<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kabar Banyumas &#187; PROFIL USAHA</title>
	<atom:link href="http://banyumasnews.com/category/profil/profil-usaha/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banyumasnews.com</link>
	<description>Portal Berita Warga Bayumasan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 13:07:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Sandal Limbah Tempurung Made In Purbalingga</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/04/19/sandal-limbah-tempurung-made-in-purbalingga/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/04/19/sandal-limbah-tempurung-made-in-purbalingga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 13:16:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=13347</guid>
		<description><![CDATA[PURBALINGGA – Alas kaki sandal kebanyakan dibuat dari karet atau bahan plastik. Namun, perajin tempurung di Kelurahan Purbalingga Wetan, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga (Jateng) menciptakan model sandal dari tempurung. Sisa-sisa potongan tempurung yang digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga, tidak dibuang namun di perhalus dan direkatkan satu persatu membentuk sandal. Unik bukan? Meski berbahan dasar sebagian besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13348" class="wp-caption aligncenter" style="width: 412px"><img src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2011/04/sandal-402x270.jpg" alt="" title="sandal" width="402" height="270" class="size-medium wp-image-13348" /><p class="wp-caption-text">SANDAL BATOK: Sandal dengan alas tempurung kelapa kurang dikenal di pasar lokal Purbalingga (foto:tgr/BNC)</p></div>
<p>PURBALINGGA – Alas kaki sandal kebanyakan dibuat dari karet atau bahan plastik. Namun, perajin tempurung di Kelurahan Purbalingga Wetan, Kecamatan/Kabupaten Purbalingga (Jateng) menciptakan model sandal dari tempurung. Sisa-sisa potongan tempurung yang digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga, tidak dibuang namun di perhalus dan direkatkan satu persatu membentuk sandal. Unik bukan?</p>
<p>            Meski berbahan dasar sebagian besar dari tempurung kelapa, namun bagian alas sandal tetap menggunakan bahan karet atau plastik, sesuai selera konsumen. Sementara bagian pengikat kaki, juga sama dengan sandal lainnya. Tempurung hanya digunakan pada pelapis alas sandal.</p>
<p>            Harga sepasang sandal ini juga tidak begitu malah. Cukup Rp 25 ribu, untuk ukuran apa saja. Model sandal ini ternyata justru diminati konsumen dari luar kota seperti Jakarta, bandung dan Bali. Sementara di penjualan lokal, tidak begitu banyak dikenal. Boleh jadi, sandal tempurung buatan Purbalingga ini justru lebih banyak diketahui bukan berasal dari Purbalingga.</p>
<p>”Kebanyakan pesanan sandal tempurung untuk souvenir. Selain itu juga sejumlah pedagang dari luar kota seperti dari Bali, Jakarta dan Bandung, memesan sandal tempurung dari kami,” kata Unardi (40) perajin tempurung yang tinggal di RT 1/I Purbalingga Wetan.</p>
<p>Unardi mengungkapkan, ide membuat sandal tempurung sebenarnya datang begitu saja. Ketika mengetahui banyak potongan sisa tempurung yang telah dibuat berbagai macam kerajinan. Daripada potongan tempurung kecil-kecil tidak dipakai, lantas dimanfaatkan dengan cara dirangkai secara vertikal dan direkatkan dengan rem.</p>
<p>”Kami juga terus didorong oleh Disperindagkop untuk terus membuat produk-produk yang unik dan belum ada di masyarakat. Seperti sandal tempurung, juga meja tempurung, tempat tisue, kap lampu, asbak, tempat minuman dan sejumlah produk lainnya,” kata Unardi yang dibenarkan  Sutrisno, ketua kelompok perajin tempurung ’Manunggal Karya’.</p>
<p>Kelompok Manunggal Karya kini memiliki anggota 42 orang. Setidaknya ada 34 macam hasil kerajinan yang diproduksi dan dijual ke pasaran di sejumlah kota besar. Hasil kerajinan ini sebagian besar untuk keperluan rumah tangga seperti irus, centhong, sendok kayu kelapa, piring kayu, ciri dan penghalus sambal, jam tempurung dan sebagainya. Bahan dasar yang digunakan selain limbah tempurung, juga potongan kayu kelapa (glugu), dan potongan kayu melinjo.</p>
<p>”Kami secara terus menerus mendapat dukungan promosi dari Pemkab Purbalingga melalui Disperindagkop, dan juga melalui Bank Jateng,” kata Sutrisno sembari menambahkan, pekan lalu juga diundang dalam ulang tahun Bank Jateng untuk memamerkan hasil produksinya.</p>
<p> Kepala Bidang Perindustrian pada Disperindagkop Purbalingga Drs Agus Purhadi Satyo mengatakan, Pemkab terus mendukung para perajin tempurung di kelurahan Purbalingga Wetan dengan melakukan fasilitasi berbagai hal. Pemkab telah mencoba mendukung pameran produk, bantuan bengkel kerja, dan studi banding ke perajin lainnya sebagai upaya menambah wacana (BNC/tgr)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/04/19/sandal-limbah-tempurung-made-in-purbalingga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permintaan Ekspor Sapu Hamada ke Korea &amp; Taiwan Meningkat</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/04/07/permintaan-ekspor-sapu-hamada-ke-korea-taiwan-meningkat/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/04/07/permintaan-ekspor-sapu-hamada-ke-korea-taiwan-meningkat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 07:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>
		<category><![CDATA[hamada]]></category>
		<category><![CDATA[sapu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=13292</guid>
		<description><![CDATA[PURBALINGGA – Prospek usaha bisnis sapu Hamada (sapu dari rumput glagah), semakin cerah. Meski nilai keuntungan per biji produk sapu jenis Rayung dan Lakop tidak begitu besar, namun permintaan ekspor sapu ini ke Korea dan Taiwan terus meningkat. Sementara, parajin sapu di Purbalingga belum mampu memenuhi permintaan tersebut karena terbatasnya bahan baku dan tenaga kerja. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PURBALINGGA – Prospek usaha bisnis sapu Hamada (sapu dari rumput glagah), semakin cerah. Meski nilai keuntungan per biji produk sapu jenis Rayung dan Lakop tidak begitu besar, namun permintaan ekspor sapu ini ke Korea dan Taiwan terus meningkat. Sementara, parajin sapu di Purbalingga belum mampu memenuhi permintaan tersebut karena terbatasnya bahan baku dan tenaga kerja.</p>
