Tahu dan Tempe Standard Good Manufacturing Practices (GMP), Adakah?

Ditulis 05 Des 2017 - 05:15 oleh Banyumas1

BanyumasNews.com, Anda suka makan tahu dan tempe? Boleh dikatakan inilah makanan sehari-hari di Indonesia, khususnya di Jawa. Masalahnya apakah tahu dan tempe yang kita konsumsi sudah memenuhi standard Good Manufacturing Practices (GMP) dalam produksinya?

GMP adalah standar yang merupakan prasyarat dasar bagi industri makanan, komestik dan farmasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan hygienis.

GMP merupakan  pengendalian mutu dan hygienitas produk melalui pengendalian faktor lingkungan kerja serta proses produksi. GMP ini mencakup design dan lay out pabrik, pemeliharaan dan sanitasi, pengendalian proses produksi, personel hygiene, penanganan produk akhir (siap jual) dan lain-lain.

Hal itu diungkapkan Kepala Seksi (Kasi) Industri Agro, pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Purbalingga, Budi Baskoro, STP, M.Si, disela-sela persiapan pelatihan GMP untuk IKM tahu tempe, Senin (4/12/2017).

“Memproduksi suatu produk bermutu tinggi dan hygienis tidak cukup hanya dengan kegiatan inpeksi, namun mencakup keseluruhan aktifitas pengendalian,” katanya.

Disebutkan Budi Baskoro, IKM tahu tempe di Purbalingga tercatat sekitar 218 IKM. Sentra IKM tahu tempe berada di Kelurahan Kalikabong dan Desa Klapasawit, Kecamatan Kalimanah, Desa Selanegara, Kecamatan Kaligondang, Desa Limbangan dan Desa Kutasari di Kecamatan Kutasari, Desa Gandasuli, Kecamatan Bobotsari, Kelurahan Kandanggampang, Kecamatan purbalingga dan Desa Makam, Kecamatan Rembang.

Industri tahu tempe belum higienis

“Permasalahan yang dihadapi IKM tahu tempe selain ketersediaan dan harga bahan baku kedelai, juga menyangkut teknologi pengolahan, kebersihan dan sanitasi ruang produksi,” kata Budi Baskoro.

Dari sisi persoalan teknologi pengolahan, lanjut Budi Baskoro, pengolahan yang dilakukan masih menggunakan teknoogi yang sederhana. Hanya sebagian yang sudah menggunakan teknologi tepat guna, antara lain penggunaan steam boiler.

“Penggunaan teknologi akan meningkatkan efisiensi produksi yaitu dengan hemat waktu, hemat biaya, hemat tenaga namun kualitas produksi lebih baik, lebih higienis serta kuantitas produksinya lebih meningkat,” jelas Budi Baskoro.

Sedang menyangkut higienis dan sanitasi proses pengolahan tahu dan tempe menjadi permasalahan utama. Sebagian industri tahu dan tempe terkesan kumuh, kurang menjaga kebersihan ruang produksi, serta menghasilkan limbah baik limbah padat maupun limbah cair yang dibiarkan begitu saja. Sebagian limbah masih mempunyai nilai ekonomi, namun apabila tidak ditangani maka limbah akan mencemari lingkungan.

“Berlatar belakang permasalahan itu, maka Dinperindag Purbalingga menggelar pelatihan bagi IKM tahu tempe. Pelatihan akan kami mulai Selasa – Kamis (5 – 7/12) di aula Dekopinda. Peserta pelatihan sebanyak 30 orang dari sejumlah sentra IKM tahu tempe,” kata Budi.

Budi menambahkan, setelah pelatihan diharapkan para pelaku IKM tahu tempe mampu menerapkan standar GMP guna meningkatkan kualitas mutu produk serta mampu membangun manajemen mutu perusahaan yang tepat dan efektif.

“Materi pelatihan yakni  Standar Persyaratan dan Penerapan GMP pada IKM Tahu dan Tempe yang akan disampaikan  oleh Dr Erminawati, MSi beserta tim dari Fakultas Pertanian Unsoed, kemudian Penerapan Teknologi Tepat Guna pada Industri Tahu dan Tempe oleh  Umar, SP (praktisi peralatan/mesin teknologi).  Sedang metode pelatihan berupa pemaparan teori, kunjungan ke IKM Tahu tempe dan diskusi,” tambah Budi. (BNC/PI-1)

Tentang Penulis

Leave A Response