Kerjasama Program Pertanian Terpadu BI dengan Unsoed Mampu Tingkatkan Produksi 100 Persen Lebih

Ditulis 06 Agu 2017 - 02:58 oleh Banyumas1

BanyumasNews.com – Pelaksanaan Program Pembangunan Pertanian Terpadu antara Bank Indonesia (BI) dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berdampak positif dalam peningkatan produksi hasil panen 100 hingga 122 persen.

Hal itu terungkap dalam sarasehan Pengendalian Inflasi di Sektor Pertanian dan Studi Banding Salibu – Superbodi pada Kamis (3/8/2017) di Sekretariat Kelompok Tani Rukun Tani, Desa Gandrungmanis,  Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Sepanjang program berjalan di tahun 2016, produksi pertanian di Gapoktan Rukun Tani sebagai subjek program pemberdayaan masyarakat, telah mengalami peningkatan produksi sehingga mampu mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani secara signifikan.

Adapun indikator peningkatan tersebut adalah berupa Peningkatan Indeks Pertanaman. Lahan tadah hujan yang semula hanya dapat ditanami dan hanya berpeluang panen satu kali (IP 100), dapat meningkat menjadi tiga kali panen (IP 300) melalui penerapan teknologi berupa varietas unggul Inpago Unsoed 1 dan padi protein tinggi Unsoed.

Kedelai superbodi

Jagung superbodi

Penanaman dipadukan dengan pupuk hayati pada musim tanam pertama, dilanjutkan sistem padi salibu pada musim tanam kedua, dan penanaman kedelai superbodi pada musim tanam ketiga.

Produktivitas lahan meningkat dari semula 4 – 4,7 ton/Ha untuk padi menjadi 8 – 10,5 ton/Ha. Produktivitas 6,5 ton/Ha pada musim tanam kedua dengan sistem salibu dengan efisiensi biaya produksi sebesar 3,4 juta rupiah per Ha, serta peningkatan produktivitas kedelai dari 0,9 – 1,25 ton per Ha menjadi 1,6 – 1,9 ton per Ha.

Dengan peningkatan produksi dan efisiensi biaya, maka berdampak positif pada peningkatan pendapatan petani.

Salibu Inpago UNSOED

Produksi pada musim tanam pertama meningkat lebih dari 100% dari 4,7ton/ha menjadi 10,5 ton/ha. Produksi secara salibu jarwo super pada musim tanam kedua meningkat dari 4,7 ton/ha menjadi 6,5 ton/ha dengan efisiensi biaya pengadaan benih, persemaian, pengolahan tanah dan pindah tanam (3,4 juta).

Jika asumsi harga gabah Rp 3.500 per kg untuk gabah kering panen (GKP), maka pendapatan petani pada pada MT 1 per hektarnya meningkat dari Rp 16.450.000 menjadi Rp 36.750.000 atau sebesar 123,40 %. Sedangkan pada MT 2 dengan sistem budidaya Padi Salibu, per hektarnya petani memperoleh pendapatan sebesar Rp 22.750.000.

Jika diasumsikan harga kedelai pada kisaran Rp 6.500, maka pada MT 3 dengan budidaya kedelai dengan teknik Superbodi, petani memperoleh peningkatan pendapatan sebesar 52%, dengan pendapatan Rp 12.350.000 dari sebelum diaplikasikannya teknik superbodi, yaitu sebesar Rp 8.125.000.

Teknologi salibu yang diaplikasikan setelah budidaya jarwo super pada musim tanam sebelumnya, menggunakan varietas unggul baru Inpago Unsoed 1 dari UNSOED dan Bioprotector dari Balittro. Ahli yang terlibat dalam pengembangan tersebut peneliti Unsoed, Prof. Totok Agung Dwi Haryanto dkk dan Dr. Ir. Wiratno, M.Env.Mgt., dari Balittro, yang ditujukan untuk meningkatkan produksi padi dan indeks pertanaman (IP) khususnya pada lahan marginal.

Wiratno adalah alumni Fakultas Pertanian UNSOED yang saat ini menjadi peneliti Balitbangtan dan saat ini pula menjabat sebagai Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor. (BNC/Alief Einstein)

Tentang Penulis

Leave A Response