<p>            Permintaan dari Korea dan Taiwan dalam satu bulan rata-rata 200 ribu buah. Jenis sapu yang digemari seperti Sapu Rayung (tangkai pelepah rumpuh glagah), dan sapu Lakop (tangkai bambu/kayu). ”Dalam satu bulan, kami baru bisa memenuhi sekitar dua kontainer saja. Satu kontainer jika diisi sapu lakop mampu menampung 80 ribu iji, sementara jika diisi sapu rayung sekitar 37 ribu – 40 ribu biji. Rata-rata nilai ekspor antara Rp 350 juta – Rp 400 juta,” kata Bambang Triyono, perajin sapu hamada di Desa Karanggambas, Kecamatan Padamara, Purbalingga.</p>
<p>            Disebutkan Bambang, konsumen sapu hamada di dua negara tersebut cukup besar. Permintaan setiap tahun juga terus meningkat. Sementara, untuk produksi sapu masih tergantung dari pasokan bahan baku rumput glagah dan juga tenaga kerja pembuat sapu. Dalam satu bulan, bahan baku yang dipasok dari petani rumput glagah di wilayah Kecamatan Karangreja Purbalingga dan sekitarnya sebanyak 50 ton. Sementara, untuk satu orang pekerja dalam sehari hanya mampu membuat 15 biji sapu.</p>
<p>            ”Ketrampilan membuat sapu hamada sebenarnya tidak begitu sulit, cukup dibutuhkan ketekunan dan ketelatenan. Hanya saja, keterbatasan tenaga manusia yang hanya mampu membuat 15 biji sapu jenis Rayung,” kata Bambang yang mulai menjalankan usaha sapu sejak tahun 2002.</p>
<p>            Bambang kini memiliki tenaga borongan 70 orang, 12 tenaga harian dan 120 tenaga jahit. Tenaga jahit tidak dipekerjakan di bengkel kerjanya, namun dibawa pulang ke rumah oleh penduduk sekitar. Setiap pagi, buruh penjahit sapi mengambil bahan baku, dan pada sore hari mengembalikan sapu yang sudah dijahit. ”Pekerja di bengkel kami yang melakukan finishing dan packing,” kata Bambang yang ditemani istrinya Rochimah.</p>
<p>            Dikatakan Bambang, konsumen di Taiwan dan Korea, cukup ketat dalam hal kualitas produksi. Setiap biji sapu juga beratnya harus ditimbang dan tidak kurang dari 1,6 ons. Jika kurang, maka langsung ditolak dan masuk kategori afkir. ”Kami melakukan seleksi ketat terhadap produksi sapu yang akan diekspor. Jika tak lolos seleksi kualitas, maka sapu kami lempar untuk konsumen dalam negeri baik lokal maupun di sejumlah kota besar di Indonesia,” ujar Bambang.</p>
<p>            Harga satu biji sapu, lanjut Bambang, untuk jenis lakop dengan rata-rata Rp 4.000 per buah, sedang sapu Rayung seharga Rp 7.000/biji. ”Kendala yang masih kami hadapi lebih ke teknis yakni, pengeringan rumput galagah ketika musim hujan tiba. Jika rumput yang digunakan masih basah, maka akan menghasilkan sapu yang lembab. Sapu seperti ini jelas tidak bisa diterima oleh konsumen di luar negeri. Jika memungkikan, pemerintah bisa mendukung peralatan oven untuk mengeringkan rumput glagah,” harap Bambang (BNC/tgr)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/04/07/permintaan-ekspor-sapu-hamada-ke-korea-taiwan-meningkat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Knalpot Panser Malaysia dan Lebanon Dibuat di Purbalingga</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/04/01/knalpot-panser-malaysia-dan-lebanon-dibuat-di-purbalingga/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/04/01/knalpot-panser-malaysia-dan-lebanon-dibuat-di-purbalingga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 14:10:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>
		<category><![CDATA[knalpot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=13272</guid>
		<description><![CDATA[PURBALINGGA– Setelah mendapat kepercayaan dari sejumlah industri mobil terkenal seperti Mercedes Benz, Suzuki, Daihatsu, dan Toyota, Industri Kecil Menengah (IKM) knalpot Purbalingga (Jateng) dipercaya memasok knalpot kendaraan tempur jenis Panser dan Tank. PT Pindad secara rutin meminta pasokan knalpot untuk Panser pesanan Malaysia dan Lebanon. Selain itu, tank-tank buatan PT Pindad yang khusus untuk kebutuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="yiv445641041">
<p><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-13273" title="k" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2011/04/k-360x270.jpg" alt="" width="360" height="270" /><br />
</strong></p>
<p><strong>PURBALINGGA</strong>– Setelah mendapat kepercayaan dari sejumlah industri mobil terkenal seperti Mercedes Benz, Suzuki, Daihatsu, dan Toyota, Industri Kecil Menengah (IKM) knalpot Purbalingga (Jateng) dipercaya memasok knalpot kendaraan tempur jenis Panser dan Tank. PT Pindad secara rutin meminta pasokan knalpot untuk Panser pesanan Malaysia dan Lebanon.</p>
<p>Selain itu, tank-tank buatan PT Pindad yang khusus untuk kebutuhan Alutsista TNI-AD juga knalpotnya dipasok dari Purbalingga.</p>
<p>Perajin knalpot Purbalingga, Muhajirin (53) mengemukakan, sejak tahun 2009/2010 PT Pindad (Persero) telah memesan knalpot untuk tank-tank milik TNI. Jumlah permintaan memang tidak banyak, rata-rata 150 buah knalpot per tahun atau tergantung pesanan pembuatan tank oleh TNI kepada PT Pindad.</p>
<p>“Pada tahun 2011 ini, kami juga diminta oleh PT Pindad untuk memasok knalpot kendaraan tempur Panser Anoa 6 x 6 yang dipesan Malaysia dan Lebanon. Kami telah mengirimkan 11 unit knalpot panser Anoa Lebanon, dan 32 unit knalpot pesanan Panser Malaysia. Knalpot itu lengkap termasuk bagian <em>mufler</em> (kendang knalpot) dan <em>exhause </em>(pipa pengeluaran) ,” kata Muhajirin, Jum’at (01/04/2011).</p>
<p>Panser Anoa 6 x 6 sejenis kendaraan tempur pengangkut personil atau APC (<em>Armoured personal carrier</em>) dengan sistem penggerak 6 roda simetris. Sebelumnya, Muhajirin secara rutin memasok mufler knalpot untuk jenis kendaraan panser mortir, panser recovery, panser Anoa-2, dan Panser tentara Malaysia. Semua pasokan atas permintaan PT Pindad. “Setidaknya kami telah mengirimkan 300 unit knalpot untuk kendaraan tank dan panser yang digarap PT Pindad. Dalam waktu dekat, kami juga tengah diminta memasok lagi knalpot untuk tank-tank model baru yang akan dibuat untuk memperkuat kendaraan TNI,” kata Muhajirin yang telah menekuni usaha knalpot sejak usia 30 tahun.</p>
<p>Dipilihnya knalpot Purbalingga, jelas Muhajirin, karena kualitas garapan yang baik dan mampu meredam suara. Muhajirin mengungkapkan, dirinya suatu ketika diundang ke PT Pindad di Bandung dan mengecek knalpot buatan pabrik. Setelah knalpot yang hendak dipasang di kendaraan tank, dibelah ternyata berbeda dengan knalpot garapan IKM di Purbalingga. Muhajirin ketika itu diminta mengirimkan membuatkan knalpot dan mengirimkan sampelnya.</p>
