengisi hari-harinya.  Maka, unsur pendidikan karakter yang tertuang di dalam <em>Lesson Plan</em> guru mestinya bukan sekedar tulisan tanpa makna, lebih tepatnya guru juga harus siap memperbaharui karakternya sebelum mendidik dan mengajar siswanya, dan senantiasa siap menjadi teladan bagi peserta didiknya, dalam hal apapun juga.  Tentu saja, dalam setiap perjumpaan dengan peserta didik, lembaga pendidikan (sekolah) akan semakin efektif menerapkan pendidikan karakter ketika sekolah mampu mengajak orang tua siswa dalam bekerja sama sebagai rekan dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.  Komunikasi dua arah yang harmonis dan saling mendukung antara pihak sekolah dan orang tua siswa adalah kekuatan luar biasa untuk mewujudkan implementasi pendidikan karakter di sekolah.</p>
<p>Proses pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas merupakan momen pendidikan karakter yang sangat strategis.  Di dalam kelas, guru tak ubahnya seorang manajer yang mengendalikan dan mengarahkan lingkungannya.  Dalam perjumpaan inilah terjalin proses penanaman nilai secara lebih nyata.  Maka, guru senantiasa harus mengupayakan hal-hal berikut untuk membangun suasana belajar yang mengarah pada implementasi pendidikan karakter yang baik (Doni Koesoema, Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, 2007).</p>
<p><em>Pertama</em>, guru bertindak sebagai pengasuh, teladan, dan pembimbing.  Sudah seharusnya kita memperlakukan siswa dengan penuh cinta dan rasa hormat, mengkondisikan terciptanya keteladanan yang baik, mendukung perilaku sosial yang positif, memperbaiki perilaku yang merusak, entah karena perilaku individu atau kelompok, melalui pendampingan yang sifatnya personal dan individual, tahap demi tahap dengan penuh kesabaran, dan mengangkatnya menjadi kepihatinan  seluruh kelas.</p>
<p><em>Kedua</em>, menciptakan sebuah komunitas moral.  Guru semestinya membantu setiap siswa untuk dapat saling menghargai satu sama lain, memandang yang lain sebagai pribadi yang unik, memiliki rasa hormat, saling mengasuh satu sama lain, dan merasakan diri mereka sebagai bagian dalam dan bertanggung jawab atas kelompok.  Lingkungan komunitas moral yang baik tidak akan memunculkan perasaan ketidakadilan yang dialami siswa oleh sikap dan tutur kata yang dilakukan oleh guru.</p>
<p><em>Ketiga</em>, menegakkan disiplin moral melalui kesepakatan yang telah ditentukan sebagai aturan main bersama.  Disamping tata tertib sekolah (yang biasanya dalam penyusunannya tidak melibatkan siswa), setiap kelas hendaknya memiliki kesepakatan bersama untuk menciptakan suasan belajar yang kondusif, yang mereka rumuskan bersama-sama, sehingga siswa pun menyadari bahwa peraturan itu mengikat mereka, tetapi tidak membatasi kebebasan mereka.  Sebaliknya mereka memahami bahwa hidup bersama membutuhkan penghayatan akan kebebasan yang bertanggungjawab bagi yang lain, sebab dengan cara inilah mereka dapat menghargai satu sama lain.</p>
<p><em>Keempat</em>, menciptakan sebuah lingkungan kelas yang demokratis, dengan cara melibatkan siswa dalam mengambil keputusan dan bertanggungjawab bagi terbentuknya kelas sebagai tempat belajar yang menyenangkan, bukannya yang menyeramkan sehingga siswa enggan untuk masuk sekolah, atau sengaja menghindar dengan membolos apabila hari-hari tertentu dia akan bertemu guru yang menurutnya teramat menyebalkan.  Kelas yang dinamis adalah kelas yang berpenghuni siswa yang siap belajar dengan siapa pun juga, karena mereka punya keyakinan bahwa sosok guru yang hadir di kelasnya adalah sosok yang berkarakter baik dan konsisten.</p>
<p><em>Kelima,</em> mempergunakan metode pembelajaran melalui kerja sama agar siswa semakin mampu mengembangkan kemampuan mereka dalam memberikan apresiasi atas pendapat orang lain, berani memiliki pendapat sendiri, mampu dan mau bekerja sama dengan yang lain demi berhasilnya tujuan bersama.  Melibatkan sebanyak mungkin peran siswa dalam proses pembelajaran adalah kesempatan emas untuk mengeksplorasi <em>soft skills</em> siswa yang mengarah pada terbentuknya karakter-karakter yang baik.</p>
<p><em>Keenam</em>, membangun sebuah rasa ‘tanggungjawab bagi pembentukan diri’ dalam diri siswa dengan cara memberikan penghargaan atas kesediaan para siswa untuk  belajar, menyemangati kemampuan mereka untuk dapat bekerja keras, memiliki komitmen pada keunggulan, dan penghayatan akan nilai kerja yang dapat mempengaruhi kehidupan orang lain.  Guru harus konsisten dan obyektif dalam memberikan <em>rewards and punishments.</em></p>
<p><em>Ketujuh</em>, mengajak siswa berani mimikirkan dan mengolah persoalan yang berkaitan dengan konflik moral, melalui bacaan, penelitian, penulisan esai, kliping koran, diskusi, debat, apresiasi film, dll.</p>
<p><em>Kedelapan,</em> melatih siswa untuk belajar memecahkan konflik yang muncul secara adil dan damai tanpa kekerasan sehingga para siswa memperoleh ketrampilan moral esensial ketika harus menghadapi persoalan serupa di dalam hidup mereka.  Perlu dilatihkan kepada siswa bagaimana mereka terampil berperan sebagai mediator, penengah, dan pemecah konflik, sehingga konflik yang mengarah pada perpecahan selalu bisa dihindari.</p>
<p>Pertanyaannya adalah, “Sudahkan kita menjadikan semua tersebut di atas sebagai bekal saat kita mengambil peran menjadi seorang fasilitator di dalam kelas?” Tak perlu merasa sendiri, sebab apa yang tertulis tersebut adalah nilai-nilai yang sangat mungkin untuk diterapkan di rumah.  Karena bagaimanapun keluarga adalah unit sosial terkecil yang berpotensi besar untuk membentuk karakter siswa didik, menuju karakter-karakter baik atau sebaliknya, kitalah yang memegang peranan tersebut.   Keyakinan bahwa perbuatan baik sekecil apapun yang kita lakukan pastilah memberikan sumbangan besar bagi perubahan dan kebaikan dalam dunia kita, paling tidak bagi kita sendiri, sebab kita dapat menemukan makna dari setiap tindakan yang kita lakukan.  Mengubah dunia dengan memulainya dari diri kita, itulah awal setiap pendidikan karakter.***</p>
<p align="right"> <strong><em>(Yohana Kristianti, S.Si</em></strong></p>
<p align="right"><strong><em>Pendidik di SMP Negeri 1 Purbalingga)</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2012/02/26/pendidikan-karakter-mengapa-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketidakberdayaan Sang Pemberdaya</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2012/02/26/ketidakberdayaan-sang-pemberdaya/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2012/02/26/ketidakberdayaan-sang-pemberdaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Feb 2012 12:04:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=14048</guid>
		<description><![CDATA[ Secara sederhana, bila kita mengacu kata pemberdayaan (empowering) selama ini adalah sebuah proses untuk menguatkan serta mendayagunakan agar apa yang sebelumnya tidak berdaya menjadi berdaya. Berdaya dapat bersifat individual maupun juga bersifat tatanan sosial kemasyarakatan. Dapat pula disebut sebagai kemandirian, membangun potensi yang dimilikinya, mengidentifikasi masalah serta sanggup menemukan problem solving-nya sendiri yang mungkin berasal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-14049" title="Gilang" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2012/02/Gilang.jpg" alt="" width="246" height="262" /></strong></p>
<p><strong> </strong>Secara sederhana, bila kita mengacu kata pemberdayaan (<em>empowering</em>) selama ini adalah sebuah proses untuk menguatkan serta mendayagunakan agar apa yang sebelumnya tidak berdaya menjadi berdaya. Berdaya dapat bersifat individual maupun juga bersifat tatanan sosial kemasyarakatan. Dapat pula disebut sebagai kemandirian, membangun potensi yang dimilikinya, mengidentifikasi masalah serta sanggup menemukan <em>problem solving</em>-nya sendiri yang mungkin berasal dari dalam diri maupun yang ada di luar diri. Kalau meminjam kata Bung Karno adalah “Berdikari”. Suatu manifesto yang berarti “berdiri di kaki sendiri”. Yaitu suatu kesanggupan dan juga etos untuk dapat menggerakkan, membangkitkan semangat juang untuk maju secara kolektif dan “gagah” dalam menghadapi masalah. Masalah bisa macam-macam, bisa masalah pribadi ataupun masalah sosial yang peta persoalannya mungkin juga adalah kombinasi dari keduanya.  Bisa datang dari internal masyarakat namun juga ada yang dari faktor-faktor eksternal di luar masyarakat.</p>
<p>Term pemberdayaan, menjadi populer ketika dalam sebuah survei dan penelitian ilmiah yang di dasarkan pada <em>Human Development Index (HDI)</em> menampilkan bahwa index manusia Indonesia rata-rata masih tergolong menengah di antara negara-negara lain di dunia. Masih jauh di bawah negara-negara maju di eropa dan Amerika. Namun sedikit lebih baik di atas negara-negara Afrika yang hanya memilki lautan gurun pasir saja. Bandingkan dengan Indonesia, yang memiliki sumber daya yang melimpah ruah namun masih saja miskin. Bahkan masih kalah dengan negara serumpun Malaysia dan ironisnya kalah juga dengan negara “kecamatan&#8221; Singapura.</p>
<p>Dari itulah, di tarik benang merah penyebab masalahnya. Dan salah satu yang menjadi faktor (<em>katanya</em>) adalah ketidakberdayaan masyarakat Indonesia yang mencakup ketidakberdayaan ekonomi, sosial dan politik. 30 Tahun di bawah rezim yang represif, membuat masyarakat Indonesia, gagal dalam menghadapi arus modernisasi yang datang menyerbu bagai air bah bergulung-gulung. Rakyat Indonesia, tidak benar-benar bisa memahami, mengetahui keunggulan sumber daya lokal maupun potensi yang luar biasa ini. Untuk itulah maka, diperlukan pendobrak kejumudan cara berpikir masyarakat untuk membawa masyarakat indonesia menjadi kondisi masyarakat yang berdaya.</p>
<p>Maka disebarlah, orang-orang pilihan. Mempunyai kualifikasi dan pengalaman dalam hal pemberdayaan masyarakat. Strateg ulung yang mampu mengakomodir semua pihak, mampu di terima di semua tingkatan dan golongan serta selalu aktif mencurahkan energi, fikiran untuk masyarakat, sanggup menjadi pelayan masyarakat. Mempunyai ketrampilan teknis dan pengetahuan yang dapat di berikan untuk kemajuan masyarakat. Bahkan kalau perlu pantang makan bila rakyat belum makan. Tidak akan bisa tidur nyenyak bila masyarakat belum memperoleh hak-haknya. Pokoknya segala yang memenuhi <em>arasy</em> otaknya adalah tentang masyarakat. Mereka menyandang amanah selayaknya wali atau nabi utusan Tuhan yang bertugas membawa manusia dari jaman jahiliyah atau kebodohan menuju jaman “kepintaran”. Sehingga idealnya seorang pemberdaya masyarakat adalah seorang yang memang benar-benar berdaya dan sanggup mengatasi segala ketidakberdayaan. Karena tidak logis apabila seorang yang tidak berdaya akan sanggup mengatasi ketidakberdayaan di luar dirinya. <em>”Ngurus awake dewe wae gak iso kok meh ngurus wong liyo”.</em></p>
