<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kabar Banyumas &#187; WACANA</title>
	<atom:link href="http://banyumasnews.com/category/wacana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banyumasnews.com</link>
	<description>Portal Berita Warga Bayumasan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 12:21:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pendidikan Karakter: Harapan Baru Membangun Peradaban Bangsa</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 16:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10504</guid>
		<description><![CDATA[Children are born with unique temperaments, needs and gifts. Some find it much easier to share their toys than others. Some feel horrible when they lie, while others seem to delight in deception. Some are timid; others show amazing courage and tenacity. But, no matter where children are born on these continuums, they have the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Children are born with unique temperaments, needs and gifts. Some find it much easier to share their toys than others. Some feel horrible when they lie, while others seem to delight in deception. Some are timid; others show amazing courage and tenacity. But, no matter where children are born on these continuums, they have the potential to develop good character and become positive contributors to society ( Rita Sommers-Flanagan, Ph.D., and John Sommers-Flanagan, Ph.D.)</em><br />
Paragrap pembuka di atas sangat menarik hati saya untuk menuliskan pendapat soal Pendidikan Karakter yang baru-baru ini diluncurkan dan menjadi tema besar peringatan Hari Pendidikan Nasional 2010.  Meski dalam paragraf tersebut diarahkan pada anak-anak, saya tidak merasa bahwa tema ini akan sangat kedaluwarsa untuk era saat ini yang semuanya ber-mark-up serba instant dan mengandalkan kecanggihan teknologi.  Tentu saja, tema ini justru mampu memberikan pompaan semangat atas munculnya rasa pesimis akan redupnya aura pendidikan di Indonesia.  Kita hanya mempunyai satu kesempatan dalam mempersiapkan siswa untuk masa depan yang tak bisa diprediksi oleh siapa pun dari kita.  Maka, apa yang akan kita lakukan dengan satu kesempatan ini?<br />
Kita tahu, setiap anak mempunyai potensi untuk dikembangkan karakter positifnya sehingga mampu memberikan kontribusi yang baik juga untuk masyarakatnya.  Anak, siapa pun dia, apa pun latar belakang yang membuatnya ada dan terlahir di dunia ini, berhak untuk dibantu mengembangkan karakter-karakter positifnya oleh orang-orang dewasa yang ada di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat di mana dia berada.<br />
Idealnya, karakter positif lahir dari budaya-budaya positif.  Dan budaya positif adalah budaya yang sudah dikenal oleh anak di rumah dan dilanjutkan di sekolah dimana mereka menimba ilmu.  Jadi, anak berkarakter positif bukan lahir dari rumah atau hanya sekolah yang memiliki budaya positif juga, tetapi merupakan produk dari sinergi dua lingkungan tersebut dan terwujud dalam rupa karakter positif ketika anak harus berbaur dengan masyarakatnya.  Maka, kita sependapat bahwa pendidikan karakter bukan melulu tanggung jawab sekolah, tetapi juga tanggung jawab keluarga (orang tua).<br />
Seperti apa yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono saat menghadiri peluncuran buku Stephen R Covey, The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness, beliau sangat berharap, seperti halnya kita, bagaimana budaya unggul tersebut benar-benar mampu menjadi bagian dari karakter bangsa Indonesia.  Dan, pendidikan karakter bukanlah mata pelajaran, tetapi nilai-nilai yang bisa diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, atau pun setiap pengembangan budaya positif di sekolah dan di tengah-tengah keluarga.<br />
Mengapa pendidikan karakter saat ini dianggap sedemikian penting?  Kita semua menyadari bahwa pendidikan karakter adalah bagian dari pembangunan watak yang sangat penting untuk mencapai peradaban yang unggul dan mulia.  Semua hal itu bisa terlaksana dengan masyarakat yang baik yakni manusia bermoral dan beretika sehingga bangsa Indonesia bisa bersaing dengan bangsa lain dengan cara yang terhormat dan martabat.  Oleh sebab itu, pembangunan karakter dalam diri anak  bangsa harus tetap memperhatikan dan  berpedoman kepada sendi-sendi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta norma sosial yang berlaku dalam masyarakat.<br />
Kita percaya, Presiden SBY bukannya ingin menjadikan buku karya Covey, seorang pakar kepemimpinan, pakar keluarga, pendidik, konsultan organisasi, ini sebagai satu-satunya panutan untuk mengembangkan pendidikan karakter di Indonesia.  Kita cukup punya banyak tokoh nasional yang bisa dibanggakan dan diteladani.  Tetapi mengapa buku Covey, saya mencoba menebak, itu karena keberhasilannya dalam menularkan budaya positif dan sudah banyak diadopsi dan diadaptasi oleh sekolah-sekolah di dunia dan cukup memberikan hasil yang sangat efektif.  Tentu saja, ketika dipaparkan tentang keberhasilan sekolah-sekolah yang sudah menerapkan The 7 Habits ini, siapa yang tidak ingin sekolahnya juga berkembang sedemikian membanggakan?<br />
Stephen R.  Covey melalui bukunya ingin menularkan budaya positif yang mengedepankan kepemimpinan.  Mengapa kepemimpinan?  Hakekatnya jiwa pemimpin itu ada pada tiap individu tanpa harus terbingkai dengan sebuah kedudukan dalam suatu organisasi.  Buku ini dia susun sebagai jawaban atas beribu pertanyaan yang muncul dari kalangan pendidikan sendiri, pebisnis, maupun tata kehidupan masyarakat, bahwa ternyata yang dibutuhkan bagi generasi mendatang tidak cukup hanya tingginya nilai akademik, bagaimana menaikkan pencapaian nilai ujian, tetapi lebih dari itu, masa depan membutuhkan generasi muda yang menguasai ketrampilan dasar, ketrampilan kepemimpinan, yang sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari.<br />
Dikisahkan dalam buku ini, bagaimana sekolah-sekolah maju menerapkan budaya sekolah yang dicetuskan oleh Covey dan dikenal dengan The 7 Habits.  Setiap anak penting dan mempunyai sesuatu yang bernilai untuk disumbangkan.  Budaya positif yang dikembangkan di sekolah ternyata mampu menjadikan anak-anak tumbuh menjadi manusia yang bertanggungjawab, peduli, berperasaan, menghormati keberagaman, dan tahu apa yang harus dilakukan ketika menghadapi keputusan sulit. Ya, dalam dunia pendidikan selalu ada kreativitas, hasrat, kepedulian, atau riset untuk membuat sekolah yang hebat, kelas yang hebat, atau siswa yang hebat.<br />
Bagaimana nilai positif ini dapat dikembangkan melalui 7 (tujuh kebiasaan)?  Ini ringkasan dari buku Covey yang bisa kita pelajari dan renungkan bersama.<br />
Kebiasaan 1.  Jadilah Proaktif<br />
Kebiasaan ini ditandai dengan sikap-sikap:<br />
Saya orang yang bertanggungjawab.  Saya mengambil inisiatif.  Saya menentukan tindakan, sikap, dan suasana hati saya.  Saya tidak menyalahkan orang lain bila melakukan kesalahan.  Saya melakukan hal yang seharusnya saya lakukan, tanpa dimina, meskipun tak ada orang yang melihat.<br />
Kebiasaan 2.  Mulai Dengan Tujuan Akhir<br />
Saya membuat rencana di depan dan menetapkan target.  Saya melakukan hal-hal yang berarti dan membuat perbedaan.  Saya adalah bagian penting dari kelas saya dan saya memberi kontribusi yang positif untuk visi dan misi sekolah saya, serta berusaha menjadi warga sekolah yang baik.<br />
Kebiasaan 3.  Dahulukan Yang Utama<br />
Saya menghabiskan waktu untuk hal-hal terpenting.  Ini berarti saya mengatakan tidak untuk hal-hal yang tidak boleh saya lakukan.  Saya menetapkan prioritas, membuat jadwal, dan menetapkan rencana.  Saya disiplin dan terorganisir.<br />
Kebiasaan 4.  Berpikir Menang-menang<br />
Saya menyeimbangkan keberanian kemauan saya dan kemauan orang lain.  Saya selalu mempertimbangkan perasaan orang lain.  Jika terjadi perselisihan, saya mencari alternatif ke tiga.</p>
<p>Kebiasaan 5.  Berusaha Memahami Dahulu, Kemudian Berusaha Dipahami<br />
Saya mendengarkan gagasan dan perasaan orang lain.  Saya mencoba melihat dari sudut pandang mereka.  Saya mendengarkan orang lain tanpa memotong pembicaraan.  Saya percaya diri menyuarakan gagasan saya.  Saya menatap mata lawan bicara saya.</p>
<p>Kebiasaan 6.  Wujudkan Sinergi<br />
Saya menghargai kekuatan orang lain dan belajar darinya.  Saya pandai bergaul, bahkan dengan orang yang berbeda dengan saya.  Saya bekerja baik dalam kelompok.  Saya meminta gagasan orang lain untuk memecahkan masalah karena saya tahu bila saya bekerja sama dengan orang lain maka kita dapat membuat solusi dengan lebih baik daripada kalau bekerja sendiri.  Saya selalu belajar untuk rendah hati.<br />
Kebiasaan 7.  Mengasah Gergaji<br />
Kebiasaan ke tujuh ini dimaknai dengan budaya selalu belajar, belajar tentang apapun juga, sehingga mampu melengkapi ke enam kebiasaan yang lain.<br />
Mudahkan mengimplementasikan budaya tersebut di sekolah kita?  Ternyata tidak.  Tetapi juga sangat mungkin untuk dilakukan.  Yang dibutuhkan hanyalah komitmen dari segenap komponen sekolah, dukungan dan partisipasi orang tua, maka yang tidak mungkin itu pun berubah menjadi sebuah kenyataan.<br />