<p>“Ketika itu saya katakan, knalpot buatan Purbalingga, mampu meredam suara bising, tenaga lebih kuat dan mampu lebih menghemat bahan bakar. Pihak PT Pindad tidak percaya begitu saja. Namun, setelah melakukan ujicoba dengan mengganti knalpot Purbalingga dan melakukan perjalanan ke sejumlah tempat di Jabar, PT Pindad baru mulai percaya. Akhirnya, kami dipercaya memasok knalpot untuk tank TNI,” kata Muhajirin yang kini memiliki 18 orang karyawan.</p>
<p>Dijelaskan Muhajirin, knalpot kendaraan tank dan panser harus dibuat kuat dengan besi galvanis ukuran 1,6 mm. Berbeda dengan knalpot mobil biasa. Satu unit knalpot panser rata-rata berukuran 90 x 70 cm. Setiap lembar besi galvanis mampu untuk membuat tiga buah mufler knalpot. ”Harga satu unit knalpot lengkap sekitar Rp 5 juta, sedang bagian mufler berkisar antara Rp 700 ribuan,” kata Muhajirin <strong>(prayitno)</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/04/01/knalpot-panser-malaysia-dan-lebanon-dibuat-di-purbalingga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perajin Sapu Glagah Kewalahan Penuhi Permintaan Ekspor</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/03/10/perajin-sapu-glagah-kuwalahan-penuhi-permintaan-ekspor/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/03/10/perajin-sapu-glagah-kuwalahan-penuhi-permintaan-ekspor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2011 15:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[EKONOMI BISNIS]]></category>
		<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>
		<category><![CDATA[sapu glagah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=13083</guid>
		<description><![CDATA[PURBALINGGA – Para perajin sapu glagah di Purbalingga mengaku kuwalahan memenuhi permintaan pangsa pasar ekspor. Sejumlah negara seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand meminta pasokan sapu glagah model ’Rayung’ dan ’Lakop’ rata-rata 200.000 buah sapu setiap bulannya. Kepala Bidang Industri pada Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi (Disperindagkop) Drs Agus Purhadi Satyo yang didampingi Kasubag Pemberitaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="yiv253544505">
<div id="attachment_13084" class="wp-caption aligncenter" style="width: 416px"><img class="size-medium wp-image-13084" title="sapu glagah2" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2011/03/sapu-glagah2-406x270.jpg" alt="" width="406" height="270" /><p class="wp-caption-text">SAPU GLAGAH: Perajin sapu glagah Purbalingga ini kebanjiran pesanan (foto:tgr/BNC)</p></div>
<p><strong>PURBALINGGA</strong> – Para perajin sapu glagah di Purbalingga mengaku kuwalahan memenuhi permintaan pangsa pasar ekspor. Sejumlah negara seperti Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand meminta pasokan sapu glagah model ’Rayung’ dan ’Lakop’ rata-rata 200.000 buah sapu setiap bulannya.</p>
<p>Kepala Bidang Industri pada Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi (Disperindagkop) Drs Agus Purhadi Satyo yang didampingi Kasubag Pemberitaan &amp; Media Massa Bagian Humas Setda Ir Prayitno, M.Si kepada wartawan, Kamis (10/3) mengatakan, konsumen Korea Selatan sangat menggemari produksi sapu glagah model Rayung. Sapu Rayung adalah sapu yang berbahan hampir sebagian besar menggunakan glagah, termasuk gagang sapu yang berasal dari tangkai glagah yang diikat rapi. Sementara konsumen dari Malaysia dan Thailand lebih menyukai sapu glagah model Lakop. Beda sapu Lakop ini pada tangkai pegangan sapu. Sapu Lakop menggunakan tangkai dari bambu atau dari kayu yang diikatkan dengan glagah menggunakan  plastik.</p>
<p>”Jenis sapu Rayung saat ini baru diproduksi oleh salah satu perajin dari Desa Karanggambas, Kecamatan Padamara. Perajin tersebut yakni bambang Triyono, meski dengan jumlah karyawan hampir 100 orang namun hanya mampu membuat 15 buah sapu per hari per orang,” kata Agus Purhadi Satyo.</p>
<p>Sedang untuk perajin sapu glagah jenis Lakop, selain diproduksi oleh Bambang, juga diproduksi oleh para perajin dari Kecamatan Karangreja. ”Perajin di Purbalingga hanya bisa mampu membuat 40 ribu buah sapu jenis lakop per bulan. Hal ini masih bergantung pada bahan baku rumput glagah yang tersedia,” kata Agus.</p>
<p>Agus menambahkan, harga sapu glagah jenis Rayung dilepas oleh perajin Rp 6.000 per buah. Sapu ini kemudian dikirim ke eksportir dari Korea yang berdomisili di Cirebon. ”Jika dihitung, nilai ekspor ini mencapai Rp 400 juta per bulan,” kata Agus sembari menambahkan, untuk sapu glagah model Asoi dan SMS (setengah miring) lebih banyak disukai konsumen dalam negeri. <strong>(BNC/tgr)</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/03/10/perajin-sapu-glagah-kuwalahan-penuhi-permintaan-ekspor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Tampilkan Kekhasan, Jamaah Haji Berseragam Batik</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2011/03/09/untuk-tampilkan-kekhasan-jamaah-haji-berseragam-batik/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2011/03/09/untuk-tampilkan-kekhasan-jamaah-haji-berseragam-batik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 16:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANJARNEGARA]]></category>
		<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>
		<category><![CDATA[batik haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=13066</guid>
		<description><![CDATA[BANJARNEGARA – Jamaah Haji Banjarnegara yang akan berangkat pada musim haji tahun ini, termasuk juga jamaah haji Indonesia lainnya akan mempunyai ciri khas yang sama dengan adanya ketentuan untuk mengenakan seragam Batik haji yang telah ditetapkan oleh Kemenag. Hal tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Keputuan Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Nomor D/43 Tahun 2011 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-13067" title="BATIK HAJI" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2011/03/BATIK-HAJI-402x270.jpg" alt="" width="402" height="270" /></p>
<p>BANJARNEGARA – Jamaah Haji Banjarnegara yang akan berangkat pada musim haji tahun ini, termasuk juga jamaah haji Indonesia lainnya akan mempunyai ciri khas yang sama dengan adanya ketentuan untuk mengenakan seragam Batik haji yang telah ditetapkan oleh Kemenag. Hal tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Keputuan Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Nomor D/43 Tahun 2011 tertanggal 11 Februari 2011 yang menetapkan pemakaian seragam Batik bagi seluruh Jamaah Haji Indonesia. “Mensikapi SK Dirjen tersebut, langkah sosialiasi telah dilaksanakan pada minggu kemarin dengan mengundang seluruh jamaah Haji asal Banjarnegara di aula kantor kemendepag” kata Drs. H. Farhani, SH., MM, Rabu (09/03) di kantornya.</p>
