Poster #SaveSlamet Disita Petugas | Interupsi Kecil Kunjungan Jokowi di Purwokerto

Ditulis 16 Jun 2017 - 13:35 oleh Banyumas1

BanyumasNews.com, PURWOKERTO – Presiden Joko Widodo berkunjung ke Purwokerto 15-16 Juni 2017, yang merupakan kunjungan ke-3 Jokowi sejak menjabat sebagai Presiden RI. Kunjungan pertama saat peletakan batu pertama renovasi Pasar Manis Cilacap 2105, yang kedua pada peresmian Pasar Manis 2016, dan yang ketiga bertepatan dengan bulan Ramadhan 1438 H.

Presiden Joko Widodo melakukan serangkaian kegiatan di Purwokerto, antara lain berkunjung ke Ponpes Darussalam Dukuhwaluh, Kembaran, pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP) di halaman SMAN 2 Purwokerto, penyerahan sertifikat di Alun-alun Purwokerto dan pembagian makanan tambahan keluarga harapan di Alun-alun kota Banyumas Lama.

Namun ada sisi lain yang luput dari perhatian, terkait protes sejumlah kalangan atas proyek listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang sedang dibangun di lereng Gunung Slamet. Aktifis lingkungan hidup membentuk Gerakan Lawan Proyek Panas Bumi di Slamet yang bisa dilihat di laman facebook, juga menggalang petisi lewat change.org bertajuk Pak @jokowi, Cabut Izin PLTP Baturaden!

Sebagian aktifis rupanya ingin menyampaikan aspirasi gerakan #SaveSlamet itu saat Presiden Jokowi datang ke Purwokerto. Di antaranya yang diunggah seorang netizen di facebook dengan akun Irsyadul Amir. Ia bermaksud memperlihatkan poster itu saat Presiden Jokowi melewati jalan menuju Pondok Pesantren Darussalam, Dukuhwaluh, Kembaran. Namun, seperti ia tulis di facebook, poster itu disita dan kena intimidasi dari Paspampres.

“Foto sebelum baner disita dan kena intimidasi dari Paspampres. Padahal dalam Undang-undang dijamin kebebasan mengemukakan pendapat di muka umum loh. Kita hanya pengin ngasih tau ke pak presiden kalo Hutan Lindung Gunung Slamet lagi dibabat secara masif dan akan membahayakan bagi masyarakat terutama di lereng selatan gunung Slamet”, tulis Irsyadul Amir.

Seorang netizen mengeluh poster #SaveSlamet Disita petugas (FB)

Poster atau baner itu sendiri berbunyi tidak konfrontatif dan cenderung informatif, “Selamat Datang  Pres Jokowi. Sarjana Kehutanan? Hutan lindung Gunung Slamet dibabat Pak!”, demikian bunyi baner itu.

Namun rupanya Irsyadul Amir tidak putus asa dengan penyitaan poster itu. Ia masuk ke dalam arena pertemuan Presiden Jokowi dengan keluarga besar Ponpes Darussalam. Ia menulis di atas kertas putih protes pembabatan hutan Gunung Slamet dan mempostingnya di facebook dengan back ground Presiden Jokowi sedang berpidato.

“Pak Jokowi, Selamatkan Slamet. #SaveSlamet”, demikian bunyi tulisannya.

Entah. Apakah Presiden Jokowi tahu adanya  ‘interupsi’ berupa poster kecil itu atau tidak. “Mudah-mudahan sih tahu”, demikian harapan Slamet, seorang netizen, warga Purwokerto Selatan.

Sebagai informasi, Proyek PLTP digarap oleh PYT Sejahtera Alam Energy (SAE), yang sahamnya dimiliki oleh perusahaan Jerman STEAG PE GmbH (75%) dan PT Trinergy asal Indonesia (25%). Proyek itu direncanakan menelan dana 880 juta US Dollar dengan target menghasilkan listrik 220 Mega Watt.

Para aktifis lingkungan mengkhawairkan kerusakan lingkungan berupa rusaknya hutan lindung yang menjadi serapan air,  sumber mata air bagi sungai-sungai yang mengalir ke kawasan di bawah Gunung Slamet, yang sangat vital bagi kebutuhan pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, pariwisata dan air minum sehari-hari. Dan tentu saja dampak longsor dan banjir bandang yang mengancam. (BNC/puh)

Tentang Penulis

Leave A Response