Motif Batik Kabupaten Tegal Berpotensi Mendunia

Ditulis 23 Jul 2017 - 16:38 oleh Banyumas1

BanyumasNews.com, JAKARTA – Kabupaten Tegal tak hanya punya warteg dan bahasa medoknya, tapi juga batik. Dalam acara Pameran Produk Unggulan dan Potensi Daerah Jawa Tengah di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada Sabtu-Minggu (22-23 Juli 2017), kabupaten dengan luas wilayah 901,52 kilometer persegi ini ternyata mampu memamerkan berbagai macam produk batik yang tak kalah dengan produk batik lain dari berbagai kota atau kabupaten di Jawa Tengah.

“Kami punya ratusan pengrajin batik yang sudah turun-temurun sejak lama di beberapa desa Kabupaten Tegal. Mereka ada yang mengembangkan produk batik tulis dan alam, batik cap, batik sablon/printing, dan batik kombinasi,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tegal, Suharinto, Minggu (23/07/2017).

Menurut Kepala Badan Penghubung Pemprov Jawa Tengah, Sudarmanto, ternyata kualitas produk batik Kabupaten Tegal mampu bersaing dengan produk batik dari daerah lain yang sudah punya nama, seperti Surakarta, Wonogiri, Banyumas, dan Pekalongan. “Batik Tegalan masih punya peluang pasar yang cukup besar, baik dalam maupun luar negeri,” kata Sudarmanto.

Seperti mengamini pendapat Sudarmanto, sejumlah turis Jepang yang berkunjung ke stand pameran produk unggulan Kabupaten Tegal langsung memborong beberapa kain batik tulis. “Motif batik Tegal sangat unik, sehingga saya tertarik membelinya beberapa potong kain untuk promosi di negara saya,” ujar Horotama, salah seorang turis Jepang itu.

Batik dengan kualitas sangat baik, papar Suharinto, harga per kain untuk batik tulis di tingkat pengrajin bisa mencapai Rp 3.000.000. Bila sudah masuk hotel berbintang harganya bisa berlipat kali.

Batik Tegalan memang punya corak yang unik, tergolong dalam jenis batik pesisir dengan ragam hias yang naturalis, tidak ada aturan atau batasan mengikat seperti halnya batik Yogya dan Solo. Batik Kabupaten Tegal terkenal dengan motif batik klasik yang memiliki corak dan warna tegas, mencerminkan watak “Wong Tegal”.

Motif batik Tegalan beras mawur

Selama ini, pemberian nama corak batik Tegalan berasal dari nama benda yang ada di lingkungan sekitar dan telah akrab dengan kehidupan sehari-hari. Corak batik Tegal terdiri dari ragam hias sebagai ornamen utama corak secara keseluruhan dan ragam hias tambahan sebagai ornamen pelengkap.

Suharinto memaparkan, corak batik Tegalan saat ini menyajikan berbagai bentuk yang berorientasi pada flora dan fauna sebagai ragam hias utamanya, seperti berbagai jenis tanaman berupa daun, bunga, buah dan binatang.

“Ada beberapa motif batik Tegalan yang sudah dikenal masyarakat, seperti motif Beras Mawur, Watu Pecah, Gribigan, Galaran, Blarakan, Kembang Sawo, Ambringan, Kembang Pacar, Krokotan, Sawut Rembet, Jae Sarimpang, Kawung, Kawung Jenggot, Kawung Beton, Sidamukti, Sidamukti Kuku Macan, Sidamukti Ukel, Sidamukti Grandil, Sidamukti Putihan, dan Sidamukti Rantai,” kata mantan Camat Balapulang ini.

Batik motif Gribigan dari Tegal

Motif batik Tegalan, papar Suharinto lagi, tidak lepas dari pengaruh Kardinah, saudara kandung RA Kartini, tokoh pahlawan nasional.

Motif Beras Mawur, misalnya, diambil dari bentuk pacitan yang dibuat berupa titik-titik putih seperti beras tumpah (beras mawur). Pembuatan godongannya (bentuk daun) adalah ambringan atau daun ambring yang dikombinasikan dengan beberapa bunga.

Sedangkan motif Mahkota merupakan motif dengan menggunakan pacitan gabahan dan menggambarkan bentuk mahkota dengan warna biru. Motif Mahkota juga merupakan motif non geometris dengan bentuk mahkota mendominasi seluruh permukaan kain, sedangkan godongan dengan isen-isennya menjalar di sela-sela bentuk mahkota dengan batasan garis putih.