<p>Menurut penjelasan dalam SK tersebut, lanjutnya, seragam batik warna dasar hijau toska dengan motif batik warna ungu tersebut dianjurkan untuk dipakai oleh jamaah haji Indonesia pada saat keberangkatan dan kepulangan, baik saat di embarkasi maupun di Bandara.  “Termasuk selama berada di Arab Saudi, kecuali ketika melaksanakan umrah dan wukuf” imbuhnya.</p>
<p>Upaya pemakaian seragam ini ditempuh oleh Kemenag, lanjut Farhani, adalah dalam rangka untuk menghadirkan ciri khas jemaah Haji asal Indonesia. Hal ini ditempuh dengan menampilkan baju yang berdesain Islami, tapi yang mencerminkan Identitas nasional. Batik dipilih karena Batik sudah menasional bahkan mendunia serta dikenal sangat lekat dengan ciri ke Indonesiaan. “Untuk melambangkan kebhinekaan, design batik menampilkan motif bunga dari pulau-pulau besar yang ada di Indonesia” katanya.</p>
<p>Motif bunga yang ditampilkan menggambarkan kekayaan alam dan ornamen pulau-pulau besar yang ada di Indonesia seperti bunga Raflesia dari Sumatera, Perisai dari Kalimantan, Lereng atau Parang dari Jawa dan tanaman rambat dari Indonesia Bagian Timur. Sementara latar belakang warna hijau adalah sebagai lambang dari jamrud khatulistiwa dan warna ungu merupakan perlambang warna untuk masing-masing ornamen dari pulau-pulau besar.</p>
<p>“Untuk sementara ini yang baru sampai di Banjarnegara baru sejumlah sampel baju, yang terbuat dari bahan katun dan semi sutra. Tentang bagaimana tindak lanjut pemenuhannya, kita masih berkoordinasi dengan Kemenag Propinsi dan Pusat” imbuhnya.</p>
<p>Sementara itu, Kasi Haji dan Umrah Kantor Kementrian Agama Banjarnegara H. Mohammad Fauzi, SH menambahkan jumlah jamaah asal Banjarnegara untuk musim haji tahun 2011 berjumlah 757 orang. Dengan total jumlah kuota haji Jawa Tengah sebesar 29.345 orang. Sedangkan total untuk seluruh Indonesia berjumlah 235 ribu orang. “Mencermati pada besarnya jumlah jamaah, kemungkinan besar Batik akan diproduksi tidak di satu produsen” katanya.</p>
<p>Berdasar penjelasan dari Kemenag Pusat, lanjutnya, produksi dan penjualan seragam Batik ini akan disalurkan melalui UKM-UKM di setiap daerah yang tersebar di seluruh Indonesia dengan merek sama yaitu Indohajj. Akan tetapi dengan ketentuan bahwa hak cipta batik ini milik Kemenag Pusat. Maka dengan ketentuan ini maka pada boks kemasan wajib ditulis nama produsen, jenis batik, jenis kain, ukuran, model baju dan tentunya, hak cipta Kementrian Agama RI. “Selanjutnya para jamaah bebas untuk memilih membeli batik dari UKM mana yang pas dengan seleranya” ujarnya. (BNC/eko)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2011/03/09/untuk-tampilkan-kekhasan-jamaah-haji-berseragam-batik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyulap Sampah Menjadi Gaun Pengantin</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/06/02/limbah-plastik-disulap-menjadi-gaun-pengantin/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/06/02/limbah-plastik-disulap-menjadi-gaun-pengantin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 15:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[CILACAP]]></category>
		<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10723</guid>
		<description><![CDATA[SAMPAH selama ini selalu dianggap sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikan. Namun ditangan seorang perempuan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, limbah sampah telah diubah menjadi barang berharga. Tak hanya souvenir, namun plastik plastik bekas itu disulap menjadi gaun pengantin yang tak kalah anggun dan menarik dengan gaun pada umumnya. Kesibukan selalu terlihat di tempat Lembaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10724" class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><a rel="attachment wp-att-10724" href="http://banyumasnews.com/2010/06/02/limbah-plastik-disulap-menjadi-gaun-pengantin/gaun2/"><img class="size-full wp-image-10724" title="gaun2" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/gaun2.jpg" alt="Gaun pengantin dari bahan limbah plastik (foto:nan/BNC)" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Gaun pengantin dari bahan limbah plastik (foto:nan/BNC)</p></div>
<p>SAMPAH selama ini selalu dianggap sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikan. Namun ditangan seorang perempuan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, limbah sampah telah diubah menjadi barang berharga. Tak hanya souvenir, namun plastik plastik bekas itu disulap menjadi gaun pengantin yang tak kalah anggun dan menarik dengan gaun pada umumnya.</p>
<p>Kesibukan selalu terlihat di tempat Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Bu Nandang di Perumahan Bayur Permai , Gumilir Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.  Di tempat ini terlihat para ibu ibu yang tengah membuat kerajinan berupa souvenir dan perlengkapan dekorasi.</p>
<p>Semua bahan yang menjadi barang barang menarik itu berasal dari limbah sampah. Limbah yang sebagian besar dari plastik dan diperoleh dari warga sekitar itu telah disulap menjadi barang menarik seperti  lampu lampion, tas, bunga, serta pernak pernik lainnya.</p>
<p>Yang unik dan menarik, Bu Nandang pemilik LKP bersama perajin lain telah berhasil membuat sepasang gaun penganten. Gaun pengantin tersebut dibuat untuk acara pernikahan yang bersamaan dengan hari lingkungan hidup sedunia pada tanggal 5 juni 2010 mendatang.</p>
<p>Agar nyaman dipakai, pada bagian dalam gaun digunakan kain spanduk bekas . Lalu kantong plastik warna putih yang telah dibentuk dengan berbagai variasi sesuai pola gaun itu ditempelkan di bagian luar.</p>
<p>Jika dilihat sekilas, gaun itu seperti gaun pada umumnya yang terlihat anggun dan mewah. Namun jika didekati dan dipegang, maka bunyi plastik itu terdengar jelas. Tak heran jika pembuatan gaun itu hanya menghabiskan biaya kurang dari 50 ribu rupiah.</p>
<p>“ Biaya pembuatan gaun ini hanya kurang dari 50 ribu. Karen semua bahan dari barang bekas,” ujar Erni Suhaina atau dikenal dengan Bu Nandang.</p>
<p>Menurut Bu Nandang, ide pemanfaatan limbah tersebut, karena di lingkungan rumah sering berserakan sampah. Setelah memiliki ide memanfaatkan sampah, Bu Nandang kemudian meminta warga untuk memberikan sampah itu kepadanya.</p>
