<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kabar Banyumas &#187; PROFIL USAHA</title>
	<atom:link href="http://banyumasnews.com/category/profil/profil-usaha/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://banyumasnews.com</link>
	<description>Portal Berita Warga Bayumasan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 12:21:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menyulap Sampah Menjadi Gaun Pengantin</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/06/02/limbah-plastik-disulap-menjadi-gaun-pengantin/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/06/02/limbah-plastik-disulap-menjadi-gaun-pengantin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 15:09:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[CILACAP]]></category>
		<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[HEADLINE]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=10723</guid>
		<description><![CDATA[SAMPAH selama ini selalu dianggap sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikan. Namun ditangan seorang perempuan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, limbah sampah telah diubah menjadi barang berharga. Tak hanya souvenir, namun plastik plastik bekas itu disulap menjadi gaun pengantin yang tak kalah anggun dan menarik dengan gaun pada umumnya.
Kesibukan selalu terlihat di tempat Lembaga Kursus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10724" class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><a rel="attachment wp-att-10724" href="http://banyumasnews.com/2010/06/02/limbah-plastik-disulap-menjadi-gaun-pengantin/gaun2/"><img class="size-full wp-image-10724" title="gaun2" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/06/gaun2.jpg" alt="Gaun pengantin dari bahan limbah plastik (foto:nan/BNC)" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Gaun pengantin dari bahan limbah plastik (foto:nan/BNC)</p></div>
<p>SAMPAH selama ini selalu dianggap sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikan. Namun ditangan seorang perempuan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, limbah sampah telah diubah menjadi barang berharga. Tak hanya souvenir, namun plastik plastik bekas itu disulap menjadi gaun pengantin yang tak kalah anggun dan menarik dengan gaun pada umumnya.</p>
<p>Kesibukan selalu terlihat di tempat Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Bu Nandang di Perumahan Bayur Permai , Gumilir Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.  Di tempat ini terlihat para ibu ibu yang tengah membuat kerajinan berupa souvenir dan perlengkapan dekorasi.</p>
<p>Semua bahan yang menjadi barang barang menarik itu berasal dari limbah sampah. Limbah yang sebagian besar dari plastik dan diperoleh dari warga sekitar itu telah disulap menjadi barang menarik seperti  lampu lampion, tas, bunga, serta pernak pernik lainnya.</p>
<p>Yang unik dan menarik, Bu Nandang pemilik LKP bersama perajin lain telah berhasil membuat sepasang gaun penganten. Gaun pengantin tersebut dibuat untuk acara pernikahan yang bersamaan dengan hari lingkungan hidup sedunia pada tanggal 5 juni 2010 mendatang.</p>
<p>Agar nyaman dipakai, pada bagian dalam gaun digunakan kain spanduk bekas . Lalu kantong plastik warna putih yang telah dibentuk dengan berbagai variasi sesuai pola gaun itu ditempelkan di bagian luar.</p>
<p>Jika dilihat sekilas, gaun itu seperti gaun pada umumnya yang terlihat anggun dan mewah. Namun jika didekati dan dipegang, maka bunyi plastik itu terdengar jelas. Tak heran jika pembuatan gaun itu hanya menghabiskan biaya kurang dari 50 ribu rupiah.</p>
<p>“ Biaya pembuatan gaun ini hanya kurang dari 50 ribu. Karen semua bahan dari barang bekas,” ujar Erni Suhaina atau dikenal dengan Bu Nandang.</p>
<p>Menurut Bu Nandang, ide pemanfaatan limbah tersebut, karena di lingkungan rumah sering berserakan sampah. Setelah memiliki ide memanfaatkan sampah, Bu Nandang kemudian meminta warga untuk memberikan sampah itu kepadanya.</p>
<p>“ Semoga pemanfaatan limbah menjadi barang berharga ini diharapkan dapat mengubah sudut pandang masyarakat terhadap limbah sampah yang selama ini terabaikan,” ujarnya (BNC/tia).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/06/02/limbah-plastik-disulap-menjadi-gaun-pengantin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panen Perdana Ayam Broiler di Lahan Pasir Pantai</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/03/08/panen-perdana-ayam-broiler-di-lahan-pasir-pantai/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/03/08/panen-perdana-ayam-broiler-di-lahan-pasir-pantai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 15:11:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9457</guid>
		<description><![CDATA[
PEMBERDAYAAN masyarakat pada usaha peternakan demgan kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo melalui Budidaya Ayam Broiler dapat dikatakan berhasil dengan memuaskan.  Karena lokasi tersebut untuk budidaya ayam broiler cukup baik, selain itu lokasinya jauh dengan tempat tinggal (pemukiman penduduk lebih kurang 1.111 meter), udaranya segar (sirkulasi udara sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-10574" href="http://banyumasnews.com/2010/03/08/panen-perdana-ayam-broiler-di-lahan-pasir-pantai/daging-ayam-broiler/"><img class="alignleft size-medium wp-image-10574" title="daging ayam broiler" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/03/daging-ayam-broiler-448x270.jpg" alt="daging ayam broiler" width="448" height="270" /></a></p>
<p>PEMBERDAYAAN masyarakat pada usaha peternakan demgan kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo melalui Budidaya Ayam Broiler dapat dikatakan berhasil dengan memuaskan.  Karena lokasi tersebut untuk budidaya ayam broiler cukup baik, selain itu lokasinya jauh dengan tempat tinggal (pemukiman penduduk lebih kurang 1.111 meter), udaranya segar (sirkulasi udara sangat baik), sarana transportasi baik, yang lebih penting yaitu jauh dari lalu lintas (transportasi ternak) sehingga ayam broiler tidak mudah terkontaminasi penyakit.</p>
<p>Kemudian, lahan pasir pasir pantai cepat mengeringkan <strong>feses</strong> sehingga sedikit menimbulkan bau yang tidak sedap.  Temperatur udara relatif tinggi (38 &#8211; 40 derajat Celcius), karenanya perlu penanganan khusus untuk meningkatkan kelembaban udara di dalam kandang yaitu di antaranya dengan cara menyemprotkan air (kabut air) di dalam kandang.  Cara tersebut dapat mengurangi <strong><em>panting</em></strong> pada ayam broiler.  Di samping itu stres pada ayam broiler akibat panas dapat dikurangi, dengan cara penyemprotan air dilakukan 2 kali sehari yaitu pukul 10.00 dan 13.00 WIB.</p>
<p>Umur ayam broiler yang dipelihara pada kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo sampai dengan tanggal 5 Maret 2010 adalah 30 hari, seharusnya akan dilaksanakan panen perdana di lakukan pada hari rabu tanggal 10 Maret 2010.  Namun melihat pertumbuhan ayam broiler yang baik (rataan bobot badan pada umur 30 hari sudah mencapai 1,95 kg) dan juga melihat kepadatan ayam yang tinggi, maka pada tanggal 06 Maret 2010 sudah dilakukan penjarangan (menjual sebagian ayam broiler) agar stress pada ayam dapat dikurangi.  Sebab, kepadatan kandang yang terlalu tinggi dapat menyebabkan stress dan mortalitas dapat semakin bertambah.  Mortalitas ayam broiler yang dipelihara demgan kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo relatif kecil/di bawah standar yaitu 2,50 %, sedangkan di peternak secara umum mencapai 5 -  5,6 %.</p>