Melalui Tujuh Kebiasaan ini kita berharap membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik (good society). Dan, masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala manusia-manusia Indonesia adalah manusia yang berakhlak dan berwatak baik, manusia yang bermoral dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berperilaku baik pula.<br />
Bangsa yang berkarakter unggul, disamping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.<br />
Lalu apa harapan orang tua yang mempercayakan anak-anaknya belajar di sekolah yang mengedepankan budaya-budaya unggul tersebut?  Pada umumnya mereka akan berpendapat bahwa sekolah ini sukses mendidik siswa karena mencintai dan menghormati siswa. Orang tua merasakan guru adalah sosok pendidik yang benar-benar mencintai anak-anak.  Dan mereka bekerja sepenuh hati membimbing siswa dari titik A ke titik B, ke titik C dan seterusnya lalu memastikan bahwa tahun-tahun selanjutnya siswa didiknya akan tetap bersinar.<br />
Guru adalah seorang pendidik yang benar-benar menginginkan yang terbaik untuk siswa-siswanya, dan memiliki kepedulian untuk meluangkan waktu guna menemukan bakat individu siswa, lalu mencari cara untuk mengasuh dan memberdayakan bakat tersebut.<br />
Sungguh, pada sekolah yang mengedepankan budaya positif berkembang dengan sangat sehat, anak tak perlu mencari teladan jauh-jauh, karena bagi mereka Kepala Sekolah, guru, siapa pun yang terlibat dalam keberlangsungan sekolah adalah teladan yang layak dijadikan panutan dalam tutur kata, cara berpikir, bertingkah laku, dan membangun relasi sosial.  Semoga.<strong> (Yohana Kristianti, S.Si, Pendidik di SMPN 1 Purbalingga)</strong></p>
<div id="attachment_10503" class="wp-caption alignleft" style="width: 490px"><a rel="attachment wp-att-10503" href="http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/yohana/"><img class="size-medium wp-image-10503" title="yohana" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/05/yohana-480x269.jpg" alt="Yohana Kristianti, S.Si" width="480" height="269" /></a><p class="wp-caption-text">Yohana Kristianti, S.Si</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/28/pendidikan-karakter-harapan-baru-membangun-peradaban-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sister School Untuk Purbalingga Go International</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/28/sister-school-untuk-purbalingga-go-international/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/28/sister-school-untuk-purbalingga-go-international/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 16:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10473</guid>
		<description><![CDATA[Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi, manajemen, dan sumber daya manusia.  Keunggulan teknologi akan menurunkan biaya produksi, meningkatkan kandungan nilai tambah, memperluas keragaman produk, dan meningkatkan mutu produk.  Keunggulam manajemen dapat mempengaruhi dan menentukan bagus tidaknya kinerja sekolah, dan keunggulan sumber daya manusia yang memiliki daya saing tinggi pada tingkat internasional, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10474" class="wp-caption alignleft" style="width: 212px"><a rel="attachment wp-att-10474" href="http://banyumasnews.com/2010/05/28/sister-school-untuk-purbalingga-go-international/agus-triyanto/"><img class="size-medium wp-image-10474" title="AGUS TRIYANTO" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/05/AGUS-TRIYANTO-202x270.jpg" alt="Drs Agus Triyanto, M.MPd" width="202" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Drs Agus Triyanto, M.MPd</p></div>
<p>Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam teknologi, manajemen, dan sumber daya manusia.  Keunggulan teknologi akan menurunkan biaya produksi, meningkatkan kandungan nilai tambah, memperluas keragaman produk, dan meningkatkan mutu produk.  Keunggulam manajemen dapat mempengaruhi dan menentukan bagus tidaknya kinerja sekolah, dan keunggulan sumber daya manusia yang memiliki <strong>daya saing tinggi</strong> pada tingkat internasional, akan menjadi daya tawar tersendiri dalam era globalisasi.</p>
<p>Dalam upaya peningkatan mutu tersebut, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan tiga rencana strategis dalam jangka menengah yaitu (1).  Peningkatan akses dan pemerataan dalam rangka penuntasan wajib belajar pendidikan dasar, (2).  Peningkatan mutu, efisiensi, relevansi, dan peningkatan daya saing, dan (3)  peningkatan manajemen, akuntabilitas, dan pencitraan publik.</p>
<p>Peningkatan mutu, efisiensi, dan peningkatan daya saing secara nasional dan sekaligus internasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, diupayakan dengan menetapkan pentingnya penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional, baik untuk sekolah negeri maupun swasta.  Berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan  yang bertaraf internasional ini maka (1) pendidikan bertaraf internasional yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu mencapai standar mutu nasional dan internasional, (2) pendidikan bertaraf internasional yang efisien adalah pendidikan yang menghasilkan standar mutu lulusan optimal (berstandar nasional dan internasional) dengan pembiayaan minimal, (3) pendidikan bertaraf internasional juga harus relevan, yaitu bahwa penyelenggaraan pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, orang tua, masyarakat, kondisi lingkungan, kondisi sekolah, dan kemampuan pemerintah daerahnya; dan (4) pendidikan bertaraf internasional harus memiliki daya saing yang tinggi dalam hal hasil-hasil pendidikan (output dan outcomes), proses, dan input sekolah baik secara nasional maupun internasional.</p>
<p>SMP Negeri 1 Purbalingga melalui SK Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional No.  543/C3/KEP/2001 tanggal 14 Maret 2007 ditetapkan sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.  Dan pada tahun 2010 ini berarti merupakan tahun ke  empat bagi sekolah kebanggaan masyarakat Purbalingga ini untuk terus berbenah menjadi Sekolah bertaraf Internasional dalam pengertian yang sesungguhnya.</p>
<p>Menurut Permendiknas No 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan SBI pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, yang dimaksud dengan Sekolah Bertaraf Internasional adalah sekolah yang sudah memenuhi seluruh SNP yang diperkaya dengan keunggulan mutu tertentu yang berasal dari negara anggota OECD atau negara maju lainnya.  Atau dapat dirumuskan bahwa SBI pada dasarnya merupakan pelaksanaan dan pemenuhan delapan (8) unsur SNP yang disebut sebagai indikator kinerja kunci minimal (IKKM) dan diperkaya /dikembangkan /diperluas / diperdalam dengan komponen, aspek atau indikator kompetensi yang isinya merupakan penambahan atau pengayaan/pendalaman/penguatan/perluasan dari delapan SNP tersebut sebagai indikator kinerja kunci tambahan (IKKT) dan berstandar internasional dari salah satu anggota OECD (Australia, Austria, Belgium, Canada, Czech Republic, Denmark, Finland, France, Germany, Greece, Hungary, Iceland, Ireland, Italy, Japan, Korea, Luxembourg, Mexico, Netherlands, New Zealand, Norway, poland, Portugal, Slovak Republic, Spain, Sweden, Switzerland, Turkey, United Kindom, United States) dan/atau negara maju lainnya (Chile, Estonia, Israel, Russia, Slovenia, Singapore, dan Hongkong).  Pencapaian IKKT ini dapat pula diterjemahkan bahwa sekolah memiliki <em>sister school</em> atau <em>school partnership</em> dengan negera-negara tersebut di atas.</p>
<p>Menilik pengertian SBI yang demikian, pasti juga bukan perkara mudah untuk mensejajarkan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di SMP Negeri 1 Purbalingga dengan pembelajaran yang berlaku pada negara anggota OECD atau negara maju lainnya.  Tetapi bukan pula suatu kemustahilan kalau SMP Negeri 1 Purbalingga mencoba menggapai mimpi mensejajarkan dengan sekolah-sekolah unggul di negara tersebut melalui <em>sister school</em>.  Kepercayaan diri ini didasari atas keyakinan bahwa Purbalingga mempunyai banyak potensi untuk dikembangkan dan ditularkan kepada seluruh warga dunia melalui pintu pendidikan.</p>
<p>Rintisan untuk membangun <em>sister school</em> di SMP Negeri 1 Purbalingga sudah dirintis sejak 2008 saat mengirimkan delegasi kunjungan belajar pertama ke Bukit Panjang Government High School Singapore (BPGHS) yang disusul dengan kunjungan balasan guru dan pelajar BPGHS ke SMP Negeri 1 Purbalingga.  Tahun 2009 kembali SMP Negeri 1 Purbalingga mengirimkan delegasi kunjungan belajar ke beberapa sekolah di Singapura, Mimmar Sinnan dan Mehmet Akif Ersoy 1, Istanbul, Turki sampai pada Maret, 2010 Memorandum of Understanding (MoU) antara SMP Negeri 1 Purbalingga dengan Anglican High School Singapore kembali disepakati dengan tindak lanjut kunjungan belajar siswa dan guru ke sekolah tersebut.</p>