<p>“ Semoga pemanfaatan limbah menjadi barang berharga ini diharapkan dapat mengubah sudut pandang masyarakat terhadap limbah sampah yang selama ini terabaikan,” ujarnya (BNC/tia).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/06/02/limbah-plastik-disulap-menjadi-gaun-pengantin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panen Perdana Ayam Broiler di Lahan Pasir Pantai</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/03/08/panen-perdana-ayam-broiler-di-lahan-pasir-pantai/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/03/08/panen-perdana-ayam-broiler-di-lahan-pasir-pantai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 15:11:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9457</guid>
		<description><![CDATA[PEMBERDAYAAN masyarakat pada usaha peternakan demgan kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo melalui Budidaya Ayam Broiler dapat dikatakan berhasil dengan memuaskan.  Karena lokasi tersebut untuk budidaya ayam broiler cukup baik, selain itu lokasinya jauh dengan tempat tinggal (pemukiman penduduk lebih kurang 1.111 meter), udaranya segar (sirkulasi udara sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-10574" href="http://banyumasnews.com/2010/03/08/panen-perdana-ayam-broiler-di-lahan-pasir-pantai/daging-ayam-broiler/"><img class="alignleft size-medium wp-image-10574" title="daging ayam broiler" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/03/daging-ayam-broiler-448x270.jpg" alt="daging ayam broiler" width="448" height="270" /></a></p>
<p>PEMBERDAYAAN masyarakat pada usaha peternakan demgan kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo melalui Budidaya Ayam Broiler dapat dikatakan berhasil dengan memuaskan.  Karena lokasi tersebut untuk budidaya ayam broiler cukup baik, selain itu lokasinya jauh dengan tempat tinggal (pemukiman penduduk lebih kurang 1.111 meter), udaranya segar (sirkulasi udara sangat baik), sarana transportasi baik, yang lebih penting yaitu jauh dari lalu lintas (transportasi ternak) sehingga ayam broiler tidak mudah terkontaminasi penyakit.</p>
<p>Kemudian, lahan pasir pasir pantai cepat mengeringkan <strong>feses</strong> sehingga sedikit menimbulkan bau yang tidak sedap.  Temperatur udara relatif tinggi (38 &#8211; 40 derajat Celcius), karenanya perlu penanganan khusus untuk meningkatkan kelembaban udara di dalam kandang yaitu di antaranya dengan cara menyemprotkan air (kabut air) di dalam kandang.  Cara tersebut dapat mengurangi <strong><em>panting</em></strong> pada ayam broiler.  Di samping itu stres pada ayam broiler akibat panas dapat dikurangi, dengan cara penyemprotan air dilakukan 2 kali sehari yaitu pukul 10.00 dan 13.00 WIB.</p>
<p>Umur ayam broiler yang dipelihara pada kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo sampai dengan tanggal 5 Maret 2010 adalah 30 hari, seharusnya akan dilaksanakan panen perdana di lakukan pada hari rabu tanggal 10 Maret 2010.  Namun melihat pertumbuhan ayam broiler yang baik (rataan bobot badan pada umur 30 hari sudah mencapai 1,95 kg) dan juga melihat kepadatan ayam yang tinggi, maka pada tanggal 06 Maret 2010 sudah dilakukan penjarangan (menjual sebagian ayam broiler) agar stress pada ayam dapat dikurangi.  Sebab, kepadatan kandang yang terlalu tinggi dapat menyebabkan stress dan mortalitas dapat semakin bertambah.  Mortalitas ayam broiler yang dipelihara demgan kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo relatif kecil/di bawah standar yaitu 2,50 %, sedangkan di peternak secara umum mencapai 5 -  5,6 %.</p>
<p>Hal-hal yang menarik pada pemeliharaan ayam broiler pada kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo adalah perubahan suhu udara yang drastis dari siang hari ke malam hari.  Suhu udara pada siang hari sangat panas (dapat mencapai 40 derajat Celcius) dan pada malam hari mencapai 24 derajad celcius).  Permasalahan yang muncul adalah pada saat pemeliharaan periode awal <strong><em>(starting period)</em></strong> yang membutuhkan panas yang cukup yakni 39 derajat celcius, sehingga dibutuhkan penanganan yang cepat agar suhu udara di dalam <strong><em>brooder</em></strong> tetap terjaga dan anak ayam broiler (DOC) tidak stress akibat perubahan suhu udara tersebut.</p>
<p>Pemeliharaan ayam broiler pada kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo memang membutuhkan penanganan yang sedikit berbeda dan kerja ekstra, apabila dibandingkan pada pemeliharaan ayam broiker pada daerah-daerah yang mempunyai suhu udara relatif stabil (tidak terjadi perubahan suhu yang drastis).  Khusus budidaya ayam broiler pada kandang di atas lahan pasir pantai yang perlu diperhatikan adalah penanganan pada awal periode pertumbuhan <strong><em>(brooding)</em></strong> yang harus dijaga sebaik mungkin, dengan maksud agar anak ayam (DOC) tidak stress.  Caranya yaitu dengan pengaturan sirkulasi udara (sebab kecepatan angin di pantai selatan sangat kencang), sehingga diharapkan agar ayam dapat nyaman berada di dalam kandang.  Di samping itu, dalam pengaturan kelembaban kandang pada saat ayam broiler terlihat melakukan akitivitas <strong><em>panting</em></strong>, yaitu dengan segera dilakukan penyemprotan air (seperti kabut) untuk meningkatkan kelembaban udara di dalam kandang.</p>
<p>Ayam broiler semakin besar, maka panas yang timbul di dalam kandang akan semakin panas dan berakibat ayam broiler menjadi stress.  Akibat selanjutnya adalah masuknya penyakit dan yang lebih parah lagi dapat menyebabkan kematian yang tinggi.  Oleh karena itu, pada pemeliharaan ayam broiler di lahan pasir pantai yang harus diamati yaitu aktivitas ayam tersebut secara terus menerus, agar dapat melihat perubahan pada ayam dan dapat segera mengambil keputusan untuk melakukan penanganan agar ayam broiler tetap nyaman hidup di kandang di atas lahan pasir pantai.</p>
<p>Perlu kami informasikan pula ternyata bahwa respon masyarakat sangat baik, terbukti ada beberapa desa tetangga yang ingin memelihara ayam broiler, selanjutnya beberapa masyarakat di lahan pasir pantai Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo, ternyata setelah ditanya siapa di antara bapak-bapak dan ibu-ibu yang mau memelihara ayam broiler, mereka menjawab saya siap.  Mereka tertarik karena melihat performan ayam broiler yang baik dengan bobot badan yang dicapai melebihi dari standar perusahaan pembibitnya.</p>