<p>Hal-hal yang menarik pada pemeliharaan ayam broiler pada kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo adalah perubahan suhu udara yang drastis dari siang hari ke malam hari.  Suhu udara pada siang hari sangat panas (dapat mencapai 40 derajat Celcius) dan pada malam hari mencapai 24 derajad celcius).  Permasalahan yang muncul adalah pada saat pemeliharaan periode awal <strong><em>(starting period)</em></strong> yang membutuhkan panas yang cukup yakni 39 derajat celcius, sehingga dibutuhkan penanganan yang cepat agar suhu udara di dalam <strong><em>brooder</em></strong> tetap terjaga dan anak ayam broiler (DOC) tidak stress akibat perubahan suhu udara tersebut.</p>
<p>Pemeliharaan ayam broiler pada kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo memang membutuhkan penanganan yang sedikit berbeda dan kerja ekstra, apabila dibandingkan pada pemeliharaan ayam broiker pada daerah-daerah yang mempunyai suhu udara relatif stabil (tidak terjadi perubahan suhu yang drastis).  Khusus budidaya ayam broiler pada kandang di atas lahan pasir pantai yang perlu diperhatikan adalah penanganan pada awal periode pertumbuhan <strong><em>(brooding)</em></strong> yang harus dijaga sebaik mungkin, dengan maksud agar anak ayam (DOC) tidak stress.  Caranya yaitu dengan pengaturan sirkulasi udara (sebab kecepatan angin di pantai selatan sangat kencang), sehingga diharapkan agar ayam dapat nyaman berada di dalam kandang.  Di samping itu, dalam pengaturan kelembaban kandang pada saat ayam broiler terlihat melakukan akitivitas <strong><em>panting</em></strong>, yaitu dengan segera dilakukan penyemprotan air (seperti kabut) untuk meningkatkan kelembaban udara di dalam kandang.</p>
<p>Ayam broiler semakin besar, maka panas yang timbul di dalam kandang akan semakin panas dan berakibat ayam broiler menjadi stress.  Akibat selanjutnya adalah masuknya penyakit dan yang lebih parah lagi dapat menyebabkan kematian yang tinggi.  Oleh karena itu, pada pemeliharaan ayam broiler di lahan pasir pantai yang harus diamati yaitu aktivitas ayam tersebut secara terus menerus, agar dapat melihat perubahan pada ayam dan dapat segera mengambil keputusan untuk melakukan penanganan agar ayam broiler tetap nyaman hidup di kandang di atas lahan pasir pantai.</p>
<p>Perlu kami informasikan pula ternyata bahwa respon masyarakat sangat baik, terbukti ada beberapa desa tetangga yang ingin memelihara ayam broiler, selanjutnya beberapa masyarakat di lahan pasir pantai Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo, ternyata setelah ditanya siapa di antara bapak-bapak dan ibu-ibu yang mau memelihara ayam broiler, mereka menjawab saya siap.  Mereka tertarik karena melihat performan ayam broiler yang baik dengan bobot badan yang dicapai melebihi dari standar perusahaan pembibitnya.</p>
<p>Lokasi kandang di atas lahan pasir pantai di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo kira-kira 233 meter dari laut pantai selatan.  Kendala utama pada budidaya ayam broiler di atas lahan pasir pantai di antaranya adalah perubahan suhu udara pada siang hari ke malam hari yang sangat drastis (dari 39-40 derajat pada siang hari dan malam hari antara 23-24 derajat Celcius), sehingga harus ada penanganan cepat agar suhu di dalam kandang tetap stabil (khususnya pada saat periode <strong><em>Brooding</em></strong> dari umur 1 hari sampai 12 hari).  Untuk mengatasi kondisi tersebut, penanganan yang sudah kami lakukan yaitu memasang tirai tambahan di batas kandang (yang digunakan untuk <strong><em>kandang brooder</em></strong>) dan di atasnya ditutup dengan tirai agar udara tidak mudah masuk.  Pada penutupan bagian atas <strong><em>brooder</em></strong> tersebut sambil dilihat aktivitas anak ayam (DOC), apakah suhu udara cukup atau tidak.  Kalau kepanasan, maka tirai penutup yang di bagian atas dibuka seperempat bagian.  Selanjutnya, pengamatan aktivitas DOC harus dilakukan sepanjang siang dan malam.  Adapun, pembukaan tirai bagian atas, antara siang hari dan malam hari berbeda, apabila pada siang hari tirai bagian atas dapat dibuka semua dan pada malam hari, tirai harus ditutup sebagian (tergantung aktivitas DOC).</p>
<p>Pada saat sudah lepas <strong><em>brooder</em></strong>, maka pada siang hari harus dilakukan penyemprotan dengan air (seperti kabut) diharapkan agar suhu udara tidak terlalu panas dan kelembaban udara dapat terjaga.  Penyemprotan dilakukan dengan sprayer pada pukul 10.00 dan 13.00.</p>
<p>Kondisi ayam broiler pada kandang di atas lahan pasir pantai Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabbupaten Purworejo selama pemeliharaan sehat-sehat saja, tapi ada beberapa ekor yang terjepit lantai bambu, sehingga mengalami patah kaki atau sayap (itu masalah biasa yang sering terjadi pada usaha peternakan ayam dimanapun).</p>
<p>Untuk strain yang cocok dipelihara di atas lahan pasir pantai pesisir selatan Desa Munggangsari, kami belum dapat mengatakan mana yang lebih baik. Namun demikian, berdasarkan pengamatan di lokasi, kani menyarankan sebaiknya ayam broiler yang dipelihara di lokasi di atas lahan pasir yaitu ayam broiler yang mempunyai pertumbuhan yang lambat di awal pertumbuhan (umur 1 hari &#8211; 2/3 minggu) dan mulai umur 3/4 minggu pertumbuhan yang cepat serta ayam broiler yang mempunyai pertumbuhan bulu yang cepat.  Hal tersebut, untuk mengantisipasi perubahan suhu yang drastis.</p>
<p>Pemeliharaan ayam broiler di atas lahan yang biasa dilakukan oleh para peternak (lahan normal) sedikit berbeda dengan lahan pasir tepian pantai.  Kalau di lahan pantai kondisi udara masih segar, jauh dari pemukiman penduduk, feses cepat kering karena suhu udara sangat panas pada siang hari, jauh dari transportasi ternak (jalan raya) antara daerah, mudah mendapatkan air bersih dan sehat.  Ini perbedaan antara lahan pantai dengan lahan normal.  Namun kelebihan dan kekurangan tersebut dapat dikendalikan dengan cepat, tetapi jangan sampai penanganan tersebut menyebabkan ayam broiler menjadi stress<strong> </strong><strong>( Ir. Winarto Hadi, MS)</strong></p>
<p><strong> </strong><em>Penulis ,Koordinator Lapangan Budidaya Ayam Broiler pa</em><em>da lahan pasir pantai Eks Tambang Pasir Besi </em><em>di Desa Munggangsari Kecamatan Grabag Kabupaten Purworejo.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/03/08/panen-perdana-ayam-broiler-di-lahan-pasir-pantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bupati Banjarnegara Dukung Ecolabelling Batik Gumelem</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 13:20:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANJARNEGARA]]></category>
		<category><![CDATA[FEATURES]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=9196</guid>
		<description><![CDATA[

 
 
BANJARNEGARA – Batik Gumelem masih sangat potensial untuk dikembangkan baik dari segi ekonomi, sosial maupun aspek lingkungannya. Batik Gumelem juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung sektor pariwisata, bahkan bisa dijadikan sebagai tujuan wisata. Namun beberapa hal seperti supply bahan baku yang belum kontinyu, mutunya yang bervariasi dan cenderung tidak terkontrol menjadi kendala tersendiri dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong></p>
<div id="attachment_9197" class="wp-caption alignleft" style="width: 1310px"><strong><a rel="attachment wp-att-9197" href="http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/batik-gumelem1/"><img class="size-full wp-image-9197" title="batik gumelem1" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/02/batik-gumelem1.jpg" alt="Pengunjung mengamati batik Khas Gumelem (foto:dhy/BNC)" width="1300" height="924" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Pengunjung mengamati batik Khas Gumelem (foto:dhy/BNC)</p></div>
<p></strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>BANJARNEGARA – Batik Gumelem masih sangat potensial untuk dikembangkan baik dari segi ekonomi, sosial maupun aspek lingkungannya. Batik Gumelem juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung sektor pariwisata, bahkan bisa dijadikan sebagai tujuan wisata. Namun beberapa hal seperti <em>supply</em> bahan baku yang belum kontinyu, mutunya yang bervariasi dan cenderung tidak terkontrol menjadi kendala tersendiri dalam pengembangannya.</p>
