PWI Banyumas Kutuk Kekerasan pada Wartawan Peliput Demo Tolak PLTPB

Ditulis 10 Okt 2017 - 09:08 oleh Banyumas1

BanyumasNews.com, PURWOKERTO – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyumas mengeluarkan pernyataan terhadap aksi kekerasan oleh aparat polisi dan Satpol PP terhadap wartawan, yang tengah meliput demontrasi anti proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTB) Baturtaden di halaman kantor Bupati Banyumas Senin (9/10/2017) malam sekitar pukul 22.00 WIB.

Pada Senin (9/10/2017) itu, sejak pukul 10.00 WIB wartawan Banyumas yang terdiri dari berbagai media (televisi, radio, online dan cetak), melakukan peliputan terhadap aksi dari komunitas Selamatkan Slamet. Aksi ini dimulai dari Kampus IAIN Purwokerto, hingga Alun-alun Purwokerto tepatnya di depan pintu gerbang Pendopo Sipanji atau Kantor Bupati Banyumas.

Ratusan orang dari berbagai elemen ini meminta agar Bupati Banyumas Achmad Husein membuat surat rekomendasi kepada Presiden RI Joko Widodo, untuk menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden.

Demo digelar dengan alasan menyebabkan kerusakan lingkungan, yang pada akhirnya berdampak kepada warga, terutama pada pemanfaatan air bersih yang bersumber dari hutan Gunung Slamet. Karena dalam beberapa waktu terakhir, air mengalami keruh sehinga tidak bisa digunakan.

Antara pendemo dari Aliansi Selamatkan Slamet dengan Pemkab Banyunas tidak ada kata sepakat, sehinga mereka bertahan di halaman Alun-alun Purwokerto, di sebelah utara hingga Senin Malam.

Sekitar pukul 22.00 WIB, aparat Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja melakukan upaya membubarkan masa yang bertahan dengan mendirikan tenda. Pada saat melakukan pembubaran masa ini, dari keterangan wartawan yang meliput pembubaran, yakni Agus Wahyudi dan Dian Aprilianingrum dari Suara Merdeka, M Wahyu Setiya Putra dari Radar Banyumas, Aulia El Hakim dari Satelit Pos dan Darbe Tyas dari Metro TV,
polisi menghalang-halangi kerja wartawan dengan meminta untuk tidak mendokumentasikan proses pembubaran masa yang berada di tenda.

Selain itu Darbe Tyas dari Metro TV, dipukuli oleh oknum polisi dan Satpol PP sehingga mengalami luka. Kamera milik Darbe Tyas juga dirampas oleh oknum tersebut. Padahal mereka berada di lokasi berlangsungnya aksi adalah dalam rangka melaksanakan tugas jurnalistik.

“Wartawan dalam melaksanakan tugasnya dilindungi oleh UU NO. 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS”, pernyataan PWI.

Atas kejadian yang menimpa jurnalis yang ada di Banyumas tersebut, PWI Banyumas menyatakan:
1. Mengutuk aksi kekerasan terhadap wartawan yang sedang meliput.
2. Meminta kepada pelaku tindak kekerasan terhadap wartawan untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
3. Meminta kepada Kapolres Banyumas dan Bupati Banyumas, agar bisa mengembalikan sejumlah barang yang hilang dan menganti kerusakan yang ditimbulkan.

Pernyataan PWI Banyumas dikeluarkan di Purwokerto, 10 Oktober 2017, ditandatangani Ketua PWI Banyumas Sigit Per arti dan Seketaris Ustad Mukorobin. (BNC/nan)

Tentang Penulis

Leave A Response