<p>Lokasi kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo kira-kira 233 meter dari laut pantai selatan.  Kendala utama pada budidaya ayam broiler di atas lahan pasir pantai di antaranya adalah perubahan suhu udara pada siang hari ke malam hari yang sangat drastis (dari 39-40 derajat pada siang hari dan malam hari antara 23-24 derajat Celcius), sehingga harus ada penanganan cepat agar suhu di dalam kandang tetap stabil (khususnya pada saat periode <strong><em>Brooding</em></strong> dari umur 1 hari sampai 12 hari).  Untuk mengatasi kondisi tersebut, penanganan yang sudah kami lakukan yaitu memasang tirai tambahan di batas kandang (yang digunakan untuk <strong><em>kandang brooder</em></strong>) dan di atasnya ditutup dengan tirai agar udara tidak mudah masuk.  Pada penutupan bagian atas <strong><em>brooder</em></strong> tersebut sambil dilihat aktivitas anak ayam (DOC), apakah suhu udara cukup atau tidak.  Kalau kepanasan, maka tirai penutup yang di bagian atas dibuka seperempat bagian.  Selanjutnya, pengamatan aktivitas DOC harus dilakukan sepanjang siang dan malam.  Adapun, pembukaan tirai bagian atas, antara siang hari dan malam hari berbeda, apabila pada siang hari tirai bagian atas dapat dibuka semua dan pada malam hari, tirai harus ditutup sebagian (tergantung aktivitas DOC).</p>
<p>Pada saat sudah lepas <strong><em>brooder</em></strong>, maka pada siang hari harus dilakukan penyemprotan dengan air (seperti kabut) diharapkan agar suhu udara tidak terlalu panas dan kelembaban udara dapat terjaga.  Penyemprotan dilakukan dengan sprayer pada pukul 10.00 dan 13.00.</p>
<p>Kondisi ayam broiler pada kandang di atas lahan pasir pantai Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo selama pemeliharaan sehat-sehat saja, tapi ada beberapa ekor yang terjepit lantai bambu, sehingga mengalami patah kaki atau sayap (itu masalah biasa yang sering terjadi pada usaha peternakan ayam dimanapun).</p>
<p>Untuk strain yang cocok dipelihara di atas lahan pasir pantai pesisir selatan Desa Munggangsari, kami belum dapat mengatakan mana yang lebih baik. Namun demikian, berdasarkan pengamatan di lokasi, kani menyarankan sebaiknya ayam broiler yang dipelihara di lokasi di atas lahan pasir yaitu ayam broiler yang mempunyai pertumbuhan yang lambat di awal pertumbuhan (umur 1 hari &#8211; 2/3 minggu) dan mulai umur 3/4 minggu pertumbuhan yang cepat serta ayam broiler yang mempunyai pertumbuhan bulu yang cepat.  Hal tersebut, untuk mengantisipasi perubahan suhu yang drastis.</p>
<p>Pemeliharaan ayam broiler di atas lahan yang biasa dilakukan oleh para peternak (lahan normal) sedikit berbeda dengan lahan pasir tepian pantai.  Kalau di lahan pantai kondisi udara masih segar, jauh dari pemukiman penduduk, feses cepat kering karena suhu udara sangat panas pada siang hari, jauh dari transportasi ternak (jalan raya) antara daerah, mudah mendapatkan air bersih dan sehat.  Ini perbedaan antara lahan pantai dengan lahan normal.  Namun kelebihan dan kekurangan tersebut dapat dikendalikan dengan cepat, tetapi jangan sampai penanganan tersebut menyebabkan ayam broiler menjadi stress<strong> </strong><strong>( Ir. Winarto Hadi, MS)</strong></p>
<p><strong> </strong><em>Penulis ,Koordinator Lapangan Budidaya Ayam Broiler pa</em><em>da lahan pasir pantai Eks Tambang Pasir Besi </em><em>di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/03/08/panen-perdana-ayam-broiler-di-lahan-pasir-pantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bupati Banjarnegara Dukung Ecolabelling Batik Gumelem</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 13:20:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANJARNEGARA]]></category>
		<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9196</guid>
		<description><![CDATA[BANJARNEGARA – Batik Gumelem masih sangat potensial untuk dikembangkan baik dari segi ekonomi, sosial maupun aspek lingkungannya. Batik Gumelem juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung sektor pariwisata, bahkan bisa dijadikan sebagai tujuan wisata. Namun beberapa hal seperti supply bahan baku yang belum kontinyu, mutunya yang bervariasi dan cenderung tidak terkontrol menjadi kendala tersendiri dalam pengembangannya. “Batik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong></p>
<div id="attachment_9197" class="wp-caption alignleft" style="width: 1310px"><strong><a rel="attachment wp-att-9197" href="http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/batik-gumelem1/"><img class="size-full wp-image-9197" title="batik gumelem1" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/02/batik-gumelem1.jpg" alt="Pengunjung mengamati batik Khas Gumelem (foto:dhy/BNC)" width="1300" height="924" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Pengunjung mengamati batik Khas Gumelem (foto:dhy/BNC)</p></div>
<p></strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>BANJARNEGARA – Batik Gumelem masih sangat potensial untuk dikembangkan baik dari segi ekonomi, sosial maupun aspek lingkungannya. Batik Gumelem juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung sektor pariwisata, bahkan bisa dijadikan sebagai tujuan wisata. Namun beberapa hal seperti <em>supply</em> bahan baku yang belum kontinyu, mutunya yang bervariasi dan cenderung tidak terkontrol menjadi kendala tersendiri dalam pengembangannya.</p>
<p>“Batik Gumelem memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan batik-batik dari daerah lain. Untuk itu kami sangat tertarik bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam menerapkan teknologi produksi untuk UKM Batik Gumelem,” ujar Suparni Setyowati Rahayu, Ketua Program Hibah Kemitraan Batik Gumelem dari politeknik Negeri Semarang.</p>
<div id="attachment_9198" class="wp-caption alignleft" style="width: 1310px"><a rel="attachment wp-att-9198" href="http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/ecolabelling_radarmas/"><img class="size-full wp-image-9198" title="ecolabelling_Radarmas" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/02/ecolabelling_Radarmas.jpg" alt="Ecolabelling Batik Gumelem tembus pasar global (foto:dhy/BNC)" width="1300" height="912" /></a><p class="wp-caption-text">Ecolabelling Batik Gumelem tembus pasar global (foto:dhy/BNC)</p></div>
<p>“Peta permasalahan yang ada di UKM Batik Gumelem masih berkisar pada kurang efisiennya produksi, seperti penggunaan bahan bakarnya belum terukur, belum adanya penangkap lilin/ malam, alat pencampur pewarna belum mekanis, tungku dan bak pelorodan tidak hemat energi dan yang paling utama adalah belum menggunakan zat warna alami. Padahal jika sudah menggunakan pewarna alami dan menyandang gelar produk <em>ecolabelling</em>, maka mudah bagi Batik Gumelem untuk menembus pasar global,” imbuh Suparni.</p>
