Tips Hadapi Hoax: Peran Linguistik Forensik untuk Menangkal Berita Hoax

Ditulis 17 Jul 2017 - 22:52 oleh Banyumas1

Oleh: Tim PKM-PSH Linguistik Forensik Unsoed 2017

Dewasa ini akses untuk mendapatkan informasi sangatlah mudah. Kehadiran teknologi yang semakin canggih seperti adanya sosial media menjadi salah satu wadah untuk membagi informasi.

Sayangnya, dengan adanya kemudahan akses tersebut, membuat informasi yang tertampung tidak dapat tersaring dengan baik. Berita yang tidak tersaring dan diterima mentah-mentah tentu akan berdampak buruk terutama kepada masyarakat.

Minimnya pengetahuan untuk menyaring berita dapat membuat masyarakat tidak bisa membedakan manakah berita asli dan palsu. Kurangnya pengetahuan dan kemampuan untuk menyaring berita palsu ini alih-alih mendapatkan informasi yang akurat, malah akan membuat masyarakat mempercayai suatu kebohongan.

Saat ini penyebaran berita palsu atau yang sering disebut hoax dapat menyebar dengan mudah melalui berbagai macam media, baik secara daring maupun luring. Media daring menyebarkan informasi secara pribadi yang sering dijumpai pada pesan berantai melalui sosial media.

Sedangkan media luring menyebarkan informasi melalui media cetak. Penyebaran berita palsu tersebut akan bersifat fatal apabila disebarkan bahkan disuarakan oleh seorang tokoh yang menjadi panutan masyarakat melalui sebuah media yang mudah diakses seperti sosial media.

Oleh karena itu, penting adanya pemahaman dan pengetahuan untuk memilih berita. Salah satunya yaitu menggunakan kajian linguistic forensics untuk membongkar berita palsu yang sudah cukup meresahkan masyarakat.

Linguistic forensic merupakan kajian dalam bidang kebahasaan yang sering digunakan untuk penyidikan. Penerapan ilmu ini bisa digunakan untuk menganalisa berita palsu yaitu dengan menggunakan pendekatan teori wacana kritis.

Adapun cara menganalisa berita hoax yang dilakukan melalui teori wacana kritis ini terdapat 3 cara dengan melihat suatu berita menggunakan teknik framing, realitas pembingkaian, serta motif penulisan berita.

Framing
Framing merupakan sudut pandang yang dilakukan oleh media untuk memberitakan sesuatu. Sehingga framing merupakan cara penulis untuk mempengaruhi pembacanya. Framing sering digunakan oleh semua media, baik media cetak maupun media elektronik.

Pada dasarnya berita yang ditulis menggunakan teknik framing bukanlah suatu kebohongan namun cara penulis dalam membelokkan fakta dengan menyampaikannya melalui sudut pandang tersendiri. Sehingga dalam menganalisa berita palsu, Kita bisa menggunakan teknik framing ini.

Cara untuk menganalisa berita palsu menggunakan teknik framing cukup mudah. Yaitu dengan melihat pemilihan kata, frase, serta symbol yang ada pada berita tersebut. Cara untuk melihat berita melalui teknik ini dapat dianalisa mulai dari judul. Judul pada suatu berita di media satu dengan media yang lainnya akan berbeda-beda meskipun memiliki topik yang sama.

Misalnya saja, pada surat kabar A, memberitakan suatu topik dengan judul yang santai, sedangkan pada surat kabar B, menggunakan judul yang baku. Penggunaan judul yang santai dan tidak baku akan memberikan kesan kepada pembaca untuk menanggalkan keseriusan saat membaca berita tersebut. Sedangkan penulisan judul yang baku dapat memberikan kesan rasional, stagnan serta selalu menjaga formalitas saat membaca berita.

Selain itu, hal yang harus diperhatikan pada judul, yaitu dengan melihat adanya penyebutan tokoh atau aktor dalam judul tersebut atau tidak. Penyebutan tokoh dalam suatu berita dapat mempengaruhi subjektivitas pembaca sehingga hal tersebut dapat menggiring opini pembaca.

Pada teknik framing, selain melihat dari judul berita, gambar yang dipajang pada berita tersebut juga bisa mempengaruhi pembaca. Penggunaan gambar yang tidak sesuai dengan topik yang diberitakan maupun aktor yang terlibat akan menjadi salah satu cara penulis dalam mempengaruhi pembacanya. Sehingga hal tersebut dapat membuat keruh objektivitas pembaca itu sendiri.