<p>Upaya membangun jejaring internasional tak cukup berhenti di Anglican, Singapura sebagai pintu gerbang menuju kesejajaran pendidikan di negara-negara Asia, karena SMP Negeri 1 Purbalingga juga tengah merintis <em>sister school</em> dengan Samuel Marsden Collegiate School, New Zealand, untuk memperluas jejaring, membuka peluang pendidikan ke negara-negara Eropa.   Diawali dengan kunjungan Kepala Sekolah atas fasilitasi dari SEAMOLEC, dimana kegiatan ini bertujuan untuk membangun program kerjasama antar sekolah di Indonesia dan negara lainnya yang tertuang dalam sebuah “Action Plan”, <strong> </strong>meningkatkan kualitas pembelajaran melalui kolaborasi dalam belajar, membuka jalan bagi guru untuk melakukan riset bersama, berbagi pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai lainnya, kolaborasi dalam pembelajaran dalam beberapa mata pelajaran (Mathematics, English, Science, etc.) melalui sistem terbuka dan jarak jauh yang di fasilitasi oleh SEAMOLEC, meng-<em>upload</em> materi dan penilaian untuk para siswa yang terlibat (web based), standar yang sama dalam materi dan penilaian, kolaborasi dalam pembelajaran bahasa (Indonesia – Inggris, dll) akan difasilitasi  melalui program <em>school</em> <em>partnership </em>lewat email dan debat via vicon.<strong> </strong></p>
<p>Membangun jejaring sebagai bagian warga dunia untuk memberikan kontribusi aktif bagi proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Purbalingga juga dilakukan dengan menjadi member aktif <em>Connecting Classroom Asian Dialogues (CCAD)</em> yang difasilitasi oleh British Council dimana SMP Negeri 1 Purbalingga bermitra dengan sekolah-sekolah RSBI di Jawa Tengah dan Thailand serta sekolah di United Kingdom (UK).  Kerjasama ini dilakukan dalam bentuk forum dialog, <em>School to School Project</em>, sampai kepada pertukaran sumber belajar.  Ke depan, kerjasama ini juga dikembangkan dalam bentuk <em>Connecting Classroom Online</em>.</p>
<p>Banyak manfaat sudah diperoleh melalui kegiatan <em>school sister</em> di atas, khususnya bagi pengembangan SMP Negeri 1 Purbalingga sebagai satu diantara rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Jawa Tengah yang dinanti prestasinya oleh segenap masyarakat Purbalingga untuk menjadi sekolah bertaraf internasional dalam arti yang sesungguhnya.</p>
<p>Selain mengembangkan potensi sekolah, kegiata <em>sister school</em> ini juga sangat strategis untuk mempromosikan potensi wilayah Purbalingga dalam forum internasional dalam hal budaya, industri, serta keindahan alam dan panoramanya.    Maka demi kepentingan Purbalingga tercinta dalam mengembangkan pendidikan bertaraf internasional, tentu saja SMP Negeri 1 Purbalingga tidak mampu berjalan sendiri.  Dukungan pemerintah, masyarakat dan <em>stakeholder</em> yang lain sungguh dirasakan dan selalu dinantikan menuju kejayaan Purbalingga. <strong>(</strong><strong> Drs.  Agus Triyanto, M.M.Pd, Kepala SMP Negeri 1 Purbalingga)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/28/sister-school-untuk-purbalingga-go-international/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagi-Lagi Kampus ber-Biaya Mahal</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/05/lagi-lagi-kampus-ber-biaya-mahal/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/05/lagi-lagi-kampus-ber-biaya-mahal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 14:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10294</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Eko Prasetyo)*
JIKA manusia sederajat, mengapa orang miskin harus menjadi budak orang kaya? Mengapa orang muda bersih, tanpa dosa, harus menjadi ladang orang kaya yang kotor? Itukah realitas masyarakat? Itukah hukum orang kaya dan orang miskin?
(Chun Tae-il)
Kini kampus telah dikuburkan perannya. Walau UU BHP dicabut[3] tapi belum menjamin pendidikan di perguruan tinggi meluncur murah[4]. Terlanjur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em><a rel="attachment wp-att-10295" href="http://banyumasnews.com/2010/05/05/lagi-lagi-kampus-ber-biaya-mahal/eko-pras/"><img title="eko pras" src="../wp-content/uploads/2010/05/eko-pras.jpeg" alt="eko pras" width="105" height="105" /></a></em></p>
<p style="text-align: left;">Oleh: Eko Prasetyo)*</p>
<p align="center"><em><strong>JIKA</strong> manusia sederajat, mengapa orang miskin harus menjadi budak orang kaya? Mengapa orang muda bersih, tanpa dosa, harus menjadi ladang orang kaya yang kotor? Itukah realitas masyarakat? Itukah hukum orang kaya dan orang miskin?</em></p>
<p align="center"><em>(Chun Tae-il)</em></p>
<p>Kini kampus telah dikuburkan perannya. Walau UU BHP dicabut<a href="#_ftn3">[3]</a> tapi belum menjamin pendidikan di perguruan tinggi meluncur murah<a href="#_ftn4">[4]</a>. Terlanjur para pengelola kampus memperoleh nikmat dari biaya mahal. Terlanjur pula negara malas untuk mengalokasikan biaya bagi perguruan tingginya<a href="#_ftn5">[5]</a>. Dosen dan pengelola kampus mendapat upah yang tinggi dan jaminan karir yang stabil. Hal yang sama terjadi pada perusahaan yang mengikatkan diri bekerja-sama dengan kampus. Telah banyak dana CSR yang dimakan oleh beberapa kampus dan menjadi halal karena status otonomnya. Tak kalah pentingnya adalah ’jual beli’ gelar yang berlangsung secara berlebihan telah membuat kampus ’populer’ di kalangan pejabat. Punggawa kekuasaan yang rakus dan sewenang-wenang dengan gampang memperoleh gelar Doktor. Ibaratnya kampus telah merasakan kemakmuran dari statusnya yang sekarang. Berpaling dari kemakmuran tentu akan membawa kampus kembali pada masa lampau: tergantung, murah dengan dosen yang pas-pasan rejekinya.</p>
<p>Padahal yang terjadi adalah kampus mengenggam status komoditi bagi mahasiswanya. Dengan memasang status otonom maka kampus ’dibebaskan’ untuk menjerat biaya mahasiswa berapapun besarnya. Yang diperlukan kampus bukan mahasiswa berani tapi ber-uang. Yang dirindukan kampus bukan mahasiswa cemerlang tapi mahasiswa jutawan. Terlebih dengan status Perguruan Tinggi Negeri yang sudah tersohor, maka legenda itu jadi merk jualan yang ampuh. Berulang-ulang penulis saksikan bagaimana kebanggaan mahasiswa menikmati statusnya. Tinggal di kampus yang terkenal dan berada pada fakultas yang elite: Kedokteran, Farmasi,  Ekonomi, Hukum, dan Tekhnik. Fakultas idola yang selalu meraih juara dalam jumlah mahasiswanya. Sebaliknya fakultas seperti filsafat atau pertanian kian miskin peminat dan mulai berada dalam posisi buncit. Belenggu status itu yang membuat kampus kemudian tenggelam ke dalam lubang hitam perubahan.</p>
<p>Yang berubah pertama kali adalah gedung-gedung. Kini tiap kampus bertarung dalam mempercantik ruangan. Terlebih bagi kampus yang membuka kelas International dan kelas Pasca Sarjana. Ruangan disolek dengan energik dan yang menonjol adalah tempat dimana mahasiswa bisa mudah berselancar internet. Ruang-ruang hot spot dibuat untuk memudahkan mahasiswa bermain internet. Bahkan tak jarang taman-taman dibuat dengan menawan seolah kampus sarang para penikmat kecantikan alam. Tak jarang kampus juga membuat kantor-kantor praktek para pekerja: ruang bursa saham, ruang perbankan, ruang laborat hukum dan ruang untuk pelatihan. Kelak tiap ruangan itu akan dikutip sewa jika mahasiswa meminjamnya. Maknanya terang bahwa gedung kampus diperindah untuk menaikkan harga dan ruangan dipercantik biar mendatangkan sewa.</p>
<p>Tapi gedung hanya pucuk perubahan karena akarnya ada di pembiayaan. Pintu masuk dibuka dengan jalur beragam. Namanya bisa apa saja tapi lorong paling punya peran adalah porsi mahasiswa berduit. Bisa bernama Swadaya atau Mandiri. Di berbagai kampus prosentase untuk mereka kini melompat. Juga yang agak unik model pembiayaan bisa memakai beberapa jalur: dari biaya masuk, biaya tahunan, biaya per SKS, biaya pratikum hingga biaya wisuda. Pokoknya biaya membelit dari sejak mahasiswa masuk hingga mencapai status kelulusan. Tak bisa disangkal protes mahasiswa berawal dari ’ekploitasi’ pembiayaan yang kerapkali benar-benar tak masuk akal. Dan tiap biaya tak diberitahukan penggunaan dan mekanisme pertanggung-jawaban. Makanya ada beberapa kampus yang kini diajukan ke pengadilan karena pengurusnya terindikasi korupsi. Biaya telah membuat kampus menjadi lembaga birokrasi: tertutup, minim pertanggung-jawaban dan enggan untuk dievaluasi.</p>
<p>Sejak awal pada titik inilah kampus kurang memberikan informasi menyeluruh pada mahasiswa. Tak sedikit mahasiswa yang selalu mengutuk kampus dengan pembiayaan karena dua landasan: <em>pertama </em>biaya itu jauh dari kemampuan orang tua<a href="#_ftn6">[6]</a> menanggung dan <em>kedua </em>biaya itu jauh dari fasilitas yang tersedia. Kedua-duanya menimbun semangat manipulasi. Karena manipulasi itu maka Kampus dikuatirkan menyimpan orientasi yang berseberangan: di satu sisi kampus berunsur komersial dan di sisi lain kampus berkeinginan untuk menerapkan semangat pengabdian. Tabrakan peran ini mencuat dari sejumlah gejala yang timbul dan marak di kampus-kampus. <em>Pertama</em> makin kecilnya ruang pengabdian kampus pada masyarakat. Hingga kini jumlah dosen yang melakukan kerja-kerja pengabdian makin menipis. Kampus bahkan enggan memprkarsai temuan-temuan sosial penting dari sebuah kawasan bermasalah<a href="#_ftn7">[7]</a>. <em>Kedua </em>makin menipisnya tradisi intelektual yang tampak dari minimnya karya dan maraknya praktek plagiat yang dilakukan oleh dosen<a href="#_ftn8">[8]</a>. Gejala kedua ini merisaukan karena kampus kerapkali berdiam diri dan enggan memberi sanksi. Padahal di Inggris dosen yang melakukan plagiat bisa menimbulkan duka di sebuah kota. <em>Ketiga</em> gejala birokratisasi di kampus dimana dosen-dosen populis, radikal dan progresif seringkali dikucilkan dalam ruang pergaulan kampus. Terlebih dengan maraknya kampus jadi ’alat rekruietmen’ partai menjadikan kampus sarang elite atau cabang dari ambisi kekuasaan! Dosen-dosen itu seperti penghuni liar yang selalu tak mendapatkan posisi struktural.</p>