<p>“Batik Gumelem memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan batik-batik dari daerah lain. Untuk itu kami sangat tertarik bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara dalam menerapkan teknologi produksi untuk UKM Batik Gumelem,” ujar Suparni Setyowati Rahayu, Ketua Program Hibah Kemitraan Batik Gumelem dari politeknik Negeri Semarang.</p>
<div id="attachment_9198" class="wp-caption alignleft" style="width: 1310px"><a rel="attachment wp-att-9198" href="http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/ecolabelling_radarmas/"><img class="size-full wp-image-9198" title="ecolabelling_Radarmas" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2010/02/ecolabelling_Radarmas.jpg" alt="Ecolabelling Batik Gumelem tembus pasar global (foto:dhy/BNC)" width="1300" height="912" /></a><p class="wp-caption-text">Ecolabelling Batik Gumelem tembus pasar global (foto:dhy/BNC)</p></div>
<p>“Peta permasalahan yang ada di UKM Batik Gumelem masih berkisar pada kurang efisiennya produksi, seperti penggunaan bahan bakarnya belum terukur, belum adanya penangkap lilin/ malam, alat pencampur pewarna belum mekanis, tungku dan bak pelorodan tidak hemat energi dan yang paling utama adalah belum menggunakan zat warna alami. Padahal jika sudah menggunakan pewarna alami dan menyandang gelar produk <em>ecolabelling</em>, maka mudah bagi Batik Gumelem untuk menembus pasar global,” imbuh Suparni.</p>
<p><em>Ecolabelling</em> menuntut bahwa setiap produk dagangan harus telah didasarkan pada kelestarian sumber daya dan ekosistem dari lingkungan hidup. Program Hibah Kemitraan ini rencananya akan dilaksanakan selama tiga tahun kedepan, dimulai pada tahun 2010 ini. “Kami akan mencoba membenahi aspek produksi, manajemen, sumber daya manusia, sarana prasarana dan finansial pengrajin Batik Gumelem. Untuk tahun pertama ini target kami menekan keluaran bukan produk dibawah 5% dari total biaya produksi, serta 30% produk batik sudah menggunakan <em>ecolabelling</em>,” papar Suparni, Rabu (24/2) di hadapan Bupati Banjarnegara.</p>
<p>Program Kemitraan yang dijalin Politeknik Negeri Semarang, Politeknik Banjarnegara, UKM Batik Gumelem dan Pemkab Banjarnegara ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat nyata. “Tujuan akhirnya kami ingin melakukan penghematan biaya produksi, pemanfaatan dan pengelolaan limbah, membentuk pola pikir pengusaha batik untuk melakukan produksi seefisien mungkin, kerjasama teknologi bersih berkelanjutan dan <em>eco</em> efisiensi, peningkatan efisiensi produksi dan peningkatan kesejahteraan pengusaha Batik Gumelem,” lanjut Suparni.</p>
<p>Program kemitraan serupa, menurut Suparni, pernah dilakukan untuk pengrajin batik di Kabupaten dan Kota Pekalongan, serta di Lawean, Solo. “Kami sangat berterima kasih atas perhatian Bapak Ibu dari Politeknik Negeri Semarang, semoga program kemitraan ini bisa terlaksana dengan lancar dan sukses. Kami, selaku Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, selalu mendukung program-program yang bermanfaat bagi masyarakat luas, apalagi jika ini berkontribusi langsung untuk mengeliminir dampak <em>global warming</em>,” ujar Bupati Djasri (BNC/dhy)<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2010/02/25/bupati-banjarnegara-dukung-ecolabelling-batik-gumelem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyulap Limbah Menjadi Alat Dapur</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 12:42:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=7497</guid>
		<description><![CDATA[
JIKA alat dapur anda seperti tutup panci milik anda rusak, jangan buru buru dibuang. karena barang limbah tersebut bisa disulap menjadi alat dapur lain yang tidak kalah manfaatnya.
Mungkin tidak banyak yang tahu jika salah satu alat memasak berupa entong atau sendok besar untuk wajan ini berasal dari limbah.Bagi Abdul Sakur (40), warga Pasir Kidul Purwokerto [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong></p>
<div id="attachment_7501" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a rel="attachment wp-att-7501" href="http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/alat-dapur-est/"><img class="size-full wp-image-7501" title="alat dapur est" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/11/alat-dapur-est.jpg" alt="Sakur dengan limbah bekas tutup panci (foto:mut/BNC)" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Sakur dengan limbah bekas tutup panci (foto:mut/BNC)</p></div>
<div id="attachment_7502" class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><a rel="attachment wp-att-7502" href="http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/alat-dapur/"><img class="size-full wp-image-7502" title="alat dapur" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/11/alat-dapur.jpg" alt="Mengetok bekas panci untuk menghaluskan lekukan (foto:mut/BNC)" width="320" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Mengetok bekas panci untuk menghaluskan lekukan (foto:mut/BNC)</p></div>
<p>JIKA alat dapur anda seperti tutup panci milik anda rusak, jangan buru buru dibuang. karena barang limbah tersebut bisa disulap menjadi alat dapur lain yang tidak kalah manfaatnya.</p>
<p>Mungkin tidak banyak yang tahu jika salah satu alat memasak berupa entong atau sendok besar untuk wajan ini berasal dari limbah.Bagi Abdul Sakur (40), warga Pasir Kidul Purwokerto Barat Banyumas ini barang bekas seperti panci atau tempat merebus air dari aluminium ini tidak akan dibuang begitu saja. Tutup panci yang sudah rusak ini kemudian dibuat sebuah alat dapur yang dikenal dengan nama Entong,</p>
<p>Selain mencari sendiri dari rumah ke rumah, sakur mendapatkan tutup panci bekas ini dari para pemulung. Bagi pemulung yang tahu, barang ini biasanya tidak langsung menjual ke tukang rongsokan. Namun mampir ke tempat sakur dan bisa dijual lebih mahal.</p>
<p>Sakur kemudian mengolah barang bekas ini menjadi Entong yang tidak kalah dengan Barang buatan pabrik. bahkan buatan pria yang sudah puluhan tahun menjalani profesi ini dikenal awet serta banyak diburu para ibu rumah tangga.</p>
<p>Cara membuatnya juga tergolong mudah. Tutup panci yang sudah tidak berbentuk ini dirapikan dengan cara meratakan bagian yang bergelombang.Selanjutnya panci yang kotor ini kemudian di gosok dengan alat mesin agar warna barang bekas itu kembali mengkilat seperti baru.</p>
<p>Setelah itu, bekas tutup panci ini dibuat lubang melingkar hampir seluruh bagian . pengerjaan  Terakhir, alat untuk mengambil makanan di wajan ini diberi gagang atau alat pegangan dari kayu.</p>
<p>Setiap hari Sakur yang dibantu sepuluh pekerjanya mampu menghasilkan 60 Entong. satu entong kecil dijual lima ribu, untuk ukuran besar harganya 60 ribu rupiah. Sakur mengaku belakangan ini kewalahan dengan banyaknya pesanan. Hingga kini Entong buatan sakur ini sudah tersebar hampir seluruh kota di Indonesia (banyumasnews.com/mutiara nissa)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/11/22/pgri-purbalingga-gelar-menyanyi-massal-pecahkan-rekor-muri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melongok perajin batik tulis Banyumasan di Cilongok</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 23:32:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=5336</guid>
		<description><![CDATA[CILONGOK boleh bangga tidak hanya karena dikenal sebagai pusat penghasil gula kelapa di Banyumas. Di bidang pelestarian seni batik tulis pun tak bisa dianggap sepele. Karena ada salah seorang warganya yang begitu loyal dan penuh pengabdian dalam upaya pelestarian seni batik tulis.