<p><em>Ecolabelling</em> menuntut bahwa setiap produk dagangan harus telah didasarkan pada kelestarian sumber daya dan ekosistem dari lingkungan hidup. Program Hibah Kemitraan ini rencananya akan dilaksanakan selama tiga tahun kedepan, dimulai pada tahun 2010 ini. “Kami akan mencoba membenahi aspek produksi, manajemen, sumber daya manusia, sarana prasarana dan finansial pengrajin Batik Gumelem. Untuk tahun pertama ini target kami menekan keluaran bukan produk dibawah 5% dari total biaya produksi, serta 30% produk batik sudah menggunakan <em>ecolabelling</em>,” papar Suparni, Rabu (24/2) di hadapan Bupati Banjarnegara.</p>
<p>Program Kemitraan yang dijalin Politeknik Negeri Semarang, Politeknik Banjarnegara, UKM Batik Gumelem dan Pemkab Banjarnegara ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat nyata. “Tujuan akhirnya kami ingin melakukan penghematan biaya produksi, pemanfaatan dan pengelolaan limbah, membentuk pola pikir pengusaha batik untuk melakukan produksi seefisien mungkin, kerjasama teknologi bersih berkelanjutan dan <em>eco</em> efisiensi, peningkatan efisiensi produksi dan peningkatan kesejahteraan pengusaha Batik Gumelem,” lanjut Suparni.</p>
<p>Program kemitraan serupa, menurut Suparni, pernah dilakukan untuk pengrajin batik di Kabupaten dan Kota Pekalongan, serta di Lawean, Solo. “Kami sangat berterima kasih atas perhatian Bapak Ibu dari Politeknik Negeri Semarang, semoga program kemitraan ini bisa terlaksana dengan lancar dan sukses. Kami, selaku Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, selalu mendukung program-program yang bermanfaat bagi masyarakat luas, apalagi jika ini berkontribusi langsung untuk mengeliminir dampak <em>global warming</em>,” ujar Bupati Djasri (BNC/dhy)<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyulap Limbah Menjadi Alat Dapur</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 12:42:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=7497</guid>
		<description><![CDATA[JIKA alat dapur anda seperti tutup panci milik anda rusak, jangan buru buru dibuang. karena barang limbah tersebut bisa disulap menjadi alat dapur lain yang tidak kalah manfaatnya. Mungkin tidak banyak yang tahu jika salah satu alat memasak berupa entong atau sendok besar untuk wajan ini berasal dari limbah.Bagi Abdul Sakur (40), warga Pasir Kidul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong></p>
<div id="attachment_7501" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a rel="attachment wp-att-7501" href="http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/alat-dapur-est/"><img class="size-full wp-image-7501" title="alat dapur est" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/11/alat-dapur-est.jpg" alt="Sakur dengan limbah bekas tutup panci (foto:mut/BNC)" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Sakur dengan limbah bekas tutup panci (foto:mut/BNC)</p></div>
<div id="attachment_7502" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a rel="attachment wp-att-7502" href="http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/alat-dapur/"><img class="size-full wp-image-7502" title="alat dapur" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/11/alat-dapur.jpg" alt="Mengetok bekas panci untuk menghaluskan lekukan (foto:mut/BNC)" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Mengetok bekas panci untuk menghaluskan lekukan (foto:mut/BNC)</p></div>
<p>JIKA alat dapur anda seperti tutup panci milik anda rusak, jangan buru buru dibuang. karena barang limbah tersebut bisa disulap menjadi alat dapur lain yang tidak kalah manfaatnya.</p>
<p>Mungkin tidak banyak yang tahu jika salah satu alat memasak berupa entong atau sendok besar untuk wajan ini berasal dari limbah.Bagi Abdul Sakur (40), warga Pasir Kidul Purwokerto Barat Banyumas ini barang bekas seperti panci atau tempat merebus air dari aluminium ini tidak akan dibuang begitu saja. Tutup panci yang sudah rusak ini kemudian dibuat sebuah alat dapur yang dikenal dengan nama Entong,</p>
<p>Selain mencari sendiri dari rumah ke rumah, sakur mendapatkan tutup panci bekas ini dari para pemulung. Bagi pemulung yang tahu, barang ini biasanya tidak langsung menjual ke tukang rongsokan. Namun mampir ke tempat sakur dan bisa dijual lebih mahal.</p>
<p>Sakur kemudian mengolah barang bekas ini menjadi Entong yang tidak kalah dengan Barang buatan pabrik. bahkan buatan pria yang sudah puluhan tahun menjalani profesi ini dikenal awet serta banyak diburu para ibu rumah tangga.</p>
<p>Cara membuatnya juga tergolong mudah. Tutup panci yang sudah tidak berbentuk ini dirapikan dengan cara meratakan bagian yang bergelombang.Selanjutnya panci yang kotor ini kemudian di gosok dengan alat mesin agar warna barang bekas itu kembali mengkilat seperti baru.</p>
<p>Setelah itu, bekas tutup panci ini dibuat lubang melingkar hampir seluruh bagian . pengerjaan  Terakhir, alat untuk mengambil makanan di wajan ini diberi gagang atau alat pegangan dari kayu.</p>
<p>Setiap hari Sakur yang dibantu sepuluh pekerjanya mampu menghasilkan 60 Entong. satu entong kecil dijual lima ribu, untuk ukuran besar harganya 60 ribu rupiah. Sakur mengaku belakangan ini kewalahan dengan banyaknya pesanan. Hingga kini Entong buatan sakur ini sudah tersebar hampir seluruh kota di Indonesia (banyumasnews.com/mutiara nissa)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melongok perajin batik tulis Banyumasan di Cilongok</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 23:32:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=5336</guid>
