Kuliner Khas Tegal: Dari Dawet Manja Hingga Rujak Teplak

Ditulis 26 Jul 2017 - 22:02 oleh Banyumas1

Rujak Teplak

Wong” Tegal jagonya berkreasi. Dalam lomba “Makanan Khas Daerah” yang digelar di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pekan lalu, Kabupaten Tegal menampilkan menu makanan kreasi baru. Terbuat dari bahan utama jagung dengan kombinasi bahan dasar lainnya. Tentu saja dengan nama-nama baru khas Tegal pula.

Sebut saja menu makanan dengan nama Dawet Manja. Ini kepanjangan dari bahan dawet jagung manis gula Jawa. Ada juga Muffija, yang berasal dari bahan muffin dan jagung.

Dawet asli Tegal

Selain itu, Kabupaten Tegal menampilkan menu khas andalannya, yaitu Martegung. Martabak telor yang terbuat dari jagung. Cita rasa Martegung tak kalah enaknya dengan martabak telor “Bangka”. Juga ada Sajjake (salad jagung kiwi berry), Pujangga (puding jagung santan maizena), Nagustan (nasi jagung santan), Sujati (sup jagung kentang brokoli), Sacegada (sate cempe); dan Sujagteh Poci (susu jagung rasa teh poci).

“Ternyata orang Tegal pandai berkreasi dan sebagian makanan kreasi baru itu rasanya seperti makanan khas Vietnam,” kata Iin, salah satu pengunjung keturunan Vietnam yang mencicipi sebagian makanan itu.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tegal, Suharinto, yang mengawal lomba makanan khas daerah Tegal itu mengakui bahwa ‘makanan purba’ Tegal ternyata bisa dimodifikasi. Dan, rasanya tidak kalah dari makanan khas asli Tegal. “Ke depan jika ada pengusaha yang membuka restoran di daerah objek wisata Kabupaten Tegal dengan menu seperti itu akan kami fasilitasi,” janji Suharinto.

Sate Tegal

Rumah makan sate Balibul yang terkenal di Guci Tegal

Mantan camat Balapulang ini memaparkan, makanan khas Kabupaten Tegal sejak dulu sejatinya sudah punya nama di negeri ini, bahkan mendunia. Sebut saja sate wedus balibul, yaitu sate kambing muda dengan daging kambing pilihan usia di bawah lima tahun. Belum lagi sauto khasnya, yang terbuat dari saus tauco yang lezat. “Kuliner ini hampir ditemui di sepanjabg jalan raya Talang,” kata Suharinto.

Tak kalah ternamanya, hidangan teh poci tanah liat dengan teh alami dan gula batu. “Di desa-desa Kabupaten Tegal, jika orang ngobrol di rumah atau di warung-warung makan pasti akan dihidangkan minuman teh poci tanah liat dengan batu gulanya yang khas,” tutur sarjana S1 dan S2 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara itu.

Makanan ringan lainnya, seperti tahu aci yang terbuat dari bahan utama tahu kuning dengan tambahan adonan aci, bawang putih, garam dan daun kocai.

Makanan ringan ini juga bisa untuk lauk pauk. “Penjual tahu aci di Kabupaten Tegal jumlahnya ratusan orang, dan semuanya punya cita rasa khas tersendiri,” kata Suharinto berpromosi.

Tahu Aci khas Tegal

Kabupaten Tegal juga terkenal dengan Kacang asin bogares-nya. Kacang ini berasal dari desa Bugares. Kacang ini berupa kacang tanah tanpa kulit yang disangrai dengan pasir yang higienis. Juga pilus yang terbuat dari adonan tepung kanji, bumbu, kocai dan digiling menjadi butiran-butiran bulat kecil dan digoreng. Pilus ini bisa juga untuk campuran makan bakso.

Kacang Bogares Tegal

Martabak telor khas Tegal, beber Suharinto, juga sudah tak asing lagi. “Hampir seluruh penjual martabak Telor di Jawa dikuasai orang asli Kabupaten Tegal, khususnya dari Lebaksiu, meski berlabel martabak telor Bangka,” kata ayah dari lima anak ini.

Makanan khas lainnya, yaitu jalabia, sate blengong, kupat glabed, glotak dan rujak teplak.

Martabak telor khas Lebaksiu TEGAL

Khusus rujak khas Tegal ini menjadi salah satu kuliner terfavorit. Yang membedakan rujak dari daerah lain adalah sambalnya yang sering disebut Sambel Gaul.

Sambel ini dibuat dari singkong yang direbus atau dikukus kemudian diuleni hingga halus. Setelah halus, singkong ini diletakkan dalam sebuah wadah kemudian dicampur dengan sambel cabe merah yang diuleg dan ditambah sedikit garam, terasi dan gula merah. Setelah dicampur rata, singkong dan sambal ini dicairkan dengan air matang hingga kental.

“Kami sekeluarga hukumnya wajib makan rujak teplak jika mudik ke Tegal,” ungkap Lintang, wanita paruh baya asli “wong” Slawi yang kini sudah puluhan tahun tinggal di Salatiga, yang menjadikan rujak teplak makanan klangenan keluarganya. (kiriman netizen journalist Domery Alpacino, foto-foto dari Instagram, Google Image)

Tentang Penulis

Leave A Response