<p>Pemberdaya masyarakat menyandang amanah yang sangat berat. Diserang dari bawah dan ditekan dari atas. Kondisi masyarakat yang masih <em>mualaf</em> dalam hal demokrasi, merupakan tantangan yang tidak ringan. Cerita tentang seorang fasilitator yang di intervensi, di ancam baik secara verbal maupun fisik, sudah merupakan makanan sehari-hari yang harus dihadapi.  Seorang pemberdaya masyarakat sesuai dengan yang telah di amanahkan oleh MDGs (<em>Milenium Development Goals</em>) harus dapat mengurangi kemiskinan di wilayah tugasnya masing-masing. Meskipun agak sedikit kurang masuk akal, bagaimana mungkin hanya dengan pemberian bantuan 1 milyar s.d 3 milyar, dapat langsung mengubah masyarakat menjadi berdaya. Lha <em>wong</em> yang tiap tahun diberi dana bantuan saja belum tentu masyarakatnya tiba-tiba menjadi sejahtera. Namun karena itu sudah merupakan tugas dan tanggung jawabnya, pemberdaya masyarakat mau tidak mau tetap harus sanggup dan siap dalam melaksanakan tugas mulia ini.</p>
<p>Mungkin karena dirasa sebagai seorang yang harus multi talented, <em>agent culture of chang</em>e, pendekar mumpuni yang sanggup menguasai segala bidang, maka seorang pemberdaya merasa kelelahan. Capek. Melihat realita yang di jumpai di lapangan ternyata <em>njomplang </em>dan seringkali malah bertabrakan dengan teori-teori pemberdayaan baku. Belakangan baru di ketahui bahwa tidak semudah dan segampang yang tercantum dalam buku teknis dan pedoman. Teori pemberdayaan terkadang dirasa tidak relevan lagi di hadang keruwetan kondisi masyarakat.</p>
<p>Banyak faktor seperti faktor struktural, kultural, birokratis serta  faktor-faktor yang tidak akan terlacak oleh ilmu-ilmu sosial karena memang akan sangat sulit di identifikasi. Namun jelas, bahwa permasalahan yang menghadang akan sangat complicated. Anda akan mendapati 10 persen yang dilaporkan dan di umumkan dan menyimpan 90 persen hal-hal yang tabu untuk di ungkapkan kepada publik.</p>
<p>Dalam situasi seperti itu yang berlangsung selama bertahun-tahun, membuat nilai pemberdayaan mengalami distorsi dan reduksi. Nilai pemberdayaan bukan lagi menjadi nilai yang kualitatif, namun sudah bergeser menjadi nilai normatif saja. Sudah tidak peduli lagi apakah berpihak kepada masyarakat miskin atau tidak, tidak perduli apakah kualitas proses pengambilan keputusan merupakan representasi demokrasi atau tidak, karena yang terpenting adalah di atas kertas kerja saja yang penuh dengan data manipulatif. Dan puncaknya adalah kita sanggup menyelenggarakan sebuah musyawarah besar yang ternyata merupakan sandiwara serta rekayasa belaka.</p>
<p>Kondisi ini sangat ironis, karena sebagai pemberdaya kita sendiri malah tidak berdaya. Tidak berdaya menghadapi tekanan,  beban tahapan program, laporan yang absurd sehingga menyebabkan ruh moral dan etika pemberdaya terselip di tengah-tengah himpitan kegiatan. Kita di hadapkan dengan pilihan simalakama, bekerja dengan nilai dan etika namun progres akan mengalami keterlambatan ataukah bekerja di atas meja yang semuanya dapat di olah dan dibuat tanpa kita melihat kondisi sejati masyarakat namun keuntungannya adalah akan meningkatkan citra diri kita kepada program. Keterlambatan laporan akan membuat anda terancam, dan atasan akan menganggap anda tidak becus bekerja secara profesional. Sedangkan indikator evaluasi kinerja juga tidak mampu menyentuh aspek yang murni karena disana sini karena berbias dengan subjektivitas.</p>
<p>Di tengah keruwetan tersebut,  pemberdaya menjadi oleng dan mengapung-apung di tengah gelombang tahapan program kegiatan. Semuanya harus di kerjakan, dilaksanakan, diselesaikan dan di laporkan. Tidak hanya tuntutan atasan namun juga keadaan masyarakat yang menuntut pendampingan. Belum selesai satu sudah muncul tugas dan beban yang lain. Belum lagi di tambah permasalahan di dalam tubuh internal yang juga harus di selesaikan dan juga tetap di laporkan. Para pelaku pemberdayaan, menjadi malah sibuk berkutat, berdiskusi, berdebat, sampai melupakan esensi pemberdayaan itu sendiri. Kita seolah-olah harus mampu apa saja, siap kapan saja, dan tidak boleh mengeluh.</p>
<p>Sehingga bukanlah hal yang aneh, apabila di balik (katanya) kesuksesan program namun di belakang layar, kita sering mendengar celotehan bernada minor.</p>
<p>“Kalau suatu pekerjaan dikerjakan, maka pekerjaan itu akan sedikit-demi sedikit terselesaikan. Namun bila disini, semakin suatu pekerjaan itu dikerjakan, bukan malah  selesai namun malah akan tambah semakin banyak pekerjaan&#8230;.” Kata pelaku di tingkat desa.</p>
<p>Bahkan terkadang kita sering mendengar anekdot : “Kalo seperti ini bukan pemberdayaan namun lebih tepat diperdayai. Karena bukan semakin kita berdaya namun malah semakin bingung karena kebijakan sering tidak konsisten dan kurang relevan dengan kondisi di lapangan.”</p>
<p>“Kita bekerja kepada antek Kumpeni yang tidak punya hati nurani. ” Kata seseorang. “ Tidak boleh melakukan sedikit kesalahan apapun. Karena satu kesalahan yang kita lakukan akan membumihanguskan seluruh kinerja yang telah kita hasilkan.”</p>
<p>“Tidak sesuai dengan Undang-undang Ketenagakerjaan, hak-hak kita diperkosa&#8230;” Tambah seseorang pemberdaya yang sudah senior.</p>
<p>“Kita disuruh mengentaskan kemiskinan tapi tidak di beri <em>reward </em> dan jaminan keamanan hari tua. Bila program ini berhasil kita sendiri malah akan menjadi miskin, menjadi pengangguran karena kita terkena PHK.”</p>
<p>Bermacam-macam lagi <em>uneg-unegnya</em> yang masalahnya menggumpal dari dalam mereka masing-masing yang bersumber dari kekesalan dan <em>pressure</em> beban pekerjaan  yang tidak dimengerti harus di salurkan ke arah mana amarah tersebut. Karena toh bila terpaksanya dikembalikan lagi juga banyak yang tidak berani nyali. Karena perjanjian kontraknya jelas. Silahkan angkat kaki bila tidak berminat disini.</p>
<p>Dari satu sisi saja sudah dapat kita identifikasi ketidakberdayaan dalam diri kita. Alih-alih memberdayakan masyarakat,  memberdayakan diri kita sendiri saja masih tanda tanya besar. Terlihat dari banyaknya hal yang ternyata tidak sanggup kita selesaikan sehingga menjadi kebuntuan.</p>
<p>Tantangannya adalah apakah kita akan terus berkeluh kesah, terhadap pekerjaan kita yang semakin memperlihatkan ketidakberdayaan kita. Ataukah kita memulai menata kembali nilai pemberdayaan untuk dapat diterapkan kepada masyarakat yang tidak melanggar mekanisme kebijakan namun dapat diterima dengan hati dan bukan hanya administrasi. Setidaknya mari kita memulai dari kita sendiri. ***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right">N. Gilang Prayoga</p>
<p align="right"><em>Praktisi Pemberdayaan- Tinggal di Purbalingga</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2012/02/26/ketidakberdayaan-sang-pemberdaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUT Purbalingga ke 181,Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga Sampaikan Selamat</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/12/19/hu-purbalingga-ke-181bupati-dan-wakil-bupati-purbalingga-sampaikan-selamat/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/12/19/hu-purbalingga-ke-181bupati-dan-wakil-bupati-purbalingga-sampaikan-selamat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 09:13:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=13870</guid>
		<description><![CDATA[SAMBUTAN BUPATI PURBALINGGA PADA UPACARA BENDERA DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI JADI KE-181 KABUPATEN PURBALINGGA MINGGU, 18 DESEMBER 2011 ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB. SELAMAT PAGI, SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA YTH. KETUA DPRD KABUPATEN PURBALINGGA BESERTA IBU; YTH. BAPAK WAKIL BUPATI DAN PARA ANGGOTA FORUM KOMUNIKASI PIMPINAN DAERAH, MASING-MASING BESERTA IBU; YTH. BUPATI BANYUMAS, CILACAP, BANJARNEGARA DAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SAMBUTAN  BUPATI  PURBALINGGA<br />
PADA UPACARA BENDERA DALAM RANGKA MEMPERINGATI HARI JADI KE-181<br />
KABUPATEN PURBALINGGA</p>
<p>MINGGU, 18 DESEMBER 2011</p>
<p>ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.<br />
SELAMAT PAGI, SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA </p>
<p>YTH.	KETUA DPRD KABUPATEN PURBALINGGA BESERTA IBU;<br />
YTH.	BAPAK WAKIL BUPATI DAN PARA ANGGOTA FORUM KOMUNIKASI PIMPINAN DAERAH, MASING-MASING BESERTA IBU;<br />
YTH.	BUPATI BANYUMAS, CILACAP, BANJARNEGARA DAN KEBUMEN;<br />
YTH. 	PARA MANTAN BUPATI DAN MANTAN SEKDA KABUPATEN PURBALINGGA;<br />
YTH. 	PARA ANGGOTA DPRD KABUPATEN PURBALINGGA;<br />
YTH.	PLT. SEKDA DAN PARA PEJABAT DI JAJARAN PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA;<br />
YTH.	PARA KEPALA DINAS VERTIKAL DAN PARA PIMPINAN BUMN/ BUMD;<br />
YTH.	PARA ANGGOTA MUSPIKA SE-PURBALINGGA;<br />
YTH.	PARA PIMPINAN PARPOL/ ORGANISASI PEMUDA/ ORGANISASI WANITA/ ORGANISASI MASYARAKAT DAN LSM SE-KABUPATEN PURBALINGGA;<br />
YTH. 	PARA PIMPINAN PERUSAHAAN/ TOKO DAN RADIO SE- KABUPATEN PURBALINGGA<br />
DAN	SELURUH PESERTA UPACARA YANG BERBAHAGIA;</p>
<p>TERIRING RASA SYUKUR ALHAMDHULILLAH KEHADIRAT TUHAN YANG MAHA KUASA, BERBAHAGIA SEKALI PAGI INI KITA DAPAT BERSAMA-SAMA HADIR MELAKSANAKAN UPACARA MEMPERINGATI HARI JADI KE–181 KABUPATEN PURBALINGGA, DALAM KEADAAN SEHAT WAL’AFIAT  DAN DALAM SUASANA PENUH PERSAUDARAAN.<br />
UNTUK ITULAH, SAYA ATAS NAMA PRIBADI DAN PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA MENYAMPAIKAN ‘UCAPAN SELAMAT DAN DIRGAHAYU  KE-181 KABUPATEN PURBALINGGA’ KEPADA SEGENAP WARGA MASYARAKAT PURBALINGGA. SEMOGA DENGAN BERTAMBAHNYA USIA KABUPATEN PURBALINGGA INI MENDORONG KEMAJUAN PEMBANGUNAN YANG DILANDASI SEMANGAT PERSATUAN, KEBERSAMAAN, KEGOTONGROYONGAN DAN KERJASAMA GUNA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT. </p>
<p>HADIRIN TAMU UNDANGAN DAN PESERTA UPACARA YANG BERBAHAGIA; </p>
