Polemik 5 Hari Sekolah dan Upaya Saling Menguatkan Antar Lembaga Pendidikan | Opini

Ditulis 20 Jun 2017 - 14:44 oleh Banyumas1

Oleh Puad Hasan

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah menuai polemik. Dan polemik itu ada yang membawa-bawa ke ranah persaingan dua ormas terbesar Islam, NU dan Muhammadiyah, karena Mendikbud berasal dari Muhammadiyah dan Permendikbud itu dianggap akan memberangus keberadaan sekolah-sekolah (madrasah) diniyah yang banyak berada di lingkungan dengan basis NU.

Ini catatan dari seorang yang harus berpindah dari desa ke kota, dari lingkungan dimana pendidikan agama anak-anak ‘dititipkan’ ke madrasah dan kemudian pindah ke kota dimana tidak ada madrasah diniyah. Kontroversi 5 hari sekolah dan full day school, berkaca dari pengalaman ini, sebenarnya bisa menjadi saling menguatkan antar lembaga pendidikan yang ada menuju sinergitas antar komponen pendidikan. Namun, seperti biasanya, tanpa mendalami isi permendikbud sementara orang sudah ber-syak wasangka. Presiden Jokowi dilansir media sudah membatalkan peraturan tersebut.

Muhadjir Effendi

Saya punya tiga anak, yang ketika harus pindah dari desa anak pertama akan melanjutkan ke SMA, anak kedua naik kelas 6 SD dan anak ketiga masih TK 0 Kecil. Anak pertama sudah menyelesaikan madrasah diniyah. Durasi madrasah diniyah 4 tahun, sehingga jika pada saat SD Kelas 3 sore harinya mulai belajar di madrasah diniyah dari kelas 1, maka akan lulus diniyah bersamaan dengan lulus SD. Anak kedua saya baru menyelesaikan kelas 2 madrasah diniyah dan terpaksa ‘tidak melanjutkan’ madrasah diniyahnya karena di kota dimana saya tinggal tidak ada madrasah diniyah. Anak ketiga langsung pindah ke sekolah TK berbasis keagamaan (TK ABA).

Nah inilah problem ketika orang tua berhasrat mendidik anak secara seimbang antara pendidikan umum dan agama. Akhirnya, pilihan bagi orang seperti saya adalah sekolah-sekolah berbasis keagamaan dengan kurikulum yang seimbang antara pelajaran umum dan agama. Inilah yang menurut saya memunculkan sekolah-sekolah Islam Terpadu di kota-kota, atau sekolah-sekolah yang dikeloa ormas keagamaan seperti AL Irsyad dan Muhammadiyah yang tetap diminati. Dan bagi sekolah seperti Al Irsyad, sudah lama melakukan full day school, masuk jam 07.00 dan 15.30 WIB, dan hari di hari Sabtu masih masuk sekolah namun sampai jam 11.00 WIB. Saya bisa mengatakan ini, karena semua anak-anak saya sejak pindah dari kampung halaman, pernah mengenyam pendidikan di Al-Irsyad Al Islamiyah. Tujuannya tak lain agar bekal ilmu agama mereka cukup dan saya tidak perlu memanggil guru les privat untuk belajar mengaji.

Problem pelaksanaan 5 hari sekolah sebenarnya menurut saya ada di tataran teknis. Bagaimana mengintegrasikan atau mensinergikan pendidikan karakter sebagaimana tujuan peraturan itu dibuat.  Terutama di daerah yang secara tradisi sudah lama menyelenggarakan pendidikan agama sore hari melalui sekolah non formal madrasah diniyah, TPA dan TPQ. Seperti di pedesaan di kecamatan Bumiayu dan sekitarnya (Brebes selatan), dimana sekolah diniyah menjadi andalan orang tua untuk menitipkan anaknya belajar agama.

Kalau kita tilik pasal 5 ayat 1 dan ayat 7 yang berbunyi :

(1)  Hari sekolah digunakan bagi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.

(7) Kegiatan keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) meliputi aktivitas keagamaan meliputi madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, katekisasi,    retreat, baca tulis Al Quran dan kitab suci lainnya.

Pada Pasal 6 ;

(1) Kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dalam pelaksanaan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dapat dilaksanakan di dalam Sekolah maupun di luar Sekolah.

(2) Pelaksanaan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler baik di dalam Sekolah maupun di luar Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan kerja sama antarsekolah, Sekolah dengan lembaga keagamaan, maupun Sekolah dengan lembaga lain yang terkait.

Coba kita baca lagi pasal 6 ayat 2: dapat dilakukan dengan kerja sama antar sekolah, sekolah dengan lembaga keagamaan, maupun sekolah dengan lembaga lain yang terkait.

Jadi sebenarnya sekolah diniyah tidak akan diberangus kalau mengacu pasal-pasal tersebut, tetapi akan menguatkan 5 hari sekolah sebagai pembelajaran yang wajib diikuti oleh anak didik. Selama ini di daerah-daerah dimana terdapat sekolah diniyah sore, ada saja sebagian anak yang tidak sekolah karena sifatnya memang tidak wajib (opsional). Dengan pemberlakuan peraturan menteri ini, dengan kerja sama antara sekolah SD atau SMP dengan pengelola madrasah diniyah bahwa pembelajaran di madrasah diniyah terhitung sebagai kerangka full day school, persoalan akan selesai. Hanya saja akan banyak yang harus dilakukan, namun justru akan saling ada silaturahmi antar lembaga, yang ujung-ujungnya adalah kesatuan pandang antara pengelola.

Selama ini sekolah pagi (SD) dan sekolah sore (Diniyah) merupakan entitas yang benar-benar terpisah. Pantauan pada perkembangan anak bukan menjadi focus perhatian para guru, dan mungkin tidak pernah terpikirkan. Padahal menurut saya pantauan bersama yang dikomunikasikan antar pendidik akan sangat baik untuk anak-anak.

Di lingkungan dimana belum ada sekolah madrasah diniyah atau sekolah non formal keagamaan atau pendidikan karakter lainnya, adanya full day school akan menolong. Yang selama ini bersekolah di sekolah negeri, dimana pelajaran agama hanya 2 jam seminggu, dengan adanya 5 hari sekolah akan ‘memaksa’ anak-anak belajar ilmu agama. Pada kondisi ini tentunya pembelajaran akan berbeda dengan di pedesaan dimana ada sekolah diniyah. Tetapi pembelajaran langsung di sekolah tersebut, dengan mengundang guru mengaji datang ke selolah atau TPQ di sekolah.

Dengan demikian orang tua tidak perlu repot memanggil guru les privat agama datang ke rumah, dan mereka yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah berbasis keagamaan seperti Al-Irsyad, Sekolah Islam Terpadu, yang umumnya dianggap mahal, tetap dapat menerima pelajaran tambahan keagamaan di sekolah.

Yang diperlukan saat ini saling percaya untuk memajukan pendidikan di Indonesia, dengan bersinergi antar komponen, duduk bersama tanpa rasa saling curiga. Bahas detail teknis pelaksanaan, karena ini sebenarnya menurut saya letak titik krusialnya. (Puad Hasan – orang tua dari 3 anak)

Tentang Penulis

Leave A Response