Wamentan, Kunjungi Kabupaten Banjarnegara

Ditulis 07 Apr 2010 - 20:08 oleh Banyumas1

BANJARNEGARA – Tanah yang subur dan potensi alam yang melimpah adalah modal yang dikaruniakan Tuhan Yang Maha Esa kepada kita bangsa Indonesia. Masalahnya adalah potensi yang ada tersebut ternyata belum memberikan hasil maksimal kepada kebanyakan rakyat. Sepertinya ada sesuatu yang belum pas dalam pengelolaannya. “Baik berkait dengan pemanfaatan potensi padi, ubi, jagung, salak, kentang maupun komoditas pertanian lainnya” kata Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) DR. Ir. Bayu Krisnamurti.

Pernyataannya tersebut disampaikannya di depan Bupati, Wakil Bupati beserta Sekda dan jajarannya, serta perwakilan Kelompok Tani pada saat audensi di Pendopo Dipayudha Adigraha, Rabu (07/04).

Untuk memajukan pertanian, ada 3 hal yang selalu berhubungan, yaitu pendapatan petani, komoditas dan lingkungan. Berkaitan dengan kesejahteraan petani, perhatian dan upaya-upaya tertentu selalu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani, tetapi sekian kali upaya tersebut ditempuh pendapatan petani selalu saja rendah. ”Memang pendampingan bagi petani merupakan suatu upaya yang akan selalu kita lakukan” katanya.

Komoditas berkait dengan pengembangan usaha bisnis pertanian. Penanganan usaha pertanian ini harus dirubah dari penanganan pola tradisional. Pengelolaan konoditas usaha pertanian adalah sebuah sistem. Sistem ini bermula dari hal paling dasar yaitu pemilihan bibit, pengelolaan bibit, budidaya tanam yang benar, pengelolaan paska panen, pengepakan, manejemen pemasaran, dan seterusnya. ”Kalau kita ingin maju, pengembangan usaha pertanian ini harus dilihat sebagai satu kesatuan” urainya.

Seluruh komponen harus berjalan dengan baik. Ibaratnya seperti TNI-POLRI dalam satu barisan, lanjut Bayu, yang paling diperhatikan adalah titik paling lemah atau lambat dari barisan tersebut. Karena bila satu tidak jalan akan berpengaruh bagi seluruh barisan tersebut. ”Maka bila usaha pertanian tidak memberikan hasil maksimal, berarti ada yang salah di sistem tersebut” katanya.

Faktor yang paling aktual dan paling riskan dalam pengembangan pertanian adalah faktor lingkungan. Menurut Bayu, pengembangan usaha pertanian ini ancamannya memang lingkungan. Bila upaya ini tidak terkendali, kerusakan lingkungan ancamanya. Karena itu perlu diterapkan upaya-upaya pengembangan usaha pertanian yang tetap memperhatikan faktor lingkungan. ”Seperti penggunaan pupuk kandang untuk meningkatkan unsur hara dalam tanah pertanian” katanya.

Berkaitan dengan kerusakan lingkungan di Dieng akibat eksploitasi tanah secara berlebihan untuk tanaman kentang dan juga yang terjadi di tempat lain. Ia mengharapkan upaya untuk konservasi harus dilakukan dengan segera agar tidak semakin parah keadaannya. Cara-cara persuasif dan alternatif bisa ditempuh untuk upaya perbaikan lingkungan ini agar petani peduli dan sadar akan bahaya ancaman kerusakan lingkungan ini bagi masa depan. ”Upaya untuk konservasi ini sebaiknya dengan memilih pohon yang memberikan alternatif ekonomi bagi petani” katanya.

Kunjungan kerja Wamentan tersebut dilanjutkan dengan melakukan peninjauan lapangan ke kebun salak di Kaliurip, Madukara dan kebun Kentang di Batur. Rombongan beristirahat di Wisma Withleim, Komplek Candi Dieng. Selanjutnya kunjungan kerja dilanjutkan ke Cepiring, Kendal.

Pada kunjungan lapangan di Kebun Salak di Kalirurip, Madukara, kepada para petani Bayu menyatakan bahwa hal yang penting dilakukan untuk meningkatkan daya saing buah salak Banjarnegara diantaranya adalah meningkatkan kualitas salak dan juga produktivitas salak. Upaya tersebut bisa ditempuh dengan cara mengolah hasil salak, meningkatkan daya tahan buah salak, membuat produk salak kering, perbaikan pengepakan untuk meningkatkan daya jual, dan seterusnya. ”Upayakan untuk diservikasi produk, jangan lagi single produk” katanya.

Sementara itu, Bupati Banjarnegara Drs. Ir. Djasri, MM, MT menyampaikan bahwa pertanian merupakan potensi unggulan Kabupaten Banjarnegara. Terbukti pada tahun 2008 sumbangan sektor pertanian untuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 39,57%. Dan lebih kurang 53,64% penduduk hidup sebagai petani. ”Melihat pentingnya pertanian bagi masyarakata Banjarnegara, maka pada tahun 2010 ini, Kabupaten Banjarnegara mencanangkan visi Maju Berbasis Pertanian” katanya.

Menurut Bupati, pengembangan usaha pertanian di Banjarnegara menghadapi beberapa kendala yang diantaranya adalah masalah ketersediaan bibit unggul, ketersediaan pupuk, dan pemasaran Ia mencontohkan masalah di Dieng. Potensi produksi tinggi, tapi ketersediaan bibit tidak mencukupi. ”Kebutuhan bibit kentang petani 12.000 ton per tahun. Tapi yang tersedia baru 300 ton” katanya.

Untuk memenuhi hal ketersediaan bibit diperlukan upaya penangkaran sendiri. Upaya tersebut sudah ditempuh namun jauh dari mencukupi. Karena itu, Bupati mengharapkan perhatian dari Wamentan atas solusi masalah tersebut. (BNC/eko)

Tentang Penulis

Leave A Response