Melalui ketelatenan dan daya kreasi yang melekat dalam diri Hj Karinah (86) sehingga Cilongok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">CILONGOK boleh bangga tidak hanya karena dikenal sebagai pusat penghasil gula kelapa di Banyumas. Di bidang pelestarian seni batik tulis pun tak bisa dianggap sepele. Karena ada salah seorang warganya yang begitu loyal dan penuh pengabdian dalam upaya pelestarian seni batik tulis.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Melalui ketelatenan dan daya kreasi yang melekat dalam diri Hj Karinah (86) sehingga Cilongok memiliki aset langka dalam urusan pelestarian seni batik khususnya di wilayah Banyumas bagian Barat ini. Melalui kekayaan daya ciptanya, Hj Karinah merupakan sosok yang memiliki pengabdian tanpa pamrih dalam bereasi di bidang seni batik tulis.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Meski paling banter sebulan Hj Karinah baru dapat menyelesaikan sepotong kain batik, namun karyanya memiliki keunggulan dari bermacam sisi. Karena membatik sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh dengan pengalaman. Baik pengalaman dari perhelatan antar zaman maupun pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan formal sejak jaman penjajahan Belanda.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">“Saya mulai membatik sejak masih gadis cilik,” kata Hj Karinah kepada banyumasnews.com saat ditemui di kediamannya di Desa Bantuanten Kecamatan Cilongok, Sabtu (26/9).</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Dituturkan nenek dari 28 cucu dan 8 buyut ini, sebelum tentara Jepang datang ke Indonesia, dirinya sudah belajar membatik. Pada tahun 1934 Karinah lulus Sekolah Rakyat (SR) tiga tahun kemudian melanjutkan ke Sekolah Kartini di Ajibarang dan lulus tahun 1936.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Ketika di sekolah Kartini itulah Karinah medapatkan bermacam pelajaran kerajinan tangan, seperti menjahit, menyulam, menenun hingga membatik. Para pengajarnya dari berbagai daerah seperti Cirebon, Jogjakarta, Cilacap sedangkan guru tenun berasal dari Bali.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Setamat sekolah Kartini, dia melanjutkan sekolah pertanian di Purworejo. Sebelum akhirnya dijemput oleh orangtuanya untuk menikah, Karinah sempat mengikuti kursus kebidanan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Selama masa penjajahan Jepang, Hj Karinah tidak membuat batik, karena ketika itu memang kondisi bangsa pada umumnya sedang dalam kondisi melarat. Kemudian mulai membatik secara serius, ketika Hj Karinah menetap di Desa Batuanten pada tahun 1942.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Saat itu, dirinya tergugah setelah menyaksikan kondisi masyarakat setempat yang pengetahuannya serba terbatas. Demikian juga dalam hal berpakaian. Perempuan pergi ke pasar dengan tanpa busana, kecuali hanya mengenakan kemben itu hal biasa. Kemudian melalui kegiatan semacam perkumpulan wanita Hj Karinah mencoba menularkan ilmunya di bidang membatik kepada ibu-ibu di desa tersebut.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Namun, menurut Hj Karinah, banyak para ibu yang mengundurkan diri untuk belajar membatik. Alasannya terlalu telaten dan makan waktu lama. Maklum, masyarakat setempat terbiasa dengan pekerjaannya berupa mengolah gula kelapa yang dapat diolah dalam waktu cukup singkat, lalu bisa dijual dan dapat uang. Sedangkan membatik minimal sebulan baru dapat selembar kain jarit.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Menurut istri dari H Nurdin Kamal Mustafa, bermacam batik baik itu batik Solo, batik Jogya maupun batik Banyumas, secara garis besar sama. Adapun yang membedakan dari ketiganya adalah Sogan-nya. Misalnya Sogan Solo warnanya kuning kecoklatan, sedangkan Sogan Jogjakarta dominan warna coklat sementara Sogan Banyumasan berwarna putih. Adapun motif batik itu sendiri jenisnya lebih dari seratus.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Proses membatik sendiri memerlukan ketekunan, ketelatenan, kehati-hatian, cermat, imajinatif dan memiliki daya tahan yang tinggi. Bagaimana tidak? Sebelum dibatik, mori yang akan diajdikan emdia batik itu sendiri harus diproses sedemikian rupa agar ketika dilukis melemnya tidak kalis. Begitu selama membatik itu ada beberapa tahapan. Setiap tahapan membutuhkan waktu tersendiri yang cukup lama.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Dari mori yang sudah siap dibatik, terlebih dulu digarisi, baik garis miring atau garis lurus sesuai dengan corak yang dikehendaki. Tahapan awal dilanjutkan dengan Diwedel, lalu dibatik lagi kemudian Dibironi, dibatik lagi baru Disoga.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Bermacam corak batik hasil karya Hj Karinah seperti batik Kembang Asem, batik Parang Kesuma, batik Parang Lunglungan, batik Kawung, dan masih banyak lagi.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Selain sering mengikuti pameran baik di Desa, Kecamatan dan tempat lain, batik tulis asli karya Hj Karinah juga pernah dipesan oleh warga Australia. Selain pernah mendapatkan bantuan seperangkat alat membatik seperti canting dengan bermacam fungsi juga bahan baku seperti malam dan kain mori dari Disperindagkop Kabupaten Banyumas.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Sedangkan upaya pelestarian seni batik bagi para generasi penerus yang telah dilakukan seperti melalui kegiatan kursus mebatik bagi Ibu PKK Kecamatan Cilongok, PKK Desa Batuanten, maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah formal sepertidi SMP Muhammadiyah Cilongok di bawah asuhan  Ibu Endang Yuwana, di SMP Terbuka, serta melalui kelompok kegiatan ibu-ibu lainnya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Dengan demikian, ketika batik Banyumas menjadi bagian dari eksistensi keberagaman batik Indonesia, maka kinerja dan pengabdian Hj Karinah di bidang pelestarian batik, perannya tidak bsia diabaikan begitu saja.. (banyumasnews.com/Hamidin Krazan)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
<div id="attachment_5337" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-5337" href="http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/hj-karinah-dan-batik-karyanya/"><img class="size-medium wp-image-5337" title="Hj KArinah dan batik karyanya" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/Hj-KArinah-dan-batik-karyanya-360x270.jpg" alt="Hj KArinah tengah membatik (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Hj KArinah tengah membatik (foto:ham/BNC)</p></div>
<div id="attachment_5338" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-5338" href="http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/img_1013/"><img class="size-medium wp-image-5338" title="IMG_1013" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/IMG_1013-360x270.jpg" alt="Salah satu jenis batik yang tengah digarap (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu jenis batik yang tengah digarap (foto:ham/BNC)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>50 tahun Ibu Soemadi berjualan Kue Serabi</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/26/50-tahun-ibu-soemadi-berjualan-kue-serabi/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/09/26/50-tahun-ibu-soemadi-berjualan-kue-serabi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 11:22:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=5201</guid>