<p>SEBAGAIMANA KITA KETAHUI PENENTUAN HARI JADI PURBALINGGA DIDASARKAN PADA PENELITIAN LITERATUR YANG DILAKUKAN OLEH LEMBAGA PENGABDIAN MASYARAKAT (LPM) UNIVERSITAS GAJAH MADA (UGM). LPM UGM MELAKUKAN PENELITIAN MEMBANDINGKAN EMPAT BABAD DENGAN ARSIP PENINGGALAN PEMERINTAH HINDIA BELANDA YANG DISIMPAN DALAM KOLEKSI ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA. HASILNYA DISEPAKATI BAHWA HARI JADI PURBALINGGA JATUH PADA TANGGAL 18 DESEMBER 1830 ATAU 3 RAJAB 1246 HIJRIAH ATAU 3 RAJAB 1758 JE YANG DALAM SURYA SENGKALANYA TERTULIS SIREPING RANANGGONO HANGESTI PROJO. HARI JADI PURBALINGGA TELAH DITETAPKAN MELALUI PERATURAN DAERAH (PERDA) KABUPATEN DATI II PURBALINGGA NOMOR 15 TAHUN 1996, TANGGAL 19 NOVEMBER 1996.<br />
TANPA MENGURANGI KEHIDMATAN DAN MAKNA YANG TERKANDUNG DIDALAMNYA, PERINGATAN HARI JADI KABUPATEN PURBALINGGA KE-181 KAMI SELENGGARAKAN LEBIH MERIAH DIBANDING TAHUN LALU, NAMUN DENGAN TETAP TIDAK MENINGGALKAN ASPEK KESEDERHANAAN.  PERINGATAN HARI JADI MERUPAKAN MOMENTUM YANG SANGAT PENTING DAN STRATEGIS SEBAGAI UNGKAPAN SYUKUR DAN TERIMA KASIH KITA KEHADIRAT ALLAH SWT-TUHAN YANG MAHA KUASA, YANG TELAH MELIMPAHKAN BERBAGAI RAHMAT DAN KASIH SAYANGNYA KEPADA SEGENAP WARGA MASYARAKAT PURBALINGGA, SERTA SEBAGAI SUATU BENTUK PENGHARGAAN DAN PENGHORMATAN  KEPADA PENDAHULU YANG TELAH MERINTIS BERDIRINYA, ATAUPUN GENERASI SESUDAHNYA YANG TELAH MEMIMPIN DAN MEMEGANG KENDALI PEMERINTAHAN DI KABUPATEN PURBALINGGA. MEREKA JUGA TELAH MENGABDI DAN BERKARYA UNTUK KEMAJUAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PURBALINGGA.<br />
DALAM KAITANNYA DENGAN ITU,  KITA SEMUA MERASAKAN DARI WAKTU KE WAKTU, KABUPATEN PURBALINGGA MENGALAMI BERBAGAI MACAM DINAMIKA KEHIDUPAN, BAIK EKONOMI, SOSIAL, POLITIK  MAUPUN BUDAYA.<br />
TANTANGAN, HAMBATAN,  DAN HARAPAN JUGA MENYERTAI  DINAMIKA TERSEBUT.  SEMUA  ITU MERUPAKAN PENGALAMAN YANG HARUS KITA JADIKAN MOTIVASI UNTUK MENATAP MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK DAN MENYELESAIKAN BERBAGAI PERSOALAN, BAIK YANG SEDANG MAUPUN YANG AKAN TERJADI.  UNTUK ITU, MOMENTUM PERINGATAN HARI JADI  PURBALINGGA TAHUN INI HENDAKNYA DAPAT KITA GUNAKAN SEBAGAI WAHANA REFLEKSI DAN INTROSPEKSI DIRI SECARA MENDALAM SESUAI DENGAN FILOSOFI  OJO RUMONGSO BISO, NANGING BISO RUMONGSO. ARTINYA, MELALUI MOMENTUM HARI JADI INI KITA PERLU MERENUNGKAN APA SAJA YANG TELAH BERHASIL KITA LAKSANAKAN DAN MENCERMATI HAL  &#8211; HAL YANG BELUM DAPAT KITA SELESAIKAN SEBAGAI BEKAL MENYUSUN PROGRAM DAN KEGIATAN DI MASA YANG AKAN DATANG.<br />
HADIRIN TAMU UNDANGAN DAN PESERTA UPACARA YANG BERBAHAGIA; </p>
<p>PERINGATAN HARI JADI TAHUN INI MENGANGKAT TEMA : “DENGAN HARI JADI KE 181, KITA MANTAPKAN SEMANGAT PERSATUAN, KEBERSAMAAN, KEGOTONGROYONGAN DAN KERJASAMA SEGENAP JAJARAN APARAT DAN SELURUH MASYARAKAT UNTUK MEMBANGUN DAN MEMAJUKAN KABUPATEN PURBALINGGA”.  HAL INI DIDASARI PEMIKIRAN BAHWA HARI JADI MERUPAKAN MOMENTUM   YANG TEPAT UNTUK MEMPERKUAT IKATAN PERSATUAN, KEBERSAMAAN DAN KEGOTONGROYONGAN ATAU SOLIDARITAS SOSIAL  DIANTARA SELURUH KOMPONEN MASYARAKAT PURBALINGGA. APAPUN LATAR BELAKANG, SUKU, AGAMA, STATUS SOSIAL, DAN STATUS EKONOMINYA, KITA SEMUA HARUS RUKUN DAN BERSATU UNTUK MENCAPAI KESEJAHTERAAN.  JANGAN SAMPAI PERBEDAAN YANG ADA MENJADI PENGHALANG BAGI KITA SEMUA UNTUK  HIDUP RUKUN.  MARI KITA BERSATU DAN HIDUP RUKUN AGAR TERCAPAI KESEJAHTERAAN DAN KEDAMAIAN SEPERTI YANG KITA HARAPKAN BERSAMA.<br />
SELAMA INI, SEMANGAT KEBERSAMAAN DAN GOTONG ROYONG TELAH MENJADI SPIRIT BAGI PEMERINTAH DAN MASYARAKAT PURBALINGGA DALAM MELAKSANAKAN PEMERINTAHAN, PEMBANGUNAN, DAN PELAYANAN KEMASYARAKATAN.  SEBAGAI BENTUK RASA TERIMA KASIH DAN PENGHARGAAN KEPADA MASYARAKAT PURBALINGGA YANG SELAMA INI SECARA IKHLAS DAN KONSISTEN BERPARTISIPASI DALAM PROSES PEMBANGUNAN, PADA MOMENTUM HARI JADI TAHUN INI TELAH DAN AKAN  DISELENGGARAKAN BERBAGAI KEGIATAN SEBAGAI BERIKUT :<br />
1.	SENAM SEHAT DI HALAMAN PASAR SEGAMAS.<br />
2.	PEMBERIAN TALI ASIH KEPADA PARA PENSIUNAN PNS.<br />
3.	PEMBERIAN BANTUAN DANA PENDIDIKAN KEPADA ANAK-ANAK PNS GOLONGAN I DAN II.<br />
4.	ZIARAH KE MAKAM ARSANTAKA DAN GIRI CENDANA UNTUK BERDO’A DAN DENGAN HARAPAN KITA SENANTIASA MENGINGAT DAN MENGHARGAI JASA  – JASA ORANG  – ORANG YANG BERJASA BESAR KEPADA PURBALINGGA. JUGA KE MAKAM MANTAN KETUA DPRD PURBALINGGA LETKOL PURNAWIRAWAN KARSONO DI TAMAN MAKAM PAHLAWAN PURBOSAROYO DAN MAKAM SALIMAN DI KELURAHAN WIRASANA.<br />
5.	PAGELARAN SENI, BAIK MODERN MAUPUN TRADISIONAL DALAM PEKAN BUDAYA, YANG MULAI DIGELAR USAI PELAKSANAAN UPACARA INI DENGAN PAWAI BUDAYA YANG DIIKUTI OLEH UTUSAN DARI 18 KECAMATAN SE-PURBALINGGA, SERTA DIDUKUNG  KESENIAN DARI JAWA TIMUR, JATIM DAN JAWA TENGAH. </p>
<p>HADIRIN DAN PESERTA UPACARA YANG SAYA HORMATI;</p>
<p>DI TENGAH KEBERHASILAN YANG DAPAT KITA RASAKAN, KITA TETAP PERLU WASPADA DAN MELAKUKAN LANGKAH ANTISIPASI UNTUK MENJAGA KONDUSIVITAS KEHIDUPAN, AGAR TIDAK TERKONTAMINASI KRISIS YANG SAAT INI SEDANG MENGHADANG DI DEPAN MATA, YAITU : KRISIS JATIDIRI, KRISIS IDEOLOGI, KRISIS KARAKTER DAN KRISIS KEPERCAYAAN YANG DAPAT MEMPORAK PORANDAKAN PERSATUAN DAN KESATUAN.<br />
	UNTUK ITU, KAMI JUGA SEJALAN DENGAN SIKAP PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH YANG TETAP KONSISTEN MELAKSANAKAN KOMITMEN SEBAGAI BENTENG PANCASILA DAN BASIS PEMBANGUNAN, DENGAN TERUS MEMPERERAT TALI PERSAUDARAAN DAN SEMANGAT GOTONG-ROYONG DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI. ITULAH JATIDIRI KITA YANG CINTA DAMAI DAN SUKA BERMUSYAWARAH, SEHINGGA SETIAP KESULITAN YANG KITA HADAPAI, DAPAT KITA UPAYAKAN SOLUSINYA, DENGAN TETAP MENJAGA KEHIDUPAN YANG AMAN, NYAMAN, TENTERAM, DAMAI DAN SEJAHTERA.<br />
	SOSIALISASI PEMANTAPAN KEMBALI PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI, PANDANGAN HIDUP, DAN DASAR NEGARA INDONESIA, MARI KITA DENGUNGKAN KAMBALI DAN KITA LAKSANAKAN DALAM PRAKTIK KEHIDUPAN SEHARI-HARI.</p>
<p>HADIRIN DAN PESERTA UPACARA YANG SAYA HORMATI;</p>
<p>	DEMIKIANLAH YANG DAPAT SAYA SAMPAIKAN PADA KESEMPATAN UPACARA MEMPERINGATI HARI JADI KE-181 KABUPATEN PURBALINGGA. KEPADA SELURUH JAJARAN PEMERINTAHAN,  STAKEHOLDERS, DAN SELURUH ELEMEN MASYARAKAT,  MARI KITA GELORAKAN TERUS GUMREGAH NYAMBUT GAWE DAN  BEKERJA LEBIH KERAS LAGI MENUJU MASYARAKAT PURBALINGGA YANG SEMAKIN SEJAHTERA.<br />
MASYARAKAT HARUS BERSATU DENGAN APARATUR PEMERINTAHAN DALAM MENYELENGGARAKAN PEMBANGUNAN.   SESANTI DASAR PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA YANG TERCANTUM DALAM LAMBANG DAERAH YAKNI PRASETYANING NAYAKA AMANGUN PRAJA, SESUNGGUHNYA MENGISYARATKAN ADANYA KEBULATAN TEKAD  PARA PENYELENGGARA PEMERINTAHAN DAN MASYARAKAT LUAS UNTUK BERSAMA-SAMA, BERSATU PADU DAN BERSINERGI DALAM MEMBANGUN DAERAHNYA, ATAU BERSATU PADU BERSAMA-SAMA BERGOTONG ROYONG MEMAYU HAYUNING BAWANA, MEMBANGUN DAN MEMAJUKAN DAERAHNYA, DAERAH KITA KABUPATEN PURBALINGGA. </p>
<p>DIRGAHAYU KABUPATEN PURBALINGGA<br />
SEMOGA TUHAN YANG MAHA KUASA SENANTIASA MEMBERIKAN KESEHATAN, KEMUDAHAN DAN PENGAYOMAN KEPADA KITA DALAM MERAIH SUKSES PEMBANGUNAN PURBALINGGA. </p>
<p>SEKIAN DAN TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA.<br />
WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.</p>
<p>BUPATI PURBALINGGA,</p>
<p>Drs. H. HERU SUDJATMOKO, M.SI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/12/19/hu-purbalingga-ke-181bupati-dan-wakil-bupati-purbalingga-sampaikan-selamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendapat Buya HAMKA tentang Ahmadiyah</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/02/10/pendapat-buya-hamka-tentang-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/02/10/pendapat-buya-hamka-tentang-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2011 13:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadiyah; buya hamka; kekerasan agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=12891</guid>
		<description><![CDATA[‘Kekerasan’ atas nama agama akhir-akhir ini marak terjadi. Antara lain terhadap kelompok Ahmadiyah. Apa dan bagaimana Ahmadiyah?  Terlampir adalah sebuah kutipan oleh Buya Hamka (Hadji &#8216;Abdulmalik bin Abdulkarim Amrullah) salah satu Ulama dan sastrawan Besar yang pernah lahir di Indonesia tentang apa itu Ahmadiyah yang saya sunting dan kutip dari buku HAMKA, 1956, &#8220;Peladjaran Agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-13079" title="buya" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2011/02/buya-422x270.jpg" alt="" width="422" height="270" /></p>
<p>‘Kekerasan’ atas nama agama akhir-akhir ini marak terjadi. Antara lain terhadap kelompok Ahmadiyah. Apa dan bagaimana Ahmadiyah?  Terlampir adalah sebuah kutipan oleh Buya Hamka (Hadji &#8216;Abdulmalik bin Abdulkarim Amrullah) salah satu Ulama dan sastrawan Besar yang pernah lahir di Indonesia tentang apa itu Ahmadiyah yang saya sunting dan kutip dari buku HAMKA, 1956, &#8220;Peladjaran Agama Islam,&#8221; Penerbit &#8220;Bulan-Bintang,&#8221; Djakarta, Tjetakan Pertama. Semoga bermanfaat.</p>
<p>T<strong>AK ADA NABI SESUDAH MUHAMMAD</strong></p>
<p>Tak ada lagi nabi sesudah Muhammad, dan tidak ada rasul. Baik nabi yang akan dinamai &#8220;pengiring&#8221; Muhammad, atau nabi yang membawa syariat baru. Demikian kepercayaan Ummat sejak Quran diturunkan.</p>
<p>Nabi Muhammad pun bersabda:   &#8220;Tidak ada nabi lagi sesudahku.&#8221;</p>
<p>Tak ada nabi atau rasul lagi, sebab tidak ada SOAL lagi.</p>
<p>Soal apa lagi yang akan dibawa oleh nabi yang baru? Sedang masyarakat manusia sudah lebih maju, dan ada jalan kesanggupan buat mencari Kebenaran Tuhan Yang Maha Esa dan Kuasa dengan sendirinya. Bukan saja Quran, bahkan kitab Taurat dan Injil dan Zabur telah dicetak bermilliun banyaknya. Meskipun menurut kepercayaan Islam, dalam Quran telah terkumpul intisari dari kitab-kitab terdahulu itu.</p>
<p>Memang! Manusia senantiasa maju dalam mencari Ilmu pengetahuan. Senantiasa maju didalam mencari rahasia isi bumi, bahkan bulan dilangitpun telah diselidiki orang. Tentang kemajuan disudut ini, tidaklah ada diantara kita yang membantahnya. Tetapi bagaimanapun kemajuan Ilmu pengetahuan, namun inti dari ilmu pengetahuan itu sudah ada dalam ajaran Tauhid, yang sudah genap diajarkan oleh Muhammad. Inti kepercayaan kepada Tuhan sudah cukup, tidak perlu tambahan lagi dari orang yang mengatakan dirinya nabi atau dikatakan oleh pengikutnya nabi.</p>
<p>halaman 191</p>
<p><strong>PERCOBAAN MENGAKU NABI LAIN SESUDAH MUHAMMAD</strong></p>