<p>Dengan kerisauan semacam ini memang waktunya kampus untuk berkaca diri. Sejarah pendirian kampus selalu terpaut dengan kehendak untuk pembebasan. Kampus bukan sekedar menjadi pelayan kekuatan modal atau pemasok aparatur bagi negara, tapi yang utama, tempat dimana akal sehat dan semangat persaudaraan pada yang lemah dirawat. Begitulah kampus kemudian menegaskan diri, dengan memakai nama para pejuangnya atau menempatkan sejarah para pendirinya. Ukiran semangat itu terukir dalam semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang semangatnya mirip dengan kehendak Gramsci untuk melahirkan intelektual organik. Lewat Tri Dharma itulah kampus sesungguhnya menautkan diri pada yang lemah dan tertindas: kelak jika lahir para elite maka mereka harus berakar dari pendidikan etik yang ditanamkan dari kampus. Bukan tugas kampus untuk melahirkan para pekerja tapi adalah kewajiban kampus untuk menunaikan pengabdian kepada rakyatnya. Berpaut dengan sejarah itulah yang mampu menjadikan kampus sebagai sangkar pendidikan, sebagaimana yang dulu diukir dengan cetusan kata-kata Soekarno</p>
<p>&#8230;faktor yang menentukan dalam perjuangan pembebasan nasional tidak terletak pada kelompok intelektual yang kecil itu, melainkan pada massa, dan pada massa yang sudah bangkit, pada waktunya, akan melahirkan pemimpin-pemimpin mereka sendiri&#8230;tugas kaum Intelektual adalah membangkitkan kekuatan rakyat, menafsirkannya, dan memberikan suatu landasan teoritis bagi tindakannya&#8230;..</p>
<p>Dalam lorong penindasan panjang negeri ini yang belum merdeka, mustinya, Kampus mau merelakan diri untuk memiliki peran terdepan: melahirkan mahasiswa-mahasiswa pejuang yang mampu mememberi terang masa depan. Juru terang itu syaratnya sederhana: kemauan keras berkorban dan kehendak untuk terlibat dalam pergulatan. Saya percaya wajah masa depan negeri ini terletak dari sejauh mana Kampus menjadi tempat yang rindang, baik bagi yang lemah maupun yang kuat. Kampus sangkar dimana para pejuang muda menatah diri dengan sendi kerisauan melihat masa depan!</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Disampaikan pada diskusi BEM Unsoed 1 Mei 2010. Terimakasih atas data dan bahan-bahan yang dikirimkan oleh Panitia yang menjadi latar belakang dari penulisan makalah ini</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Penulis Resist Book. Buku terakhir ”Bisnis Orang Sakit’ dan ’Keadilan tidak untuk Yang Miskin’</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> MK menengarai dua hal yang dianggap melanggar BHP, pertama adalah Prinsip penyeragaman, ada 6.600 kampus yang kelak akan diseragamkan dan pengalihan beban dari negara ke masyarakat. Prinsip terakhir ini nyata-nyata mengambil alih semangat neo liberalisme yang menjadikan masyarakat sebagai tali rantai kekuatan bisnis.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Agak unik debat antara yang pro dan kontra BHP selalu memakai orang miskin. Bahkan yang pro BHP mengatakan sejak dicabutnya UU BHP maka kewajiban 20% kampus untuk alokasi orang miskin menjadi tidak ada dan itu membuat kampus kehilangan komitmen. Lih Koran Tempo 30 April 2010</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Anggaran pendidikan tinggi yang dialokasikan pemerintah hanya 0,27 persen dari Produk Domestik Bruto, sedangkan Malaysia saja bisa mencapai angka 2,2 persen dan itu mampu membuat Malaysia membebaskan diri dari biaya. Lih Koran Tempo 29 April 2010</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Dengan UMR DIY sebesar Rp 586.000 dan Jawa Tengah Rp 547.000 maka biaya per SKS yang mencapai 100 ribu dan tujuh ratus ribu per semester membuat anak-anak buruh sudah pasti tidak sanggup untuk membiayai anak-anaknya kuliah. Terlebih kampus yang menerapkan uang masuk dengan biaya jutaan. Penerapan biaya kampus yang selalu melompat jauih dari UMR membuat muncul pertanyaan tentang sesungguhnya kampus itu menyediakan diri untuk mahasiswa tipe yang mana?</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Keluhan unik terjadi pada warga Kulon Progo pada sedikitnya cendekiawan Yogyakarta yang membantu mereka menolak tambang pasir besi dan bahkan UGM pernah dikerubung oleh masyarakat karena dianggap menjadi penyebab diijinkanya eksplorasi tambang pasir besi. Sebuah situasi yang terjadi di banyak kampus dimana kampus tambah menjadi pendukung pemodal ketimbang pelindung rakyat.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Jadi, dari 1.650 dosen di ITB, hanya sekitar 4-6 persen saja yang menyiapkan diktat kuliah,&#8221; kata Amrinsyah Nasution yang mengepalai Penerbit ITB saat ini. Situasi makin diperuncing dengan gejala penjiplakan yang dilakukan oleh banyak kampus</p>
<p><em>)*Eko Prasetyo (Penulis Buku ‘Orang Miskin Dilarang Sekolah’). Lahir di Pacitan 06 Januari 1972. Penulis dan Peneliti. Riwayat Pendidikan UII,pegiat Resist Book.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/05/lagi-lagi-kampus-ber-biaya-mahal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Novel ngapak ‘Geger Wong Ndekep Macan’ dibedah di Unsoed</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/05/04/novel-ngapak-%e2%80%98geger-wong-ndekep-macan%e2%80%99-dibedah-di-unsoed/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/05/04/novel-ngapak-%e2%80%98geger-wong-ndekep-macan%e2%80%99-dibedah-di-unsoed/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 03:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[SENI BUDAYA]]></category>
		<category><![CDATA[novel berbahasa ngapak; banyumas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10269</guid>
		<description><![CDATA[PURWOKERTO – Novel berbahasa Jawa Ngapak atau Banyumasan berjudul “Geger Wong Ndekep Macan” karya Hari Soemoyo, akan dilaunching pada hari Kamis, 6 Mei 2010 di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, pukul 09.00 sd selesai.
Acara diadakan oleh HMPS Prodi Sastera Indonesia FISIP Unsoed yang sekaligus ditandai dengan ‘bedah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PURWOKERTO – Novel berbahasa Jawa Ngapak atau Banyumasan berjudul “Geger Wong Ndekep Macan” karya Hari Soemoyo, akan dilaunching pada hari Kamis, 6 Mei 2010 di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, pukul 09.00 sd selesai.</p>
<p>Acara diadakan oleh HMPS Prodi Sastera Indonesia FISIP Unsoed yang sekaligus ditandai dengan ‘bedah buku’ atas novel yang disebut-sebut novel berbahasa Banyumas pertama itu. Sebagai pembedah akan tampil Surya Esa dengan pembanding Sugeng Wiyono.</p>
<p>Novel ‘Geger Wong Ndekep Macan’ karya Hari Widianto Soemoyo, atau yang dikenal juga sebagai Hari Ngapak menurut Bambang Setiawan, Litbang Kompas dalam komentar di cover belakang buku mengatakan novel ini adalah salah satu karya sastra yang mengangkat realita sosial, ekonomi dan politik pedesaan era tahun 1980-an hingga 2000-an.</p>
<p>Dituturkan dalam bahasa ngapak pinggiran yang renyah, dalam bahasa Banyumasan sebagai salah satu entitas bahasa di Jawa. Pengetahuan bahasa pengarang dinilai sangat luas, ditunjukkan dengan istilah dan diksi bahasa Banyumas pinggiran saat ini yang diungkapkan dalam cerita kekinian, namun tetap menggambarkan falsafah hidup pedesaan.</p>
<p>Novel ini bisa menjadi salah satu bahan penelitian tidak hanya sastra, namun juga penelitian tentang sosio-kultural. Selain itu, karya sastra ngapak Banyumasan ini bisa menjadi dokumentasi yang berharga atas bahasa local yang oleh sementara kalangan ‘akan punah ini’. (BNC/puh)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/05/04/novel-ngapak-%e2%80%98geger-wong-ndekep-macan%e2%80%99-dibedah-di-unsoed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mungkinkah ada PSCS Holcim, PSCS PLTU, atau PSCS Pertamina?</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/03/29/mungkinkah-ada-pscs-holcim-pscs-pltu-atau-pscs-pertamina/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/03/29/mungkinkah-ada-pscs-holcim-pscs-pltu-atau-pscs-pertamina/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 15:29:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[CILACAP]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>
		<category><![CDATA[pscs cilacap; cilacap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9852</guid>
		<description><![CDATA[Keberhasilan PSCS Cilacap menembus kompetisi Divisi Utama PSSI membangkitkan gairah pemberdayaan potensi olah raga di Cilacap. Berbagai wacana berkembang, dari perlunya perbaikan stadion, rekrutmen pemain, sampai bagaimana industri yang ada di kota Cilacap dapat ikut berpartisipasi dalam prestasi olahraga di kota di bagian barat daya Jawa Tengah ini.
