“Tiap Bulan Sura, Leluhur Kita Sucikan Batin”

Ditulis 30 Sep 2017 - 12:07 oleh Banyumas1

Ada hal menarik di kompleks Balai Desa Kedunggede, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, saat acara Pentas Tembang Kenangan, Jum’at malam (29/09/2017), dalam rangkaian acara Grebeg Suran di desa itu. Di pintu masuk panggung acara dan arena tempat duduk penonton dipagari oleh gantungan hasil bumi.

Apa maksud display hasil bumi itu?

Kepala Desa Kedunggede Sabarisman mengatakan, hasil bumi yang digantung itu untuk mengingatkan kita akan apa yang telah dilakukan para leluhur kita.

“Display hasil bumi yang digantung ini untuk ingatkan kita apa yang telah dilakukan oleh para leluhur desa kami pada tiap bulan Sura”, kata Sabarisman kepada kontributor BanyumasNews.com.

Tiap bulan Sura, lanjutnya, mereka selalu mengutamakan puasa dan berbuka dengan makan hasil bumi seperti tela pendhem, tela kesampar dan tela gantung. “Ini merupakan makanan organik”, sambungnya.

Lebih lanjut Sabarisman mengatakan, pada bulan Sura mereka juga mensucikan batin, merenung dengan introspeksi, juga membersihkan raga dari racun-racun tubuh dengan memakan makanan-makanan organik.

“Pada tiap bulan Sura, para leluhur kita juga selalu santuni anak yatim-piatu dan anak yang kurang mampu,” pungkas Sabariman, Kades Kedunggede, yang tahun ini memasuki tahun ke-4 masa jabatannya.

Banyak yang salah menerka kalau display hasil bumi buah dan sayuran serta ubi-ubian itu untuk “sajen”.

“Oh, maaf Pak Kades, saya telah berpikiran kotor. Saya kira gantungan hasil bumi itu adalah sesaji buat setan dan iblis”, seloroh seorang warganet melihat gantungan hasil bumi yang ‘memagari’ pintu masuk balai desa Kedunggede itu. (BNC/puh/Hari Widiyanto)

Foto: warga Kedunggede.

Tentang Penulis

Leave A Response