		<description><![CDATA[KUE serabi bikinan Ibu Achmad Soemedi (70) yang beralamat di Jalan Bank Purwokerto sejak setengah abad silam hingga kini masih dijadikan jajanan favorite oleh para pemudik dari penjuru nusantara yang pulang ke Purwokerto. Uniknya, para pembeli rela mengantri berjam-jam setelah dirinya didaftar nama dan jumlah pesanannya sesuai nomor urut layaknya pasien yang berobat di sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">KUE serabi bikinan Ibu Achmad Soemedi (70) yang beralamat di Jalan Bank Purwokerto sejak setengah abad silam hingga kini masih dijadikan jajanan favorite oleh para pemudik dari penjuru nusantara yang pulang ke Purwokerto. Uniknya, para pembeli rela mengantri berjam-jam setelah dirinya didaftar nama dan jumlah pesanannya sesuai nomor urut layaknya pasien yang berobat di sebuah klinik.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Seperti diakui Eko Prayitno seorang karyawan dari sebuah perusahaan tambang batu bara di Samarinda Kalimantan Timur. Dia salah atu pemudik yang pagi itu tengah mengantri serabi. Menurut Eko, sejak jam 05.30 WIB dia sudah didaftar dan mendapat nomor urut 12. Namun baru mendapatkan kue serabi pesanannya setelah satu jam menunggu. Selama menunggu itu justru merupakan suasana yang membuatnya berkesan. Seperti terkenang pada masa silam sekitar tahun 1977 dirinya juga pernah mengantri serabi bikinan Bu Soemedi.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">“Selain faktor comunity juga selama mengantri kita bisa bertemu kawan lama dengan suasana kota Purwokerto yang tetap nyaman menjadi sisi lain yang membuat kita selalu ingin datang kesini untuk membeli serabi setiap mudik ke Purwokerto, di samping faktor  kenikmatan kue serabi itu sendiri tentunya,” kata Eko kepada banyumasnews.com .</p>
<div id="attachment_5202" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-5202" href="http://banyumasnews.com/2009/09/26/50-tahun-ibu-soemadi-berjualan-kue-serabi/bu-seomedi-melyani-pembeli/"><img class="size-medium wp-image-5202" title="Bu Seomedi melyani pembeli" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/Bu-Seomedi-melyani-pembeli-360x270.jpg" alt="Bu Soemadi sibuk melyani pembeli Serabi (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Bu Soemadi sibuk melyani pembeli Serabi (foto:ham/BNC)</p></div>
<div id="attachment_5203" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-5203" href="http://banyumasnews.com/2009/09/26/50-tahun-ibu-soemadi-berjualan-kue-serabi/antri/"><img class="size-medium wp-image-5203" title="antri" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/antri-360x270.jpg" alt="Membeli Serabi Bu Soemadi harus rela antre (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Membeli Serabi Bu Soemadi harus rela antre (foto:ham/BNC)</p></div>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Dituturkan Ibu Soemadi saat ditemui banyumasnews.com di rumahnya, nenek dengan empat cucu ini lupa-lupa ingat kapan pastinya ia dan almarhum suaminya mulai berjualan serabi. Hal yang masih diingat, ia dan suaminya mulai berjualan serabi sejak awal berumah tangga, sedangkan kini anaknya yang ketiga, Sutrisno sudah berumur 49 tahun. Berarti usaha yang dijalankan sudah lebih dari 50 tahun.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">“Awalnya saya membuat serabi hanya untuk melayani para penjual kue keliling dan hanya berjualan di rumah,” kata Ibu Medi.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Semakin lama, lanjut Bu Medi, para tentangga berdatangan ikut memesan serabi termasuk ibunya dokter Dewi Yani datang ke rumahnya. Selang beberapa hari, dokter Dewi menawarkan agar Bu Medi memasang tenda untuk berjualan di jalan bank sebelah utara rumah dokter Dewi. Alasannya, jalanan itu bagian dari tanah miliknya. Sejak itulah Bu Medi setiap jam 04.00 WIB hingga sekitar jam 08.00 WIB berjualan serabi di jalan bank sehingga akhirnya dikenal serabi jalan bank.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Diakuinya, awal berjualan serabi hanya menghabiskan bahan baku berupa beras sekitar 7 kilogram setiap hari. Sedangkan harga serabi semula Rp 25, kemudian Rp 50 dan meningkat menajdi Rp 75 perpotong. Kompor yang digunakan untuk memasak hanya empat buah, sedangkan untuk menumbuk beras hingga menjadi tepung masih dengan proses manual yaitu menggunakan alat tumbuk dari batu (lumpang). Untuk memarut kelapa masih menggunakan parutan tradisional. Agar tidak basi, Bu Medi mulai memarut kelapa sejak jam 02.00 WIB dini hari.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">“Alhamdulillah kini harga serabi sepuluhkali lipatnya, bahkan sudah memiliki mesin penggiling tepung dan kelapa sendiri, sedangkan untuk memarut kelapa dalam jumlah banyak bisa dilakukan sehari sebelumnya dan tidak kawatir menjadi basi  karena sudah ada kulkas,” akunya.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Menurutnya, selama bulan puasa ia tidak berjualan. Begitu sehari setelah lebaran (H + 1) dia mulai berjualan dengan dibantu lima karyawan dan dua putranya yang tengah mudik lebaran. Pada saat itulah sebagaimana pantauan banyuamsnews.com para pemudik dengan rela mengantri serabi setelah namanya didaftar sesuai nomor urut kedatangan. Harga serabi yang biasanya Rp 750 selama musim mudik naik menjadi Rp 1.000 perpotong. Selama dua hari setelah lebaran, Bu Medi dapat menghabiskan bahan baku beras sebanyak 35 kilogram perharinya. Sedangkan pada hari biasa menghabiskan beras sekitar 15 kilogram perhari.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">“Sebenarnya saya tidak enak dengan harga segitu, tapi khusus untuk para pemudik mereka tidak keberatan, nanti lima hari setelah lebaran kembali ke harga normal. Karena pembelinya dan para pelanggan dari warga sekitar,” sela Bu Medi menjelaskan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Sejak enam bulan lalu, pangkalan tempat berjualan serabi dan jajanan lain sudah pindah di depan gedung tua bekas pabrik sabun tepatnya di sebelah utara Museum BRI di Jalan Bank nomor 1, sebrang barat dari tempat berjualan semula.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">Sebagaimana pantauan banyumanews.com pada hari kedua setelah lebaran, para pemudik yang mengantri cukup banyak. Para karyawan Bu Medi juga dua putranya turut membantu melayani para pembeli. Selain berjualan serabi dan mendoan tempe, kini juga tersedia nasi rames dengan lauk ayam goreng dan serba aneka jajanan lainya. Tersedia juga buntil dan susu kedelai serta minuman kesehatan seperti kunir asem. Penasaran ingin mencoba serabi di Jalan Bank? Daftar dulu dan sabar mengantri baru bisa merasakan sedapnya aroma dan manisnya kue serabi bikinan Bu Soemadi. (banyumasnews.com/Hamidin Krazan)</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/09/26/50-tahun-ibu-soemadi-berjualan-kue-serabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerajinan bonggol bambu Ajibarang, sampai ke Itali</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/14/kerajinan-bonggol-bambu-ajibarang-sampai-ke-itali/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/09/14/kerajinan-bonggol-bambu-ajibarang-sampai-ke-itali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 03:35:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[GALERI FOTO]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=4594</guid>
		<description><![CDATA[BARANG kerajinan unik terbuat dari bonggol bambu banyak rupanya. Seperti berbagai miniatur hewan berupa bebek, landak dan keong. Barang kerajinan ini tidak saja dipasarkan didalam negeri tetapi juga di ekspor ke mancanegara. Bali salah satu daerah yang banyak menghasilkan berbagai kerajinan tak terkecuali yang berbahan baku dari bonggol bambu. Dari mannakah asal bonggol bambu itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BARANG kerajinan unik terbuat dari bonggol bambu banyak rupanya. Seperti berbagai miniatur hewan berupa bebek, landak dan keong. Barang kerajinan ini tidak saja dipasarkan didalam negeri tetapi juga di ekspor ke mancanegara. Bali salah satu daerah yang banyak menghasilkan berbagai kerajinan tak terkecuali yang berbahan baku dari bonggol bambu. Dari mannakah asal bonggol bambu itu didapat dalam jumlah besar?</p>
<p>Ternyata, Desa Lesmana Kecamatan Ajibarang Banyumas  sebagai salah penyuplai bonggol bambu  terbanyak. Selain itu  desa Banjarsari kecamatan Cilongok, Semedo dan Candinegara kecamatan Pekuncen.</p>
<p>Menurut cerita dari pengepul bonggol bambu, Sukarto alias Bagong yang tinggal di Desa Lesmana RT 03/ V, semula kegiatan mengumpulkan bonggol bambu hanya dilakukan seorang diri, setelah kenal dengan relasi  yang biasanya menyalurkan bonggol bambu ke Bali yakni Wahyudi, ceritanya menjadi lain.</p>
<p>“Begitu saya dapat pesanan bonggol dalam jumlah banyak, saya kewalahan, akhirnya mengabarkan kepada keluarga dan warga sekitar bahwa bonggol bambu laku jual, maka berdatangan orang menjualnya ke saya,” papar Bagong saat ditemui banyuamsnews.com, Sabtu (12/9) di rumahnya.</p>
<p>Dijaskankan, harga setiap gandeng yang isinya minimal ada enam tangkai bonggol sebesar Rp 8.000. Tapi bonggol itu dalam keadaan sudah dirapihkan rambut akarnya dan dipotong pangkal bambunya.</p>