<p>Berkali-kali telah dicoba orang juga mendakwakan dirinya Nabi pula, ada yang sengaja hendak menandingi Muhammad, dan ada pula yang mengatakan syariat Muhammad telah putus, sebab nabi baru telah datang membawa syariat baru. Dan ada pula yang mengatakan bahwa dia, atau guru ikutannya, adalah nabi pula sesudah Muhammad. Tetapi bukan membawa syariat baru. Kedatangannya hanyalah hendak menyempurnakan syariat Muhammad saja.</p>
<p>Berkali-kali orang seperti ini telah datang, tetapi kemudian ternyata seruannya hilang saja, tidak hidup. Karena kebesaran Tauhid ajaran Muhammad menelan habis satu percobaan yang lain. Nabi-nabi dusta tumbang dengan sendirinya, tidak dapat berurat di bumi ini. Mereka gagal, karena dustanya, dan karena soal yang dibawanya itu tidak cukup satu seperseratus dari soal Nubuwwat Muhammad.</p>
<p><strong>AHMADIYAH</strong></p>
<p>Mirza Ghulam Ahmad di Qadiyan India-pun mendakwakan pula dirinya Mahdi dan Isa. Jadi sekaligus keduanya, berbeda dengan Al-Bab dan Bahaullah. Diapun menerima wahyu-wahyu Illahi, menurut dakwanya. Tetapi ada perbedaan sedikit, karena Mirza Ghulam Ahmad, katanya, bukanlah menghapuskan syariat Muhammad dengan syariat yang baru. Dia adalah Nabi Pengiring. Dialah Mahdi yang ditunggu dan Isa yang dijanjikan, dan dia pulalah Mujaddid yang mesti datang tiap seratus tahun sekali.</p>
<p>Pengikut Mirza Ghulam Ahmad pun pecah menjadi dua pula. Keduanya sama-sama bernama Ahmadiyah. Pertama, Ahmadiyah Qadiyan, mempunyai Kalifatul-Masih yaitu Kalifah dari Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Golongan Lahore memisahkan diri dan mengakui Mirza Ghulam Ahmad hanyalah semata-mata guru dan mujaddid. Terjadi pertentangan diantara keduanya, karena golongan Qadiyan menuduh kafir golongan Lahore karena hanya mengakui mujaddid saja. Golongan Lahore yang memisahkan  diri itu dikepalai oleh Maulana Mohammad Ali dan Kawaya Kamaluddin.</p>
<p>Kedua golongan Ahmadiyah ini sama-sama berusaha menyiarkan Islam, tetapi melalui dasar faham mereka lebih dahulu, yaitu Mirza Ghulam Ahmad (Al-Masih al-Mau&#8217;ud) bagi Qadiyani, dan Mirza Ghulam Ahmad (Mujaddid Abad ke-20) bagi kaum Lahore.</p>
<p>halaman 194</p>
<p><strong>PENDAPAT KITA</strong></p>
<p>Kita tetap memegang pendirian Ahli Sunnah, bahwa sesudah Muhammad tidak akan datang nabi lagi. Karena soalnya sudah habis. kalau akan kita terima kedatangan itu, manakah yang akan kita tetapkan? Apakah Mirza Ghulam Ahmad, atau Mirza Ali Muhammad (Al-Bab), atau Bahaullah? Atau kita akui semuanya, padahal diantara satu sama lain berlawanan pula. Atau kita akui semuanya, dan kita akui pula yang lain yang akan mendakwakan dirinya menjadi nabi pula nanti.</p>
<p>Kalau dikatakan karena dia menyerukan perdamaian Dunia, maka dia membawa syariat baru, tidak bolehkah Mahatma Gandhi dikatakan pula nabi? Atau Krisna Vedanta di Colorado? Yang juga menyerukan perdamaian dunia.</p>
<p>Kaum Ahmadi  mengemukakan alasan yang sama untuk menolak pendirian umum bahwa Nabi Muhammad &#8220;Penutup Segala Nabi,&#8221; dengan ayat &#8220;Khataman Nabiyyin.&#8221; Menurut qiraat (bacaan) yang umum ayat itu dibaca &#8220;Khatam,&#8221; bukan &#8220;Khatim.&#8221; Tetapi artinya adalah &#8220;Khatim.&#8221; Khatam artinya cincin, dan Khatim artinya penutup.</p>
<p>Khataman Nabiyyin artinya cincin permata segala nabi. Kalau sekiranya kita perturutkan rasa bahasa, tentu Nabi Muhammad itu tidak nabi lagi, hanyalah cincin perhiasan segala nabi-nabi. Yang mempunyai cincinlah yang nabi, bukan cincin itu sendiri.</p>
<p>Didalam keterangan yang biasa mereka kemukakan, adalah bahwa tidaklah perkara yang mustahil bahwa Allah akan berkata-kata dengan hambanya. Tidaklah akan putus sampai hari kiamat orang yang dipilih Allah buat menumpahkan katanya. Tidaklah akan hilang begitu saja wahyu sampai kiamat.</p>
<p>Tentang itu Ahli Sunnah-pun mengakui juga. Di kalangan sahabat Nabi, ketika Nabi masih hidup terdapatlah orang istimewa yang demikian. Yaitu Umar bin Khattab. Sehingga Nabi Muhammad pernah mengatakan, bahwasanya jika ada nabi sesudahku, niscaya Umarlah orang itu. Tetapi tidak ada lagi nabi sesudahku.</p>
<p>Mengapa tidak? Nabi Muhammad sendiri menjelaskan bahwa &#8220;Ulama-ulama umatku adalah sama derajatnya dengan nabi-nabi Bani Israil.&#8221; Kalau kata nabi yang demikian akan diperluas, maka seluruh ulama yang berjasa membangun Islam, patutlah disebut nabi. Imam Al-Ghazali, Imam ul Haramain, Ibnu Taimiyah, dan muridnya Ibnu Qayyim, dan Syeh Muhammad ibnu Abdil Wahhab, dan Said Jamaluddin Al-Afghani, dan Syeh Muhammad Abduh dan Said Rasyid Ridha, patutlah disebut sebagai nabi. Karena mereka dalam sifat keulamaannya samalah jasanya dengan nabi-nabi Bani Israil. Dan orang Indonesia dalam kalangan Nahdhatul Ulama patutlah menyebut kyai besarnya Hasyim Ashari sebagai nabi, sebab jasanya besar pula. Demikian pula Muhammadiyah dengan Kyai H.A. Dahlannya.</p>
<p>Banyak diantara ulama mendapat ilham dari Tuhan, seakan-akan wahyu Illahi. Karena mereka berfaham Ahli Sunnah, tidaklah mereka berani mengatakan dirinya nabi. Dan kalau mereka mendakwakan dirinya nabi, akan musnahlah mereka.</p>
<p>Kalimat wahyu suci yang diberikan Tuhan, oleh faham Ahli Sunnah telah ditentukan buat rasul dan nabi. Setinggi-tinggi martabat manusia ini hanyalah mendapat hatif atau ilham, atau mimpi yang benar, atau mahaddas. Kalau wahyu itu dikatakan akan putus selama-lamanya, perkataan itu benar juga dari segi lain. Lebah menurut Sabda Tuhan didalam Quran, mendapat wahyu untuk membuat sarangnya di bukit dan di bubungan rumah. Ibu Musa mendapat wahyu Tuhan supaya melemparkan puteranya dalam peti di sungai Nil. Dan lebah bukanlah nabi, padahal sampai sekarang tidaklah putus dia mendapat wahyu itu, selama dia masih bersarang di bukit dan di bubungan rumah. Dan ibu Nabi Musa bukanlah nabi.</p>
<p><strong>HADIST MAHDI DAN ISA</strong></p>
<p>Al-Quran tidaklah memberikan tuntunan yang tegas tentang akan turunnya Mahdi dan Isa di akhir jaman. Padahal tiga orang yang mengaku dirinya Nabi atau Rasul di jaman ini (Mirza Ghulam Ahmad, Miza Ahli Muhammad dan Bahaullah), belum dapat menegakkan pendakwaan itu, kalau tidak berdasar kepada hadis-hadis tentang turunnya Mahdi dan Isa itu.</p>
<p>Seratus tahun sesudah Nabi Muhammad wafat, barulah orang mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan hadis. Yang lebih dahulu dikumpulkan hanyalah Quran. Jadi dalam masa 100 tahun adalah masa &#8220;kosong&#8221; yang merupakan kesempatan untuk membuat hadis bagi golongan-golongan yang bertentangan. Terutama kaum Syiah. Payahlah ulama hadis menjaring hadis mana yang masyhur, mana yang shahih, mana yang dhaif dan mana yang maudhu. Pertentangan-pertentangan yang maha hebat di waktu itu di antara beberapa firkah yang timbul karena politik, menimbulkan golongan-golongan yang sampai hati membuat hadis-hadis palsu, sehingga payah menjaringnya setelah ilmu hadis muncul sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Ibnu Khuldun didalam &#8220;Muqaddamah&#8221; tarikhnya mengkaji satu-persatu hadis Mahdi itu dan menyelidiki sanad serta matannya sedalam-dalamnya, sehingga kemudian diambil kesimpulan bahwasanya sebagian besar dari hadis ini tidak dapat diterima. Oleh sebab itu maka kaum Ahli Sunnah tidaklah menjadikan hadis-hadis Mahdi atau nuzul Isa itu menjadi pokok kepercayaan prinsipiil.</p>
<p>Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya Nabi Isa. Lebih-lebih telah tersebut pula dalam satu hadis, bahwa &#8220;Mahdi itu tidak lain adalah Isa.&#8221; Mereka perbincangkan apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan kelangit, ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan manusia. Tuhan bersabda tentang Nabi Isa:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Aku mewafatkan engkau  dan mengangkatkan engkau kepadaKu.&#8221;</p>
<p>Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum mati, dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke langit dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain dari kata &#8220;wafat&#8221; itu. Tetapi yang berpendapat bahwa Nabi Isa mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut zahir bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan yang mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.</p>
<p>Orang Ahmadi memegang tafsir yang menyatakan bahwa Nabi Isa telah wafat, telah mati. Dan kemudian dari hal itu, merekapun menguatkan bahwa Nabi Isa akan datang kembali. Yang datang itu bukan Isa Israili yang dahulu, karena dia telah jelas meninggal. Yang ditunggu kedatangannya sebagaimana tersebut dalam hadis adalah orang lain yang membawa sifat-sifat Isa. Kata orang Ahmadi, orang itu adalah Mirza Ghulam Ahmad.</p>
<p>Sebenarnya kepercayaan tentang akan datangnya Mahdi diakhir zaman, atau Nabi Isa akan datang kembali, atau Messiah menurut kepercayaan Yahudi, atau Buddha Gautama bagi orang beragama Buddha, mendalam juga dalam kalangan kaum Syiah yang selalu menunggu-nunggu kembalinya Imam mereka yang ghaib. Ismailliyah menunggu Ismail. Istna Asyriyah menunggu Muhammad bin Hasan Al-Askary, Imam Syiah ke-12. Kisaniyah menunggu datangnya kembali Muhammad bin Ali Hanafiyah Semuanya itu sekarang tengah ghaib dan akan datang kembali!</p>
<p>Kepercayaan seperti inipun mendalam pula pada setengah penganut tasawuf, yang mempercayai bahwa alam diatur oleh wali-wali Allah yang bernama &#8220;Watad,&#8221; dan &#8220;Badal,&#8221; dan &#8220;Quthub.&#8221; &#8220;Quthub&#8221; itu adalah ghaib pula. Di Indonesia kepercayaan ini sangat mendalam dalam filsafat kejawen yang menunggu kedatangan Ratu Adil.</p>
<p>Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa dialah yang ditunggu-tunggu itu. Dialah Isa Al-Masih yang dijanjikan, dia pula Mahdi yang ditunggu-tunggu. Dan karena ada pula sebuah hadis menyatakan bahwa setiap 100 tahun akan datang seorang mujaddid (pembaharu keagamaan), maka dia pulalah mujaddid itu. Pendeknya segala yang ditunggu-tunggu itu, tidak ada orang lain, melainkan dirinya sendirilah.</p>
<p>Oleh karena dialah Al-Masih, tentu dialah nabi. Kadang-kadang Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa dia bukanlah membawa syariat baru. Dia dengan Nabi Muhammad saw adalah bagaikan Harun terhadap Musa belaka. Penguat syariat Muhammad, bukan pengubahnya. Tetapi satu hal dia menyatakan memang berubah yaitu jihad. Jihad tidaklah dengan senjata, cukup dengan mengemukakan alasan-alasan belaka. Adapun Bahaullah menyatakan dirinya terang-terang nabi lain sesudah Muhammad. Dengan kedatangannya habislah tugas agama Al-Bab dengan kitabnya Al-Bayan. Dan dengan kedatangan Al-Bab dahulu, habis pulalah tugas syariat Muhammad.</p>
