LSM Cilacap kembali soroti penambangan kapur Nusakambangan

Ditulis 31 Mar 2010 - 19:20 oleh Banyumas1
|
Berita Kategori
Tak Berkategori
177
Dalam Tag

CILACAP – Sejumlah elemen Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Cilacap kembali menyoroti penambangan kapur di Pulau Nusakambangan yang dilakukan oleh pabrik semen Holcim Cilacap, Jawa Tengah.

Sorotan itu salah satunya datang dari Ketua LSM Forum Rakyat Bersatu, Mustangin Mulyana, Rabu (31/03) yang mengatakan selama pemantauan dia menemukan adanya banyak warga yang khawatir, apabila kapur terus digali maka saat terjadi tsunami air bisa melompati Nusakambangan dan menyapu daratan Cilacap.

Selain kekhawatiran adanya bahaya tsunami yang tidak bisa ‘ditahan’ oleh pulau yang terkenal dengan LP napi kelas kakap itu, soal yang disorot juga menyangkut penggunaan bahan peledak kapasitas besar, sehingga mengganggu masyarakat yang tinggal di dekat lokasi.

“Selama ini penggalian kapur belum melampaui ambang batas, namun apabila sudah terlampaui, saya berharap perusahaan segera mengalihkan penambangan ke lokasi baru,” lanjutnya.

Terpisah, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ir. Sunarno, MM menganggap kehawatiran masyarakat maupun LSM terlalu berlebihan. Ia mengatakan tidak ada bukti karena luas area yang digali relatif masih kecil. Sedangkan batas bawah penambangan menurut Sunarno 10 meter dari permukaan lalut. Maka menurutnya, terkait tsunami, bukit-bukit asli di sisi selatan tingginya rata-rata 140 meter. Jika dibandingkan tsunami 2006 setinggi 20 meter maka belum ada apa-apanya.

Ditambahkan pulau Nusakambangan memiliki luas 11.510 ha, sementara berdasar surat izin penambangan daerah (SIPD) bernomor 540/11/2006 dari Gubernur Jawa Tengah kepada PT Holcim, disebutkan luas area tambang hanya 1.000 ha.

Ijin penambangan yang dimiliki PT Holcim berlaku mulai 20 Maret 2006 s/d 11 September 2023. Menurut catatan Dinas ESDM hingga 2009 PT Holcim telah melakukan penambangan pada asre seluas 112,45 ha. Sekalipun ijin penambagan meliputi 1000 (seribu) ha, namun dikatakan oleh Sunarno area yang layak ditambang hanya 350 ha atau hanya 3 % luas Nusakambangan.

“Sementara area yang ditambang juga hanya 1/3 dari lebar Nusakambangan,” kata Sunarno. (BNC/ist/gr)

Lahan tambang kapur Nusakambangan yang dikhawatirkan warga Cilacap - Foto: Dishubkominfo

Lahan tambang kapur Nusakambangan yang dikhawatirkan warga Cilacap - Foto: Dishubkominfo

Tentang Penulis

& Komentar so far. Feel free to join this conversation.

  1. Mardi 08/08/2012 pukul 10:02 -

    sugeng enjing,
    kulonuwun..
    saya warga cilacap, dan bukan orang holcim.

    masyarakat cilacap jangan mudah terprovokasi oleh hasutan2 yg tidak mendasar.
    tsunami itu urusan Allah SWT, hidup mati anda sudah ditentukan oleh-NYA.

    adanya pabrik2 besar, seperti holcim, pertamina, dll, jangan dituntut dari segi aktivitasnya, tapi tuntutlah dari segi bina lingkunganya. karena setiap perusahaan setiap tahun selalu mengucurkan dana segar utk kesejahteraan masyarakat sekitar. jangan sampai dana ini tidak tersalur kemasyarakat sekitar.

    kalo masyarakat menuntut utk ditutup, saya yakin cilacap tidak akan maju.

    85% kemajuan sebuah kota di dukung dari industri yang ada dan tumbuh berkembang dikota tersebut.

    terima kasih,
    wassalam..

  2. eko priyatno 12/08/2010 pukul 11:53 -

    Sebagai Asli putra daerah kabupaten Cilacap kususnya pesisir Pantai Selatan yang bersebrangan dengan pulau Nusakambangan, dengan mengamati kegiatan penambangan batu kapur yng dilakukan oleh PT.HOLCIM sepanjang hal itu bs dipertanggungjwabkan tentang pernyataanya terkait dampak jika terjadinya tsunami kami sbagai masyarakat cilacap tidak menjadi masalah, justru yang menjadi masalah bagi kami adalah pemanfaatan publik untuk cenderung menyerang pihak holcim oleh pihak2 yang hanya mementingkan diri sendiri dan golongan, kami juga berterimakasih kepada PT Holcim yang telah berpatisipasi ikut mensejahterakan masyarakat Cilacap melalui program2 Holcim yang menrut kami perlu diteruskan sampai waktu yang lama. Terimakasih

Leave A Response