		<description><![CDATA[CILONGOK boleh bangga tidak hanya karena dikenal sebagai pusat penghasil gula kelapa di Banyumas. Di bidang pelestarian seni batik tulis pun tak bisa dianggap sepele. Karena ada salah seorang warganya yang begitu loyal dan penuh pengabdian dalam upaya pelestarian seni batik tulis. Melalui ketelatenan dan daya kreasi yang melekat dalam diri Hj Karinah (86) sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">CILONGOK boleh bangga tidak hanya karena dikenal sebagai pusat penghasil gula kelapa di Banyumas. Di bidang pelestarian seni batik tulis pun tak bisa dianggap sepele. Karena ada salah seorang warganya yang begitu loyal dan penuh pengabdian dalam upaya pelestarian seni batik tulis.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Melalui ketelatenan dan daya kreasi yang melekat dalam diri Hj Karinah (86) sehingga Cilongok memiliki aset langka dalam urusan pelestarian seni batik khususnya di wilayah Banyumas bagian Barat ini. Melalui kekayaan daya ciptanya, Hj Karinah merupakan sosok yang memiliki pengabdian tanpa pamrih dalam bereasi di bidang seni batik tulis.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Meski paling banter sebulan Hj Karinah baru dapat menyelesaikan sepotong kain batik, namun karyanya memiliki keunggulan dari bermacam sisi. Karena membatik sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh dengan pengalaman. Baik pengalaman dari perhelatan antar zaman maupun pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan formal sejak jaman penjajahan Belanda.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">“Saya mulai membatik sejak masih gadis cilik,” kata Hj Karinah kepada banyumasnews.com saat ditemui di kediamannya di Desa Bantuanten Kecamatan Cilongok, Sabtu (26/9).</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Dituturkan nenek dari 28 cucu dan 8 buyut ini, sebelum tentara Jepang datang ke Indonesia, dirinya sudah belajar membatik. Pada tahun 1934 Karinah lulus Sekolah Rakyat (SR) tiga tahun kemudian melanjutkan ke Sekolah Kartini di Ajibarang dan lulus tahun 1936.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Ketika di sekolah Kartini itulah Karinah medapatkan bermacam pelajaran kerajinan tangan, seperti menjahit, menyulam, menenun hingga membatik. Para pengajarnya dari berbagai daerah seperti Cirebon, Jogjakarta, Cilacap sedangkan guru tenun berasal dari Bali.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Setamat sekolah Kartini, dia melanjutkan sekolah pertanian di Purworejo. Sebelum akhirnya dijemput oleh orangtuanya untuk menikah, Karinah sempat mengikuti kursus kebidanan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Selama masa penjajahan Jepang, Hj Karinah tidak membuat batik, karena ketika itu memang kondisi bangsa pada umumnya sedang dalam kondisi melarat. Kemudian mulai membatik secara serius, ketika Hj Karinah menetap di Desa Batuanten pada tahun 1942.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Saat itu, dirinya tergugah setelah menyaksikan kondisi masyarakat setempat yang pengetahuannya serba terbatas. Demikian juga dalam hal berpakaian. Perempuan pergi ke pasar dengan tanpa busana, kecuali hanya mengenakan kemben itu hal biasa. Kemudian melalui kegiatan semacam perkumpulan wanita Hj Karinah mencoba menularkan ilmunya di bidang membatik kepada ibu-ibu di desa tersebut.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Namun, menurut Hj Karinah, banyak para ibu yang mengundurkan diri untuk belajar membatik. Alasannya terlalu telaten dan makan waktu lama. Maklum, masyarakat setempat terbiasa dengan pekerjaannya berupa mengolah gula kelapa yang dapat diolah dalam waktu cukup singkat, lalu bisa dijual dan dapat uang. Sedangkan membatik minimal sebulan baru dapat selembar kain jarit.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Menurut istri dari H Nurdin Kamal Mustafa, bermacam batik baik itu batik Solo, batik Jogya maupun batik Banyumas, secara garis besar sama. Adapun yang membedakan dari ketiganya adalah Sogan-nya. Misalnya Sogan Solo warnanya kuning kecoklatan, sedangkan Sogan Jogjakarta dominan warna coklat sementara Sogan Banyumasan berwarna putih. Adapun motif batik itu sendiri jenisnya lebih dari seratus.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Proses membatik sendiri memerlukan ketekunan, ketelatenan, kehati-hatian, cermat, imajinatif dan memiliki daya tahan yang tinggi. Bagaimana tidak? Sebelum dibatik, mori yang akan diajdikan emdia batik itu sendiri harus diproses sedemikian rupa agar ketika dilukis melemnya tidak kalis. Begitu selama membatik itu ada beberapa tahapan. Setiap tahapan membutuhkan waktu tersendiri yang cukup lama.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Dari mori yang sudah siap dibatik, terlebih dulu digarisi, baik garis miring atau garis lurus sesuai dengan corak yang dikehendaki. Tahapan awal dilanjutkan dengan Diwedel, lalu dibatik lagi kemudian Dibironi, dibatik lagi baru Disoga.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Bermacam corak batik hasil karya Hj Karinah seperti batik Kembang Asem, batik Parang Kesuma, batik Parang Lunglungan, batik Kawung, dan masih banyak lagi.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Selain sering mengikuti pameran baik di Desa, Kecamatan dan tempat lain, batik tulis asli karya Hj Karinah juga pernah dipesan oleh warga Australia. Selain pernah mendapatkan bantuan seperangkat alat membatik seperti canting dengan bermacam fungsi juga bahan baku seperti malam dan kain mori dari Disperindagkop Kabupaten Banyumas.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Sedangkan upaya pelestarian seni batik bagi para generasi penerus yang telah dilakukan seperti melalui kegiatan kursus mebatik bagi Ibu PKK Kecamatan Cilongok, PKK Desa Batuanten, maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah formal sepertidi SMP Muhammadiyah Cilongok di bawah asuhan  Ibu Endang Yuwana, di SMP Terbuka, serta melalui kelompok kegiatan ibu-ibu lainnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Dengan demikian, ketika batik Banyumas menjadi bagian dari eksistensi keberagaman batik Indonesia, maka kinerja dan pengabdian Hj Karinah di bidang pelestarian batik, perannya tidak bsia diabaikan begitu saja.. (banyumasnews.com/Hamidin Krazan)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<div id="attachment_5337" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-5337" href="http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/hj-karinah-dan-batik-karyanya/"><img class="size-medium wp-image-5337" title="Hj KArinah dan batik karyanya" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/Hj-KArinah-dan-batik-karyanya-360x270.jpg" alt="Hj KArinah tengah membatik (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Hj KArinah tengah membatik (foto:ham/BNC)</p></div>
<div id="attachment_5338" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-5338" href="http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/img_1013/"><img class="size-medium wp-image-5338" title="IMG_1013" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/IMG_1013-360x270.jpg" alt="Salah satu jenis batik yang tengah digarap (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu jenis batik yang tengah digarap (foto:ham/BNC)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