<div id="attachment_4595" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4595" href="http://banyumasnews.com/2009/09/14/kerajinan-bonggol-bambu-ajibarang-sampai-ke-itali/bonggol-bambu1/"><img class="size-medium wp-image-4595" title="bonggol bambu1" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/bonggol-bambu1-360x270.jpg" alt="Bagong sedang memperlihatkan bonggol bamboo yang laku jual (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Bagong sedang memperlihatkan bonggol bamboo yang laku jual (foto:ham/BNC)</p></div>
<div id="attachment_4596" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4596" href="http://banyumasnews.com/2009/09/14/kerajinan-bonggol-bambu-ajibarang-sampai-ke-itali/bongggol-bambu3/"><img class="size-medium wp-image-4596" title="bongggol bambu3" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/bongggol-bambu3-360x270.jpg" alt="Bonggol bamboo siap diangkut oleh pengepul (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Bonggol bamboo siap diangkut oleh pengepul (foto:ham/BNC)</p></div>
<p>Diakui Wahyudi, dirinya mulai keliling kampong menggunakan pick up untuk membeli bonggol bambu dari para pengepul berlangsung sejak tahun 2002. Hingga kini setiap ada pesanan banyak, dari tiap pengepul biasanya memesan sedikitnya seribu tangkai. Jika setiap tangkai minimal ada enam bonggol jumlahnya sudah enam kali lipatnya. Sedangkan bonggol itu dipasok ke Bali .</p>
<p>“Biasanya saya membelinya dari pengepul kalau ada pesanan saja, jauh hari saya sudah menghubungi para pengepul, kapan mereka mulai menerima penjualan bonggol bamboo dari warga setempat,” kata juragan bonggol asal Lumbir, Wangon itu menjelaskan.</p>
<p>Menurutnya, usaha penjualan bonggol bambu sebagai bahan baku kerajinan itu gampang-gampang susah, meskipun pemasaran lancer, namun kadang stok pesanan sering kurang memenuhi target.</p>
<p>“Ya bonggol bambu meski banyak tapi kadang susah mendapatkannya, kecuali ada penebangan bambu besar-besaran itu biasanya gampang mendapatkannya,” cetus Wahyudi.</p>
<p>Konon kerajinan berbahan dasar bonggol bambu ini tidak hanya dipasarkan di tingkat lokal tetapi kerajinan ini merambah pasar ekspor hingga ke Italia, Perancis dan Amerika. Bonggol bambu adalah bagian pangkal bambu jenis ori berikut akarnya. Bentuk bonggol yang unik yakni melengkung ke bagian bawah justru digemari pengrajin karena mudah untuk dibentuk.</p>
<p>Kerajinan ebrbentuk unggal seperti bebek misalnya, para pengrajin biasanya tinggal menata dengan cara mengikuti lengkungan (banyuamsnews.com/hamidin krazan)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/09/14/kerajinan-bonggol-bambu-ajibarang-sampai-ke-itali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salma tempat muslimah ekplorasi body sarat privacy</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/12/salma-tempat-muslimah-ekplorasi-body-sarat-privacy/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/09/12/salma-tempat-muslimah-ekplorasi-body-sarat-privacy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 10:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=4499</guid>
		<description><![CDATA[BAGI muslimah yang ingin memanjakan diri dalam hal perawatan tubuh di tempat yang nyaman, lengkap, terpadu, privacy bahkan eksklusif tentu tidak banyak didapatkan di Purowokero ini. Lantaran umumnya salon dan pusat kebugaran yang ada dalam melayani konsumen kebanyakan antara pria dan wanita berada dalam satu area dan di
ruang terbuka. Sehingga tidak saja mengurangi privacy tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAGI muslimah yang ingin memanjakan diri dalam hal perawatan tubuh di tempat yang nyaman, lengkap, terpadu, privacy bahkan eksklusif tentu tidak banyak didapatkan di Purowokero ini. Lantaran umumnya salon dan pusat kebugaran yang ada dalam melayani konsumen kebanyakan antara pria dan wanita berada dalam satu area dan di<br />
ruang terbuka. Sehingga tidak saja mengurangi privacy tetapi juga melanggar syar’i.  Apalagi untuk pelayanan perawatan tubuh seperti cuci dan gunting rambut, wajah hingga perawatan organ intim.</p>
<p>Di sisi lain sebagai muslimah dalam hal pemenuhan kebutuhan perawatan dan pembentukan tubuh ideal sama seperti wanita umumnya yang tidak bisa dikesampingkan. Menangkap dua persoalan itu, keberadaan Salma sebagai rumah kecantikan dan kebugaran bagi muslimah menurut pemimpinnya, Galuh Septriana Grianti, S.Si,<br />
menjadi satu-satunya tempat usaha di bidang tata kecantikan khusus bagi muslimah yang memiliki jalur strategis dan prospektif.</p>
<p>“Boleh dibilang Banyumas ini hanya satu-satunya salon kecantikan dan perawatan tubuh serta fitnes juga senam aerobik secara terpadu di tempat yang elegan,” kata Galuh saat ditemui banyumasnews.com, Sabtu (12/9).</p>
<p>Terbukti, lanjut Galuh, sejak awal perintisan hingga tahun ke enam ini, Salma semakin lengkap menyediakan segala fasilitas pemanjaan bagi muslimah aktif dan berkelas.</p>
<p>Dijelaskan, kini berbagai layanan tersedia secara terpadu di satu lokasi namun prvicay bagi konsumen dan member tetap terjaga. Seperti ruangan perawatan rambut baik untuk cuci rambut maupun gunting rambut berada di ruangan yang luas tetapi khusus. Sementara untuk melakukan perawatan wajah (facial), perawatan<br />
tubuh (spa), lulur, sauna dan steamer serta ratus masing-masing di ruangan tersendiri. Sehingga konsumen bisa dapat menkmati kenyamanan dan pelayanan secara khusus serta memaksimalkan<br />
relaksasi yang maksimal.</p>
<p>Begitu juga bagi muslimah aktif yang energik dan memiliki hobi senam dan olah raga pembentukan body dengan cara fitnes pun tersedia di Salma. Antara ruang fitnes dengan aerobik pun berada secara terpisah. Ibaratnya, sekali masuk pintu Salma yang berada di jalan raya Pemuda nomor 14 Purwokerto, pengunjung dapat menjelajah di banyak ruang untuk menunaikan kebutuhan pemanaan diri baik dari perawatan, pembentukan maupun peningkatkan eksistensi diri secara badani secara maksimal.</p>
<p>Bahkan bagi para muslimah yang sudah berkeluarga, para suami yang mengantarnya pun tak bisa tahu bagaimana sang istri melakukan ritual kecantikan yang dilakukan oleh pakar dan ahlinya masing-masing di ruang treatment. Para suami atau pengantar hanya boleh menunggu di ruang tamu.</p>
<p>“Semua jenis layanan baik perawatan muka dan tubuh maupun lainnya dipatok dengan harga terjangkau,” jelas Galuh.Selain melayani perawatan rambut, wajah tubuh juga melayani rias  wajah, rias kerudung dan  rias pengantin (banyumasnews.com/hamidin)</p>
<div id="attachment_4500" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4500" href="http://banyumasnews.com/2009/09/12/salma-tempat-muslimah-ekplorasi-body-sarat-privacy/salon-salma-1/"><img class="size-medium wp-image-4500" title="salon salma (1)" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/salon-salma-1-360x270.jpg" alt="Pimpinan Salma, Galuh berada di ruang tata rias rambut   (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Pimpinan Salma, Galuh berada di ruang tata rias rambut   (foto:ham/BNC)</p></div>
<div id="attachment_4501" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4501" href="http://banyumasnews.com/2009/09/12/salma-tempat-muslimah-ekplorasi-body-sarat-privacy/salon-salma-6/"><img class="size-medium wp-image-4501" title="salon salma (6)" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/salon-salma-6-360x270.jpg" alt="Seorang pengunjung sedang mencoba salah satu alat   fitness (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang pengunjung sedang mencoba salah satu alat   fitness (foto:ham/BNC)</p></div>
<div id="attachment_4502" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4502" href="http://banyumasnews.com/2009/09/12/salma-tempat-muslimah-ekplorasi-body-sarat-privacy/salon-salma-4/"><img class="size-medium wp-image-4502" title="salon salma (4)" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/salon-salma-4-360x270.jpg" alt="Ruangan Spa lengkap dengan bathab   (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Ruangan Spa lengkap dengan bathab   (foto:ham/BNC)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/09/12/salma-tempat-muslimah-ekplorasi-body-sarat-privacy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sandal bandol khas Banyumasan makin trendy</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/09/08/sandal-bandol-khas-banyumasan-makin-trendy/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/09/08/sandal-bandol-khas-banyumasan-makin-trendy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 10:40:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[BANYUMAS]]></category>
