Dengan Smartphone Anda Bisa Deteksi Lilin pada Gorengan | Penemuan Mahasiswa Unsoed

Ditulis 14 Jul 2017 - 20:58 oleh Banyumas1

BanyumasNews.com, PURWOKERTO – Smartphone atau telepon pintar bisa mendeteksi lilin pada gorengan? Kedengarannya mungkin aneh. Tapi inilah penemuan baru mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yang patut diapresiasi.

Gorengan boleh dikatakan makanan sehari-hari masyarakat Indonesia. Rasanya yang gurih, renyah dan harganya yang murah membuat makanan ini banyak digemari masyarakat. Meningkatnya kegemaran masyarakat akan gorengan menyebabkan persaingan antar pedagang gorengan makin ketat.

Ketatnya persaingan ini terkadang membuat gorengan tidak habis terjual. Tentu hal ini merugikan pedagang, sehingga banyak pedagang mencari cara agar gorengannya tetap renyah dan enak walaupun disimpan berhari-hari.

Salah satunya dengan menambahkan lilin pada minyak panas yang digunakan untuk menggoreng, untuk memberikan efek renyah pada gorengan. Padahal lilin bukan bahan tambahan pangan. Ia sulit diuraikan oleh enzim sehingga dapat membahayakan fungsi pencernaan.

Lilin yang dicampurkan dalam makanan berbahaya karena dapat menyebabkan kanker hati, usus, atau leukemia.

Selama ini, metode yang sudah digunakan untuk menganalisis lilin adalah GC-MS, GC- FID, KLT dan FTIR, namun instrument tersebut sangat mahal dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk analisisnya.

Oleh sebab itu, diperlukan analisis yang cepat, murah dan efisien untuk membantu petugas pengawas makanan dan mudah digunakan masyarakat secara umum.

Menurut Yulia, mahasiswa Farmasi Unsoed 2014, latar belakang di atas mendorong ia dan tiga temannya sesama mahasiswa Unsoed membuat “SMARTWAX ANALYSIS”.

Smartwax analysis ini, tambah Yulia, merupakan reagen pendeteksi kandungan lilin dalam gorengan menggunakan smartphone. Anggotanya adalah ia sendiri, Kiki Faysh Fauzy mahasiswi Farmasi 2013, Fira Nurul Awanda mahasiswi Kimia 2013, dan Abdillah Hanif Al-Faruqi mahasiswa Farmasi 2015.

Yulia menjelaskan, dengan Smartwax analysis ini dapat membantu petugas pengawas makanan dan masyarakat umum untuk mendeteksi keamanan gorengan yang dikonsumsinya secara cepat.  “Selain itu smartwax analysis juga telah dibandingkan dengan metode KLT dan terbukti lebih efektif, efisien dan lebih murah”, tambah Yulia kepada BanyumasNews.com, Jumat (14/07/2017).

Proses deteksi menggunakan Smartwax analysis dilakukan dengan cara melarutkan gorengan dengan pelarut yang telah disediakan dalam box smartwax analysis kemudian ditetesi reagen yang telah disediakan. Perubahan warna yang terjadi di foto menggunakan aplikasi pada smartphone sehingga dapat diketahui kadar lilin yang terdapat dalam gorengan.

“Aplikasi ini juga dapat didownload di play store sehingga analisis kandungan lilin pada gorengan dapat digunakan masyarakat secara umum”, ujar Yulia lagi.

Anggota peneliti lain, Kiki Faysh Fauzy, mengatakan penemuan yang dibimbing oleh Hendri Wasito, M.Sc., Apt ini telah diusulkan untuk bersaing dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia 2016.

“Dari puluhan ribu usulan dari berbagai universitas di Indonesia, akhirnya PKM penelitian ini berhasil lolos pendanaan DIKTI tahun 2017. Smartwax analysis ini juga akan segera dipatenkan”, pungkas Kiki. ( BNC/*)

Ket foto: Tim peneliti smartwax Unsoed bersama dosen pembimbing (istimewa)

Tentang Penulis

Leave A Response