<p>Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang kepada ayat yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa Nabi Isa telah wafat. Nabi Isa telah wafat, dengan berdasarkan kepada &#8220;mutawaffika&#8221; tadi. Dan dia telah diangkat ke hadirat Allah, (wa rafi&#8217;uka ilayya), sebagaimana setiap roh yang suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.</p>
<p>Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia, sebelum hari kiamat datang, adalah hadis yang bernama &#8220;Al-Uhad.&#8221; Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka menurut pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau sekiranya tidak kita jadikan menjadi pokok kepercayaan, sebagaimana pokok kepercayaan yang enam perkara (rukun iman), tidaklah kita keluar dari Agama Islam.</p>
<p>Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak kekuasaan Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke dunia, tidaklah hal yang mustahil, walaupun tulangnya telah hancur. Bukanlah didalam Al-Quran ada tersebut cerita burung-burung yang telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan. Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke puncak empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim supaya empat burung itu dipanggil kembali. Maka datanglah keempat burung itu, dengan izin Allah!</p>
<p>Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya Nabi Isa kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat, hanyalah permulaan saja dari kebangkitan mahluk Tuhan yang lain. Seluruh insan dihari kemudian akan dibangkitkan. Hanya Isa Al-Masih didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.</p>
<p>Oleh sebab itu, maka pendakwaan orang-orang seperti Mirza Ghulam Ahmad, bahwa merekalah Isa Al-Masih yang dijanjikan itu, tidaklah kita percayai. Kita memandang mereka itu hanyalah sebagai pendakwa-pendakwa kenabian yang lain juga. Sebelum merekapun telah ada juga pendakwa kenabian itu. Menggelegak menggejala setahun dua tahun, taruhlah sepuluh-duapuluh tahun, kemudian padam lagi. Dan kelak akan begitu pula. Bukan saja yang seperti ini ada dalam Islam, juga ada dalam agama Kristen. Bahkan kaum theosofi pernah mengemukakan Khrisna Murti sebagai Al-Masih yang ditunggu-tunggu itu.</p>
<p>Kaum Ahmadi mengambil alasan atas kebenaran seruan mereka, ialah karena kian lama faham mereka kian tersiar, terutama di benua Eropa dan Amerika. Ini bukan alasan! Sebab kehausan manusia di kedua benua itu akan tuntunan rohani, setelah terlalu tenggelam dalam hidup kebendaan, menyebabkan ada diantara mereka yang lekas saja menerima suatu propaganda baru. Bukan faham Ahmadi saja yang mereka terima, gerakan yang lainpun mendapat pasaran subur juga disana. Di Jerman telah ada pula penganut faham Buddha dan mempunyai biara sendiri. Pelajaran tasawuf dari Inayat Khan mendapat penganut juga. Bahkan seorang yang mendakwakan dirinya Al-Masih dan memakai gelar Khrisna Vedanta di negara bagian Colorado, USA, telah mendapat pengikut pula. Demikian pula seorang kulit hitam di Pennsylvania (Philadelphia) mengaku dirinya Tuhan dan memakai nama Father Divine, tidak pula kurang penganut dan pengikutnya.</p>
<p>Di Amerika muncul tidak kurang 200 sekte Kristen. Masing-masing mengatakan bahwa mazhab mereka kian lama kian besar dan melebihi yang lain.</p>
<p>Terutama kaum Bahai! Mereka timbul di negeri Iran yaitu pada jaman pemerintahan Sultan Nasiruddin Syah. Seorang syah yang terkenal kejam pemerintahannya dan berkuasa tanpa batas. Bahaullah pada mulanya mengajarkan pembelaan hak kaum wanita, menganjurkan penghentian poligami, mengatakan bahwa dalam ajarannya tidak ada kekuasaan kaum mullah. Tentu saja ajaran &#8220;baru&#8221; dari Bahaullah ini menggoncangkan politik dan susunan masyarakat kerajaan, persekutuan kaum mullah dengan Syah. Kaum ini dikafirkan dan diperangi. Al-Bab sampai dibunuh dan Bahaullah dibuang keluar negeri. Padahal setelah kecerdasan beragama maju kembali, orang telah merasa bahwa tidak perlu ada nabi baru membawa ajaran baru. Seruan-seruan yang diserukan Bhaullah itu memang telah ada dalam tubuh Islam ajaran Muhammad sendiri, dengan tidak usah keluar dahulu dari Islam, dan membuat agama baru.</p>
<p>Adapun kaum Ahmadi dan usahanya melebarkan Islam ke benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka menafsirkan Quran kedalam bahasa-bahasa yang ada di Eropa. Padahal di jaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh mentafsirkan Quran. Pentafsiran Quran dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang menginginkan kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali untuk memperdalam selidiknya tentang Islam. Orang sekarang telah pandai menimbang. Tafsir kaum Ahmadi itu mereka baca juga. Yang baik mereka terima dan kepercayaan tetang kenabian, kerasulan, kemahdian, ke-Al-Masih-an Mirza Ghulam Ahmad mereka singkirkan ketepi. Dan tafsir-tafsir karangan ulama Islam sendiripun telah muncul, yang isinya jauh melebihi tafsir Ahmadi. Kelebihan tafsir Ahmadi hanyalah karena ditulis dalam bahasa Barat, menarik hati kaum terpelajar cara Barat, tapi kosong ilmunya tentang bahasa Arab.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, ketika gerakan-gerakan ini mulai masuk, agak ribut juga orang menerimanya. Apalagi mereka suka berdebat-debat sebagai alat propaganda untuk menarik perhatian. Dalam pada itu maka pengertian kaum Islam tentang agama bertambah mendalam, ahli-ahli Islampun telah timbul lebih banyak daripada dahulu. Kian lama kian sepi gerakan mereka. Yang dapat tertarik hanyalah orang-orang yang belum ada pengertiannya tentang Islam. Setinggi-tinggi usaha mereka adalah memelihara pengikut-pengikutnya. Di Tempat yang kuat Islamnya, seperti di Padang Panjang, terpaksa pengikut-pengikutnya itu meninggalkan kampung halaman, dan pindah ke kota Jakarta, sebab &#8220;bebas&#8221; mengerjakan kepercayaannya. Sikap merekapun telah berubah!</p>
<p>Jika semula pada waktu pertama kali mereka suka mengajak berdebat, diakhir-akhir ini mereka mengambil sikap hanya mempertahankan diri jika datang serangan. Tandanya bahwa pasaran mereka telah mulai sepi.</p>
<p>Adapun kalau ada tambahan pengikut mereka, tidaklah hal demikian mengherankan kita di Indonesia ini. Buka saja Ahmadiyah, Bahai-pun telah ada pengikutnya disini. Bukan saja Bahai dan Ahmadi, bahkan Katolik dan Protestan-pun ada juga tambahan penganutnya disini. Bahkan orang yang masuk komunis-pun ada. Sebabnya adalah karena Islam di Indonesia pada jaman yang sudah-sudah terdesak oleh beberapa desakan. Baik politik, atau ekonomi atau kejahilan tentang ajaran agama Islam sebenarnya.</p>
<p>Semuanya ini adalah cemeti untuk membangkitkan beransang kaum Muslimin, dibawah pimpinan ulama dan pimpinanNya supaya bangkit dan berusaha menegakkan &#8220;Dakwah Islamiyah,&#8221; lebih giat daripada yang sudah-sudah.</p>
<p>Alhasil, Muhammad adalah penutup dari segala rasul, dan bukanlah dia mata-cincin dari segala rasul. Sesudah dia tidak ada nabi lagi, baik nabi yang menasikhkan syariat Muhammad, ataupun nabi yang dikatakan &#8220;pengiring&#8221; Muhammad. Dengan kedatangannya sempurnalah binaan kepercayaan isi alam yang telah dibawa berturut-turut oleh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelum dia. Beliau bersabda:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan nabi-nabi yang sebelum aku, adalah seumpama seseorang yang membangun bangunan-bangunan. Diperindahnya dan diperbagusnya binaan itu, kecuali (ketinggalan) suatu batu tembok pada sudut daripada sudut-sudutnya itu. Maka manusiapun berkelilinglah dan takjub melihat binaan itu, dan mereka berkata: &#8216;Alangkah baiknya ditutupi sebuah batu tembok yang kurang ini.&#8217; Maka akulah batu tembok itu, dan akulah penutup segala nabi-nabi.&#8221;</p>
<p>Maka kalau ada orang mendakwakan dirinya nabi sesudah Muhammad, niscaya bohonglah pendakwaannya itu. Dan barang siapa yang mempercayai akan dakwaan orang itu, mendustakanlah dia akan pernyataan Muhammad. Sebab itu maka tidaklah dia golongan Ummat Islam (Ummat Muhammad).</p>
<p>Sesungguhnya demikian, sebagai Ummat Islam yang mengaku adanya keluasan dada (tasamuh), kita akan bergaul juga dengan mereka sebaik-baiknya, sebagaimana kita bergaul dengan Ummat Buddha, Kristen dan Yahudi.</p>
<p>Apalagi Nabi Muhammad saw. telah pula memeberi peringatan bagi kita bahwa sesuadh beliau wafat akan datang orang mendakwakan dirinya nabi atau rasul. Padahal mereka adalah pembohong. Nabi bersabda:</p>
<p>&#8220;Akan ada pada akhir kemudian ummatku orang-orang dajjal pembohong. Membicarakan kepada kamu perkara-perkara yang belum pernah kamu dengar, dan tidak pula pernah didengar oleh nenek-moyangmu. Maka berawas-awaslah kamu dan berawas-awaslah mereka. Janganlah sampai mereka menyesatkan kamu dan jangan memfitnahi kamu.&#8221;</p>
<p>Dan sabda beliau pula:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya akan ada pada ummatku tigapuluh orang pembohong! Semuanya mengaku bahwa dirinya Nabi. Akulah penutup segala nabi. Tidak ada nabi sesudah aku. Dan akan senantiasalah segolongan dari ummatku tegak diatas kebenaran. Tidak akan memberi bencana atas mereka siapapun yang menentang mereka, sehingga datanglah ketentuan Allah, dan mereka tetap saja demikian.&#8221;</p>
<p>Cukuplah wahyu dengan turunnya penutup segala kitab suci, yaitu Al-Quran. Bereslah risalat dan nubuwwat dengan datangnya penutup segala rasul dan nabi yaitu Muhammad saw.</p>
<p>Dengan kepercayaan yang demikianlah hidup kita dan mati kita.</p>
<p>* * *</p>
<p>Bagaimanapun kepintaran kita dan betapapun ilmu pengetahuan yang didapat oleh manusia di dalam alam ini, namun rahasia yang masih tersembunyi masih lebih banyak. Rahasia yang menjadi rahasia dari segala rahasia adalah lingkungan &#8220;ghaib,&#8221; yang hanya dapat dirasai adanya, tetapi tak dapat dicapai oleh pancaindera atau oleh akal sekalipun dimana letaknya.</p>