Diskusi-diskusi hangat antara lain bisa diikuti di facebooker [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keberhasilan PSCS Cilacap menembus kompetisi Divisi Utama PSSI membangkitkan gairah pemberdayaan potensi olah raga di Cilacap. Berbagai wacana berkembang, dari perlunya perbaikan stadion, rekrutmen pemain, sampai bagaimana industri yang ada di kota Cilacap dapat ikut berpartisipasi dalam prestasi olahraga di kota di bagian barat daya Jawa Tengah ini.</p>
<p>Diskusi-diskusi hangat antara lain bisa diikuti di facebooker pecinta PSCS di situs jejaring sosial facebook. Rasa bangga menjadi orang Cilacap pun mencuat seiring prestasi PSCS menjadi kesebelasan pertama di tlatah Banyumas yang mampu menembus kompetisi PSSI yang hanya satu level di bawah ISL (Indonesian Super League).</p>
<p>Adalah Ketua DPRD Cilacap, Fran Lukman sendiri yang mewacanakan ‘parisipasi’ pengusaha besar atau industri yang ada di Cilacap dalam olahraga. Seperti dikutip sebuah media, dia  menyatakan perusahaan yang ada di Cilacap setidaknya bisa dilibatkan untuk pemberdayaan olahraga dengan cara menjadi bapak asuh. Dia mencontohkan beberapa daerah lain yang bidang olahraganya cukup maju karena keterlibatan perusahaan. Seperti di Surabaya, Pabrik Semen Gresik jadi sponsor sepak bola Persebaya. Di Kudus, PT Djarum mem-back up penuh bidang olah raga bulutangkis dan banyak contoh lainnya.</p>
<p>Di Cilacap memang tumbuh perusahana besar baik swasta maupun BUMN. Ada BUMN Pertamina, pabrik seman Holcim (swasta), ada PLTU (PT ASDP), pabrik gula rafinasi PT DUS (Dharmapala Usaha Sukses), pabrik tepung gandung Pangan Mas, dll.</p>
<p>Karenanya tokoh politisi senior Cilacap ini mendorong agar Pemkab mulai memfasilitasi dengan cara mendorong agar perusahaan besar tersebut bersedia menjadi bapak asuh atau sponsor olahraga. Harapannya, potensi olahraga di Cilacap dapat lebih berkembang dan profesional.</p>
<p>Kalau sudah ada sponsor dari BUMN/swasta, tentu tidak akan membebani anggaran daerah, seperti yang selama ini terjadi.</p>
<p>Kalau Pemkab berhasil menggaet salah satu perusahaan besar yang ada, maka barangkali nanti (berandai-andai saja, boleh ‘kan?) akan ada nama kesebelasan yang berlaga di Divisi Utama dengan nama PSCS Pertamina, PSCS Holcim, PSCS DUS, PSCS PLTU atau PSCS Panganmas?</p>
<p>Lalu Anda warga Cilacap penggemar ‘PSCS Wijayakusuma’ Cilacap, setujukah dengan wacana di atas? Atau tidak peduli, apa pun yang akan ditempuh Pemkab, asal sah (halal) dan bisa dipertanggungjawabkan akuntabilitasnya, yang penting PSCS bisa berjaya? *)</p>
<p><em>*) Andin S – penggemar PSCS</em></p>
<p><em></p>
<div id="attachment_9853" class="wp-caption alignleft" style="width: 299px"><em><a rel="attachment wp-att-9853" href="http://banyumasnews.com/2010/03/29/mungkinkah-ada-pscs-holcim-pscs-pltu-atau-pscs-pertamina/laskar-cilacapkab-go-id/"><img class="size-full wp-image-9853  " title="laskar - cilacapkab.go.id" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/03/laskar-cilacapkab.go.id.jpg" alt="Antusiasme supporter PSCS - foto:pemkab" width="289" height="194" /></a></em><p class="wp-caption-text">Antusiasme supporter PSCS - foto:pemkab</p></div>
<p></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/03/29/mungkinkah-ada-pscs-holcim-pscs-pltu-atau-pscs-pertamina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian nasional dan nasib guru wiyata bhakti</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/03/28/ujian-nasional-dan-nasib-guru-wiyata-bhakti/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/03/28/ujian-nasional-dan-nasib-guru-wiyata-bhakti/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Mar 2010 12:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>
		<category><![CDATA[nasib guru wiyata bhakti; banyumas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9829</guid>
		<description><![CDATA[Dunia pendidikan nasional sedang disibukkan dengan pelaksanaan ujian nasional (UN). Setelah pekan lalu siswa SMA (dan SMK/MA), mulai 29 Maret 2010 giliran UN untuk tingkat SMP / MTs. Setiap tahun UN selalu ditanggapi dengan pro-kontra, bahkan sampai harus ada uji materi di tingkat Mahkamah Agung.
Isu penting lain di dunia pendidikan kita adalah nasib kesejahteraan para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia pendidikan nasional sedang disibukkan dengan pelaksanaan ujian nasional (UN). Setelah pekan lalu siswa SMA (dan SMK/MA), mulai 29 Maret 2010 giliran UN untuk tingkat SMP / MTs. Setiap tahun UN selalu ditanggapi dengan pro-kontra, bahkan sampai harus ada uji materi di tingkat Mahkamah Agung.</p>
<p>Isu penting lain di dunia pendidikan kita adalah nasib kesejahteraan para guru, khususnya guru wiyata bhakti (WB) atau guru Bantu, yang selama ini ikut berperan ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ melalui pengabdian mereka. Peran mereka hampir sama dengan peran guru pegawai negeri sipil (PNS) dalam memajukan pendidikan nasional, namun soal kesejahteraan?</p>
<p>Apakah senyum guru secerah senyum dalam gambar ilustrasi di bawah ini?</p>
<p>Seorang guru wiyata bhakti di sebuah sekolah dasar di Cilacap, sebutlah bernama Nuri saat dihubungi melalui telepon kemarin mengatakan setiap bulan dia hanya mendapat insentif sebesar Rp. 200.000 dari sekolah tempatnya mengajar. Sementara pengeluaran dia setiap bulan tentu lebih dari itu. Harapannya ada perbaikan ‘upah’ baginya.</p>
<p>“Saya berharap pemerintah mau menaikkan honor sesuai dengan upah minimum regional,&#8221; harap dia.</p>
<p>Banyak cerita soal gaji guru-guru wiyata bhakti ini, termasuk di tlatah Banyumas ini. Ada seorang guru yang telah mengabdi selama 10 tahun dan kini tengah berjuang meraih sarjana agar gajinya sedikit bertambah. Saat ditanya berapa gaji ibu saat ini? Dia menjawab Rp.100 ribu per bulan. Ya 100 ribu!</p>
<p>Ada cerita lagi seorang guru yang baru mengabdi tiga tahun,  digaji Rp. 50 ribu sebulan, jumlah yang tentu saja jauh dari mencukupi kebutuhan hidup. Ia pun bekerja sambilan menjadi tukang sayur di pagi hari sebelum mengajar. Malam harinya ia masih bekerja lagi menjaga toko. Dan, sungguh luar biasa, di luar aktifitas tersebut dia masih menyempatkan kuliah untuk mencari gelar sarjana.</p>
<p>Coba Anda datang juga ke pangkalan-pangkalan ojek motor&#8230; di situ ada satu dua guru yang juga &#8216;nyambi&#8217; jadi tukang ojek. Inilah fakta dunia pendidikan kita.</p>
<p><strong>Pemerintah ?</strong></p>
<p>Menanggapi berbagai keluhan para guru wiyata bhakti, di Cilacap Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Cilacap   Sudarno ST,SH mengatakan permasalahan tersebut akan disampaikan kepada pemerintah agar ditindaklanjuti. Dia menegaskan keberadaan guru bantu atau wiyata bhakti selama ini dirasakan sangat membantu perkembangan dunia pendidikan di Kabupaten Cilacap.</p>
<p>&#8220;Sudah selayaknya pemerintah berterimakasih dan memperhatikan keberadaan mereka. Tanpa adanya guru wiyata bhakti saya tidak bisa membayangkan dunia pendidikan di sini akan seperti apa,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sudarno menambahkan saat ini Kabupaten Cilacap sangat kekurangan tenaga pengajar, kondisi tersebut menurutnya baru akan terasa pada tahun 2013 mendatang karena banyak guru memasuki masa pensiun.</p>
<p>Sementara itu Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Tulus Wibowo SH mengatakan ada dua jenis guru wiyata bhakti yaitu yang diangkat pemerintah dan diangkat komite sekolah. Guru wiyata bhakti pemerintah, honornya telah disesuaikan upah minimum regional sementara yang diangkat komite sekolah honor ditetapkan sekolah tempat guru tersebut mengajar.</p>
<p>Pemerintah Kabupaten Cilacap menurutnya telah membantu kesejahteraan guru wiyata bhakti komite dengan jalan memberikan tambahan Rp. 100 ribu,  sementara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberi Rp. 250 ribu.</p>
<p>Menurutnya lagi saat ini pemerintah sudah tidak boleh mengangkat guru wiyata bhakti, karena itu untuk permintaan kenaikan honor disarankan mengajukan ke sekolah masing-masing. (BNC/ist)</p>