Setelah melihat dari judul dan gambar, pemilihan kata pada badan berita juga bisa digunakan untuk melihat sudut pandang si penulis. Ciri-ciri yang sangat terlihat dari berita palsu yaitu tidak menggunakan kosakata yang sama. Meskipun berarti sama, suatu kata memiliki makna sendiri apabila dilihat secara konteks. Makna dari suatu kata dapat berubah-ubah sesuai dengan konteks yang ditampilkan.

Selain itu, pada berita palsu, penggunaan kata “aku” atau kata yang merujuk pada diri sendiri biasanya sangat jarang. Hal tersebut dimaksudkan untuk tidak melibatkan diri sendiri dalam menulis suatu kebohongan. Sehingga tak jarang kata yang merujuk pada “aku” akan diganti menggunakan kata yang lainnya.

Teknik framing dapat digunakan untuk menganalisa berita hoax lebih detail. Selain melihat dari judul, gambar, dan badan berita, waktu terbit berita sangat mempengaruhi kebenaran yang disampaikan suatu media. Misalnya saja pada berita yang disampaikan melalui online, tak sedikit berita yang dipublikasikan hanya berjarak 30 menit setelah suatu peristiwa tersebut terjadi.

Hal tersebut dapat dilihat melalui pendapat yang dikemukakan oleh narasumber. Dengan jarak yang begitu dekat, tentu saja kualitas kebenaran akan suatu berita masih dipertanyakan.

Realitas Pembingkaian
Dengan menganalisa melalui teknik framing, Kita bisa melihat realitas pembingkaian yang ditampilkan si penulis. Pada realitas pembingkaian dapat dilihat manakah hal-hal yang ditonjolkan, serta manakah hal-hal yang dikurangi. Pemilihan kata yang digunakan untuk menjelaskan suatu peristiwa juga bisa menjadi salah satu cara melihat sudut pandang penulis dalam menonjolkan dan mengurangi suatu berita.

Misalnya dengan melihat jawaban-jawaban dari narasumber yang dipilih, pemilihan nama aktor yang terlibat dan mulai terlihat mulai dari judul hingga keseluruhan berita, serta cara penulis dalam menjelaskan berita melalui sudut pandangnya sendiri bisa memberikan penjelasan mengenai realitas pembingkaian pada suatu media.

Karena pada dasarnya, setiap media memiliki realitas pembingkaian tersendiri dalam menulis berita. Hal tersebut bisa dilihat dari cara penulis menuangkan ide dan gagasannya melalui berita tersebut.

Motif Penulisan Berita
Sehingga setelah mengetahui realitas pembingkaian yang ingin disampaikan oleh penulis, Kita bisa mengetahui motif penulisan berita tersebut. Dengan membaca keseluruhan berita dan menganalisanya menggunakan teknik framing, pembaca bisa melihat sudut pandang dari si penulis. Baik menonjolkan berita maupun mengurangi berita.

Motif penulisan berita dapat dilihat dengan membandingkan dua media kabar atau lebih dalam memberitakan suatu topik yang sama. Karena, pada saat penulisan berita di media masa A dan B akan berbeda. Baik secara struktur, hingga sudut pandang yang diambil. Motif penulisan berita juga bisa dilihat dari bagian akhir berita.

Normalnya, media kabar harus bersifat netral dalam memberitakan sesuatu. Namun, tak jarang ditemui beberapa media masa mencantumkan ideologi maupun gagasannya sendiri pada akhir berita. Gagasan tersebut dapat dilihat dengan adanya kalimat maupun kata opini yang digunakan.

Dengan menggunakan cara tersebut, maka linguistic forensic khususnya menggunakan teori analisis wacana kritis sangat berperan penting untuk menyaring berita-berita palsu yang ada di media sosial maupun media yang lainnya. Selain itu, diharapkan pula masyarakat bisa lebih peka terhadap berita-berita palsu yang sudah banyak beredar saat ini. Karena setiap berita memiliki dayanya masing-masing untuk mempengaruhi pembaca sehingga taraf kebenaran suatu berita ditentukan dengan banyaknya berita yang dibaca.

Maka masyarakat bisa membandingkan berita untuk melihat berita yang asli dan berita palsu. (Anasul Fuad/*)

Tentang Penulis

Leave A Response