<p>Kita akui, memang kadang-kadang kecerdasan berfikir dan berakal mendapat kesimpulan tentang adanya, tetapi hanya sebagian kecil dari rahasianya. Sebagaimana Aristoteles dan beberapa filsuf yang lain yang menghitung &#8220;yang Ada&#8221; dengan filsafat, akhirnya bertemu dengan keyakinan akan adanya Tuhan. Tetapi itu hanya sebagian kecil saja. Lebih banyak yang tidak dapat kita ketahui. Maka datanglah nabi-nabi dan rasul-rasul, dan penutup dari segala nabi dan rasul, bercakap dengan wahyu, menerima &#8220;kalimat&#8221; dari Allah sendiri. Maka dengan tuntunan beliau hilanglah keraguan kita dan teranglah bagi kita jalan kesana, sesudah payah meraba-raba dan mencari-cari. Maka pikiran yang beliau berikan dan cita yang beliau tanamkan dihati kita adalah pikiran dan cita yang sempurna, yang diwaktu hidup dapat kita pakai dan diwaktu mati dapat kita tumpang.</p>
<p>Maka percayalah kita kepadanya dan kita turutlah garis langkah yang beliau tinggalkan, yang patut kita lalui, untuk keselamatan kita pada hidup ini dan hidup setelah ini &#8230;</p>
<p>Bârakallâhu lî wa lakum, Matur syukran n Terima kasih.</p>
<p>Semoga Bermanfaat . Jakarta, 10 Februari 2011. (dari catatan facebook Imam Puji Hartono/Gus Im)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/02/10/pendapat-buya-hamka-tentang-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gol A Gong: Guru Malang Dibuang Jangan</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/11/15/gol-a-gong-guru-malang-dibuang-jangan/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/11/15/gol-a-gong-guru-malang-dibuang-jangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 04:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[KABAR SEDULUR]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=12494</guid>
		<description><![CDATA[Guru Malang Dibuang Jangan Oleh Gol A Gong*) SAYA turun dari mobil persis di TamanBudaya Rumah Dunia. Ini pukul 14.00, Minggu, 14 November 2010. Badan lelah sekali. Ini marathon. Sabtu, 13 November 2010, saya menghadiri bedah buku “Banten Bangkit #4: habis Gelap Terbitkah Terang?” karya Gandung Ismanto di auditorium Untirta, Serang. Barusan, saya baru pulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Guru Malang Dibuang Jangan</strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-12495" href="http://banyumasnews.com/2010/11/15/gol-a-gong-guru-malang-dibuang-jangan/golagong/"><img class="aligncenter size-full wp-image-12495" title="GolaGong" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/11/GolaGong.jpg" alt="GolaGong" width="186" height="237" /></a><br />
<strong><em>Oleh Gol A Gong*)</em></strong></p>
<p>SAYA turun dari mobil persis di TamanBudaya Rumah Dunia. Ini pukul 14.00, Minggu, 14 November 2010. Badan lelah sekali. Ini marathon. Sabtu, 13 November 2010, saya menghadiri bedah buku “Banten Bangkit #4: habis Gelap Terbitkah Terang?” karya Gandung Ismanto di auditorium Untirta, Serang. Barusan, saya baru pulang dari Rangkasbitung, menjadi pembicara bedah buku “Banten Bangkit #3: Membangun Perdaban Baru” di depan mahasiswa STKIP Setiabudhi,Rangkasbitung. Sekitar 200-an mahasiswa tekun mendengarkan paparan dari saya, Dr.Bambang Q-aness, Prof.Dr. Ilzamudin Ma’mur, dan Dr. Yayat Ruhyat. Tapi, rasa capek itu terobati, ketika say melihat kerumunan orang-orang di Taman Budaya Rumah Dunia. Masya Allah!</p>
<p>GEMPA LITERASI</p>
<p>Orang-orang mengerumuni saya. Mereka ibu-ibu muda dan para suaminya dari Garasi Ilmu, Bekasi. Ada sekitar 75 orang, datang denan bus Blue Bird. Mereka melakukan study banding. Tias Tatanka dan Langlang Randhawa yang memandu. Mereka minta foto-foto dan tandatangan di novel<br />
saya. Di latar belakang kami, di panggung terbuka, para penulis “Gilalova #3:<br />
Cinta Nggak Kemana-mana” sedang berpesta pora. Mereka merayakan terbitnya buku mereka. Di ujung barang, di lahan seluas 225 m2, panggung gunungan dari bambu yang dibuat Teater Studio Indonesia, para mahasiswa Untirta sedang tekun latihan untuk pementasan di hajatan “Ode Kampung #4”, tanggal 9 hingga 12 Desember 2010 nanti.</p>
<p>Saat saya menandatangani buku-buku<br />
saya, tubuh bergetar. Bukan karena persoalan tandatangannya, tapi suasananya! Aromanya. Sulit mengungkapkannya. Di areal seluas 970 m2 hasil sumbangan para facebooker di akun Gol A Gong sepanjang<br />
2009, yang kami namai “Taman Budaya Rumah Dunia” sedang berlangsung kegiatan literasi; bedah novel, pelatihan, dan pertunjukkan teater. Inilah yang saya namakan “gempa literasi”. Gempa yang tidak menghancurkan, tapi membangunkan. Ini bukan peristiwa sembarangan, tapi investasi. Kelak, akan tyumbuh genreasu baru yang kritis dan kreatif di Banten.</p>
<p>TAMAN BUDAYA<br />
ALTERNATIF</p>
<p>Lalu Hilal Ahmad dan Akhelbri, yang menggagas kelahiran kumcer seri “Gilalova”ini memanggil saya. Grogi juga berdiri di antara 27 penulis muda Banten. Umur saya 47 tahun. Saya harus mendfampingin proses kepengarangan mereka. Hilal dan Ali mempersilhakan saya berbicara.</p>
<p>Saya mnegingatkan semua yang hadir tentang Rumah Dunia, lini sosial Yayasan Pena Dunia, yang didirikan saya alias Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong, berakta notaris Fachrul Kesuma Dharma, SH, nomor 006, 12 Juni 2006. Sejak bergulir tahun 2000, mulai dari areal 500 m2, kemudin 1000 m2, yang dibeli dari royalti novel dan skenario TV saya saat di RCTI sepanjang 1996 – 2008. Kemudian pada tahun 2009, teman-teman di akun facebook Gol A Gong ikut guyub menyumbang semeter, dua meter, bahkan 100 meter persegi, sehingga tanah seluas 970 m2 berhasil dibebebaskan. Bahkan tidak jauh dari lokasi itu, areal kedua seluas 225 m2, hanya terhalang oleh tanah seluas 1800 m2, juga berhasil dibebaskan..</p>
<p>Kini di atas lahan tanah seluas 970 m2 itu sudah berdiri<br />
cafe baca, Balai belajar Bersama, playground, gazebo, kelas terbuka dan<br />
panggung terbuka. Biaya pembangunan itu sumbangan dari Program Rintisan Balai Belajar Bersama (RB3), Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal PNFI, Direktorat  Pendidikan Masyarakat<br />
sebesar Rp. 200 jt. Areal itu lantas kita sebut “Taman Budaya Rumah Dunia” Pada 16 Oktober 2010 diresmikan penggunaannya.</p>
<p>Hari demi hari, TBRD ramai dikunjungi. “Saya<br />
nyaman sekali sarapan bubur di sini,” kata seorang peajar dari Kampung Kesuren, sekitar 900 meter dari lokasi. “Sambil makan, bisa jajan. Bahkan orang-orang yang melintas henak mnuju tempat kerja pun mampir sarapan atau melepas lelah. Rata-rata mereka merasa nyaman melihat suasana cafre baca, yang dipadu dengan kegiatan kesenian.</p>
<p>Penduduk Ciloang, Cikubil, dan Tegal Duren sangat<br />
merasakan manfaatnya, terutama bagi anak-anak. Pak Asman, 55 th, yang mendapat bantuan modal dari dana pinjaman modal usaha bubur ayam mengomentari, “Cucu-cucu saya sekarang nggak usah jauh-jauh bermain. Cukup ke Taman Budaya Rumah Dunia saja!” Lanjut Pak Asman lagi, “Sarapan pun bisa nebeng di dagangan saya. Alhamdulillah, bubur ayam saya laku. Apalagi setiap hari ada mahasiswa Untirta yang latihan teater di sini!”</p>
<p>Tak dinyana, tak diduga. Taman Budaya Rumah Dunia menjadi “oase”, tempat alternatif anak-anak Banten berlatih teater. Hampir tiap hari, anak-anak Untirta jurusan Sastra berlatih teater di sini. Nadang Arde, sutradara Teater Studio Indonesia, mengatakna kepuasannya. “Areal ini sangat nyaman. Suasananya mendukung. Unhtuk berkesenian. Apalagi jika tnah<br />
di sebelah Taman Budaya Rumha Dunia ini dibeli.”</p>
<p>Bahkan hari Minggu, 14 November 2010 tadi, saya tercengang. Sepulang dari seminar “Banten Bangkit #3” di Rangkasbitung. Saya iseng mengatrakan saat berbicara di depan peserta bedah buku “Gilalova 2”, bahwa tanah di belakang panggung terbuka Taman Budaya rumah Dunia seluas 1800 m2, yang menghubungkan ke areal kedua seluas 225 m2 dimana panggung gunungan dari bambu berada, akan kami bebaskan. Saya meminta dukungan semua yang hadir.</p>
<p>MENJUAL NOVEL</p>
<p>Kali ini saya tidak akan menggalang dana seperti saat membebaskan lahan seluas 790 m2 dan 225 m2 kepada teman-teman saya di akun facebook saya. Beberapa penasehat Rumah Dunia juga menyarankan, agar saya mencari cara lain untuk membebaskan tanah itu. Saya berpikir keras. Say teringat teguran dari sahabat saya di majalah HAI dulu, Pal De, “Jangan minta sumbangan lagi. Malu.”</p>
<p>Ya, saya juga sependapat.<br />
Malu meminta sumbangan terus.</p>
<p>Akhirnya saya menemukan ide. Semoga teman-teman berkenan. Hal ini saya sampaikan kepada para relawan pada Sabtu 13 November 2010 lalu. Mereka setuju. Ide itu adalah dengan berjualan buku. Semoga cara ini bisa dimaklumi. Lewat Gong Publishing, saya akan menerbitkan novel, dimana<br />
royaltinya akan disumbangkan ke proyek pembebasan tanah seluas 1800 m2 itu. Kelak di atas tanah itu akan dibangun gedung serba guna; bisa untuk diskusi tertutup, pertunjukkan kesenian, atau disewakan untuk seminar.</p>
<p>Novel pertama untuk proyek pembebasan tanah ini adalah “Guru Malang, Dibuang Jangan” karya relawan Rumah Dunia, Rahmat Heldy HS. Dia<br />
sehari-hari guru di SMP Al-Irsyad, Waringin Kurung, Serang. Rahmat Heldy alias Rahel mengungkapkan perasaannya, “Mulanya aku membenci profesiku sebagai guru, lama kelamaan aku tertarik dan ingin menulis tentang itu. Sebabdi sana banyak orang –orang menderita dan minta untuk ditulis dengan segera.“  Kini Rahel meras bahgaia novelnya akan diluncurkan pada 9 Desember 2010, saat ”Ode Kampung #4” berlangsung. ”Lebih<br />
membahagiakan lagi, karena royalti novel saya ini disumbangkan untuk pembebasan tanah Rumah Dunia.”</p>
<p>Harga novel “Guru Malang, Jangan Dibuang” karya<br />
Rahmat Heldy HS sebesar Rp 50 ribu, itu sudah termasuk ongkos kirim Jawa dan luar Jawa. “Jika teman-teman membeli novel ‘Guru Malang, Dibuang Jangan’ karya saya, berarti sudah menyumbang Rp 20 ribu untuk tanah,” harap Rahel. “Saya butuh sekitar 20 ribu pembeli novel saya untuk membebaskan tanah itu! Semoga Allah memudahkan urusan ini.”</p>
<p>Secara pribadi, saya sangat berharap support dariteman-teman dengan segera memesan  langsung sekarang dengan transfer ke BCA Serang, nomor rekening 2451790121 an. Heri Hendrayana Harris. Setelah transfer konfirmasi lewat email ke <a rel="nofollow" href="http://id.mc764.mail.yahoo.com/mc/compose?to=tanahrumahdunia%40yahoo.com" target="_blank">tanahrumahdunia@yahoo.com</a> dengan<br />
menyertakan nama, alamat, no.hp, e-mail, bukti transfer, jumlah transfer dan<br />
judul buku yang dipesan. Di subjek emal tulis “Tanah RD-GMDJ”.</p>
<p>Jika tanah itu berhasil dibebaskan, berarti akan ada kawasan Taman Budaya Rumah Dunia seluas hampir 4000 m2. Itu snagat bagus untuk warga Banten dan Indonesia umumnya, ketika sedang berwiata ke Banten,bisa mampir ke sini. Akan ada banyak agenda yang tentu representatif untuk<br />
