PT SAE Diminta Hentikan Sementara Tahapan Eksplorasi

BanyumasNews.com. PURWOKERTO – Lingkar Kajian Banyumas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unsoed Purwokerto, merekomendasikan agar PT SAE menghentikan sementara tahapan eksplorasi. Hal itu diungkapkan dalam rilis atas hasil penelitian dan diskusi publik tentang PLTPB Baturraden dan Air di Lereng Gunung Slamet yang diadakan pada Senin (27/11/2017) lalu di GOR Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok.

Desa Panembangan dipilih sebagai  tempat diselenggarakannya diskusi, karena desa tersebut merupakan salah satu desa terdampak dari adanya PLTPB Baturraden.

Kegiatan ini dihadiri oleh kepala desa se-Kecamatan Cilongok, Ormas, LSM, dinas terkait, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat.

Penelitian terkait pemanfaatan air dilakukan di 5 desa yang berbatasan langsung dengan hutan, yakni terdiri dari 4 desa di Kecamatan Cilongok: Desa Karangtengah, Desa Sambirata, Desa Gununglurah dan Desa Sokawera. Di kecamatan Karanglewas di Desa Sunyalangu.

Penelitian ini dilakukan untuk merespon adanya rencana pengeboran yang dilaksanakan pada Bulan Desember 2017 ini. Dimana dalam melakukan pengeboran membutuhkan air dengan volume yang besar.

Berdasarkan hasil penelitian, air merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat baik untuk kegiatan makan, minum, MCK dan kegiatan perekonomian masyarakat. Oleh karena itu pemenuhan kebutuhan manusia sebagian besar membutuhkan air.

Menurut Agnes, dosen Kesehatan Masyarakat Unsoed, kualitas air harus diperhatikan karena ketika kualitas air menurun maka kualitas kesehatan juga menurun.  “Permasalahan air di lima desa tersebut adalah kekeringan karena musim kemarau dan air keruh akibat pembangunan PLTPB Baturraden”, tuturnya.

Sumber air yang digunakan masyarakat adalah mata air/tug, sungai, pamsimas dan sumur. Permasalah air yang paling terlihat adalah air keruh akibat pembangunan PLTPB Baturraden.

Meski masyarakat telah memperoleh dampak dari pembangunan PLTPB, ternyata 72% masyarakat belum mengetahui adanya  pembangunan PLTPB Baturraden dan hanya 28% masyarakat yang mengetahui. Kemudian, masih banyak masyarakat belum mengetahui dampak positif serta negatif dari adanya pembangunan PLTPB.

Berdasarkan hasil penelitian, LKB membuat rekomendasi-rekomendasi. Rekomendasi yang diajukan kepada pihak pelaksana yaitu PT SAE adalah :

1. Transparansi seluruh tahapan eksplorasi pembangunan PLTPB Baturraden ke masyarakat,
2. Transparansi teknis pengeboran sumur eksplorasi mencakup titik pengeboran, jangka waktu, penggunaan air permukaan dan lainnya.
3. Mengidentifikasi dampak limbah buangan dan dampak pengeboran sumur terhadap sumber mata air masyarakat secara komprehensif.
4. Merencanakan antisipasi dampak negative dari pengeboran sumur eksplorasi panas bumi, dan dipublikasikan kepada pemerintah kabupaten dan masyarakat.

Kemudian, rekomendasi kepada pemerintah kabupaten adalah sbb:

1. Melakukan pemetaan sumber mata air di kabupaten banyumas.
2. Memberhentikan sementara tahapan eksplorasi jika pelaksana pembangunan PLTPB Baturraden belum melaksanakan rekomendasi yang diberikan dalam penelitian ini.

Rekomendasi bagi pemerintah provinsi dan pusat yaitu memberhentikan sementara tahapan eksplorasi jika pelaksana pembangunan PLTPB Baturraden belum melaksanakan rekomendasi yang diberikan dalam penelitian ini.

Serta Rekomendasi bagi masyarakat adalah untuk membentuk Forum Kawal PLTPB Baturraden sebagai bentuk pengawalan terhadap proses eksplorasi PLTPB Baturraden, khususnya untuk tahap ini pengeboran dan uji sumur eksplorasi.

“Diskusi ini tidak sampai untuk pernyataan sikap, melainkan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademis dari penelitian yang telah dilakukan LKB sekaligus membahas kemungkinan-kemungkinan apa yang bisa dilakukan untuk menangani dampak-dampak lingkungan”, tutup rilis LKB. (BNC/ist)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*