<div id="attachment_9830" class="wp-caption alignleft" style="width: 308px"><a rel="attachment wp-att-9830" href="http://banyumasnews.com/2010/03/28/ujian-nasional-dan-nasib-guru-wiyata-bhakti/ilsutrasi-guru/"><img class="size-full wp-image-9830" title="ilsutrasi guru" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/03/ilsutrasi-guru.jpg" alt="Ilustrasi: secerah apakah senyum guru?" width="298" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi: secerah apakah senyum guru?</p></div>
<div id="attachment_9831" class="wp-caption alignleft" style="width: 340px"><a rel="attachment wp-att-9831" href="http://banyumasnews.com/2010/03/28/ujian-nasional-dan-nasib-guru-wiyata-bhakti/demo-guru/"><img class="size-full wp-image-9831" title="demo guru" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/03/demo-guru.jpg" alt="Demo guru wiyata bhakti menuntut jadi PNS" width="330" height="260" /></a><p class="wp-caption-text">Demo guru wiyata bhakti menuntut jadi PNS</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/03/28/ujian-nasional-dan-nasib-guru-wiyata-bhakti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Banyumas tidak punya &#8216;krama inggil&#8217;?</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/03/12/orang-banyumas-tidak-punya-krama-inggil/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/03/12/orang-banyumas-tidak-punya-krama-inggil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 23:44:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>
		<category><![CDATA[banyumasan; ngapak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9541</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Irawan
Pernah saya bertanya kepada seorang teman tentang penggunaan krama inggil atau bahasa Jawa halus orang orang Banyumas dan sekitarnya yang berbahasa ngapak ngapak terutama, ketika berbicara dengan orang yang lebih berumur. Jawaban teman saya waktu itu “Kayaknya ngga ada lho Wan, wong saya juga ngga pernah basa sama orang tua saya. Kalo basa malah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-9542" href="http://banyumasnews.com/2010/03/12/orang-banyumas-tidak-punya-krama-inggil/irawan/"><img class="alignleft size-full wp-image-9542" title="irawan" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/03/irawan.jpg" alt="irawan" width="277" height="324" /></a></p>
<p>Oleh Irawan</p>
<p>Pernah saya bertanya kepada seorang teman tentang penggunaan krama inggil atau bahasa Jawa halus orang orang Banyumas dan sekitarnya yang berbahasa ngapak ngapak terutama, ketika berbicara dengan orang yang lebih berumur. Jawaban teman saya waktu itu “Kayaknya ngga ada lho Wan, wong saya juga ngga pernah <em>basa</em> sama orang tua saya. Kalo basa malah rasanya wagu.” Pertanyaan saya diawali dengan perhatian saya pada teman teman ketika berbicara dengan orang yang lebih berumur dengan bahasa yang sama dengan ketika mereka berbicara dengan teman sendiri. Beberapa teman justru bilang: “Lah memang sudah adate kaya gitu ko, kasar.”</p>
<table border="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">Blakasuta, adalah prinsip yang orang Banyumas sebut. Open mind, straight forward dan egalitarians. Selain itu juga pertanyaan saya berdasarkan perbandingan saya ketika saya di Solo. Saya melihat seorang kernet angkot mempersilahkan orang yang lebih tua untuk masuk ke angkotnya dengan nada yang lemah lembut dan dengan krama inggil yang enak sekali didengar. Dibandingkan dengan kernet angkot Purwokerto yang tidak perduli muda tua laki laki perempuan, dengan lantangnya bicara ‘kasar’.</p>
<p>Kesimpulan saya waktu itu memang mungkin orang orang Banyumas tidak memiliki krama inggil, atau kalaupun memang ada, hanya dipakai oleh orang orang tertentu yang mungkin dari kalangan priyayi.  Hal ini bisa jadi karena ke engganan kaum muda untuk belajar dan menggunakan krama inggil sehari harinya dan memilih menggunakan bahasa Indonesia yang dianggap lebih sopan daripada krama Inggil sendiri.</p>
<p>Buat Anda yang pernah tinggal di daerah Ngapak (Banyumas dan sekitarnya), seberapa seringkah anda mendengar anak muda umur belasan atau kurang berbicara krama inggil ke orang tua mereka? Hampir tidak pernah kalau saya. Mungkin karena pergaulan saya yang kurang beruntung sehingga saya tidak pernah  mendengar teman teman saya berbicara dengan krama inggil ke orang yang lebih berumur? Saya rasa tidak. Karena saya berfikir tata krama tidak mengenal kasta, lseperti contoh kernet di Solo,  meskipun faktanya tidak seperti itu.</p>
<p>Mengacu pada tulisan saya seblumnya yang mengutip bahwa Banyumas termasuk mancanegara yang berarti jauh dari keratonan yang menggunakan bahasa krama inggil. Lagipun teman teman saya berasal dari sekolah unggulan daerah ini dan Unsoed yang merupakan satu satunya Uni negeri di daerah ini.</p>
<p>Saya tidak membahas penggunaan bahasa di kegiatan formal seperti pernikahan karena itu bukan bahasa sehari hari. Toh juga tidak banyak orang yang mudeng bahasa seperti itu sepenuhnya terutama anak muda. Jadi bisa dibilang sebenarnya bahasa Banyumas hampir sama dengan bahasa yang dipakai di Negara-negara barat yang kecuali “dengan pak, bu, mba dan mas”nya yang tidak mengenal hirarki umur. Begitu juga dengan bahasa Indonesia.</p>
<p>Saya sadar betul bahwa semua bahasa di dunia ini mengalami degradasi, kalau kita bisa menyebutnya demikian, bahkan bahasa internasional itu sendiri. Pengaruh dari berbagai Negara dan berbagai bahasa menjadi salah satu unsurnya dan migrasi dari Eropa ke benua benua penemuan  seperti Amerika, Australia, dan Africa Selatan. Awalnya semua bahasa Inggris dari Inggris dan sekitarnya, haha, tentu saja. Tapi begitu mereka menemukan ‘pulau-pulau baru’ bahasa mereka pun berubah meskipun tidak total. Setidaknya dialect dan beberapa frase saja.</p>
<p>Generasi merupakan pengaruh yang besar bagi perubahan Bahasa juga. Kalau kita lihat di hampir semua bahasa daerah di Indonesia, anak mudanya cenderung berka’bah ke Jakarta sebagai Mekahnya gaya dan gengsi. Nggak tau apa yang mereka lihat dari <em>crwoded</em> <em>concrete jungle</em> itu. Penggunaan Elu dan Gua sepertinya wajib ditambahkan dalam bahasa mereka.</p>
<p>Tak kalah pula bahasa Bali yang terpengaruh. Lucu memang mendengarnya ketika anak muda Bali berbicara bahasa daerah ber Elu-Gua dengan dialek Balinya. Lebih lucu lagi bahasa Ngapak yang terpengaruh. Beberapa teman saya berceloteh melucu: “<em>Gyeh Wan, kemaren gua liat Paijo Hondahan pelan pelan di prapatan, trus gua panggil panggil sampe mbengok mbengok ko ngga nylingak nylingak. Eh ga taunya kupingnya lagi pake ipod. Gua ya jadi celilian sendiri</em>.”</p>
<p>Kembali ke krama Inggil, memang anak muda sekarang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia kepada orang tuanya daripada krama Inggil yang lebih enak didengar. Tidak bisa menyalahkan generasi muda saja, orang tua juga mereka tidak perduli apakah anak anak mereka bisa berbahasa krama inggil atau tidak, jadi ya wis.</p>
<p>Hal menarik ketika saya mencoba menggunakan bahasa krama inggil di mailinglist berbahasa ngapak dan saya membuat satu kesalahan, saya disebut tidak punya unggah ungguh. Ironis.</p>
<p>Penulis mengharapkan koreksi dan masukan atas kesalahan yang mungkin dibuat. Terimakasih. (tulisan ini diambil dari goleti.com, kami muat kembali karena menarik sebagai bahan diskusi menyangkut bahasa / dialek Jawa Ngapak Banyumasan. Redaksi)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/03/12/orang-banyumas-tidak-punya-krama-inggil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibutuhkan Trik Menarik Penyajian Sastra di Sekolah</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/02/23/dibutuhkan-trik-menarik-penyajian-sastra-di-sekolah/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/02/23/dibutuhkan-trik-menarik-penyajian-sastra-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 14:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[SASTRA]]></category>
		<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9135</guid>
		<description><![CDATA[


Oleh: Puji Ambarwati, S.Pd *)
BAGI seorang guru bahasa Indonesia  menyajikan  materi  apresiasi  sastra  tidaklah  mudah. Uuntuk  menjadi  guru  sastra  yang  baik  harus  mempunyai  kecintaan  pribadi  terhadap  karya  sastra. Sastra  baginya  menjadi  sumber  kenikmatan, selalu  mengikuti  perkembangan  sastra  dan  kegiatan  di  bidang  sastra  . Guru  yang  kreatif  dan  dinamis  akan  mempengaruhi  keberhasilan  siswa  dalam  berapresiasi.
