Mahasiswa Unsoed Kembangkan Tablet Effervescent Pengawet Alami Nira Kelapa

Ditulis 16 Jul 2017 - 20:51 oleh Banyumas1

BanyumasNews.com, PURWOKERTO – Lima mahasiswa Universitas Jenderal Soerdiman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, berhasil membuat tablet effervescent sebagai fermentation inhibitor (pengawet alami) yang efektif, praktis, dan higienis sebagai solusi untuk mencegah terjadinya proses fermentasi yang dapat merusak gula kelapa.

Kelima mahasiswa tersebut, yakni Kiki Faysh Fauzy mahasiswi Farmasi angkatan 2013, Eviyana mahasiswi Farmasi angkatan 2013, Vivi Santoso Mahasiswi Biologi angkatan 2013, Durrotun Ekha An Nuur mahasiswi Biologi angkatan 2013 dan Hernandia Nurzaman mahasiswa Keperawatan 2013 .

Kiki Faysh Fauzy menyatakan Pengawet Alami Tablet Effervescent telah terbukti memiliki aktivitas menghambat perkembangan mikro organisme, “Pengujian telah dilakukan pada gula kelapa di desa Candinata, Kecamatan Kutasari, Purbalingga”, katanya Minggu (16/07/2017).

Durrotun Ekha An Nuur menambahkan, Pengawet Alami Tablet Effervescent dikembangkan dengan bimbingan Dr. Purwanto,SP., MSc, yang didanai oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

“Temuan ini akan segera di patenkan”, kata Durrotun.

Apa latar belakang mahasiswa Unsoed ini mengembangkan Tablet Effervescent Pengawet Alami Nira? Menurut Kiki, gula kelapa merupakan produk agroindustri kelapa yang terbuat dari sadapan nira yang dipanaskan untuk mengurangi kadar air. Gula kelapa kaya akan mineral seperti seng, kalium, dan magnesium serta vitamin dan asam amino lain.

Tentu saja gula kelapa lebih kaya dibandingkan pemanis lain, seperti sirup maple, madu, atau gula pasir yang tidak memiliki dasar mineral. Selain itu, menurut The Philippine Food and Nutrition Research Institute gula kelapa memiliki indeks glikemik sebesar 35 sehingga lebih aman terhadap kesehatan dibandingkan gula pasir yang memiliki indeks glikemik sebesar 64.

“Beragam makanan seperti minuman dawet, es campur, dodol, getuk dan kuliner lainnya merupakan kuliner yang membutuhkan gula sebagai bahan utama maupun tambahan. Harga gula yang dapat dikatakan murah, banyak oknum pembuat gula yang ingin mendapatkan keuntungan lebih dengan menambahkan bahan kimia sebagai pengawet guna hasil yang instan dan harga yang lebih murah”, ujarnya.

Dikatakan, nira sebagai bahan utama dalam pembuatan gula merupakan bahan yang mudah mengalami perubahan fermentatif akibat aktivitas mikroorganisme selama penyadapan.

“Nira yang telah terkontaminasi oleh mikroorganisme akan mengalami proses fermentasi, sehingga sukrosa yang terdapat di dalam nira akan berubah menjadi alkohol dan selanjutnya berubah menjadi asam asetat,” terangnya.

Bahan kimia yang biasa ditambahkan sebagai pengawet nira kelapa seperti natrium bisulfit, natrium metabisulfit, serta natrium benzoat. Penggunaan bahan kimia untuk mengawetkan nira selama proses penyadapan secara berlebihan dapat menurunkan kualitas gula.

“Efek yang paling umum terjadi akibat penggunaan pengawet secara berlebihan adalah timbulnya rasa yang tidak enak. Selain mempengaruhi rasa dapat menginduksi terjadinya asma, menyebabkan timbulnya rasa panas dan gangguan pada bagian abdomen, serta dapat merusak thiamin dalam tubuh”, papar Kiki lagi.

Badan POM RI (2012), juga menyatakan paparan jangka pendek dapat menyebabkan iritasi, reaksi alergi, gatal, bersin, asma, jika tertelan menyebabkan muntah, gangguan pencernaan, kesulitan bernafas, bersin, asma, gejala seperti orang mabuk sedangkan pada paparan jangka panjang dapat mengakibatkan sesak pada paru (kongesti).

“Temuan mahasiswa Unsoed ini sebagai solusi untuk mencegah terjadinya proses fermentasi yang dapat merusak gula kelapa”, pangkas Kiki. (BNC/”)

Tentang Penulis

Leave A Response