ditonton.</p>
<p>Nuhun, thank you, terima kasih atas waktunyamembaca curhat saya ini. semoga Allah meridhai niat baik kita. Amiin. (<em>Gola Gong Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat Banten.D</em><em>ikutip dan kiriman Gola Gong ke penyairyahoogroup*)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/11/15/gol-a-gong-guru-malang-dibuang-jangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggugat Sastra Yang Berjarak</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 13:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=12308</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Jarot C. Setyoko Penghujung 2008 silam, di Aula Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Saut Situmorang, penyair yang bergelar “Raja Polemik’ itu, mengulang keluhan yang telah sekian kali dinyatatakan para sastrawan lain. Sastra Indonesia tengah menjejak masa anomik, mengalami kemunduran dalam ukuran kualitas dan kuantitas, serta gagal melakukan regenerasi. Itu terjadi justeru ketika kebebasan berkarya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Jarot C. Setyoko</strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-12309" href="http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/jarottttttt/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-12309" title="jarottttttt" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/10/jarottttttt-202x270.jpg" alt="jarottttttt" width="202" height="270" /></a></p>
<p>Penghujung 2008 silam, di Aula Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Saut Situmorang, penyair yang bergelar “Raja Polemik’ itu, mengulang keluhan yang telah sekian kali dinyatatakan para sastrawan lain. Sastra Indonesia tengah menjejak masa anomik, mengalami kemunduran dalam ukuran kualitas dan kuantitas, serta gagal melakukan regenerasi. Itu terjadi justeru ketika kebebasan berkarya lebih lapang dibentangkan.</p>
<p>Setahun setelah itu keadaan tak berubah. Dalam prolog ”20 Cerpen Terbaik 2009” (yang merupakan nominator peraih Anugerah Sastra Pena Kencana), kita mendengar ’pengakuan’ yang meresahkan. ”Sastra diproduksi dengan semangat gegap gempita, tetapi tak menyihir manusia-manusia di luar dunia teks untuk membaca karya-karya yang dianggap elitis, tidak bertolak dari kenyataan sosial dan meninggalkan persoalan-persoalan sejarah bangsa”.</p>
<p>Dari Putu Wijaya kita juga membaca kegundahan serupa. ”Sastra sebagaimana yang selalu kita kenal selama ini, selalu diidentifikasi sebagai karya indah yang tertulis. Ia dibedakan dengan kenyataan faktual. Hubungannya dengan intuisi dan emosi sangat kental. Tetapi kesinambungannnya dengan ratio, pemikiran dan telaah-telaah, sudah dipreteli habis. Maka sastra menjadi penari striptease. Penyebar keindahan, yang menimbulkan klangenan, kenikmatan, dan akhirnya kealpaan serta bencana”. Putu menulis itu dalam artikel yang bertajuk ”Reposisi Sastra Indonesia”.</p>
<p>Terasa aneh memang, sastra (yang diwakili oleh pikiran para kritikus dan sastrawannya) merasa kelangan gapit justeru dalam babak jaman yang disebut dengan era kebebasan. Sulit bagi kita untuk menepis, realitas dunia sastra saat ini merupakan paradoksal dari agenda sastra di jaman Orde Baru, masa yang kita tahu sarat dengan represi dan sesak oleh alat sensor.</p>
<p>Ada semacam keyakinan yang bermukim dalam benak para pegiat sastra kala itu, eksistensi sastra dan proses kreatif akan menemukan arusnya sendiri jika kebebasan dihamparkan di depan wajah. Oleh karena itu di bawah todongan otoritarianisme politik saat itu, sastra menenteng dua agenda dominan. Pertama, berjuang untuk meraih kemerdekaannya sendiri. Dan kedua, menjadi median kepentingan politik untuk mewujudkan kebebasan dalam skala sosial.</p>
<p>Hanya saja, setelah kebebasan untuk menyampaikan hasrat (freedom of expression) &#8212; yang konon merupakan prasyarat asazi bagi laku kreatif &#8212; telah terbentang, mengapa pula sastra tak kunjung menemukan arasnya dalam konstelasi perubahan yang rumit ini? Tanpa niatan menggurui para pujangga, setidaknya ada dua hal yang menjadi hulu persoalan ini. Pertama, karya dan wacana sastra tak sadar jika ’dirinya’ semakin jauh dari benak khalayak. Kedua, para sastrawan tak sanggup mengukur skala diri dalam peta sosial yang terus bergeser.</p>
<p>Kita bersaksi, di halaman koran, karya dan kritik sastra dihelat begitu penuh gairah. Namun tak pernah disadari, di luar panggung para penonton mulai merasa ditinggalkan, tak tertarik, dan kemudian pagelaran menjadi sepi. Pada akhirnya sastra hanya menjadi perbincangan gaduh di antara para sastrawan dan kritisi, namun kehilangan audiens sebagai muara proses kreatif. Akibatnya sastra tercerabut dan kehilangan peran sebagai median khalayak dalam ruang sosiologisnya.</p>
<p>Sekedar gambaran, pada tahun-tahun awal perubahan seorang seniman ’tetap konsisten’ berkreasi dengan syair-syair garang, yang ia visualisasikan melalui teaterikal penuh ’perlawanan’. Ia telah melakukan itu semenjak kondisi masih represif, dan ia tetap melakukannya ketika realitas sosial telah berubah. Yang membedakannya, dulu khalayak selalu mengerumuni pementasannya, sementara ketika era telah bergeser, orang tak lagi peduli dengan pementasaannya.</p>
<p>Dengan sertamerta, diskusi yang dihelat pasca pementasan menyatakan konklusi: dalam era perubahan, apresiasi publik terhadap seni makin menurun. Para pegiat dan apresian seni itu tak pernah (atau belum) mencoba menimbang ulang kesimpulannya: adakah memang apresiasi publik terhadap seni yang makin rendah, ataukah para seniman yang sejatinya gagal melahirkan karya yang ’sadar ruang’, sadar terhadap konteks jaman yang menaunginya.</p>
<p>Kita tentu tahu, diksi ’bebas’ (yang terangkai dalam syair serendah apapun kualitas estetiknya) di kala Orde Baru, tentu akan dimaknai secara berbeda ketika diksi itu dinyatakan pada saat ini. Ada matra batin yang memang tak sama dari dua masa itu, sekalipun kita dihadapkan pada teks yang sama. Diksi ’bebas’ dalam ruang yang serba dibatasi akan terasa menggetarkan, kendati dalam ukuran estetis teks itu tak terlampau memukau hati kita. Tetapi jika itu kita nyatakan sebagai ekspresi seni saat ini? Jangan heran jika tak ada yang peduli.</p>
<p>Pada akhirnya kita tahu, persoalan sastra memang bukan pada kebebasan atau ketidakbebasan. Cukup jelas, di masa tidak bebas sekalipun selalu lahir sastrawan besar dan karya besar. Seperti halnya Boris Pastrenak yang melahirkan ”Dr. Zhivago” dalam kungkungan bayonet serdadu Uni Sovyet. Pun Pramudya Ananta Toer dan W.S. Rendra yang menggubah karya-karya terbaiknya dalam kondisi ketidakbebasan. Kenapa? Seperti kata Putu Wijaya, ”Sejak mulanya, sastra mengandung kebebasan dan ketidakbebasan. Sastra yang berpihak memang tidak pernah bebas. Dan sastra yang bebas, tidak pernah bisa ditahan oleh apa pun, karena dia memiliki kreativitas untuk mengelak. Keduanya saling melengkapi”.</p>
<p>Oleh karena itu sastra di era bebas memang ”Bukan pesta kebebasan dan selamat tinggal ketidakbebasan. Tetapi masalah kesempatan dan agenda. Masalah prioritas apa yang seyogyanya harus dilakukan oleh sastra”. Dan kita tahu, tak ada nalar yang bisa menyusun agenda, kecuali dia sadar konteks: memahami realitas yang melingkupinya.(*)<br />
<em><br />
Catatan: Naskah ini disampaikan sebagai pidato pembukaan Seminar ”Sastra Tak Berjarak”, Rabu 20 Oktober 2010, di Gedung Soemardjito Unsoed-Purwokerto. Yang digelar sebagai kerjasama Inspera, Teater Si Anak-Unsoed dan Harian Suara Merdeka.</em><br />
<em>*)Penulis adalah   pengelola Institut Pemberdayaan Rakyat (Inspera)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/10/20/sastra-yang-berjarak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu Kangen Penyair Banyumas di Kedai Bakso</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2010 14:46:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=11996</guid>
		<description><![CDATA[BANYUMAS- Puluhan seniman Banyumas Jawa Tengah , Minggu (19/09) malam berkumpul di Kedai Bakso jalan Porka Purwokerto Barat. Yang hadir dalam acara bertajuk Temu Kangen Penyair Banyumas ini sebagian besar mereka penyair angkatan 80-an. Selain silaturahmi, petemuan mereka  sekaligus kangen-kangenan setelah lama tidak bertemu. &#8221; Mereka penyair senior yang lama tidak bertemu dan sengaja kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-11997" href="http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/gesek/"><img class="alignleft size-full wp-image-11997" title="gesek" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/09/gesek.JPG" alt="gesek" width="282" height="180" /></a></p>
<p>BANYUMAS- Puluhan seniman Banyumas Jawa Tengah , Minggu (19/09) malam berkumpul di Kedai Bakso jalan Porka Purwokerto Barat. Yang hadir dalam acara bertajuk Temu Kangen Penyair Banyumas ini sebagian besar mereka penyair angkatan 80-an. Selain silaturahmi, petemuan mereka  sekaligus kangen-kangenan setelah lama tidak bertemu.</p>
<p>&#8221; Mereka penyair senior yang lama tidak bertemu dan sengaja kami kumpulkan malam ini,&#8221; ujar Dimasyoto, panitia acara. Menurut Dimas, kegiatan tersebut selain temu kangen dan silaturahmi juga akan membedah buku puisi milik penyair Dharmadi.</p>
<p>Panitia mengundang sejumlah panyair seperti, Bambang Set, Ahita, Nanang Anna Noor, Dharmadi, Bambang Wadoro, Badrudin Emce, Haryono Soekiran.Sejumlah pekerja teater juga hadir seperti Surya Esa Rohadi dan Sugiharto.</p>
<p>&#8221; Kalau boleh dibilang mereka merupakan pioner dunia sastra dan teater di Banyumas,  ujar Dimasyoto. Meski diguyur hujan, namun acara berlangsung lancar (BNC/vit)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/09/19/temu-kangen-penyair-banyumas-di-kedai-bakso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Karakter: Harapan Baru Membangun Peradaban Bangsa</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 16:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10504</guid>
