JekNyong, Jawaban Bupati Banyumas Atas Launching GoJek Online di Purwokerto

Ditulis 13 Jul 2017 - 10:20 oleh Banyumas1

BanyumasNews.com, PURWOKERTO – Launching Gojek online di Purwokerto beberapa hari lalu mendapat reaksi Bupati Banyumas Achmad Husein setelah mendengar adanya pro kontra, terutama penolakan dari para pelaku usaha transportasi konvensional.

Bupati Banyumas Achmad Husain berencana merancang transportasi berbasis online yang akan menggandeng seluruh masyarakat yang berprofesi sebagai tukang ojek, sopir angkot, dan jasa transportasi umum dengan nama JekNyong atau ojeke nyong, yang disebutnya untuk menolong transportasi konvensional agar dapat menyesuaikan diri aplikasi berbasis online.

“Jeknyong adalah transisi atau peralihan sebelum liberalisasi online, untuk menolong yang konvensional supaya mau gabung dan tidak tertinggal. Kalau yang konvensional sudah menyesuaikan diri, silahkan online apapun masuk Banyumas,” kata Bupati Banyumas dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Kamis (13/7/2017).

Dia menilai dengan masuknya ojek online (Gojek) di Kabupaten Banyumas dianggap dapat menimbulkan konflik horizontal antara angkutan berbasis online dengan angkutan konvensional jika tidak segera dicegah.

Maka dari itu, lanjutnya, JekNyong merupakan langkah awal untuk merangkul angkutan konvensional ke sistem aplikasi berbasis online. Jika transisi tersebut sudah siap dan di perkirakan tidak terlalu banyak korban seperti tukang becak, ojek pangkalan, angkutan kota/desa, taxi maka apapun angkutan online dipersilahkam masuk Banyumas.

“Kenapa ingin modern harus mengorbankan 7000 lebih pekerja miskin ( becak, ojek, taxi, angkutan desa/kota). Kalau sekarang dipaksakan saya perkirakan ada 2700 tukang becak, 1200 tukang ojek kota, 120 pengusaha angkuta/desa, 230 taxi akan gulung tikar,” ujarnya.

Dia menjelaskan, sebelum permasalahan tersebut semakin jauh dengan masuknya ojek online hingga menimbulkan konflik antara ojek online dengan konvensional, dirinya akan segera mengumpulkan seluruh angkutan konvensional untuk mensosialisasikan peralihan sebelum menuju liberalisasi angkutan online.

“Hari ini akan saya kumpulkan semua perwakilan transportasi konvensional, pakar IT sudah saya telpon dan siyap membantu. Walau saya tahu susah tapi Insya Allah bisa. Ini cuma demi keadilan dan kondusifitas daerah. Dan kalau saya tidak cepat mengambil kebijakan maka saya pastikan akan ada konflik horizontal, sebab ini kota kecil,” ucapnya.

Seperti diketahui GoJek sudah hadir di Purwokerto, namun mendapat penolakan dari awak transportasi konvensional. Melalui akun resmi facebook Gojek Purwokerto, misalnya, para driver dilarang menerima order di sekitar pangkalan ojek stasiun dan terminal, agar tidak terjadi gesekan. (BNC/nan)

Tentang Penulis

Leave A Response