Siswa  adalah  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="file:///E:/puji%20jadi.jpg" alt="" /></p>
<p><strong><a rel="attachment wp-att-9136" href="http://banyumasnews.com/2010/02/23/dibutuhkan-trik-menarik-penyajian-sastra-di-sekolah/puji-jadi-2/"><img class="alignleft size-full wp-image-9136" title="puji jadi" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/02/puji-jadi1.jpg" alt="puji jadi" width="312" height="416" /></a><br />
</strong></p>
<p><strong>Oleh: Puji Ambarwati, S.Pd *)</strong></p>
<p>BAGI seorang guru bahasa Indonesia  menyajikan  materi  apresiasi  sastra  tidaklah  mudah. Uuntuk  menjadi  guru  sastra  yang  baik  harus  mempunyai  kecintaan  pribadi  terhadap  karya  sastra. Sastra  baginya  menjadi  sumber  kenikmatan, selalu  mengikuti  perkembangan  sastra  dan  kegiatan  di  bidang  sastra  . Guru  yang  kreatif  dan  dinamis  akan  mempengaruhi  keberhasilan  siswa  dalam  berapresiasi.</p>
<p>Siswa  adalah  pelaku  utama dalam  apresiasi  sastra  oleh  karena  itu  usahakan  siswa   mau menggauli  karya  sastra  yang materi  bahannya  bisa  diberikan  oleh  guru dengan mengikuti  perkembangan  sastra , atau  siswa disuruh  mencari  sendiri  karya sastra yag ada  di   perpustakaan  atau  bisa  juga  dis  internet.Siswa  diharapkan  bisa  memperoleh  pengalaman  sendiri  dengan  banyak  membaca,mencoba  untuk  mengarang,bercerita,memerankan  lakon  dan  mengamati  bentuk  sastra sedangkan  guru hanya  berfungsi  sebagai pembimbing.</p>
<p>Pelajaran  Bahasa  Indonesia  yang hanya  diberikan  2&#215;45  menit  untuk  SMK  setiap  minggunya  harus  dapat  disiasati  oleh  seorang  guru  agar  semua  kompetensi  dapat  dilaksanakan  dan  mencapai  tujuan  yang  diharapkan.  Dengan  demikian  pemiilihan  metode juga  amat  berpengaruh  dalam  berhasil  tidaknya  kegiatan  apresiasi.</p>
<p>Mengapresiasi  teks  seni  berbahasa  dalam  hal  ini  prosa  dan  puisi  agak  berbeda  .Prosa  yang  sebagian  ceritanya  panjang , sukar  untuk  digarap  secara  keseluruhan  pada waktu  tatap  muka.Sedangkan  puisi bisa  diberikan  pada waktu  tatap muka.Maka  tindakan  yang  ditempuh  adalah  menyuruh  siswa  untuk  membaca novel  di  rumah  kemudian  membuat  sinopsisnya  dan  mencari  unsur  intrinsiknya.Agar  lebih  menarik  tugas  yang  telah  dikerjakan  siswa  kemudian  didiskusikan . Sebagai  contoh  mencari  unsur  penokohan  maka , siswa  kita ajak  untuk  menyebutkan  tokoh  tokohnya, memilih  tokoh  yang  disenangi,  mengapa  menyenangi  tokoh  tersebut,  bagaimana  pribadi  tokoh  tersebut.</p>
<p>Untuk  menyiasati  ketidakseimbangan  antara  jumlah  jam  mengajar  dengan  kompetensi  yang  harus  dicapai , sejumlah  trik  bisa  dilakukan  yaitu  dengan  cara  membagi  majalah  langganan  sekolah  sebagai  salah  satu  sumber  belaja r setiap  kita  masuk  kelas.  Kemudian   upayakan  siswa  selalu  membaca  cerpen  dan  puisi  meskipun  bukan materi  apresiasi  yang  akan  disampaikan  guru.Dalam  cerpen  kita  bisa berbicara  tentang  kata  baku  dan  tidak  baku,majas,peribahasa,kalimat  efektif  dan  tidak  efektif, pola  kalimat  dan  sebagainya.Lakukan  sesering  mungkin  agar  siswa  terbiasa   menikmati  karya  seni  orang  lain . Dengan  demikian  akan  muncul  penghargaan  atau  apresiasi  terhadap  karya tersebut  dan  pada  akhirnya  mencoba untuk  menciptakan  sendiri karya  sastra  baik  prosa  maupun  puisi.</p>
<p>Ketika  tiga  hal  di  atas  dapat  kita  lakukan  ,maka  tanpa  kita  sadari  setiap  guru  masuk  kelas  selalu  ada  kegiatan  apresiasi  tanpa mengabaikan  kompetensi  dasar  yang  lainnya.Sekali  merengkuh  dayung  dua  tiga pulau  terlampaui.</p>
<p><em>*)Puji Ambarwati  S.Pd.peminat satra dan  Guru  SMK  Negri  2  Banyumas.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/02/23/dibutuhkan-trik-menarik-penyajian-sastra-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemanfaatan Teknologi Media  Radio (FM) untuk Meningkatkan Kemampuan Menyimak Siswa</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/02/21/pemanfaatan-teknologi-media-radio-fm-untuk-meningkatkan-kemampuan-menyimak-siswa/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/02/21/pemanfaatan-teknologi-media-radio-fm-untuk-meningkatkan-kemampuan-menyimak-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 12:34:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9074</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Drs. Joko Susilo *) 
BAHASA adalah alat komunikasi yang  biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Bahasa itu  termanifestasi dalam bentuk  kalimat-kalimat.  Kalimat yang kita dengar secara utuh dan benar dari penuturnya akan mengantarkan kita  menjadi pendengar/penyimak  yang baik. Kalau kita bisa menjadi pendengar yang baik nantinya dalam memberi respon atau tanggapan pada teman kita juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a rel="attachment wp-att-9075" href="http://banyumasnews.com/2010/02/21/pemanfaatan-teknologi-media-radio-fm-untuk-meningkatkan-kemampuan-menyimak-siswa/joko/"><img title="joko" src="../wp-content/uploads/2010/02/joko.jpg" alt="joko" width="364" height="432" /></a></strong></p>
<p><strong>Oleh: Drs. Joko Susilo *) </strong></p>
<p><strong>BAHASA</strong> adalah alat komunikasi yang  biasa digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Bahasa itu  termanifestasi dalam bentuk  kalimat-kalimat.  Kalimat yang kita dengar secara utuh dan benar dari penuturnya akan mengantarkan kita  menjadi pendengar/penyimak  yang baik. Kalau kita bisa menjadi pendengar yang baik nantinya dalam memberi respon atau tanggapan pada teman kita juga akan baik, dengan komunikasi yang baik diharapkan  komunikasi menjadi lancar. Tetapi sebaliknya apabila kita menyimak pembicaraan orang lain  tetapi mengalami hambatan yang disebabkan oleh kurangnya kemampuan menyimak kita, maka bisa terjadi miskomunikasi.</p>
<p>Kegiatan menyimak mutlak diperlukan dan dirasa cukup fital dalam kegiatan proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu kegiatan menyimak perlu diperhatikan dan perlu dilatihkan agar kemampuan menyimak  baik guru maupun siswa  bisa meningkat. Bisa dibayangkan jika kemampuan guru dalam memperhatikan siswa , siswa ada yang bertanya tapi kemampuan menyimak dari si guru kurang baik, akibatnya dalam menjawab pertanyaan siswa, penjelasannya bagi siswa ada yang kurang pas.</p>
<p>Seseorang yang cermat dalam menyimak akan memberikan reaksi kinetik , memberikan komentar atau ungkapan lisan terhadap lafal, tekanan, intonasi dan jeda.  Apabila ada ucapan bahasa terdengar ucapan/lafal, tekanan dan intonasi yang tidak lazim mereka akan bertanya bagaimana ucapan/lafal, tekanan dan intonasi yang benar menurut ejaan bahasa Indonesia.</p>
<p>Pembelajaran selama ini di sekolah-sekolah pada umumnya dilakukan secara klasikal dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).  Konon KTSP dibuat untuk memberikan ruang gerak yang luas pada pihak sekolah untuk berekspresi/mengeksplorasi yang bebas ,secara otonom untuk menyusun strategi dan menetapkan target pendidikan yang hendak dicapai ( Mulyasa, 2006). KTSP menjanjikan pada guru untuk melakukan berbagai inovasi-inovasi pendidikan.  Nah dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia khususnya untuk meningkatkan kemampuan menyimak, kita bisa memanfaatkan teknologi media radio (FM).</p>
<p>Untuk sekolah yang belum memiliki sambungan internet , belum memiliki lab komputer dan lab bahasa maka media radio (FM) bisa menjadi alternatif . Dengan menyediakan pemancar fm mini bekekuatan 5 watt,  sudah bisa menjangkau di area sekolah sekitar 300 m. Sementara untuk pesawat penerima yang digunakan siswa bisa menggunakan radio saku yang ada program FM nya. Saat ini dipasaran ,radio fm digital dengan baterai  kecil  dipasaran tersedia cukup banyak dengan harga yang relatif cukup murah, tak lebih dari @Rp. 5000.00,-  atau siswa yang memiliki hp (yang ada format radio fm ) bisa memanfaatkannya dan  masing-masing siswa menggunakan hendset. Saya kira dengan melakukaan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi media radio (FM) akan membuat siswa merasa senang. Karena tidak berkesan monoton. Siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru mungkin hal itu membosankan, maka memanfaatkan teknologi media radio (FM) sebuah alternatif yang menjanjikan.  Peluang itu yang bisa tangkap dan kita manfaatkan untuk meningkatkan kemampuan menyimak dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Berani mencoba ?, siapa takut.</p>
<p><em>*)<strong>Drs. Joko Susilo,   pencinta sastra dan guru SMK Negeri 2 Banyumas. Kini tinggal di Desa Pandak Kecamatan Sumpiuh Banyumas.<br />