		<description><![CDATA[Children are born with unique temperaments, needs and gifts. Some find it much easier to share their toys than others. Some feel horrible when they lie, while others seem to delight in deception. Some are timid; others show amazing courage and tenacity. But, no matter where children are born on these continuums, they have the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Children are born with unique temperaments, needs and gifts. Some find it much easier to share their toys than others. Some feel horrible when they lie, while others seem to delight in deception. Some are timid; others show amazing courage and tenacity. But, no matter where children are born on these continuums, they have the potential to develop good character and become positive contributors to society ( Rita Sommers-Flanagan, Ph.D., and John Sommers-Flanagan, Ph.D.)</em><br />
Paragrap pembuka di atas sangat menarik hati saya untuk menuliskan pendapat soal Pendidikan Karakter yang baru-baru ini diluncurkan dan menjadi tema besar peringatan Hari Pendidikan Nasional 2010.  Meski dalam paragraf tersebut diarahkan pada anak-anak, saya tidak merasa bahwa tema ini akan sangat kedaluwarsa untuk era saat ini yang semuanya ber-mark-up serba instant dan mengandalkan kecanggihan teknologi.  Tentu saja, tema ini justru mampu memberikan pompaan semangat atas munculnya rasa pesimis akan redupnya aura pendidikan di Indonesia.  Kita hanya mempunyai satu kesempatan dalam mempersiapkan siswa untuk masa depan yang tak bisa diprediksi oleh siapa pun dari kita.  Maka, apa yang akan kita lakukan dengan satu kesempatan ini?<br />
Kita tahu, setiap anak mempunyai potensi untuk dikembangkan karakter positifnya sehingga mampu memberikan kontribusi yang baik juga untuk masyarakatnya.  Anak, siapa pun dia, apa pun latar belakang yang membuatnya ada dan terlahir di dunia ini, berhak untuk dibantu mengembangkan karakter-karakter positifnya oleh orang-orang dewasa yang ada di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat di mana dia berada.<br />
Idealnya, karakter positif lahir dari budaya-budaya positif.  Dan budaya positif adalah budaya yang sudah dikenal oleh anak di rumah dan dilanjutkan di sekolah dimana mereka menimba ilmu.  Jadi, anak berkarakter positif bukan lahir dari rumah atau hanya sekolah yang memiliki budaya positif juga, tetapi merupakan produk dari sinergi dua lingkungan tersebut dan terwujud dalam rupa karakter positif ketika anak harus berbaur dengan masyarakatnya.  Maka, kita sependapat bahwa pendidikan karakter bukan melulu tanggung jawab sekolah, tetapi juga tanggung jawab keluarga (orang tua).<br />
Seperti apa yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono saat menghadiri peluncuran buku Stephen R Covey, The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness, beliau sangat berharap, seperti halnya kita, bagaimana budaya unggul tersebut benar-benar mampu menjadi bagian dari karakter bangsa Indonesia.  Dan, pendidikan karakter bukanlah mata pelajaran, tetapi nilai-nilai yang bisa diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, atau pun setiap pengembangan budaya positif di sekolah dan di tengah-tengah keluarga.<br />
Mengapa pendidikan karakter saat ini dianggap sedemikian penting?  Kita semua menyadari bahwa pendidikan karakter adalah bagian dari pembangunan watak yang sangat penting untuk mencapai peradaban yang unggul dan mulia.  Semua hal itu bisa terlaksana dengan masyarakat yang baik yakni manusia bermoral dan beretika sehingga bangsa Indonesia bisa bersaing dengan bangsa lain dengan cara yang terhormat dan martabat.  Oleh sebab itu, pembangunan karakter dalam diri anak  bangsa harus tetap memperhatikan dan  berpedoman kepada sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.<br />
Kita percaya, Presiden SBY bukannya ingin menjadikan buku karya Covey, seorang pakar kepemimpinan, pakar keluarga, pendidik, konsultan organisasi, ini sebagai satu-satunya panutan untuk mengembangkan pendidikan karakter di Indonesia.  Kita cukup punya banyak tokoh nasional yang bisa dibanggakan dan diteladani.  Tetapi mengapa buku Covey, saya mencoba menebak, itu karena keberhasilannya dalam menularkan budaya positif dan sudah banyak diadopsi dan diadaptasi oleh sekolah-sekolah di dunia dan cukup memberikan hasil yang sangat efektif.  Tentu saja, ketika dipaparkan tentang keberhasilan sekolah-sekolah yang sudah menerapkan The 7 Habits ini, siapa yang tidak ingin sekolahnya juga berkembang sedemikian membanggakan?<br />
Stephen R.  Covey melalui bukunya ingin menularkan budaya positif yang mengedepankan kepemimpinan.  Mengapa kepemimpinan?  Hakekatnya jiwa pemimpin itu ada pada tiap individu tanpa harus terbingkai dengan sebuah kedudukan dalam suatu organisasi.  Buku ini dia susun sebagai jawaban atas beribu pertanyaan yang muncul dari kalangan pendidikan sendiri, pebisnis, maupun tata kehidupan masyarakat, bahwa ternyata yang dibutuhkan bagi generasi mendatang tidak cukup hanya tingginya nilai akademik, bagaimana menaikkan pencapaian nilai ujian, tetapi lebih dari itu, masa depan membutuhkan generasi muda yang menguasai ketrampilan dasar, ketrampilan kepemimpinan, yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.<br />
Dikisahkan dalam buku ini, bagaimana sekolah-sekolah maju menerapkan budaya sekolah yang dicetuskan oleh Covey dan dikenal dengan The 7 Habits.  Setiap anak penting dan mempunyai sesuatu yang bernilai untuk disumbangkan.  Budaya positif yang dikembangkan di sekolah ternyata mampu menjadikan anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bertanggungjawab, peduli, berperasaan, menghormati keberagaman, dan tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi keputusan sulit. Ya, dalam dunia pendidikan selalu ada kreativitas, hasrat, kepedulian, atau riset untuk membuat sekolah yang hebat, kelas yang hebat, atau siswa yang hebat.<br />
Bagaimana nilai positif ini dapat dikembangkan melalui 7 (tujuh kebiasaan)?  Ini ringkasan dari buku Covey yang bisa kita pelajari dan renungkan bersama.<br />
Kebiasaan 1.  Jadilah Proaktif<br />
Kebiasaan ini ditandai dengan sikap-sikap:<br />
Saya orang yang bertanggungjawab.  Saya mengambil inisiatif.  Saya menentukan tindakan, sikap, dan suasana hati saya.  Saya tidak menyalahkan orang lain bila melakukan kesalahan.  Saya melakukan hal yang seharusnya saya lakukan, tanpa dimina, meskipun tak ada orang yang melihat.<br />
Kebiasaan 2.  Mulai Dengan Tujuan Akhir<br />
Saya membuat rencana di depan dan menetapkan target.  Saya melakukan hal-hal yang berarti dan membuat perbedaan.  Saya adalah bagian penting dari kelas saya dan saya memberi kontribusi yang positif untuk visi dan misi sekolah saya, serta berusaha menjadi warga sekolah yang baik.<br />
Kebiasaan 3.  Dahulukan Yang Utama<br />
Saya menghabiskan waktu untuk hal-hal terpenting.  Ini berarti saya mengatakan tidak untuk hal-hal yang tidak boleh saya lakukan.  Saya menetapkan prioritas, membuat jadwal, dan menetapkan rencana.  Saya disiplin dan terorganisir.<br />
Kebiasaan 4.  Berpikir Menang-menang<br />
Saya menyeimbangkan keberanian kemauan saya dan kemauan orang lain.  Saya selalu mempertimbangkan perasaan orang lain.  Jika terjadi perselisihan, saya mencari alternatif ke tiga.</p>
<p>Kebiasaan 5.  Berusaha Memahami Dahulu, Kemudian Berusaha Dipahami<br />
Saya mendengarkan gagasan dan perasaan orang lain.  Saya mencoba melihat dari sudut pandang mereka.  Saya mendengarkan orang lain tanpa memotong pembicaraan.  Saya percaya diri menyuarakan gagasan saya.  Saya menatap mata lawan bicara saya.</p>
<p>Kebiasaan 6.  Wujudkan Sinergi<br />
Saya menghargai kekuatan orang lain dan belajar darinya.  Saya pandai bergaul, bahkan dengan orang yang berbeda dengan saya.  Saya bekerja baik dalam kelompok.  Saya meminta gagasan orang lain untuk memecahkan masalah karena saya tahu bila saya bekerja sama dengan orang lain maka kita dapat membuat solusi dengan lebih baik daripada kalau bekerja sendiri.  Saya selalu belajar untuk rendah hati.<br />
Kebiasaan 7.  Mengasah Gergaji<br />
Kebiasaan ke tujuh ini dimaknai dengan budaya selalu belajar, belajar tentang apapun juga, sehingga mampu melengkapi ke enam kebiasaan yang lain.<br />
Mudahkan mengimplementasikan budaya tersebut di sekolah kita?  Ternyata tidak.  Tetapi juga sangat mungkin untuk dilakukan.  Yang dibutuhkan hanyalah komitmen dari segenap komponen sekolah, dukungan dan partisipasi orang tua, maka yang tidak mungkin itu pun berubah menjadi sebuah kenyataan.<br />
Melalui Tujuh Kebiasaan ini kita berharap membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society). Dan, masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala manusia-manusia Indonesia adalah manusia yang berakhlak dan berwatak baik, manusia yang bermoral dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berperilaku baik pula.<br />
Bangsa yang berkarakter unggul, disamping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.<br />
Lalu apa harapan orang tua yang mempercayakan anak-anaknya belajar di sekolah yang mengedepankan budaya-budaya unggul tersebut?  Pada umumnya mereka akan berpendapat bahwa sekolah ini sukses mendidik siswa karena mencintai dan menghormati siswa. Orang tua merasakan guru adalah sosok pendidik yang benar-benar mencintai anak-anak.  Dan mereka bekerja sepenuh hati membimbing siswa dari titik A ke titik B, ke titik C dan seterusnya lalu memastikan bahwa tahun-tahun selanjutnya siswa didiknya akan tetap bersinar.<br />
Guru adalah seorang pendidik yang benar-benar menginginkan yang terbaik untuk siswa-siswanya, dan memiliki kepedulian untuk meluangkan waktu guna menemukan bakat individu siswa, lalu mencari cara untuk mengasuh dan memberdayakan bakat tersebut.<br />
Sungguh, pada sekolah yang mengedepankan budaya positif berkembang dengan sangat sehat, anak tak perlu mencari teladan jauh-jauh, karena bagi mereka Kepala Sekolah, guru, siapa pun yang terlibat dalam keberlangsungan sekolah adalah teladan yang layak dijadikan panutan dalam tutur kata, cara berpikir, bertingkah laku, dan membangun relasi sosial.  Semoga.<strong> (Yohana Kristianti, S.Si, Pendidik di SMPN 1 Purbalingga)</strong></p>
<div id="attachment_10503" class="wp-caption alignleft" style="width: 490px"><a rel="attachment wp-att-10503" href="http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/yohana/"><img class="size-medium wp-image-10503" title="yohana" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/05/yohana-480x269.jpg" alt="Yohana Kristianti, S.Si" width="480" height="269" /></a><p class="wp-caption-text">Yohana Kristianti, S.Si</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