		<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>
		<category><![CDATA[Sandal bandol modifikasi warna trendy semakin digemari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=4127</guid>
		<description><![CDATA[SANDAL terbuat dari ban bodol (ban bekas) alias bandol, kini diproduksi dengan modifikasi slempang dan alas berbahan karet sintetis berwarna warni. Ada merah, hijau pupus gedang, biru laut, pink maupun abu-abu. Sehingga sandal bandol produksi para perajin bandol di Kebanaran, Karanglewas,  Purwokerto Barat kini semakin berkelas dengan tampilan trendy. Kreativitas para perajin kini semakin memanjakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SANDAL terbuat dari ban bodol (ban bekas) alias bandol, kini diproduksi dengan modifikasi slempang dan alas berbahan karet sintetis berwarna warni. Ada merah, hijau pupus gedang, biru laut, pink maupun abu-abu. Sehingga sandal bandol produksi para perajin bandol di Kebanaran, Karanglewas,  Purwokerto Barat kini semakin berkelas dengan tampilan trendy. Kreativitas para perajin kini semakin memanjakan para pembeli dan pemakai dengan banyak warna dan model pilihan. Bentuk dan warna sandal bandol tidak lagi monoton berupa karet hitam yang  hanya dihiasi corak serupa kelir ban mobil.</p>
<p>Bermacam model sandal bandol modifikasi itu kini semakin memikat para pemakai maupun pembeli dari berbagai kalangan ini. Sebagaimana yang tersedia di toko sandal Prima LC milik Suparman yang beralamat di jalan Yos Sudarso, tepatnya sebrang pertigaan Kebanaran. Purwokerto Barat.</p>
<p>Di toko milik Suparman ini menyediakan berbagai model sandal pria, wanita dan anak-anak. Selain menjual satuan dan grosiran, juga melayani bermacam model sandal secara pesanan.</p>
<p>“Sandal modifikasi ini bahannya tidak hanya karet bandol tetapi diberi variasi atau dipadu dengan bahan akret sintetis dengan bermacam warna,” kata Suparman kepada banyumasnews.com, Selasa siang, (8/09) di tempat usahanya.</p>
<p>Dijelaskan, sebagian besar barang yang dijual di tokonya merupakan hasil produksinya yang dikerjakan oleh para karyawannya. Dengan bahan dari bandol yang dipadukan dengan bahan karet sintetis. Adapun karet yang digunakan tidak melulu dari ban bekas namun dipadu dengan karet sisa produksi ban mobil yang sudah tidak lagi digunakan atau limbah pabrik. Selain menambah tampilan lebih bagus, meningkatkan daya tarik dari para pembeli sekaligus meningkatkan angka penjualan. Selain barangnya tetap kuat dipakainya juga nyaman dan modis.</p>
<p>Sedangkan untuk sarana produksi atau alat kebanyakan masih manual meskipun sekarang sudah digunakan juga alat-alat yang tidak hanya mengandalkan kentrampilan tangan. Hanya saja belum dibantu dengan mesin -mesin canggih seperti produksi sandal dari produsen besar.</p>
<p>Pada dua pekan menjelang lebaran ini Suparman mengaku kewalahan melayani orderan dari para penjual baik dari sekitar Banyumas maupun dari luar daerah seperti Brebes, Tegal, Cilacap, Kudus, Semarang, Madura bahkan dari Cirebon.</p>
<p>“Pedagang dari Cirebon juga sekarang banyak yang kulak ke tempat kami, padahal di sana juga tempatnya produksi sandal berbahan karet,” jelas Suparman.</p>
<p>Harga sandal bandol model perkodi berkisar antara Rp 190.000 sampai Rp 200.000. tergantung corak dan keragaman modifikasinya. Selain sandal bandol modifikasi, baik Suparman maupun para perajin bandol setempat juga masih memproduksi sandal bandol model klasik serta sepatu slempang yang biasa digunakan untuk perlengkapan seragam grup calung atau kenthongan. Perlengkapan lainnya yang berbahan dasar ban bekas selain sandal adalah tempat sampah (bokor) karet, ayunan karet, tali timba, tali jok kursi, pot bunga, karet onderdil mobil, karet tromol motor, karet cabut bulu ayam, dan masih banyak lagi jenis-jenis barang lainnya.</p>
<p>Memang sandal bandol yang menjadi salah satu kebanggaan warga desa Kebanaran khusus yang bermodel lama kini sudah sangat jarang ditemukan di pasaran. Namun untuk sandal bandol modifikasi justru hampir merajai di sejumlah gelaran kaki lima di pasar tradisional maupun tempat-tempat khusus. Sehingga sandal bandol modifikasi  termasuk salah satu yang khas dari Purwokerto dan perlu mendapat perhatian serius dari  dinas terkait terkait perlunya pembinaan intensif dan promosi produk agar jaringan pasar semakin luas.  Tidak hanya di seantero Jawa tetapi bisa ke seluruh Indonesia.</p>
<p>Menurut perajin lain, diakui, penyebaran pasar sandal bandol untuk di wilayah Jawa sendiri, hanya daerah Jawa Barat yang masih jarang ditemukan adanya orang yang memakai sandal bandol, bisa jadi karena model yang masih minim dibanding sandal produksi Cibaduyut Bandung dan juga gobras di Tasikmalaya. Sedangkan untuk daerah Jawa Tengah kearah timur sampai ke Madura sudah banyak konsumen yang menggunakan sandal produksi Kebanaran</p>
<p>Harga eceran sekitar Rp.10 ribu-20 ribu/pasang. Jika berminat,  sandal ini dapat dibeli di toko-toko sepanjang jalan raya Banaran Purwokerto Barat yang memang sudah lama dikenal sebagai sentra pengrajin sandal bandol (<strong>banyumasnews.com/hamidin krazan</strong>)</p>
<div id="attachment_4128" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4128" href="http://banyumasnews.com/2009/09/08/sandal-bandol-khas-banyumasan-makin-trendy/perajin-bando-khamidin1/"><img class="size-medium wp-image-4128" title="perajin bando khamidin1" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/perajin-bando-khamidin1-360x270.jpg" alt="Salah satu Lokasi pusat kerajinan Bandol di Banyumas (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Salah satu Lokasi pusat kerajinan Bandol di Banyumas (foto:ham/BNC)</p></div>
<div id="attachment_4129" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4129" href="http://banyumasnews.com/2009/09/08/sandal-bandol-khas-banyumasan-makin-trendy/perajin-bandol-khamidin2/"><img class="size-medium wp-image-4129" title="perajin bandol khamidin2" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/perajin-bandol-khamidin2-360x270.jpg" alt="Bandl,sandal khas Banyumasan di etalase sederhana (foto:ham/BNC)  " width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Bandl,sandal khas Banyumasan di etalase sederhana (foto:ham/BNC)  </p></div>
<div id="attachment_4130" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-4130" href="http://banyumasnews.com/2009/09/08/sandal-bandol-khas-banyumasan-makin-trendy/perajin-bandol-khamidin3/"><img class="size-medium wp-image-4130" title="perajin bandol khamidin3" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/09/perajin-bandol-khamidin3-360x270.jpg" alt="Seorang pembeli disuguhi aneka jenis Sandal Bandol (foto:ham/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang pembeli disuguhi aneka jenis Sandal Bandol (foto:ham/BNC)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/09/08/sandal-bandol-khas-banyumasan-makin-trendy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nur Agustus dan Yustus, Guru yang juga Pengrajin Thek-thek</title>
		<link>http://banyumasnews.com/2009/08/28/nur-agustus-dan-yustus-guru-yang-juga-pengrajin-thek-thek/</link>
		<comments>http://banyumasnews.com/2009/08/28/nur-agustus-dan-yustus-guru-yang-juga-pengrajin-thek-thek/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 02:33:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Banyumas1</dc:creator>
				<category><![CDATA[PROFIL USAHA]]></category>
		<category><![CDATA[PURBALINGGA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://banyumasnews.com/?p=3472</guid>
		<description><![CDATA[NUR AGUSTUS S.Pd (39), adalah sosok guru yang kreatif. Betapa tidak? Untuk mengisi waktu senggangnya seusai mengajar mata pelajaran seni budaya di SMAN 1 Kejobong, Purbalingga dia mengisinya dengan aktivitas membuat perangkat thek-thek (alat musik tradisional khas Banyumas). Hal itu sudah ia lakukan sejak tahun 2002 hingga sekarang.
