Tentang Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017, yang Diikuti Abdul Azis Rasjid Penulis Asal Banyumas

Ditulis 11 Jul 2017 - 19:35 oleh Banyumas1

UWRF 2017

BanyumasNews.com, UBUD – Seperti diberitakan, Yayasan Mudra Swari Saraswati, lembaga nirlaba yang menaungi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), telah mengumumkan 15 penulis emerging yang terpilih dari penjuru nusantara Indonesia untuk ikut bergabung dan tampil di perhelatan sastra dan seni internasional terbesar di Asia Tenggara yang akan hadir pada tanggal 25-29 Oktober 2017 mendatang.

Salah satu dari 15 penulis itu ialah Abdul Azis Rasjid, asal Purwokerto Banyumas, seorang penulis yang juga berprofesi sebagai jurnalis.

Apa itu UWRF?

Ayundari Gunansyach, National Media Coordinator UFF17 – UWRF17 mengatakan, emerging adalah istilah yang digunakan oleh UWRF untuk para penulis Indonesia yang memiliki karya berkualitas namun belum memperoleh publikasi yang memadai. “Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia ini adalah bagian dari komitmen Yayasan Mudra Swari Saraswati untuk mendukung kehidupan masyarakat Indonesia melalui program-program seni dan budaya”,  katanya melalui release yang diterima BanyumasNews.com.

“Banyak karya-karya yang masuk submisi adalah penulisan metasastra, mengambil tema-tema yang mempersoalkan sastra dan bahasa, dan ini sangat menarik karena berarti penulis-penulis muda Indonesia mulai banyak mengulik mengenai persepsi kecendekiaan”, ujar Seno Gumira Ajidarma, penulis dan jurnalis kawakan Indonesia saat rapat kurasi berlangsung.

“Kualitas karya-karya yang masuk cukup bagus dibandingkan kompetisi penulisan lainnya di Indonesia dan saya rasa 15 penulis terpilih ini pantas untuk duduk bersama penulis-penulis pemenang penghargaan di UWRF 2017 mendatang”, kata Leila S. Chudori, sang jurnalis dan penulis wanita favorit Indonesia, memberikan komentar mengenai Seleksi Penulis Emerging Indonesia 2017.

15 penulis emerging terpilih datang dari berbagai macam latar belakang, mulai dari mahasiswa dan guru, hingga jurnalis, buruh, dan nelayan. Yang menarik di seleksi tahun ini juga jumlah penulis terpilih yang berasal dari Indonesia Timur, yaitu 6 penulis.

Keberagaman asal penulis menghasilkan karya-karya yang menarik, ini dibenarkan oleh Warih Wisatsana, penulis dan penyair, “Karya-karya yang lolos mengambil tema dari kehidupan sehari-hari dan begitulah karya sastra yang sesungguhnya. Tentunya sangat menarik membaca karya mengenai kehidupan di daerah yang cukup terpencil”, kata Warih.

Ke-15 penulis yang beruntung tersebut akan berpartisipasi dalam UWRF 2017, mereka akan diterbangkan dari kota masing-masing ke Ubud, Bali, untuk tampil dalam forum-forum diskusi sastra berdampingan dengan para penulis internasional. Selain itu, karya-karya yang telah terpilih tersebut akan diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan dalam buku Anthology 2017.

Program Seleksi Penulis Emerging Indonesia sendiri telah berhasil membawa penulis-penulis emerging nusantara untuk tampil dalam satu kancah berkelas dunia dengan penulis-penulis internasional dan memperdengarkan karya mereka ke khalayak dunia melalui seri Anthology sejak tahun 2008.

Seleksi dibuka pada pertengahan bulan Desember 2016 dan ditutup pada akhir Februari lalu, dan selama tenggang waktu tersebut, tim panitia setiap harinya menerima kiriman karya dari para penulis emerging di seantero nusantara.

Tim UWRF mencatat ada 711 penulis dari Sabang hingga Merauke, serta beberapa negara lainnya yang mengirimkan karya mereka, dengan jumlah total karya yang terhimpun sebanyak 913. 913 karya tersebut terdiri dari cerpen, puisi, novel, esai, non fiksi, naskah drama, dan banyak jenis sastra lainnya. Puisi adalah jenis karya yang paling banyak masuk, mencapai angka 377, disusul oleh cerpen sebanyak 278.

Ayundari menambahkan, selain hal tersebut di atas, tujuan diselenggarakannya program ini adalah untuk menemukan calon bintang-bintang sastra masa depan Indonesia. Tiket Early Bird UWRF 2017 akan segera diluncurkan dalam beberapa hari lagi, bersamaan dengan peluncuran beberapa nama pembicara tahap awal.

UWRF diselenggarakan selama lima hari dan diisi dengan ratusan program acara seperti panel-panel diskusi, workshop, peluncuran buku, Special Event, pertunjukan musik, pemutaran film, pameran seni, dan banyak lagi. (BNC/*)

Tentang Penulis

Leave A Response