Puisi-puisi Manembah Setiawan Budhiarto

Ditulis 15 Jul 2017 - 07:34 oleh Banyumas1

Puisi-puisi Manembah Setiawan Budhiarto

Wahai yang melewatkan malam dengan sia-sia
Wahai yang di pembaringan dan tak bisa sekedar mengatupkan kelopak ngantuk
Wahai yang hanya sepi dan hening tak bertuan

Kembalilah ketuk hati
Ketuk nurani
Dengan jemari nafas
Sapalah Sang Tuan
Sampaikan
Kemudian patuhi wejangan
Tentang langkah malam
Teruslah di situ

Hingga malam menjadi banyak bunga
Banyak kenangan
Ada kerinduan
Dan tresna demi tresna

Dan penderitaanpun hilang dengan seksama

*****

Saat sekitar gagal untuk terbaca atau dibaca oleh nurani
Maka seketika menjadi alur yang berbeda
Yang bukan sejati

Dan gula gula
Warna warna menjadi semu
Dan tidak semestinya
Nyamanpun jauh dari rengkuh

Lalu hampa yang hebat
Gering yang ganjil

Dan diri semakin lelah utk kembali

*****

Stress
Gulisah gulana
Terbebani
Lari-lari dari kenyataan yang entah
Sedih yang bablas
Adalah Tanda rumah dalam diri kosong mlompong
Tanpa panglima
Apalagi raja

Semua menghantam segenap diri
Dan penduduk langit tak tergerak menolong
Apalagi memberikan japa japu
Karena diri tak tahu
Dan tak peduli
Karena rumah dalam diri dibiarkan kosong

Hanya sepi
Bisu yang tuli
Buta pekat
Pun tak ada semribit wangi wangi
Tak

*****

Perjalanan terus lengkap
Dan selalu tak asing

Kesaksian saling berjabat
Mencipta senyum pada igir hati

Lalu kepatuhan
Pun kesetiaan
Adalah bagian yang lebih

Wahai yang belum yakin
Wahai yang belum
Patuh
Sudahi saja itu

Karena waktu semakin cepat merubah diri
Pun kenyataan

#se nusantara dengan langkah nurani

*****

Redaksi:
Setiawan Budhiarto atau biasa dipanggil Mas Iwan, adalah seorang pengusaha tambang di Banjarnegara, sekaligus pegiat ‘manembah’ – suatu aktifitas pembukaan hati nurani ke taraf paling dalam, menuju kedekatan dan ‘pertemuan’ dengan-Nya.

Ia aktif berkeliling nusantara, bahkan dunia, untuk menginisiasi dan menuntun orang-orang agar terbuka nuraninya, mengajak kepada ‘kepatuhan’, ‘kesejatian’, dan mau mendengar ‘dawuh-Nya’. Rumahnya di Pucang, Banjarnegara, juga selalu ramai dikunjungi para ‘jamaah’ manembah atau orang-orang yang datang untuk sharing. 

Puisi-puisi yang disebut oleh insinyur Geologi UPN Yogyakarta ini sebagai ‘Puisi Manembah’, sering di-posting sebagai status di facebook (akun Setiawan Budhiarto), sehingga sebenarnya sulit untuk dibedakan ini diniatkan sebagai puisi atau status facebook… Masih banyak berserakan puisi-puisi hasil kontemplasi ‘manembah’nya. 

Dimuat di sini atas ijinnya, agar ada jejak digital. Tentang pengertian Manembah sendiri akan diulas dalam tulisan terpisah. (BNC/puh)

Tentang Penulis

Leave A Response