Aneka ragam motif batik Tegalan

Pemilihan warna pada motif ini didominasi warna biru yang memenuhi bentuk mahkota, juga pada bentuk godongannya warna biru muncul mengiringi warna hijau muda dan sedikit warna kuning gading. Warna krem pada pacitan gabahan menambah anggunnya motif mahkota tersebut.

“Sebaliknya, motif Alimahan berupa motif daun yang sarat dengan isen-isen. Sedangkan pacitannya (dasarnya) berupa gabahan (padi yang masih menempel pada tangkainya). Penggarapan bentuk motif ini sebenarnya hanya ada 4 macam bentuk daun, tetapi pembuatan isen-isen dan warna daun tersebut berbeda-beda, sehingga kelihatan bentuk daunnya dibuat bermacam-macam,” kata Suharinto, alumni SMAN 1 Slawi itu.

Motif lain, menurut Suharinto yang lulusan S1 dan S2 STIA LAN,  adalah motif Grandilan yang menggunakan godongan Turi Putih sebagai inti dari motif ini, sedangkan pacitannya berupa klabangan yang memenuhi permukaan kain.

Motif Grandilan juga merupakan motif non geometris dengan penempatan bentuk-bentuk daun turi yang menyebar.

Sebaliknya, motif Glondahan, kata ayah dari enam anak ini, adalah motif lingkaran-lingkaran dengan bentuk godongan dan pacitan yang berbeda-beda. Pembuatan pacitan pada masing-masing lingkarannya tidak seragam, misalnya ada lingkaran dengan pacitan semut runtung, klabangan, beras mawur, buntut bajing dan lain-lain.

Berbeda dengan motif Glondahan, motif Tambangan adalah motif yang menyerupai tambang yang menyilang dan membentuk belah ketupat. Sedangkan di dalam belah ketupat tersebut terisi dengan godongan, pacitan dan isen-isen yang berbeda-beda.

Motif Tambangan menonjolkan bentuk tambang yang melintang dan penuh dengan isen-isen terlihat tumpang tindih bergantian, bentuk tambang dibuat besar sehingga mendominasi motif ini, sedangkan penggarapan godongan, pacitan hanya pelengkap yang mengisi bagian di antara tambang tersebut.

Ada satu lagi motif yang sangat khas Tegal “ndiwek”, yaitu motif Kitiran. Nama motif Kitiran diambil dari bentuk pacitannya, yaitu pembuatan pacitan menyerupai bentuk kitiran yang sedang berputar. Pembuatan pacitan seluruhnya berupa kitiran, sedangkan bentuk godongannya berupa manukan (burung) dan daun dengan penggarapan isen-isen yang bervariasi

Motif Belah Ketupat, papar Suharinto, tak kalah uniknya. Motif ini berbentuk dua buah segitiga yang membetuk belah ketupat sedangkan masing-masing segitiga memiliki pacitan yang berbeda-beda.

“Pembuatan pacitan pada masing-masing segitiga yang membentuk belah ketupat berupa buntut bajing, gabahan, cecek awe-awe, sawud rentet dan lain-lain. Sedangkan pembuatan godongan hanya sebagai penyatu yang dibuat di antara/perbatasan segitiga satu dan lainnya yang berbentuk daun dan bunga,” kata Suharinto, yang tiap harinya tak lepas mengenakan berbagai macam batik tulis khas Tegalan.

Motif Dlorongan, tak kalah menariknya. Pasalnya, motif ini berbentuk garis yang membujur miring dengan penggarapan pacitan dan godongannya di antara dua garis yang menyilang tersebut.

“Di beberapa desa saat ini tengah mengembangkan motif Krikilan. Motif ini diambil berdasarkan pacitannya, yaitu berupa krikilan (batu- batu kecil) yang memenuhi ke seluruh permukaan kain batik di antara godongannya (daunnya). Motif krikilan menggunakan godongan berupa bentuk burung, daun dan bunga yang tersusun dengan keseimbangan yang matang. Bentuk burung digarap dengan ketelitian yang tinggi serta dengan mempertimbangkan segi-segi keharmonisan terutama dalam perwarnaan,” papar Suharinto.

Seorang perajin batik tengah mengerjakan pembuatan kain batik

Sentra industri batik di kabupaten Tegal sendiri kini tersebar di desa Bengle, Pasangan, Pangkah, Dukuhsalam, dan desa Sindang. “Kami tetap dan terus membina mereka, baik dari segi produk maupun pemasarannya. Semoga kelak batik Kabupaten Tegal mendunia,” tutup Suharinto. (BNC/kiriman netizen journalist Domery Alpacino)

Tentang Penulis

Leave A Response