Nikmatnya Puasa dan Lebaran Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri

Ditulis 06 Jul 2017 - 02:07 oleh Banyumas1

Prita dosen unsoedBanyumasNews.com – Lebaran menjadi momentum yang ditunggu muslimin dan muslimat di seluruh dunia. Momen tersebut menjadi sangat berarti karena adanya silaturahmi antar keluarga inti, tetangga, keluarga besar, teman hingga kolega dalam pekerjaan.

Berlebaran di tanah air identik dengan mudik atau kembali ke rumah orang tua berkumpul dengan kerabat. Hidangan khas lebaran seperti opor dan ketupat serta berbagai penganan lainnya menjadi hal yang sangat popular disajikan.

Hal tersebut berlangsung lebih dari 20 tahun dalam hidup Prita Sari Dewi, PhD, dosen S1 Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dan Dosen S2 dan S3 Program Pascasarjana Unsoed, sampai tiba saatnya Prita mengalami puasa dan lebaran sebagai mahasiswa di luar negeri, saat menempuh S2 di Inggris dan S3 di Jepang. Pengalamannya berpuasa dan berlebaran di luar negeri diceritakan di sini untuk pembaca.

Lebaran pertama Prita sebagai mahasiswa di luar negeri adalah saat ia mengambil master program di University of Nottingham, UK (United Kingdom) – Inggris. Sebulan berpuasa hampir tidak terasa karena bulan Ramadan bertepatan dengan musim dingin. “Imsak terjadi pada pukul delapan (08.00) pagi dan maghrib menjelang pukul 17.00”, katanya.

Hari-hari berpuasa ia isi dengan kesibukan kuliah, pekerjaan laboratorium, ke perpustakaan, dan rutinitas domestik, yang  membuat waktu sebulan terasa sangat cepat. Saat lebaran tiba, kebetulan bertepatan dengan kegiatan penelitian di University of Nottingham, yang tidak bisa ditinggalkan. Alhasil setelah sholat Idul Fitri ditunaikan, hanya bisa bersilaturahmi sebentar dengan sesama perantau dan mahasiswa muslim di Inggris.

“Hidangan yang disajikan saat berlebaran menjadi sangat bervariasi karena perantau muslim dan mahasiswa di Inggris yang berasal lebih dari 65 negara. Suasana kekeluargaan sangat terasa meskipun berasal dari berbagai suku bangsa”, lanjutnya.

Mengingat masjid berlokasi agak jauh maka sholat Idul Fitri dilakukan di lapangan bola basket dalam ruang tertutup yang mampu menampung sampai 500 jamaah. “Segera setelah bersilaturahmi, beberapa dari kami harus segera kembali ke lab (laboratorium). Komunikasi dengan keluarga di Purwokerto (Indonesia) dilakukan via telepon, skype, atau sosial media”, ujarnya.

Lebaran di Jepang

Beberapa lebaran selanjutnya dosen Unsoed ini dilewatkan sebagai mahasiswa S3 di negeri matahari terbit Jepang di Kyushu University. Suasana lebaran sebagai mahasiswa S3 di Jepang menurutnya tidak jauh berbeda dengan di Inggris.

Masjid Fukuoka

Perbedaan mencolok justru ia rasakan saat melaksanakan puasa Ramadan yang bertepatan dengan musim panas. Ini berarti waktu berpuasa menjadi lebih panjang dari waktu berpuasa di negara tropis. “Puasa dimulai dari pukul 03.00 (tiga) pagi sampai Maghrib menjelang pukul 20.00 (delapan malam). Waktu puasa yang lebih panjang memerlukan stamina tubuh yang prima. Oleh karenanya memilih makanan dan minuman yang tepat sangat berpengaruh”, tuturnya lagi.

Beruntung bagi Prita berada di Negara Jepang yang sangat mengunggulkan cita rasa asli bahan makanan, sehingga tidak memerlukan banyak proses pengolahan dan tambahan bumbu dengan rasa kuat. Bila tidak sempat membuat bekal maka menu favorit para mahasiswa di Jepang adalah “udon” yang berasal dari kaldu ikan atau “onigiri” dengan isian tuna yang dijual di kafetaria kampus.

Prita di Nokonoshima Island JEPANG

Puasa saat di Jepang itu juga bertepatan dengan kegiatan persilangan tanaman di perkebunan jeruk di universitas (Kyushu University). Tidak jarang Prita berbuka dengan kondisi masih di kebun. Wow!

Para professor dan teman-teman sesama mahasiswa di Kyushu University merasa takjub dengan kemampuan Prita Sari Dewi, Ph.D, yang mampu bertahan puasa dengan kondisi musim panas dan beban pekerjaan lapang. Mereka – para professor dan teman-teman sesama mahasiswa di Kyushu University tidak jarang membelikan minuman atau makanan yang dapat ia konsumsi.

Lebaran di Fukuoka Jepang terasa istimewa karena saat ia menjadi mahasiswa bertepatan dengan peresmian Masjid Fukuoka yang letaknya hanya 10 (sepuluh) menit berjalan kaki dari kampus Kyushu University. Lebaran terasa sangat istimewa dengan kehadiran masjid baru  di negeri dengan muslim sebagai golongan minoritas itu.

Masjid Fukuoka berhasil dibangun berkat bantuan para donator baik dari para muslim di Fukuoka maupun dari daerah lain di Jepang. Masjid tersebut segera menjadi tempat aneka kegiatan rohani selama bulan Ramadan mulai dari sahur bersama, berbuka bersama dilanjutkan dengan sholat tharawih, pesantren Ramadan untuk anak-anak saat akhir pekan dan I’tikaf.

Meskipun tanpa kumandang takbir sepanjang malam dan jauh dari keluarga di Indonesia, tidak mengurangi rasa syukur karena Prita dipertemukan dengan saudara seiman dari berbagai penjuru dunia. Nikmat iman telah mempertemukan Prita untuk saling mengenal dan bersilaturahmi dalam bingkai lebaran.

Melalui momen lebaran ini Prita Sari Dewi, Ph.D. pun ingin mengucapkan selamat Idul Fitri: “Taqabballallohu minna waminkum taqabbal ya kariim”. (BNC/Alief)

Tentang Penulis

Leave A Response