</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/02/21/pemanfaatan-teknologi-media-radio-fm-untuk-meningkatkan-kemampuan-menyimak-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Butuh Berapa Orang untuk Menerbitkan Sebuah Buku?</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/02/17/butuh-berapa-orang-untuk-menerbitkan-sebuah-buku/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/02/17/butuh-berapa-orang-untuk-menerbitkan-sebuah-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 13:25:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[WACANA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=8969</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Anwar Holid *)
Sekitar Agustus 2007 Anwar Holid mendapat surat dari Katalin Nagy bahwa dia ingin mengakrabkan sastra Hongaria ke pembaca Indonesia. Dia mencari penerjemah untuk mengerjakan proyek The Ninth (A kilencedik) karya Ferenc Barnás, sekaligus mencari penerbit untuk novel tersebut. Ferenc telah memenangi dua anugerah sastra paling terkemuka di tanah airnya: Sándor Márai Prize [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-8972" href="http://banyumasnews.com/2010/02/17/butuh-berapa-orang-untuk-menerbitkan-sebuah-buku/anwarh-vk/"><img class="alignleft size-full wp-image-8972" title="anwarh-vk" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/02/anwarh-vk.jpg" alt="anwarh-vk" width="200" height="170" /></a></p>
<p>Oleh: Anwar Holid *)</p>
<p>Sekitar Agustus 2007 Anwar Holid mendapat surat dari Katalin Nagy bahwa dia ingin mengakrabkan sastra Hongaria ke pembaca Indonesia. Dia mencari penerjemah untuk mengerjakan proyek The Ninth (A kilencedik) karya Ferenc Barnás, sekaligus mencari penerbit untuk novel tersebut. Ferenc telah memenangi dua anugerah sastra paling terkemuka di tanah airnya: Sándor Márai Prize (2001) dan Tibor Déry Prize (2006). Edisi Inggris A kilencedik memenangi grant penerjemahan PEN America, terbit dalam seri Writings from an Unbound Europe. Katalin berkomitmen besar terhadap proyek tersebut. Dia menanggung biaya penerjemahan dan siap membeli sekitar seratus kopi begitu novel itu terbit dalam bahasa Indonesia, sementara Ferenc menggratiskan hak terjemahannya.</p>
<p>Waktu itu Anwar sedang kerja di penerbit J_, jadi dia usul agar penerbit itu menerima tawaran tersebut. Tawaran ini menurutnya cukup menggiurkan, meski bukannya tanpa beban. Dia menilai penerbit bisa mendapat prestise maupun publisitas dengan menerbitkan novel dari bangsa yang jauh. Hongaria&#8212;negeri seperti apakah itu, selain konon terkenal berkat Kubus Rubik, Ferenc Puskas, dan para pemenang Hadiah Nobel? Katalin ingin cetakan pertama novel itu minimal antara 3000 &#8211; 5000 kopi. Itu cukup berat bagi penerbit J_, apalagi bagian pemasaran ragu bisa menjualnya dengan mudah. Jadi mereka menolak.</p>
<p>Anwar punya 4-5 kenalan editor di beberapa penerbit lain. Dia menyurati yang kira-kira tertarik proyek tersebut, menceritakan maksud dan kondisinya, berharap bisa mudah mendapat penerbit. Sementara itu Katalin mengontak penerjemah agar mengerjakan bab pertama dari edisi Inggris terjemahan Paul Olchváry. Terpilihlah Saphira Zoelfikar. Tidak langsung menerjemahkan dari bahasa Magyar? Susah mendapat penerjemah Indonesia yang bisa bahasa mayoritas di Hongaria itu.</p>
<p>Ternyata keinginan Katalin dan upaya Anwar agak sulit segera terwujud. Beberapa editor mengabaikan surat itu. Ada editor di penerbit tua menyatakan berminat. Ia mengusahakan menerbitkan novel itu. Beberapa waktu kemudian dia bilang bahwa manajemen mau memproduksi novel itu dengan syarat ada yang menanggung biaya produksi&#8212;jadi harus ada pendonor tambahan lagi. Ini sulit buat Katalin, karena di luar pilihannya. &#8220;Mau berkomitmen&#8221; itu bukannya berarti bahwa penerbit ikut menanggung biaya produksi, sebab mereka juga yang akan menikmati keuntungan&#8211; -bila buku itu nanti ternyata cukup mudah dijual ke pembaca target, tak sesulit prakiraan awal. Secara implisit kawan ini berhenti berjanji mengusahakan penerbitan di perusahaannya.</p>
<p>Setahun berlalu dan harapan menerbitkan novel itu masih kabur. Pada kesempatan lain, Anwar menulis surat lagi ke editor lain&#8212;kali ini termasuk ke kenalan jauh yang kadang-kadang terasa spekulatif. Kawan-kawannya yang kerja di bagian pemasaran atau distribusi pun dia kontak, dengan harapan bisa meneruskan ke editor akuisisi atau para pengambil keputusan. Dia pikir mungkin ada yang salah dengan usaha pertama dulu, hingga proposal ini kurang menggerakkan. Di saat bersamaan, proyek penerjemahan Saphira terus berjalan. Meski belum mendapat kepastian penerbit, komitmen Katalin rupanya mulai benar-benar terwujud. Dia sejak awal secara menyeluruh memeriksa terjemahan itu, meski lebih suka menyebut dirinya sebagai &#8220;penyelaras pada naskah asli&#8221; alih-alih sebagai &#8220;editor.&#8221;</p>
<p>Usaha kedua ini segera berhasil. Anastasia Mustika, editor GPU, langsung menyanggupi menerbitkan The Ninth, sambil bertanya, &#8220;Bagaimana proses selanjutnya? &#8221; Proses selanjutnya merupakan detil usaha penerbitan yang lebih merepotkan, banyak urusannya, dan melibatkan orang lain lagi. Siapa akan mendesain covernya? Bagaimana pembayarannya? Bagaimana publisitasnya? Dan seterusnya. Detail ini menambah deretan orang yang terlibat dalam penerbitan sebuah judul buku jadi makin panjang, dan menguak bahwa biaya penerbitan harus dijabarkan lebih pasti. Pilihan pertama desainer covernya ialah Ariani Darmawan, seorang desainer-sutradara, pemilik Rumah Buku. Dia membuat lima alternatif cover, salah satunya menggunakan foto karya Paulo Costa, orang Brasil. Cover ini jadi favorit orang yang terlibat di awal proses penerbitan. Ariani mengontak Paulo menanyakan izin dan copyright foto tersebut, yang di luar dugaan malah dia berikan gratis untuk cover The Ninth. Ini kejutan<br />
menyenangkan!<br />
____________ _________ _______<br />
ENDORSEMENT</p>
<p>The Ninth adalah novel perenungan pribadi yang lebih memberikan dasar untuk eksplorasi daripada yang muncul di permukaan, dan merupakan novel yang berhasil memunculkan suara anak kecil dengan baik.<br />
&#8212;Josh Maday<br />
____________ _________ _______</p>
<p>Begitu penyuntingan selesai, muncul rencana publisitas. Makin besar lingkaran orang terlibat untuk mengenalkan novel ini ke publik Indonesia. Siapa mau mengurus? GPU mengajukan Ade Trimarga. Sementara di Jogja Katalin berhubungan dengan Marie Le Sourd (Direktur LIP) membuat Festival Budaya Hongaria untuk meramaikan publisitas, juga mengajak Saphira dan Raudal Tanjung Banua untuk mengisi acara. Dia juga mengundang pianis Michael Asmara yang menciptakan komposisi berdasarkan novel itu.</p>
<p>Di Bandung, Budi Warsito terlibat mengurus publisitas ini. Rencana publisitas merupakan wujud dari obrolan dengan dia. Siapa kira-kira yang bakal cukup asyik membicarakan topik relevan dengan ini? Nama Ari Jogaiswara muncul. Kami pernah 1-2 kali melihat dia jadi host talkshow buku di QB Setiabudi Bandung. Kami menghubungi dua orang agar bisa mengontaknya, dari rekanan dan mantan mahasiswanya. Ahda Imran kami tawari untuk jadi moderator acara nanti, yang baru ia konfirmasi beberapa minggu kemudian. Untuk menggugah kesan pada isi buku, terbetik membacakan cuplikannya. Yopi Setia Umbara bertugas mengisahkannya, bareng kawannya (Riksa) yang akan memberi ilustrasi musik. Anwar menghubungi 3-4 penyiar yang memiliki program buku, dengan respons beda-beda. Sebagian acara ternyata sudah tutup buku atau kini harus bayar. Theoresia Rumthe dari SKY FM antusias siap membicarakan The Ninth, termasuk sekalian dengan mengundang penulisnya.</p>
<p>Ternyata butuh lebih dari selusin orang untuk berpartisipasi dalam penerbitan sebuah judul. Kata Joyce Wycoff, buku merupakan cerminan usaha, cinta, dan dukungan begitu banyak orang. Ada banyak utang budi di setiap upaya penerbitan&#8211; -sebagiannya langsung lunas dibayar secara profesional. Tanpa pengaruh atau jerih payah bantuan sejumlah pihak, sebuah buku belum tentu bisa terbit. Ini belum melibatkan pembaca lebih luas yang nanti diharapkan merespons, mengkritik, mengomentari, atau menikmati karya itu. Ari Jogaiswara bilang, &#8220;Apa arti The Ninth diterbitkan bagi publik Indonesia? Kira-kira harapan penulisnya sendiri seperti apa? Siapa kira-kira pembaca The Ninth? Kalau dia baca The Ninth, buku macam apa lagi yang ada di rak bukunya? Apa masih kurang mendapat pembaca lebih luas dari masyarakat berbahasa Inggris?&#8221; Ari berpendapat bahwa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sudah merupakan &#8216;award&#8217; tersendiri bagi penulis nonbahasa Inggris, terutama untuk<br />
mendapat perhatian lebih besar.</p>
<p>Di Indonesia, The Ninth terbit 23 Februari 2010. Pada Sabtu, 13 Maret ada acara publisitasnya di Rumah Buku Bandung, dilanjutkan Jumat, 19 Maret di LIP Jogjakarta. Ferenc Barnás akan hadir di acara tersebut.[]</p>
<p>*) Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/02/17/butuh-berapa-orang-untuk-menerbitkan-sebuah-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->