Agus—demikian panggilan akrabnya yang juga dikenal sebagai pemain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3473" class="wp-caption alignleft" style="width: 370px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-3473" href="http://banyumasnews.com/2009/08/28/nur-agustus-dan-yustus-guru-yang-juga-pengrajin-thek-thek/pengrajin-thek-thek/"><img class="size-medium wp-image-3473" title="pengrajin thek-thek" src="http://banyumasnews.com/wp-content/uploads/2009/08/pengrajin-thek-thek-360x270.jpg" alt="PENGRAJIN THEK-THEK—Nur Agustus (jongkok) bersama, Yustus Wijayadi,pengrajin alat musik thek-thek.(foto:pyt/BNC)" width="360" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">PENGRAJIN THEK-THEK—Nur Agustus (jongkok) bersama, Yustus Wijayadi,pengrajin alat musik thek-thek.(foto:pyt/BNC)</p></div>
<p>NUR AGUSTUS S.Pd (39), adalah sosok guru yang kreatif. Betapa tidak? Untuk mengisi waktu senggangnya seusai mengajar mata pelajaran seni budaya di SMAN 1 Kejobong, Purbalingga dia mengisinya dengan aktivitas membuat perangkat thek-thek (alat musik tradisional khas Banyumas). Hal itu sudah ia lakukan sejak tahun 2002 hingga sekarang.</p>
<p>Agus—demikian panggilan akrabnya yang juga dikenal sebagai pemain organ tunggal, tidak sendirian dalam membuat alat musik dari bambu itu. Ia dibantu kakaknya, Yustus Wijayadi, guru SDN 1 Banjaran, Kecamatan Bojongsari.</p>
<p>“Ya, hasil dari usaha membuat thek-thek ini, lumayan. Bisa untuk nambah membeli kebutuhan sehari-hari, di samping gaji yang kami terima setiap bulan sekali sebagai PNS,” ujar Agus ketika ditemui banyumasnews.com di rumahnya di Jalan Pucung Rumbak Gang Kalvari No 51 (belakang Kelurahan Bancar), Purbalingga, Kamis  (27/8) .<br />
Agus menuturkan, sejauh ini sejumlah perangkat alat musik thek-thek telah ia buat, dengan pemasaran hingga ke Banjarnegara dan Tegal . Pemasaran utamanya di sekitar Purbalingga.</p>
<p>Beberapa sekolah yang membeli perangkat thek-thek buatan Agus ini, diantaranya SMPN Pagedongan Banjarnegara, SMPN 15 Kodya Tegal, SMPN 3 Bukateja Purbalingga, SDN Somawangi Mandiraja, Banjarnegara dan SMP Muhammadyah Mandiraja, Banjarnegara. Selain itu, dari pihak desa juga sudah ada yang membeli, yakni Desa Bojongsari dan Desa Bukateja, keduanya di wilayah Kabupaten Purbalingga . Bahkan, dua desa itu masing-masing membeli dua set sekaligus.</p>
<p>Khusus untuk pengadaan alat musik thek-thek di sekolah, ujar Agus, terkait pengembangan muatan lokal (mulok) maupun ekstra kurikuler di sekolah itu.</p>
<p>Agus menuturkan, bahan untuk membuat alat musik thek-thek yakni berupa bambu wulung. Bambu itu ia datangkan khusus dari Kecamatan Kejobong. Dipilihnya bambu wulung, karena jenis bambu itu mudah dilaras, dibanding bambu jenis lainnya.</p>
<p>“Bambu wulung yang bak untuk bahan thek-thek, yakni usia tua yang ditandai warna garis pada batang sudah menguning. Biasanya, kami beli lonjoran,” ujar Agus.<br />
Proses pembuatannya, lanjut Agus, setelah bambu lonjoran itu tiba di rumahnya, diangin-anginkan selama kurang lebih 2 minggu. Tujuannya, untuk menghilangkan kadar airnya. Setelah mengering, baru dipotong-potong untuk digarap menjadi kenthongan. Tiap kenthong, butuh 2 ruas. Alat-alat yang dibutuhkan untuk ini, yakni tatah, lading/pisau dan bor.</p>
<p>“Pemotongan ruas ini harus pas, agar menghasilkan resonansi yang maksimal. Untuk mengetes nada, kami gunakan organ,” timpal Yustus Wijayadi, kakak Agus.</p>
<p>Untuk menghasilkan seperangkat alat musik thek-thek, Agus dan Yustus butuh waktu sekitar tiga minggu. Seperangkat alat musik thek-thek itu, terdiri 21 kenthong, ditambah angklung, gambang, seruling, kendang, bass/bedug, tamborin, dan tripok (rangkaian ketipung).</p>
<p>Agus mematok harga seperangkat alat musik thek-thek sebesar Rp 3.000.000,-. “Dibanding buatan lain, thek-thek buatan kami dijamin harganya lebih murah dan kualitasnya terjamin. Dengan harga segitu, barang langsung kami antar ke tempat pembeli, ditambah bonus dari kami melatih empat kali gratis. Kami juga memberi jaminan garansi,” ujar Agus berpromosi.</p>
<p>Yang membanggakan Agus, alat musik thek-thek buatannya, sudah pernah tampil di Istana negara negara disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Waktu itu, dibawakan lagu-lagu aneka jenis, dari pop masa kini, campursari, dangdut dan lagu-lagu daerah.</p>
<p>Selain membuat alat musik thek-thek, Agus dan Yustus juga melayani reparasi alat musik itu.<br />
Barangkali Anda tertarik dengan alat musik thek-thek buatan kakak beradik, Yustus dan Agus?. Bisa menghubungi di HP Nur Agustus 081327019460. (banyumasnews.com/pyt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://banyumasnews.com/2009/08/28/nur-agustus-dan-yustus-guru-yang-juga-pengrajin-thek-thek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->